<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472</id><updated>2011-12-21T02:17:29.495-08:00</updated><category term='Bertemu Tuhan'/><category term='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/STj1R91M2ZI/AAAAAAAAABM/BWf5DuezD5Y/s1600-h/IMAG0127.jpg'/><title type='text'>Hidup Bahagia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>71</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-587066438954046188</id><published>2011-12-08T22:56:00.001-08:00</published><updated>2011-12-21T02:17:29.513-08:00</updated><title type='text'>MEMANUSIAKAN TUHAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Hampir setiap saat kita bisa melihat orang-orang sholat, berdoa, baik di rumah ibadah atau di tempat2 lainnya.&amp;nbsp; Mulut mereka komat-kamit mengucapkan rentetan kata-kata yang biasanya terdiri dari: pujian kepada Tuhan bahwa dia yang paling berkuasa di semesta, termasuk untuk mengabulkan permintaan.&amp;nbsp; Lalu muncul permintaan-permintaan kepada Tuhan sesuai yang manusia inginkan, dan biasanya ditutup dengan permintaan maaf atas segala kesalahan dan terakhir adalah pernyataan2 peneguhan diri.&lt;br /&gt;Pola doa biasanya tidak jauh dari hal-hal tersebut di atas, dan bahkan sudah hampir menjadi pakem bahwa sebuah doa akan sempurna, elok didengar, mustajab, kalau mempunyai susunan seperti itu.&amp;nbsp; Banyak usaha mengembangkan doa kepada Tuhan menggunakan pola standard tersebut.&amp;nbsp; Ini dilakukan dalam bahasa apapun, baik Indonesia, Arab, Latin, Jawa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi doa kebanyakan minta, memohon, mengharap .. agar Tuhan mengabulkan permintaan, baik itu untuk: kesembuhan, makanan yang enak, dapat duit, enteng jodoh, bisnis lancar, dan sebagainya.&amp;nbsp; Bahkan banyak orang percaya, semakin baik susunan kata dalam sebuah doa, apalagi kalau sambil berdoa ditemani dengan ritual dan berpakaian sopan ketika "menghadap" kepada Tuhan, maka semakin besar kemungkinan Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berdoa kepada Tuhan seolah berbicara kepada Bapaknya, kepada Rajanya, kepada majikannya atau kepada teman baiknya.&amp;nbsp; Seolah Tuhan seperti manusia, yang mempunyai perasaan, mempunyai pikiran, mempunyai hati.&amp;nbsp; Kita memperlakukan Tuhan seperti halnya manusia yang mempunyai kelebihan dibanding manusia seperti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dimaklumi karena memang pada dasarnya manusia hanya bisa memahami apa yang berada "di luar" dirinya berdasarkan pemahaman manusia atas dirinya.&amp;nbsp; Ukuran dirinya diterapkan pada saat mencoba memahami dunia luarnya.&amp;nbsp; Ikatan emosional manusia dengan alam semesta hanya bisa dibangun melalui cara meng-ekstrapolasi-kan dirinya&amp;nbsp; Maka fenomena alam dipahami sesuai dengan dirinya.&amp;nbsp; Misalnya: alam sedang marah, laut mengamuk, singa menyayangi anaknya, bahkan Tuhan mengampuni dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan pikiran manusia memang membatasi ke'maha'an Tuhan.&amp;nbsp; Meski kita menyebut Tuhan itu 'maha', tapi masih dalam konteks kemampuan manusia, dan Tuhan mempunyai kemampuan yang sama namun jauh lebih berpotensi.&amp;nbsp; Omni potent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak mampu melepaskan Tuhan sebagaimana adanya.&amp;nbsp; Bahkan dia HARUS punya nama, seperti manusia.&amp;nbsp; Ada yang bilang namanyapun hanya 99.&amp;nbsp; Tuhan mempunyai pribadi tiga, tuhan seperti bapak sendiri, dan sebagainya.&amp;nbsp; Usaha manusia memahami tuhan sudah dilakukan sejak jaman purba dan sampai sekarangpun manusia tetap tidak dapat memahaminya.&amp;nbsp; Akhirnya cara yang paling mudah adalah dengan memanusiakannya.&amp;nbsp; Pemanusiaan tuhan seperti ini membuat manusia memperlakukan tuhan seperti manusia lain tapi linuwih, berkelebihan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, Tuhan menjadi sebatas daya cerap manusia, sebatas ada dalam pikiran dan sebatas persepsi.&amp;nbsp; Ke 'maha' an Tuhan tidak lagi ada karena dia sudah dimanusiakan oleh manusia.&amp;nbsp; Pencipta harus menurut apa yang dimaui oleh yang diciptakannya, dan akhirnya, tuhan hanya diciptakan oleh manusia sesuai dengan kehendaknya.&amp;nbsp; Maka ada tuhan yang hanya mengerti bahasa Arab, ada tuhan yang hanya suka manusia beragama kristen, ada tuhan yang hanya berdiam di mesjid, ada tuhan yang labih menyukai dandanan tertentu dan sebagainya.&amp;nbsp; Inilah memanusiakan tuhan, dan tuhan hanya sebagai anggota kelompoknya, atau, pemimpin kelompoknya.&amp;nbsp; Bahkan tidak jarang tuhan dikangkangi oleh ego manusia untuk memenuhi hasratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21desember2011&lt;br /&gt;soreharidivolkskaffee&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-587066438954046188?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/587066438954046188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=587066438954046188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/587066438954046188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/587066438954046188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2011/12/memanusiakan-tuhan.html' title='MEMANUSIAKAN TUHAN'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-2969438509835371284</id><published>2011-11-12T18:51:00.001-08:00</published><updated>2011-11-13T10:16:51.032-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;KEMATIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru. &amp;nbsp;Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama. &amp;nbsp;Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri. &amp;nbsp;Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumasuki rumah itu dengan perlahan. &amp;nbsp;Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada. &amp;nbsp;Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan. &amp;nbsp;Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau. &amp;nbsp;Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi. &amp;nbsp;Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya. &amp;nbsp;Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat. &amp;nbsp;Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka. &amp;nbsp;Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung. &amp;nbsp;Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent. &amp;nbsp;Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya. &amp;nbsp;Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya. &amp;nbsp;Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya. &amp;nbsp;Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan. &amp;nbsp;Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah. &amp;nbsp;Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai. &amp;nbsp;Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami. &amp;nbsp;Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam. &amp;nbsp;Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian. &amp;nbsp;Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duka seorang sahabat&lt;br /&gt;13 November 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-2969438509835371284?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/2969438509835371284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=2969438509835371284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2969438509835371284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2969438509835371284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2011/11/kematian-malam-itu-kususuri-jalanan-di.html' title=''/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5636520370767732846</id><published>2011-09-25T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T19:42:34.984-07:00</updated><title type='text'>Ketika Agama Menjadi Isu Sosial</title><content type='html'>Salah satu tokoh keagamaan Islam pernah membahas bahwa agama itu multidimensi.  Artinya, dalam agama ada dimensi2 yang secara intrinsik menyatu, seperti: dimensi simbol, dimensi kelompok, dimensi personal, dimensi mistik, dimensi ritual, dan masih banyak lagi.  Ada dimensi simbol, misalnya: salib itu simbol agama kristen, kaabah simbol islam, baju koko, hijab, sampai tanda hitam di jidat.  Dimensi kelompok, misalnya: majlis taklim, FPI, kelompok pengajian, dsb.  Dimensi personal: pengalaman bertemu tuhan selalu sangat personal, tidak sama satu sama lain karena tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing.  Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis.  Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero.  Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah.  Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar?  Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. "  Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan.  Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama.  Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan.  Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya.  Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen.  Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama.  Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri.  Demi apa?  Demi kemurnian ajaran, katanya.  Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik.  Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik.  Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta&lt;br /&gt;akhir september 2011&lt;br /&gt;sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5636520370767732846?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5636520370767732846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5636520370767732846' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5636520370767732846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5636520370767732846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2011/09/ketika-agama-menjadi-isu-sosial.html' title='Ketika Agama Menjadi Isu Sosial'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-7704006751276497298</id><published>2011-04-04T18:20:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T18:30:56.766-07:00</updated><title type='text'>DONGENG NABI ADAM</title><content type='html'>Dalam agama-agama samawi, selalu ada cerita tentang nabi Adam.  Hampir semua orang tahu siapa pasangan Adam dan Hawa dan bagaimana cerita hidup mereka.  Mereka dianggap sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dank arena dosa mereka karena melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan buah terlarang, maka mereka dibuang dari surga yang penuh dengan kebahagiaan, ke dunia dan harus menjalani kehidupan yang penuh derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama.  Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus.  Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian.  Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi.  Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya.  Tidak ada penderitaan yang dirasakannya.  Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani.  Semesta yang penuh kasih.  Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya,  Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia.  Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden.  Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual.  Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu.  Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita.  Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya.  Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Agus Widianto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-7704006751276497298?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/7704006751276497298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=7704006751276497298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7704006751276497298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7704006751276497298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2011/04/dongeng-nabi-adam.html' title='DONGENG NABI ADAM'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-766654584182889905</id><published>2010-11-17T05:43:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T16:10:15.714-08:00</updated><title type='text'>Konsep Kematian</title><content type='html'>Aku datang ke rumahnya lepas tengah hari.  Kulihat dia masih sibuk menyalami para tamu yang datang, dan ketika melihatku mendekat, dia memelukku erat-erat.  Kubisikkan kata-kata seadanya yang muncul begitu saja di kepalaku: "tetap tabah ya" .. tidak ada lagi kosa kata lain yang mengalir dari mulutku.  Dia juga menjawab pendek dengan sedikit terisak: "yang terbaik baginya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari.  Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar.  Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad.  Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan.  Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya.  Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring.  Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam.  Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih.  Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu.  Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya.  Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku.  Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu.  Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti.  Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA.  Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin.  Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia.  Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri.  Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini.  Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi.  Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus.  Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang.  Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini.  Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru.  Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain.  Siklus itu terus terjadi.  Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti.  Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ieduladha&lt;br /&gt;sorehari&lt;br /&gt;17november2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-766654584182889905?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/766654584182889905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=766654584182889905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/766654584182889905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/766654584182889905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/11/konsep-kematian.html' title='Konsep Kematian'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-3805520739109903218</id><published>2010-11-11T05:45:00.000-08:00</published><updated>2010-11-11T05:56:25.208-08:00</updated><title type='text'>Derita di Gerimis Sore</title><content type='html'>Sore itu gerimis kecil turun.  Aku baru saja keluar dari sebuah gedung di bilangan Blok M, dan kulihat beberapa orang berlari kecil menyeberang jalan di depan gedung sambil menutup kepala mereka dengan apa saja yang bisa digunakan.  Beberapa anak berpayung berdiri di depan pintu gedung menawarkan jasa payung mereka, menunggu penyewa dadakan.  Udara terasa hangat meski hujan mulai membasahi jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha mencari taksi, namun entah kenapa, di tempat itu jarang kulihat taksi kosong melintas.  Karena rasanya terlalu lama menunggu dan tidak satupun ada taksi muncul, aku memutuskan untuk menggunakan transportasi umum yang lebih murah, bus TransJakarta.  Blok M adalah terminal akhir yang besar.  Setelah membeli tiket masuk, sambil berjalan ke arah shelter penungguan bus, kuamati kondisi gang yang membawaku ke sana.  Betapa kotor dan sangat seadanya.  Penjaga gerbang masuk terlihat terkantuk lelah dan bosan memperhatikan setiap orang yang memasukkan tiket ke slot di gerbang itu.  Beberapa pengemis (masih muda2) duduk di tangga mengacungkan tangan atau gelas plastik bekas air mineral, meminta-minta.  Shelter penungguan bus tidak kalah kotornya.  Di ruang sempit panjang itu udara terasa pengap, ventilasi udara tidak berjalan baik, lampu tidak ada yang menyala untuk menerangi ruang yang mulai temaram, dan para calon penumpang semakin berdesakan karena berkelompok, tidak antri dalam barisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa menyesal mulai muncul karena ketidaksabaranku tadi untuk menunggu taksi sedikit lebih lama, dan sekarang terjebak dalam sebuah sistem angkutan umum yang kelasnya jauh di bawah taksi.  Ah, mestinya aku tunggu sedikit lama lagi, aku bisa kok bayar yang lebih mahal daripada tiket TransJakarta ini.  Tapi itu hanya penyesalan masa lalu, dan disinilah aku sekarang.  Aku terjebak dalam antrian yang sesak, pengap, gelap, bau keringat, dan saat itu pula berbagai pikiran negatif mendadak berebut muncul dan serta-merta mengidentifikasi berbagai fenomena di luar sebagai negatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghakiman mulai muncul dalam pikiran, bahwa semua hal negatif ini disebabkan oleh korupnya rejim pemerintahan DKI Jakarta.  Berbagai pertanyaan dan juga gugatan mulai muncul, seperti, mengapa mereka tidak memperhatikan kebutuhan dasar warga berupa transportasi publik yang memadai dan bertarif murah, padahal itu adalah sebuah kewajiban mereka sebagai pelayan publik?  Mengapa rejim sekarang tidak mau memelihara dan memperbaiki moda transportasi yang sudah diawali oleh rejim sebelumnya?  Kemana saja uang rakyat yang sudah disetor melalui pajak?  Mana bukti bahwa rejim ini adalah ahli dalam mengurus ibukota jika menyediakan transportasi layakpun tidak becus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku terus mengejar seseorang atau sesuatu, sebagai yang dapat dijadikan hulu dari segala kesalahan dan ke-negatif-an kondisi yang aku hadapi sekarang ini.  Gambar Gubernur DKI yang bentuk kumis dan senyumnya yang menjadi tidak lucu, melintas di pikiranku.  Seolah fenomena di sekitarku berdiri sendiri sebagai sebuah kenyataan dan berupa sekelompok hal negatif yang harus aku hadapi pada saat itu.  Seolah rasa penderitaanku adalah akibat dari dosa besar yang berasal dari perbuatan sekelompok atau seseorang, paling tidak Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghakiman seperti ini terus berlangsung dalam pikiranku.  Rasanya aku berada di pihak yang benar.  Rasanya aku mempunyai hak untuk menghakimi para pengurus ibukota ini, para pengurus negri ini.  Rasanya aku mempunyai hak untuk menunjukkan ketidakbecusan kerja mereka sesuai dengan ukuran-ukuran yang kupunyai, paling tidak saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku yang sibuk menambah rasa pengap shelter di Blok M ini.  Kemarahan lalu muncul dari rasa frustasi.  Kemarahan karena aku merasa diperlakukan tidak adil.  Frustasi karena aku dipaksa harus menerima kondisi yang tidak kusukai.  Waktu tunggu terasa begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bus yang kutunggu datang juga, setelah lewatnya beberapa bus yang langsung dipenuhi antrian di depanku.  Akupun masuk bus dan berdiri berpegangan gantungan tangan.  Di dalam bus yang jauh lebih sejuk dibanding dengan shelter yang baru saja aku tinggalkan, beberapa pikiran masih menggantung, terutama melihat kondisi bus yang sudah mulai terlihat tidak dirawat dengan baik.  Kondisi bus terlihat compang-camping.  Gantungan yang aku pegang-pun talinya sudah mulai terkoyak sedikit di sana sini.  Penghakiman-pun makin menjadi dalam pikiranku.  Sungguh, pikiranku sangat sibuk dan aku tidak lagi memperhatikan sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, barulah aku sadari bahwa pikiranku telah jauh dibawa kesana-kemari.  Pikiranku dibawa oleh sebuah ketidaksadaran yang melompat kesana kemari, dan cenderung menghakimi segala sesuatu, yang dalam skenario yang kuciptakan menjadi penyebab sebuah kondisi yang kusebut sebagai “derita” yang ternyata juga kuciptakan sendiri.  Ya, derita itu kuciptakan sendiri, sebagai turunan dari hasil penghakiman yang kubuat.  Ini terbukti bahwa beberapa orang di sekitarku masih bisa bercanda, meski berada dalam kondisi yang sama dengan yang sedang aku alami.  Mereka bisa tertawa lepas, dan kuat dugaanku bahwa mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan sebagai penderitaan.  Aku yakin bahwa semua kondisi yang mereka alami sama dengan yang aku alami.  Namun ada beda dalam mem-persepsikan-nya.  Barangkali mereka menerimanya dengan ikhlas, sudah biasa, atau tidak berprasangka buruk, bahkan tidak menghakimi siapapun.  Mereka menerima keadaan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaranku terus berkembang dalam perjalanan pulang di atas bus.  Dan betul, deritakupun berangsur hilang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, banyak derita yang terciptakan oleh pikiran sendiri.  Banyak pula setelah itu, kesalahan dilimpahkan kepada seseorang, sesuatu, bahkan Tuhan yang berada di luar dirinya, untuk minta pertanggungjawaban karena menciptakan derita yang kita rasakan.  Banyak orang berpendapat bahwa deritanya adalah kehendak Allah.  Sebuah penghakiman yang disampaikan secara lebih sopan, meski esensinya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku yakin, disinilah awal kesadaran kita untuk berbahagia dalam kehidupan, dengan memahami apa itu penderitaan, dan bagaimana sebuah derita mengada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harikunjunganobamakeindonesia&lt;br /&gt;Kemacetandimanamana&lt;br /&gt;9november2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-3805520739109903218?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/3805520739109903218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=3805520739109903218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3805520739109903218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3805520739109903218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/11/derita-di-gerimis-sore.html' title='Derita di Gerimis Sore'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4687215152055494174</id><published>2010-11-05T08:11:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T17:57:53.444-07:00</updated><title type='text'>Ibu Pertiwi</title><content type='html'>Berbagai berita tersebar melalui layar kaca, koran, internet, telepon selular dan sebagainya.  Bencana Jogja menyita perhatian hampir semua warga Indonesia, bahkan manca negara.  Para pengungsi yang terlantar, ketakutan, kesakitan, meninggal, banyak mendominasi berita beberapa hari terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati terguncang dan mata tergenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya belum lama negeri ini diramaikan berbagai berita tentang korupsi, gambaran ketamakan para pejabat publik akan uang haram, karena berasal dari keringat rakyat yang seharusnya dilayani.  Belum lama juga negeri ini semarak oleh berita tentang kekerasan manusia yang beragama terhadap manusia lainnya, gambaran kesombongan manusia yang mengkapling kebenaran dan menghujat keberagaman, yang justru merupakan kearifan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak berita yang menggambarkan para manusia yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukan.  Cerminan nyata dari ketidaksadaran kolektif tentang kebersamaan dalam keberagaman, tentang perlunya saling mengasihi dan memperhatikan manusia lainnya terlepas dari kotak-kotak dan kapling-kapling kebenaran semu yang disebut agama.  Ketidaksadaran manusia akan nilai-nilai universal yang menembus batas-batas sosial, ekonomi, dan religi.  Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan bumi, dengan Ibu Pertiwi yang melahirkan segala kehidupan di haribaannya.  Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan energi semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya merenung menyaksikan dan membaca segala kejadian yang sedang berlangsung begitu nyata, begitu menyentuh rasa dan menggugah kesadaran batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit teguran dari bumi melalui mulut Merapi mengingatkan bahwa manusia semua sama dihadapan Ibu Pertiwi.  Kaya - miskin, laki - perempuan, tua - muda, besar - kecil, semua berhubungan dengannya.  Sentuhan lengan dan jemari panas Merapi menyentil kesadaran manusia bahwa seharusnya manusia sungguh merupakan bagian sangat kecil dari seluruh sistem semesta.  Sendawa Merapi menyadarkan manusia bahwa semestinya manusia hidup senafas dengan Pertiwi.  Aliran energi dahsyat Merapi menyadarkan manusia bahwa seharusnya kehidupan kita mengalir dan selaras dengan energi alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi adalah sosok Ibu yang hidup, mempunyai kebajikan dalam memberi nafas kehidupan anak-anaknya, dengan semangat memberi segala kebaikan dan menerima segala keburukan.  Betapa kekayaan bumi terbukti mampu menghidupi segala isinya selama jutaan masa.  Betapa kearifan Pertiwi terbukti mampu menerima segala keburukan yang diciptakan anak-anaknya dan kemudian menyeimbangkan dengan berbagai cara yang sungguh diluar jangkauan nalar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang sudah diperbuat oleh manusia terhadap sang Ibu?  Manusia tetap berada pada ketakutan egotistik, berada pada kebodohan dan kegelapan batin dalam merespon kasih yang ditawarkan sang Ibu.  Segala kebodohan manusia kemudian mengeras dan berubah bentuk menjadi kesombongan bahwa bumi berada dalam genggaman kekuasaannya.  Ketakaburan luar biasa yang menghilangkan kerendahan hati dalam berhubungan dengan sang Ibu Pertiwi.  Sang Ibu tetap mengasihi dan menegur dengan caranya sendiri.  Berbagai kesombongan manusia tidak pernah mampu menahan teguran sang Ibu.  Gedung dan bangunan megah, peralatan mutakhir, kecerdasan otak, kepandaian para pemimpin masyarakat, kekayaan materi, bahkan doa-doa dalam agama yang dipercaya sebagai sabda Tuhan.  Semua tidak mampu membendung dan membelokkan teguran dan jamahan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah kehidupan manusia, teguran-teguran Pertiwi selalu ada.  Selalu berulang dan selalu memberikan ruang untuk merenungkan segala perilaku manusia dalam rentang masa sekarang ini.  Namun adakah perbaikan dalam pikiran, kesadaran dan perilaku manusia, terutama ketika manusia secara intens berinteraksi dengan sang Ibu?  Rasanya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusakan habitat hidup terus menerus dilakukan bahkan dalam skala yang mengerikan.  Pengurangan kemampuan daya dukung lingkungan terus menerus digerogoti dengan sistematis tanpa diimbangi dengan perbaikan dan pemulihan.  Demi apakah semua ini dilakukan?  Rasanya hanya ketamakan sebagai muaranya.  Ketamakan yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidup, meski pada akhirnya kenikmatan hidup adalah ilusi dan fantasi ketika daya dukung dilemahkan dengan sengaja.  Sebuah lingkaran iblis yang meracuni pikiran manusia, dan menimbulkan kebodohan yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga beranak-pinak secara subur bagai kanker yang liar berkembang di permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih adakah kata yang tersisa untuk mengutuk Ibu Pertiwi setelah kita memperkosa Ibu kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masihtersisaairmata&lt;br /&gt;menjelangtengahmalam&lt;br /&gt;5november2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4687215152055494174?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4687215152055494174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4687215152055494174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4687215152055494174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4687215152055494174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/11/ibu-pertiwi.html' title='Ibu Pertiwi'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1586469481830293042</id><published>2010-10-30T12:19:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T13:03:52.236-07:00</updated><title type='text'>Hubungan DenganNya Karena Ketakutan?</title><content type='html'>Bencana demi bencana menggetarkan hati setiap manusia di negri ini. Bandang di tanah Papua mengingatkan beberapa bah yang menghanyutkan banyak nyawa seperti halnya di lembah Gunung Leuser.  Letusan Merapi menggedor rasa takut yang sudah lama bersembunyi di balik kalbu.  Tsunami Mentawai membangkitkan trauma yang terasa baru minggu lalu terjadi di Aceh.  Puting beliung, rob, dan berbagai bentuk bencana lainnya mampu menjangkau dan mengaduk-aduk rasa takut yang disimpan jauh di relung kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak terdengar nyanyian bersama, atau keluhan, atau bisikan halus di hati.  Tuhan sedang murka.  Allah sedang menghantamkan azabNya.  Sedang menunjukkan kekuasaanNya, sedang pamer keperkasaanNya, kemahakuasaanNya.  Ancaman-ancaman dari mulut para pandai agama berlontaran dan menambah ciutnya nyali manusia kepada Tuhan.  Ternyata menurut gambaran mereka, Allah bisa menjadi sangat menakutkan, sangat membahayakan jiwa manusia, bahkan sangat kejam dalam memberi hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan berwarna ketakutan lalu terciptakan.  Manusia dibuat dan diciptakan oleh Allah untuk menjadi takut kepadaNya.  Manusia diciptakan untuk menyembahNya, agar namaNya tetap agung.  Manusia diciptakan untuk jatuh tersungkur dihadapNya karena kemahakuatanNya.  Manusia harus bertekuk-lutut dihadapanNya bagai sekelompok tawanan perang yang siap untuk dijatuhi hukuman apapun sesuai kehendakNya.  Tidak ada posisi tawar yang diwariskan kepada manusia oleh penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, semua ini menjadi sebuah skema penciptaan yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuhan memang ingin dihormati dan diagungkan melalui sembahan ciptaanNya, maka dalam ukuran manusia, Tuhan sangat egotistik dan gila hormat.  Tidak ada sebutan lain.  Jika Tuhan menciptakan manusia untuk mempunyai rasa takut terhadapNya, maka dalam ukuranku, Tuhan sudah sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, Tuhan tidak berada dalam skema seperti itu.  Dia terlalu rendah untuk digambarkan dalam pola penciptaan yang hirarkis, egotistik, kejam dan gila hormat.  Hanya manusia-manusia yang sakit jiwa-lah yang mempunyai gambaran yang penuh sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, seandainya betul ada dan merupakan pencipta segala, adalah maha ada, maha kasih, maha bijaksana.  Ke-mahakasih-an itu tercipta dan jelas tergambar dalam segala fenomena, baik dalam gerak sel dalam tubuh makhluk hidup, perilaku lebah, kicauan merdu seekor burung, secangkir kopi, berkembangnya janin, kedahsyatan gempa bumi, letupan magma, lontaran nuklir matahari, dan ke-takterhingga-an struktur alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia hanya sebentuk sel dalam gambaran tubuh semesta ciptaanNya.  Tidak selayaknya pikiran sempit manusia melontarkan penghakiman yang penuh kebodohan dan sakit jiwa untuk mengukur Tuhan.  Tidak pada tempatnya Tuhan dibelenggu dalam pemahaman picik otak manusia yang penuh ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketakutan hanya menghasilkan gambaran Tuhan yang maha kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lewattengahmalam&lt;br /&gt;akhiroktober2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1586469481830293042?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1586469481830293042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1586469481830293042' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1586469481830293042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1586469481830293042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/hubungan-dengannya-karena-ketakutan.html' title='Hubungan DenganNya Karena Ketakutan?'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5244254035204625717</id><published>2010-10-24T05:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T10:10:48.077-07:00</updated><title type='text'>Tuanku yang Pemarah</title><content type='html'>Beberapa bulan terakhir ini aku rasakan sebuah bara yang diam tapi pasti, menggumpal di dalam diriku.  Aku tidak tahu persisnya di mana, namun rasa itu terus menerus membara bagai sekam merah menyala.  Dia ada jauh di dalam diri bagai magma yang bersembunyi jauh dari permukaan bumi.  Barangkali orang lain melihat diriku dari luar yang nampak sangat biasa, namun bara itu ada, dan dapat kurasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu tertentu, bara dalam diriku panasnya mampu terasa sampai kulit ariku.  Terutama apabila ada satu atau dua hal yang mampu memancing bara tadi untuk langsung mencari jalan dalam nadiku, keluar dan meledak di setiap lubang pada tubuhku.  Ledakan itu nyata terlihat dimataku yang memerah dan membara, di lubang nafasku yang menjadi tersengal, di mulutku yang mampu melontarkan kata-kata nistaan, di lubang telingaku yang menjadi penyumbat hingga tidak mau lagi mendengar kata-kata orang lain, sekasar apapun, atau selembut apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bara itu membuatku menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mampu mengendalikannya, apalagi memadamkannya.  Dia begitu perkasa, pada saatnya muncul dan menguasai seluruh pikiranku, dia terasa bagai seorang tuan yang membawa cambuknya yang berapi.  Aku hanya mampu memasrahkan diriku di bawah injakan kakinya.  Aku hanya mampu membiarkan dia membakar seluruh nadi dan sendiku sampai meleleh tanpa daya.  Aku hanya mampu membiarkan lubang mulutku melontarkan cacian dan makian berapi bagi orang-orang di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel-sel perasa dalam diriku seolah lumpuh.  Tidak mampu lagi merasakan batin orang-orang di sekitarku yang kunista dan kuaniaya.  Pikiranku menjadi gelap, penuh dengan kabut asap dari sekam yang membara di sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku yang pemarah dalam diriku begitu kuat menguasai seluruh sistem dalam diriku.  Meski dia membuatku menderita, namun aku tidak tahu bagaimana membiarkannya pergi.  Aku bahkan pelihara tuanku ini, kubiarkan dia tinggal dalam batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah berusaha untuk mengusir tuanku yang pemarah ini dengan banyak cara, dengan banyak tipudaya.  Namun dia hanya sembunyi dibalik pikiran-pikiranku, dibalik perasaan-perasaanku, yang seringkali gelap tertutup asap sekam yang membara.  Dia tidak mau pergi meninggalkanku.  Atau aku tidak mau dia meninggalkanku.  Perbedaan keduanya ternyata sangat halus dan aku tidak tahu yang mana yang terjadi.  Karena barangkali tuanku adalah bayangan diriku sendiri.  Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar bahwa aku memerlukan sebuah uluran tangan yang membantuku berdiri kembali dari injakan tuanku yang pemarah.  Aku perlu sebuah sandaran tempatku mencurahkan derita dari batinku yang hangus dibakar tuanku yang pemarah.  Aku butuh uluran tangan seseorang untuk memberiku seteguk air jernih untuk memadamkan kobaran api milik tuanku yang pemarah ini.  Namun aku juga sadar bahwa seringkali orang lain tidak benar-benar mengenali tuanku ini.  Sebuah sikap yang muncul karena ke-putusasa-an dan kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, jauh di dasar kesadaranku, sebetulnya aku tahu bahwa aku juga harus menerangi setiap relung pikiran dan batinku untuk menemukan tuanku yang sedang bersembunyi, mengenalinya dengan lebih baik, dan mengajaknya berbincang agar aku mampu memahami asal-muasalnya.  Aku harus membawanya ke luar dari kegelapan asap pekat bara hatiku, agar segenap wujudnya nampak jelas di bawah penerangan cahaya batinku.  Aku tahu, tuanku yang pemarah lebih senang tinggal dalam kegelapan pikiranku, dan tidak menyukai cahaya terangnya batinku.  Dia akan merasa ditelanjangi, merasa diteliti dan merasa dikuliti sehingga akan nampak wajah bengisnya, bahkan akan nampak jelas belitan akar yang menghidupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan mengenalinya, maka aku bisa sambil tersenyum memintanya untuk meninggalkan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelangtengahmalam&lt;br /&gt;dirumah, 24oktober2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5244254035204625717?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5244254035204625717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5244254035204625717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5244254035204625717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5244254035204625717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/tuanku-yang-pemarah.html' title='Tuanku yang Pemarah'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8204636792000337662</id><published>2010-10-15T18:22:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T05:36:15.634-07:00</updated><title type='text'>Rindu</title><content type='html'>Rasa rindu itu datang menyergap sejak semalam.  Dalam meditasi malamku, kuamati dan kusadari rasa yang aneh ini.  Pagi ini intensitasnya sudah jauh mengendur, tinggal sayup seolah melambai mengucapkan selamat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari mana rasa rindu itu muncul, sehingga bisa datang tiba-tiba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari apa rasa rindu itu terbentuk, sehingga mampu menggumpal dan menyesakkan dada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita merindukan seseorang, sesuatu, semasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu adalah sebuah rasa yang seolah kosong dan menginginkan isi dari sumber lain untuk memenuhinya.  Sering kurasa dia seolah ada tapi tidak lengkap dan menginginkan bagian lain untuk membuatnya utuh.  Sebuah rasa yang kerontang dan menanti setetes air dari luar untuk membasahinya.  Sebuah penantian, sebentuk keinginan, segenggam harapan, barangkali sebuah derita ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah sebuah kerinduan akan selalu terpuaskan oleh energi luar yang diinginkannya untuk mengisi kekosongan ruang batinnya?  Benarkah kerinduan hanya berakhir dengan kesenangan sesaat - rasa penuh, nyaman, nikmat?  Benarkah pikiran betul-betul akan lebih penuh setelah kerinduan sembuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah obat derita dalam pikiran harus berasal dari kekuatan luar diriku?  Ataukah sebenarnya aku sendiri yang menciptakan kekuatan luar untuk menyembuhkan derita dalam batinku?  Jika derita itu kuciptakan sendiri, bukankah lebih mudah untuk menyembuhkannya dengan tidak menciptakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk di coffee shop sebuah hotel di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi bekas hujan tadi pagi di dedaunan di halaman hotel ini.  Adakah kerinduan di pepohonan itu, yang mereka ciptakan sendiri?  Atau baginya, kerinduan bukan untuk sebuah kesenangan, tapi sungguh sebuah garis antara hidup dan mati .. ketika mereka merindukan hujan seperti pagi tadi.  Aku yakin, kerinduannya sudah terpuaskan dan kehidupannya sudah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ragu, bahwa kerinduanku padanya sebesar makna hidup dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan dia melambai pergi ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedatonhabissarapan&lt;br /&gt;16oktober2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8204636792000337662?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8204636792000337662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8204636792000337662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8204636792000337662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8204636792000337662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/rindu.html' title='Rindu'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-7020625465620111088</id><published>2010-10-13T10:51:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T11:34:30.924-07:00</updated><title type='text'>Takut di Umur Empat Puluh</title><content type='html'>Siang itu para peserta lokakarya makan bersama.  Seorang teman lama dari Jawa Timur bergabung di mejaku.  Kami banyak ngobrol tentang kehidupan, dan karena dia sudah mengenalku, maka obrolan masuk ke hal-hal yang lebih pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa ya saya dalam setahun terakhir ini, terutama setelah masuk di usia 40, selalu merasa takut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Takut apa?". tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu .. misalnya kalau saya harus memilih untuk pergi ke dua tempat, saya akan memilih yang lebih dekat, agar resiko tidak terlalu besar dan dapat kembali ke rumah lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku amati wajahnya, dan dia tidak bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketakutan itu muncul ketika umurku mencapai 40, dan kudengar bahwa umur 40 merupakan puncak kematangan seseorang dalam hidupnya.  Di usia itu katanya energi manusia berada di tingkat paling tinggi, sampai ada istilah puber kedua .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, mengapa takut pada puncak kehidupan?" selidikku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah .. tapi ketakutan itu nyata dan ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku berkaca pada diriku sendiri, apakah pada ulang tahunku yang ke 40 aku juga dulu merasa takut?  Aku sama sekali tidak ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dari ceritamu bahwa kau selalu ingin cepat kembali ke rumah, rasanya ada ketakutan berada di luar rumah dan merasa aman ketika berada dalam rumah .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, seperti itulah rasanya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat memahami ketakutannya, namun kucoba tawarkan sebuah pemahaman tentang rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya orang takut akan kematian .." lalu kuamati reaksi wajahnya.  Ada sedikit gerakan kepalanya, dan kulihat dia menatapku lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. barangkali itu benar .." katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa kematian selalu menakutkan .. ?" tanyaku, dan dia terdiam sambil menatapku seolah mencari jawabannya di wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. menurut yang kupahami, paling tidak ada tiga alasan mengapa manusia takut akan kematian.  Pertama, kematian merupakan peristiwa yang tidak dapat diperbaiki.  Beda misalnya dengan sakit yang bisa sembuh .. jatuh yang bisa bangun kembali .. sedih yang dapat bergembira lagi.  Mati tidak dapat hidup kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia mendengarkan dengan diam sambil sesekali menganggukkan kepalanya dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alasan kedua, kematian merupakan kondisi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, karena itu menakutkan.  Coba bayangkan ketika kita masuk ke sebuah gua, atau bahkan masuk ke sebuah kota, yang belum pernah kita ambah, kita alami, pasti ada rasa takut itu .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alasan ketiga, dan ini yang paling menakutkan, adalah anihilasi .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu dengan anihilasi?" sergahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anihilasi merupakan penghilangan keberadaan.  Kematian menghilangkan seseorang.  Hari ini ada, besok sudah tidak ada dan tidak dapat ditemui sosoknya.  Eksistensi menjadi hilang, tidak ada, musnah .. tidak lagi dapat tercerap oleh sensor inderawi kita.  Hilangnya eksistensi ini yang paling memberikan rasa takut karena berarti akan hilang pula semua kenangan, semua pengalaman, usaha, dan kepemilikan terhadap segala sesuatu yang pernah dikumpulkan semasa hidup.  Kehilangan eksistensi berarti kehilangan referensi yang selama hidupnya menjadi identitas, misalnya: aku profesor, aku orang kaya, aku seorang direktur, aku seorang ayah dalam sebuah keluarga baik-baik .. dan sebagainya.  Kelekatan ini akan hilang sejalan dengan hilangnya eksistensi diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutku, "Kehilangan eksistensi menjadi sebuah titik dimana sebuah imaji yang pernah cemerlang menjadi kosong, hampa, tidak berguna, tidak ada .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diam-diam, ketakutan itu terus mengeras dalam pikiran ketika kita menyaksikan orang-orang yang mati di sekitar kita .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu, bagaimana cara mengatasi ketakutan besar itu ya?", tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, waktu makan siang sudah habis dan kami harus kembali lagi ke ruang diskusi untuk melanjutkan sesi berikut ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lewattengahmalam&lt;br /&gt;14oktober2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-7020625465620111088?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/7020625465620111088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=7020625465620111088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7020625465620111088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7020625465620111088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/takut-di-umur-empat-puluh.html' title='Takut di Umur Empat Puluh'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-2794452729046578780</id><published>2010-10-07T07:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-07T08:14:16.062-07:00</updated><title type='text'>Sore Itu Di Restoran Ayam Goreng</title><content type='html'>Badanku terasa penat, barangkali sepenat sopir mikrolet yang membawaku ke daerah Tebet, melalui kemacetan luar biasa malam itu, yang ditingkahi oleh hujan salah musim yang akhir-akhir ini sering membanjiri ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku-pun terpecah dan terberai ke setiap sudut kepalaku.  Sungguh, malam itu aku tidak sepenuhnya menyadari apa yang aku sedang jalani.  Sebentar pikiranku melayang ke Bambang, calon suamiku.  Bulan depan kami berencana mengikatkan diri dalam perkawinan gereja.  Bambang bukan orang baru dalam hidupku, dia kukenal sejak kami di sekolah dasar, bertahun lalu.  Tanpa sengaja kami bertemu lagi dalam acara reuni, dan sejak itu tumbuh rasa cintaku kepadanya.  Entah apa yang menggiring hal itu terjadi, namun berbincang dan bersamanya membuatku seolah berada dalam mangkok sup energi yang sungguh menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian pikiranku hinggap di rumahku, seolah sedang mendengarkan ocehan papa dan mamaku.  Menurutku, sejak kepulangannya dari ibadah haji tiga tahun lalu, ada perubahan aneh.  Barangkali itu hanya perasaanku saja, namun keduanya seolah hidup diantara dua sisi: harus menjadi suci di hadapan Allah melalui gencarnya ritual keagamaan yang dilakukannya untuk mengumpulkan pahala; dan ketakutan akan hukuman Allah yang menjadikannya menutup diri dari interaksi bebas dengan manusia yang tidak sejalan dalam agamanya karena dianggap bisa membahayakan surganya kelak.  Dua sisi ini merubah perilaku dan warna interaksi mereka dengan orang lain, termasuk dengan diriku, termasuk dengan Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan di dalam mikrolet dan derasnya hujan di luar, kurasakan hangatnya air mataku yang mengalir tanpa dapat kucegah.  Air mata yang mampu membuatku menahan beban batin yang menghimpitku sampai ke sumsum tulangku.  Air mata yang dapat memberiku energi untuk kembali kepada kesadaranku, meski tubuhku terasa semakin lelah.  Aku baru tersadar ketika penumpang sebelahku mengetuk atap mikrolet minta berhenti di kawasan Tebet, dekat tempat tujuanku, restoran ayam goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di restoran itu aku akan dilamar oleh keluarga Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar restoran kulihat abangku, istrinya, dan saudara sepupuku, sudah duduk berhadapan dengan keluarga Bambang.  Kulihat dia duduk di ujung deretan kursi yang didepannya masih kosong, yang pasti disediakan untukku.  Cepat kuusap air mataku.  Kurapikan rambutku, dan kukibaskan butiran air di bajuku.  Sejenak kepedihan menyayat batinku, namun sejenak itu pula kucoba tekan hatiku agar tidak berdarah karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kududuk ditempatku, acara lamaran-pun dimulai.  Intinya, kakak lelakiku menerima lamaran keluarga Bambang, dan semua pihak akan membantu agar pernikahanku bulan depan dapat berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan bibirku tertutup rapat, membendung gejolak hatiku.  Kubayangkan rumah orangtuaku yang mewah, dan kugambarkan kejadian ini berada di sana, penuh ceria dan sukacita orangtuaku.  Sejenak kemudian kusadari aku duduk di kursi keras sederhana ini, di depan sajian ayam goreng, sayuran, tempe tahu goreng, lalapan dan sambal.  Kusadari bahwa orangtuaku tidak hadir dalam peristiwa teramat penting dalam hidupku ini.  Kusadari kekosongan hatiku berada dalam keramaian kelompok kecil ini.  Hanya sayup kutangkap obrolan dan canda tawa dua keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku kembali sibuk.  Pertanyaan demi pertanyaan muncul silih berganti.  Mengapa Allah menciptakan agama kalau hanya untuk memisahkan aku dan orangtuaku?  Mengapa Tuhan tidak mampu mengakui perbedaan agama umat ciptaannya dan tetap menyambungkan tali silaturahmi umatnya yang beraneka agama?  Mengapa Tuhan begitu kejam menghukumku melalui orangtuaku yang tidak lagi mengakui aku sebagai anaknya ketika tahu aku pindah agama mengikuti calon suamiku?  Mengapa Tuhan begitu membenciku sehingga aku merasakan batinku tercerai berai, terinjak oleh iman sebuah agama ciptaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tidak boleh berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perbedaan bisa menimbulkan kebencian yang teramat dalam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak pertanyaan yang hilir mudik dalam kepalaku membuatku semakin merasakan kelelahan yang sangat.  Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah calon suamiku, aku terlelap di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/10/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-2794452729046578780?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/2794452729046578780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=2794452729046578780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2794452729046578780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2794452729046578780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/sore-itu-di-restoran-ayam-goreng.html' title='Sore Itu Di Restoran Ayam Goreng'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8780355395384550969</id><published>2010-10-04T08:48:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T09:36:23.121-07:00</updated><title type='text'>Menghargai Perempuan</title><content type='html'>Wajahnya kusut dan bibir yang biasanya nampak penuh dan menarik, sore itu tertutup dan berkerut, kedua ujungnya seolah tertarik dengan paksa ke arah berlawanan.  Aku tahu itu karena bibirnya adalah salah satu bagian menarik dari wajahnya yang selalu kuamati pertama kali setiap kami bertemu.  Dan aku juga tahu bahwa itulah gambaran dari hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. aku gak mau sholat di masjid itu lagi, rajuknya&lt;br /&gt;.. kenapa? selidikku&lt;br /&gt;.. waktu sembahyang Ied, yang sudah aku tunggu setahun sekali, perempuan di taruh di baris belakang hampir di luar masjid, tidak dialasi karpet seperti para lelaki, tapi tikar plastik yang kumuh, dan waktu gerimis datang, sebagian kami harus menghambur ke dalam karena kebasahan, jelasnya dengan berapi-api&lt;br /&gt;.. kenapa perempuan diperlakukan seperti manusia kelas dua? lanjutnya, masih berapi-api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat segera menjawabnya, dan barangkali tidak berguna untuk temanku yang masih berapi hatinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. coba jelaskan, apa bedanya lelaki dan perempuan di hadapan Allah?  Hanya karena yang satu ber-penis dan yang lain ber-vagina?  Hanya karena itukah kedua jenis manusia ini berbeda dihadapanNya?  Apakah Allah memperlakukan manusia berbeda karena alat kelaminnya dan bukan batinnya?  Demikian rendahkah Allah dalam memperlakukan ciptaanNya sendiri terutama bagi para perempuan?  Betulkah perempuan harus menjadi manusia nomor dua karena kodratnya?  Kalau begitu, dimana keadilan Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku tidak mampu berkata selain diam dan mendengarkannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. aku betul2 tidak mau lagi ke masjid itu, bahkan aku tidak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki sombong dan mau menang sendiri itu.  Suaranya masih berapi dan bahkan terasa lebih panas dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekesalan dan kemarahan dalam suaranya.  Dalam nada halus, ada kepedihan yang terdengar sayup dalam gelegak nada suaranya.  Ada tangis dalam kemarahannya.  Ada kekecewaan dalam protesnya.  Ada ratapan dalam keberaniannya menentang aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang mengeluarkan aturan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aturan itu dibuat berdasar kebiasaan sebuah masyarakat di sebuah negri yang membedakan peran dan tingkat sosial perempuan dalam masyarakat.  Barangkali aturan itu dibuat berdasar ketakutan para lelaki akan kelebihan perempuan, baik itu kekuatan fisik, pandangan yang menyeluruh, kepekaan perasaan, kehalusan budi, sikap melindungi, hasrat memelihara, ataupun kehangatan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. pokoknya aku gak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki yang merasa dirinya lebih tinggi daripada perempuan, yang menyimpan kemunafikan dalam kopiah mereka, dan membungkus ketakutan dalam baju koko mereka ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat berkata lagi, karena sudah ada 'pokoknya'.  Namun diam-diam aku sungguh menghargai perempuan ini, sepenuh hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelangtengahmalam&lt;br /&gt;4oktober2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8780355395384550969?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8780355395384550969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8780355395384550969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8780355395384550969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8780355395384550969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/10/menghargai-perempuan.html' title='Menghargai Perempuan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4417419830207676898</id><published>2010-09-28T10:26:00.001-07:00</published><updated>2010-09-28T10:32:46.425-07:00</updated><title type='text'>Kasih Injil Yohannes</title><content type='html'>Sebuah cerita dari sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa paham atas apa yang ditulis di kitab suci.  Kitab yang menjadi panduan dalam hidupku, dan menjadi perlindunganku dalam segala kesukaran hidup.  Di dalam ayat-ayat itulah aku menyandarkan pengetahuanku tentang segala dimensi kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ diceritakan tentang Yesus yang mengajarkan kasih, sebagai inti dari semua ajarannya.  Seandainya kitab suci bisa diperas maka akan keluar setetes embun bernama ‘kasih’ .. hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pemimpin agamaku, kasih itu datangnya dari Allah, bukan dari manusia karena manusia sejak lahirnya sudah cacat membawa dosa asal dari Adam.  Hanya dengan melakukan dan menyatu dengan Allah-lah maka kasih dariNya dapat kita peroleh.  Satu-satunya penyatuan antara manusia, Yesus dan Allah dibahas dalam injil Yohannes.  Bukan oleh penulis2 injil lainnya.  Salah satu contoh misalnya, “ .. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam aku dan aku di dalam kamu ..” (Yoh 14:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran Yesus lebih lanjut tentang penyatuan diri ini ada di ayat selanjutnya, bahwa kita manusia seperti ranting anggur yang harus menyatu dengan pokoknya agar dapat berbuah.  Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting2nya (Yoh 15:4 -5).  Aku juga tahu bahwa sebagai seorang Kristen, aku harus menyatukan diriku dengan Allah, dengan Kristus.  Usaha penyatuan itu digambarkan dengan konsekrasi dan penerimaan komuni di perayaan ekaristi.  Sebuah komunion, penyatuan, penerimaan tubuh (dan darah) Kristus ke dalam diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Yesus mengatakan, “.. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal dalam kasihNya (Yoh 15:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. aku dalam kamu, kamu ada di dalam aku ..&lt;br /&gt;.. kamu tinggal dalam kasihku ..&lt;br /&gt;.. aku tinggal dalam kasih Bapa ..&lt;br /&gt;.. bagai pokok anggur, kamu tidak berbuah kalau tidak tinggal dalam aku ..&lt;br /&gt;.. di luar aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sudah puluhan kali ayat2 itu aku baca ulang, aku coba pahami lagi, aku coba kaji kembali.  Kata-kata dalam alkitab yang seharusnya menuntunku menemukan kebenaran sejati, semakin lama malah terasa menjadi sebuah konsep.  Kata-kata itu menjadi kalimat yang menarik dalam bahasa namun membingungkan dalam arti, sehingga terasa ada sebuah jarak diantara keduanya yang memberi ruang untuk interpretasi, menurut siapapun yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertanyaanku masih terus menggantung, bagaimana caranya seseorang menyatukan dirinya dengan Allah?  Alkitab hanya mengatakan apa, bukan bagaimana.  Aku masih ingin mendapatkan sebuah ketrampilan untuk melakukan apa yang diamanatkan dalam buku suci itu.  Ketrampilan untuk menemukan arti sejati dari amanat itu, kemudian menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan sehari-hari, tanpa harus bersusah payah membentuk kondisi pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku kenal seseorang, yang dalam perjalanan hidupku bersahabat dengannya, memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidupku yang masih menggantung.  Dia membawa sebuah kesadaran baru yang jauh lebih pragmatis, realistis, sederhana, namun sangat dalam pada dimensi spiritual …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darinya, ada sebuah kesadaran baru yang kuperoleh.  Sebuah kesadaran bahwa penyatuan dengan Allah yang banyak diajarkan oleh banyak agama di dunia ini, merupakan sebuah bentuk kesadaran tertinggi bahwa ‘kerajaan Allah ada dalam diri manusia, dalam diriku’.  Allah bersemayam dalam diri masing-masing manusia.  Sehingga kini aku menyadari bahwa aku tinggal menemukan kerajaan itu, bagaikan Bima menemukan Dewa Ruci.  Kerajaan itu tidak di’luar’ sana, tidak di tanah suci di permukaan bumi ini, tidak di bangunan gereja atau masjid, tidak di pohon atau di gua-gua yang disucikan, namun ada di dalam hatiku.  Sudah ada sejak awal jaman.  Tinggal menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sudut pandang, yang masih sangat sejalan dengan bunyi ayat-ayat alkitab di atas, membalik seluruh pertanyaanku menjadi jawaban.  Rasanya tidak diperlukan lagi interpretasi tambahan untuk dapat memahami apa yang ditulis dalam injil Yohannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ada dalam diriku, karena batinku adalah kerajaanNya ..&lt;br /&gt;Komunion denganNya terjadi setiap saat, tidak hanya pada hari Minggu dalam perayaan ekaristi ..&lt;br /&gt;Kurasakan energiNya dalam diriku, kusyukuri kehadiranNya dalam batinku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewattengahmalam&lt;br /&gt;29/9/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4417419830207676898?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4417419830207676898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4417419830207676898' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4417419830207676898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4417419830207676898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/kasih-injil-yohannes.html' title='Kasih Injil Yohannes'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5200596597358870167</id><published>2010-09-18T21:00:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T05:03:13.133-07:00</updated><title type='text'>(Bukan) Agama Baru?</title><content type='html'>Aku pernah beragama.  Demikian katanya.  Sekarang aku tidak tahu, apakah hidupku beragama atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meneruskan ceritanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, beragama bagiku adalah rajin mengunjungi rumah ibadah, mengikuti setiap acara ritual di rumah ibadah itu, setia berdoa tepat waktu, melantunkan doa-doa dengan bertasbih, berpakaian terbaik ketika mengunjungi rumah ibadah, selalu mencoba membaca alkitab untuk memahami cerita dan menghafal ayat-ayat yang penting, sangat menghormati para pemimpin agamaku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatiku, aku merasa nyaman ketika semua kewajiban sudah kulaksanakan.  Sekali tidak ke rumah ibadah, rasanya ada sesuatu yang kurang dan harus ditebus .. untuk mengembalikan rasa nyaman tadi.  Aku bisa menangis ketika melantunkan doa-doa yang menyentuh hatiku.  Aku bisa terhanyut mendengar alunan doa dan nyanyian rohani yang mendayu syahdu.  Aku bisa mendapat energi baru ketika mengunjungi tempat-tempat ziarah yang disucikan oleh umat dalam agamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa nyaman, merasa aman dalam kelompokku, dan merasa bahwa ada jaminan keselamatan akan kehidupanku kelak setelah kematian ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mendengarkan dengan seksama ceritanya yang sungguh menarik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika aku berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah? tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan ceritanya. Ya, aku berubah.  Ada sebuah peristiwa dalam kehidupanku yang membuatku mempertanyakan peran agama dalam kehidupanku.  Ada sebuah titik yang membuatku menggugat seluruh bangunan keyakinan yang selama ini kugenggam teguh dan kubungkus dengan kain putih bertuliskan "iman".  Ada sebuah lantai marmer tempat kepalaku dibenturkan untuk mendapatkan kesadaran baru dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peristiwa itu terjadi akibat dari sebuah kondisi kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dihadapkan kepadaku dengan gamblang, sangat mendasar, telak menampar wajahku dan merontokkan seluruh kenyamanan yang melingkupiku, sebuah kenyamanan semu yang selama ini tercipta akibat dari penanaman sugestif yang kulakukan berulang melalui ritual keagamaan.  Semua gambaran semu yang terus menerus kubuat untuk membentuk sebuah benteng pengaman dari godaan diluar keyakinanku, yang dicap sebagai setan, iblis penggoda iman oleh kelompok agamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan apa yang kau alami? selidikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perubahan yang amat sangat mendasar, yang mampu membongkar seluruh dasar "iman" ku dalam beragama.  Perubahan yang mampu mengkritik peran Tuhan atau Hyang Maha.  Perubahan ini begitu menyakitkan batinku, seolah membungkam degup jantungku.  Perubahan yang mampu menguliti otak dan pikiranku sehingga menemukan keinginan2 yang bersembunyi di dalam kepalaku.  Semua itu berproses.  Namun memang proses itu seolah mencekik seluruh saraf kesadaranku, sehingga aku berusaha untuk tetap sadar dengan menggapai-gapai untuk mendapatkan energi kehidupan.  Sungguh, sebuah proses yang teramat menyiksa segenap sel dalam diriku.  Sebuah proses yang membawa rasa takutku yang terdalam, ke permukaan, dan kurasakan secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, peristiwa itu ternyata merupakan sebuah transformasi batin yang membongkar bangunan lama keagamaanku dan membentuk sebuah bangunan baru yang jauh lebih terbuka, tidak kaku oleh ritual dan iman, tidak terkungkung oleh proteksi dogma.  Bangunan baru ini seperti sebuah energi yang tidak berstruktur kaku, tapi luwes, adaptif terhadap stimuli apapun, seolah menyatu dengan batin dan pikiranku, serta memberi energi berlimpah ke dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu sebuah agama baru bagimu? kucoba untuk memahami lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apakah ini sebuah agama baru.  Aku tidak lagi melakukan banyak ritual untuk memahami dan mengalaminya.  Aku hanya perlu mengheningkan seluruh sistem dalam badan, pikiran dan batinku.  Keheningan yang sangat kini, sehingga konsep waktu melarut dan memudar, tidak ada lagi masa lalu dan masa depan.  Keheningan yang berada di sini, sehingga tidak ada lagi konsep ruang selain di sini.  Sebuah kondisi yang amat sangat menenangkan, berenergi, amat sangat membebaskan, dan ternyata sangat membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu benar apa yang terjadi, namun rasanya agama yang pernah kuanut dan sempat memberiku rasa keselamatan dan proteksi, menjadi tidak berarti .. aku tidak lagi merasakan ketakutan atau kecemasan tentang dosa, tidak juga merasakan adanya ancaman apapun dalam hidup ini.  Tidak ada rasa khawatir terhadap masa depan, konsep surga dan neraka setelah kematian, karena seperti kataku tadi, waktu yang ada hanya masa kini, masa depan adalah sebuah fantasi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau tanya aku sekarang, apa agamamu, aku tidak mampu menjawabnya, karena apa yang kualami pasti tidak masuk dalam kategori agama yang kau miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku tidak peduli lagi dengan aturan-aturan yang sekarang masih terus kau ikuti dan jalani.  Itu semua adalah masa laluku yang kini telah mati dan pergi entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ceritanya, aku hanya terdiam.  Apalagi yang bisa kulakukan selain itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tengah hari,&lt;br /&gt;di rumah, 19/9/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5200596597358870167?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5200596597358870167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5200596597358870167' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5200596597358870167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5200596597358870167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/bukan-agama-baru.html' title='(Bukan) Agama Baru?'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-688601887100714601</id><published>2010-09-06T18:54:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T19:44:34.808-07:00</updated><title type='text'>FITRAH</title><content type='html'>"Selamat Iedul Fitri, mohon maaf lahir dan batin .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu merupakan standard ucapan di saat umat Islam memperingati hari selesai berpuasa, hari akhir bulan Ramadhan.  Hari yang menurut mereka adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu.  Hari itu umat Islam merasakan sebagai manusia baru, manusia yang mampu kembali ke fitrah, sebuah kondisi bersih bagai bayi yang baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disampaikan oleh Abu Hurairah: " .. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada anak yang lahir kecuali dalam Al-fitra dan kemudian orangtuanya menjadikan mereka Yahudi, Kristen atau Magian (Zoroatrian), seperti halnya binatang melahirkan binatang yang sempurna: kau lihatkah bayi binatang itu yang bagian badannya terpotong? " (Sahih al Bukhari, buku 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitrah adalah kondisi dimana kemanusiaan kita sempurna bagai bayi, tidak ada kedengkian, tidak ada ketakutan, kemarahan, ketamakan .. yang ada adalah kondisi seorang manusia yang utuh jasmani - rohani, murni, bahkan bayi-pun masih terhubung erat dengan dimensi spiritualitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya iedul fitri memang tepat untuk merenungkan kembali kefitrian manusia.  Hari yang diperlukan, paling tidak beberapa hari dalam setahun, untuk mengembalikan manusia kepada nilai-nilai kemanusiaannya.  Nilai-nilai yang mengatakan bahwa semua manusia adalah sama, seperti kesamaan bayi-bayi yang baru lahir.  Nilai-nilai yang membebaskan manusia dari sekat-sekat yang dibuatnya sendiri yang berasal dari: agama, kebangsaan, keturunan, ekonomi, politik, dan masih banyak lagi.  Sekat-sekat yang ternyata telah membatasi gerak batin manusia dalam berkomunikasi dengan sesama, dengan alam semesta, bahkan dengan Tuhannya, sumber kehidupannya.  Sekat-sekat yang ternyata telah mengasingkan manusia dari sisi kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga hari Iedul Fitri 1431 H ini tidak hanya merupakan hari penyelesaian puasa, pembagian zakat karena kewajiban, mudik bertemu sanak keluarga; namun mudah-mudahan hari besar ini dapat mempunyai makna yang lebih dalam di kehidupan kita semua.  Makna bahwa kita dapat kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, kembali kepada kebebasan manusia dari sekat-sekat yang membelenggu dan mengurangi kebebasan gerak batin kita untuk saling menyapa, bersilaturahmi, bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka pintu maaf bagi diri sendiri dan bagi orang lain tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Namun memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah awal dari pendobrakan sekat-sekat yang membelenggu kemanusiaan kita sendiri, yang diperlukan untuk usaha kita kembali kepada nilai-nilai kesejatian kita sebagai manusia.  Kembali kepada fitrah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat Iedul Fitri 1431 H, semoga dibukakan pintu maaf lahir dan batin ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agus widianto&lt;br /&gt;7 september 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-688601887100714601?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/688601887100714601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=688601887100714601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/688601887100714601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/688601887100714601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/fitrah.html' title='FITRAH'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-3073151177980645017</id><published>2010-09-05T18:02:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T19:39:17.106-07:00</updated><title type='text'>Surgaku Di Sini Dan Sekarang Ini</title><content type='html'>" .. kau tahu, hidup di dunia ini kan sementara, sedangkan kehidupan sesungguhnya adalah hidup kekal kelak setelah kita mati .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah aku dan temanku memulai pembicaraan sore itu, di sebuah restoran di pinggiran kota Jakarta.  Kami sudah lama berteman, dia tinggal jauh di ujung Borneo.  Sore itu kebetulan bisa bertemu untuk melepaskan kerinduan berbincang dari hati ke hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan di Jakarta berwarna jingga seolah menjadi isyarat terakhir dari matahari bahwa sebentar lagi dia akan digantikan oleh bulan, setelah siang tadi setiap detik tanpa henti memberikan cahaya dan energinya kepada seluruh hidupan di seluruh planet di galaksinya.  Namun, sesungguhnya sinar matahari tidak pernah tergantikan.  Dia akan terus memancar, terus memberi dan menghidupi, tanpa pamrih.  Sebuah sumber energi maha dahsyat dalam ukuran manusia, yang bahkan ketika malam-pun, pertikel elementernya, neutrinos, mampu menerobos ketebalan bumi dengan kecepatan cahaya seolah massa bumi ini tiada.  Banyak renungan tentang matahari dan segala perilakunya yang memberi perspektif universal dalam kehidupan manusia yang semakin sempit di-kotak-kotakkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terdiam dan menyeruput kopi di hadapanku.  Temanku ini pemeluk agama yang kuat, seorang yang dapat menjadi contoh bagaimana menjalankan agama dengan baik.  Sore ini dia hanya pesan teh panas manis.  Beberapa keping biskuit ada di tengah meja, sebagian sudah kami nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. maka, seluruh energi kita harus diarahkan pada kehidupan kekal itu.  Apa yang kita perbuat dalam hidup sekarang ini kan sebenarnya ajang berinvestasi untuk kehidupan kelak.  Sekarang dalam menghimpun investasi ini, kehidupan masih bisa kita kendalikan dan pilih mana yang baik dan buruk, namun kelak .. " ada jeda sejenak, dan kulihat dia menarik nafas dalam, ".. kita tidak akan mempunyai kesempatan dan keleluasaan lagi untuk memperbaiki hidup, semuanya sudah akan serba terlambat .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. kelak tinggal masa penghakiman, dan kita harus terima apa yang menjadi keputusan Sang Maha Hukum dan konsekuensinya, yang semuanya didasarkan pada segala catatan kehidupan kita sekarang ini .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mendengarkan dengan seksama setiap katanya.  Ada perasaan aneh ketika pikiranku seolah memutar sebuah kaset lama.  Lagunya itu-itu saja, liriknya mirip atau sama, hanya penyanyinya yang berbeda-beda.  Lagu itu terus-menerus didendangkan, di-salawat-kan, bahkan menjadi kredo bagi sebagian manusia, menjadi syahadat.  Lagu itu seolah sudah menjadi lagu kebangsaan umat manusia, yang ketika dinyanyikan harus disertai sikap sempurna, tegak dan penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu benar, dari mana lagu itu berasal, dan siapa pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kembali ada jeda.  Warna kemerahan di awan Jakarta sudah mulai meredup.  Dewa Surya akan segera beristirahat masuk ke peraduan, dan Dewi Ratri akan menggantikannya menemani umat manusia di belahan bumi ini.  Suara jengkerik dan burung malam mulai terdengar sayup.  Suara katak yang terdengar satu-satu juga menjadi semakin jelas.  Halaman rumah ini luas sekali, banyak pepohonan besar yang sudah sangat jarang ditemui di Jakarta, bahkan di wilayah cincin sub-urbannya.  Udara mulai berganti dengan menghembuskan kesejukan senja, seolah semua pohon di situ bersama-sama meniupkan nafas harum dan sejuknya agar membantu manusia mengistirahatkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. bagaimana kau berhubungan dengan sesama, dengan makhluk lain, dengan alam semesta, bahkan dengan dirimu sendiri .. pada kehidupan sekarang ini? .." tanyaku memecah kesunyian jeda tadi.  Sebuah pertanyaan yang kemudian aku rasakan terlalu panjang dan seolah menghamburkan seluruh pikiranku dalam sebuah urutan kalimat.  Sedikit gerakan kepalanya menandakan usahanya menangkap arti pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jawabnya, ".. semuanya hanya sementara, paling untung hanya 80 tahunan, dan setelah kematian, barulah kita masuk ke kehidupan kekal, abadi.  Jadi, semua kehidupan ini hanyalah sarana kita untuk menggapai Allah, sarana untuk melakukan investasi agar kita kelak mendapatkan surga.  Agar kelak raport kita tidak merah.  Hidup sekarang harus baik dan benar, baik terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan dan semesta .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar sedikit desahan nafasnya setelah mengungkapkan semua argumentasi, sebuah pidato yang seolah sudah lama dipersiapkan dalam benaknya, bahkan dalam setiap sel di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. rasanya ada sedikit perbedaan dari cara kita bersikap dalam hidup ini ..", kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. bagiku, semua 'dunia' di luar diriku, baik itu sesama, makhluk lain maupun lingkungan dan semesta, merupakan kesatuan yang disebut kehidupan.  Aku tidak pernah menganggap sesamaku sebagai alat untuk menggapai Allah ..", lanjutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. meskipun barangkali perlakuan kita sama baiknya kepada sesama dan lingkungan, namun rasanya kebaikan yang aku lakukan .. dan aku masih terus mencoba untuk hidup baik .. adalah karena aku merasa mereka adalah bagian hidupku.  Aku tidak dapat hidup tanpa mereka.  Hubunganku dengan mereka tidak bersifat sub-ordinasi, bahwa aku punya wewenang atas mereka, bahwa aku adalah penjaga mereka, aku adalah khalifah mereka, aku diberi wewenang oleh Allah untuk menjaga dan memanfaatkan mereka.  Tidak seperti itu .. Aku adalah mereka, dan mereka adalah aku .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang giliran dia yang terdiam.  Saat itu aku hanya mengharap dia dapat memahami kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. Coba lihatlah secangkir kopi yang kuminum ini.  Aku bisa menikmati lezatnya kopi ini karena jutaan manusia terlibat di dalamnya.  Para petani penanam kopi, pekerja pabrik pembuat cangkir yang menarik ini, pengolah kopi, petani penanam tebu untuk bahan gula, pembuat kompos dan pupuk, sinar matahari, pegawai pengolah air, pegawai listrik untuk menjalankan mesin kopi .. dan terus .. dan terus .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih terdiam dan memandangku.  Dalam keremangan senja, bulatan hitam matanya seolah membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. Jadi, kopi yang kemudian kunikmati dan menyatu dengan diriku ini, merupakan sebuah hasil kerja besar dari banyak unsur semesta, termasuk manusia yang tidak pernah kukenal secara pribadi.  Adakah aku lalu menganggap mereka adalah sarana untuk mencapai surgaku?  Sama sekali tidak .. Aku hanya merasakan bahwa mereka adalah bagian dari hidupku.  Aku hanya merasakan bahwa merekalah surgaku, yang sekarang ini berupa kenikmatan secangkir kopi .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. inilah surgaku, menikmati suara2 makhluk senja di sekitar kita, merasakan sejuknya semilir angin malam di tempat seindah ini, ditemani secangkir kopi hasil kerja keras jutaan manusia, dan berbagi pengetahuan dengan kamu, teman baikku .." kulihat sekilas bibirnya bergerak menyunggingkan sebentuk senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. Surgaku sedang kualami sekarang ini, disini, di tempat ini, bukan nanti kalau aku sudah mati .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat temanku terkasih,&lt;br /&gt;yang sedang berinvestasi untuk surganya kelak&lt;br /&gt;jakarta, 6 september 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-3073151177980645017?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/3073151177980645017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=3073151177980645017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3073151177980645017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3073151177980645017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/surgaku-di-sini-dan-sekarang-ini.html' title='Surgaku Di Sini Dan Sekarang Ini'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-6501303802525962419</id><published>2010-09-02T08:11:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T08:41:11.545-07:00</updated><title type='text'>Manusia Yang Lemah</title><content type='html'>Dia memandangku lekat-lekat.  Kami baru saja berbincang mengenai birahi sebagian manusia yang muncul hanya karena melihat patung Tiga Mojang di Bekasi.  Ada sinyalemen bahwa peristiwa itu menunjukkan betapa manusia-manusia itu mempunyai intelektualitas lebih rendah dari rata-rata, karena tidak dapat membedakan buah dada manusia dan buah dada patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih memandangku lekat-lekat, dan dengan pelan kemudian berkata: “.. manusia memang makhluk yang lemah, banyak keinginan daging yang seringkali tidak dapat kita kendalikan ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak dan mencoba menangkap pesan yang disampaikan di balik susunan kata yang terucap.  Ada paling tidak tiga hal: pertama, manusia adalah makhluk yang lemah; kedua, keinginan daging; dan ketiga, kemampuan untuk mengendalikan keinginan daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. mengapa kau menganggap manusia itu lemah?”, tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. hanya Tuhan yang sempurna, manusia tidak sesempurna sepertiNya”, dia mencoba membuat sebuah perbandingan, yang menurutku hanya membandingkan dua fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. meski aku tidak tahu Tuhan, tapi bukankah manusia itu sempurna?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. tidak, karena manusia tidak berkuasa menghindari kematian, sedangkan Tuhan bebas dari maut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. menurut skenario manusia, memang seharusnya Tuhan tidak mati, karena jika dia mati, maka tidak akan ada rasa hormat manusia kepadaNya, yang seharusnya superior karena diyakini sebagai pencipta.  Bagaiman Pencipta dikalahkan oleh siklus yang diciptakannya?  Kematian yang digunakan sebagai faktor pembanding rasanya menjadi tidak adil.  Namun intinya, pada saat manusia hidup, bagiku dia sempurna.  Dia adalah hasil evolusi lebih dari dua ratus ribu tahun, dan evolusi ini menjadikan manusia sebagai sesosok organisme hidup yang sesuai dengan habitatnya ..” aku mencoba membela spesies-ku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dia memandangku lekat, dan kulihat ada sedikit gerakan kepalanya seperti sebuah tanda keterperanjatan atas jawaban yang mungkin tidak pernah terpikirkan.  Dia terdiam menunggu kata-kataku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. jika kau pahami mekanisme tubuh manusia, perkembangan otak manusia, kemampuan sensorik, sistem hormonal, kekebalan tubuh dan lainnya, kau akan bisa mengapresiasi kemampuan tubuh kita ini.  Demikian juga kemampuan pikiran, kemampuan spiritual manusia yang bisa tidak terbatas, sangatlah memukau ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. apresiasi demikian diperlukan agar manusia dapat menghargai dirinya sendiri, karena hanya dengan begitulah dia dapat menghargai manusia lain, menghargai makhluk lain, dan menghargai penciptaNya .. Hanya manusia yang tidak dapat menghargai dirinya-lah yang tidak dapat menghargai penciptaNya ..” lanjutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih diam, pandangannya seolah sedang mencari sebuah pegangan agar kata-kataku tidak menjerumuskannya ke sebuah lubang yang penuh ketidakpastian.  Sebuah perangkap yang akan membahayakan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. tapi keinginan daging merupakan sisi kelemahan manusia, karena kita selalu tidak bisa mengendalikannya.  Coba lihat, puasa makan minum saja sukar sekali, selalu ada dorongan untuk batal.  Keinginan seksual merupakan indikator paling nyata, bahwa manusia tanpa seks rasanya tidak bisa hidup .. sewaktu keinginan seksual ada, betapa sukar mengendalikannya ..” dia masih mencoba mengulang dan memperkuat argumentasi tentang kelemahan manusia, “.. dan juga tidak hanya keinginan seksual saja, tapi keinginan-keinginan daging lainnya ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. aku rasa ada benarnya bila pikiran kita mengendalikan seluruh sistem tubuh, yang kau sebut sebagai keinginan daging ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. maksudmu? “ dia mencoba memahami apa yang kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. semua berasal dari pikiran kita, termasuk segala keinginan, segala kebencian dan ketidak-pahaman.  Pikiran yang muncul itu lalu menjadi lokomotif yang menggandeng seluruh sistem tubuh.  Misalnya, meski tubuh ini sudah lelah, namun pikiran masih mempunyai keinginan pergi ke sebuah mall, maka tubuh lelah ini diseret-seret memenuhi keinginan pikiran ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya dia sedang membayangkan kejadian yang kugambarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. jadi, bukan keinginan daging yang ada, namun pikiran kita.  Selama kita tidak bisa mengendalikan pikiran, maka daging akan terus menerus diseret untuk menuruti keinginannya.  Demikian juga keinginan seksual.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. lalu, dimana kesempurnaan tubuh yang tadi kau katakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ .. tubuh mempunyai kebijaksanaan sendiri, punya siklus sendiri.  Coba bayangkan, siklus kehidupan dan kematian milyaran sel setiap hari yang tidak bisa kita cegah.  Misalnya lagi, kerja jantung yang terus menerus memompa ribuan liter darah setiap hari tanpa kita suruh.  Gerak paru2 sewaktu bernafas yang terus menerus tanpa kita sadari.  Kalau pekerjaan2 penting dan vital dalam tubuh itu tergantung kepada pikiran kita, maka bisa-bisa kita lupa menyuruh jantung berdenyut, atau lupa menyuruh paru-paru bernafas pada waktu kita tidur .. “, kulihat dia sedikit tersenyum, lalu kulanjutkan khotbahku, “ .. namun begitu, pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan, saling mempengaruhi, yang satu adalah refleksi yang lain .. keduanya adalah mekanisme hidup yang ajaib dan sungguh sempurna ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya untuk memberinya keyakinan, kusudahi diskusi sore itu, “.. pikiran dan tubuh .. keduanya menyatu dalam keseimbangan yang saling membutuhkan, saling bekerjasama.  Jika kau pahami keseimbangan ini, hidupmu akan jauh lebih bahagia karena tidak ada konflik diantara keduanya .. harmoni dan ketenangan akan tercipta dengan sendirinya ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia terdiam, namun ada seberkas cahaya samar dimatanya yang membuat pandangannya terlihat lebih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta,&lt;br /&gt;menjelang tengah malam&lt;br /&gt;2 september 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-6501303802525962419?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/6501303802525962419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=6501303802525962419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6501303802525962419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6501303802525962419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/manusia-yang-lemah.html' title='Manusia Yang Lemah'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4575245038553064809</id><published>2010-09-01T11:12:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T11:18:11.784-07:00</updated><title type='text'>Korupsi Manifestasi Ketakutan</title><content type='html'>Pemberitaan di media massa akhir-akhir ini seolah menemukan menu utama yang pasti laku disuguhkan: korupsi.  Berbagai dimensi korupsi sudah banyak dibahas dan dilemparkan ke pikiran khalayak untuk dilahap, bahkan saking getolnya melempar masalah, terjadi manipulasi berita seperti sinyalemen seorang penulis beberapa waktu lalu (R. Kristiawan, Simulasi Kebohongan Televisi, KOMPAS 17 April 2010).  Semuanya untuk memenuhi gairah pembaca dan pemirsa berita, sebuah euforia baru.  Saya masih ingin menambahkan sebuah dimensi tentang korupsi, bahwa dia merupakan manifestasi rasa takut yang dalam (deep fear).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, manusia selalu mengalami perubahan-perubahan yang sifatnya alamiah, baik perubahan dalam diri maupun perubahan di luar diri.  Perubahan dalam tubuh misalnya berupa kematian milyaran sel tubuh dan digantikan dengan milyaran sel baru; ataupun perubahan fisiologi akibat terkungkung oleh gaya gravitasi; juga semakin menurunnya daya dukung tubuh yang diakhiri dengan kematian.  Diri manusia merupakan sebuah aliran sungai yang terus menerus berubah dan berganti setiap saat, bukan merupakan patung yang kaku dan tetap tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan juga terjadi di luar dirinya, misalnya perubahan cuaca (climate change); perubahan struktur tanah akibat deforestasi maupun kontaminasi racun kimiawi; perubahan kekuatan sebuah rumah; kesehatan - kehidupan - kematian sanak keluarga; runtuhnya jabatan; kecelakaan; dan sebagainya.  Perubahan-perubahan di luar diri manusiapun merupakan aliran sungai yang senantiasa berganti setiap saat.  Bumi dan isinya adalah organisme hidup yang terus menerus berubah, bukan benda mati.  Dialah ibu yang hidup, berubah, melahirkan dan menerima kematian setiap makhluk yang hidup bersamanya, termasuk manusia.  Semua perubahan ini merupakan pengalaman yang sangat alamiah dan kodrati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manusia yang merasa bahwa hidupnya kini adalah sebuah kenikmatan, baik kenikmatan materi maupun yang disebut sebagai kenikmatan ‘rohani’.  Kenikmatan-kenikmatan ini seringkali disalahartikan sebagai kebahagiaan.  Misalnya, seseorang merasa bahagia (nikmat hidupnya) bila dia mempunyai banyak harta berupa rumah mewah, mobil mewah dan banyak, pembantu lebih dari lima, tabungan di bank melebihi 10 digit, tanah hak milik lebih luas dari lapangan Monas, dan sebagainya.  Demikian juga seseorang merasa bahagia (nikmat hidupnya) bila dia mempunyai istri tercantik di Indonesia atau suami terganteng dan terkuat masa kini, dianugerahi anak-anak yang nampak lucu, mempunyai jumlah teman sebanyak di face book, berpangkat direktur utama atau profesor, selalu sehat wal-afiat, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gambaran tentang “kebahagiaan” ini menjadi dorongan bagi banyak orang untuk menjadi “sukses”, yang ukurannya adalah kriteria-kriteria seperti di atas.  Nilai kesuksesan (kebahagiaan) hidup ini lalu menjadi nilai masyarakat (social values), yang di-amin-i oleh semua golongan masyarakat.  Bahkan dalam doa juga seringkali disebut-sebut: “ .. Terimakasih ya Allah atas segala kenikmatan yang kau anugerahkan kepadaku ..”  Orientasi hidup kemudian menjadi mempertahankan dan menambah kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup ini tidak bisa ditawar, dan tidak dapat diprediksi.  Karena sifat-sifat perubahan demikian itulah, manusia menjadi takut menghadapinya.  Ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidupnya, atau ketakutan akan runtuhnya ‘kebahagiaan’ yang ditopang oleh banyak faktor dan ukuran-ukuran yang sudah menjadi kesepakatan dalam masyarakat, yang merupakan indikator ‘hidup yang sukses’.&lt;br /&gt;Korupsi adalah mengambil dan menimbun banyak hal dengan paksa dan tanpa mengindahkan akibatnya buat sesama atau lingkungannya, untuk mempertahankan atau menambah kenikmatan hidupnya, sekaligus untuk mencoba menyembuhkan pikiran tentang ketakutan akan perubahan.  Korupsi adalah manifestasi dari segala rasa takut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tetap mengalami kehidupan seperti sekarang yang dirasa nyaman dan nikmat, seseorang lalu ingin membangun "kekuatan" untuk mencoba menunda perubahan, atau ingin kalau bisa hidup ini tidak berubah. Atau ingin ada jaminan bahwa kalau-pun ada perubahan, akibatnya tidak akan mengurangi kenikmatan dan menambah penderitaan. Keinginan ini hanyalah ilusi, kekuatan inipun hanya ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua hal untuk mencoba mengurangi korupsi: tindakan represif dan preventif.  Pertama, represif.  Yang sudah terbukti korupsi dan merugikan banyak pihak, bahkan rakyat, harusnya dihukum berat.  Hukuman ini harus dilakukan karena perlu untuk membangkitkan lagi rasa keadilan dan efek jera dalam masyarakat.  Perdana Menteri Republik Rakyat China Zhu Rongji (1998 – 2003) berani menyiapkan 99 peti mati untuk koruptor dan 1 untuk dirinya sendiri kalau terbukti dia korupsi.  Sebuah pernyataan politik yang luar biasa untuk menakar kesungguhan dalam pemberantasan korupsi di negerinya.  Zhu berani menyentuh dan membongkar ketakutan yang paling dalam penyebab terjadinya korupsi, dan berhasil.  “Belajarlah sampai ke negeri China”, perlu dilakukan dalam hal ini.  Keberanian yang penuh kesungguhan dan komitmen menjadi dasar penting untuk mencanangkan sikap politik anti korupsi, bukan sikap berpura-pura dan tidak jelas arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preventif, mulai melakukan perombakan nilai-nilai dalam masyarakat tentang kebahagiaan hidup.  Hal ini terdengar sangat normatif, namun inilah dasar dari orientasi hidup manusia.  Transformasi nilai ini perlu untuk merombak nilai-nilai yang terpatri dalam pikiran seseorang, akibat dari berbagai sendi ajaran hidup, baik itu gaya hidup pejabat, guru, orang tua dalam rumah tangga, kurikulum sekolah, maupun nilai-nilai dalam agama yang seringkali diterjemahkan secara amat sangat dangkal.  Misalnya, orang harus mulai belajar (lagi) tentang berbagi dengan sesama tanpa dibatasi sekat-sekat komunal dan agama.  Belajar (lagi) tentang kearifan hidup dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan.  Belajar (lagi) tentang hubungan manusia dengan Tuhannya yang maha pengasih dan penyayang sehingga mampu menghormati segala kehidupan, dan belajar tentang nilai-nilai keikhlasan dalam hidup.  Sikap preventif ini bisa dimulai dari skala kecil seperti dalam rumah tangga dan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah artikel yang&lt;br /&gt;berasal dari kegundahan hati&lt;br /&gt;2 september dinihari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4575245038553064809?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4575245038553064809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4575245038553064809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4575245038553064809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4575245038553064809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/09/korupsi-manifestasi-ketakutan.html' title='Korupsi Manifestasi Ketakutan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8013581132911230827</id><published>2010-08-26T08:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T10:52:35.855-07:00</updated><title type='text'>Buruk Muka Cermin Dibelah</title><content type='html'>Pepatah di atas diajarkan pada saat aku duduk dibangku SMP, sekitar 40 tahun lalu.  Namun begitu, rasanya pepatah itu masih tetap aktual dan relevan dengan kondisi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu media online, ada forum tanya jawab dengan seorang ulama terkemuka, terutama menyangkut aturan-aturan dalam Islam yang relevan dengan masa bulan Ramadhan.  Salah satu penanya menulis bahwa ada satu buku yang mengatakan musik itu haram dalam Islam.  Artinya, umat Islam dilarang mendengarkan musik karena bisa mempengaruhi seseorang untuk bertindak sesuatu yang tidak dikehendaki Allah.  Jawaban ulama di forum itu melegakan karena dia bilang Islam mencintai kesenian, termasuk musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik diskusi singkat itu, ada beberapa hal menarik yang aku simak.  Pertama tentang kebingungan.  Dalam kehidupan yang modern seperti sekarang, dimana musik sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari, masih ada orang yang menanyakan tentang halal/haramnya musik.  Sebuah pertanyaan yang bagiku hampir tidak masuk akal sehat, menggelikan sekaligus menyedihkan.  Namun aku yakin, bagi orang yang bertanya, pertanyaan itu menyangkut surga dan neraka setelah kematian, sebuah pertanyaan tentang nilai yang teramat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang kutangkap adalah sebuah sikap hidup yang menunjukkan ketidak berdayaan.  Artinya, orang itu tidak mempunyai kemampuan (tidak berdaya) untuk mengendalikan respon (pikiran dan tindakan) terhadap stimuli (rangsangan dari luar).  Sikap ini mencerminkan seseorang yang tidak mempunyai ketegaran dalam menghadapi kesulitan hidup.  Berbeda dengan seseorang yang tegar, orang yang mampu mengatasi segala kesulitan hidup.  Kesulitan hidup merupakan salah satu stimuli yang ada di luar dirinya, dan berinteraksi dengannya melalui komunikasi sehari-hari.  Mampu mengatasi diartikan sebagai mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pikiran, kesadaran, batin, untuk menghadapi kesulitan hidup, yang dalam konteks ini, hanya mendengarkan musik.  Ternyata, mendengarkan musik bisa menjadi sebuah hal yang sulit dalam hidup ini.  Singkatnya, orang yang tegar adalah orang yang mampu mengendalikan respon terhadap stimuli dari luar.  Dia adalah orang yang bijaksana karena mampu bereaksi berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada musik.  Jika musik (sebagai stimuli) adalah haram, maka kita lalu tidak boleh mendengarkan (sebagai respon terhadap stimuli).  Respon seperti ini harus dituntun oleh orang lain, melalui penerapan aturan haram atau halal.  Orang tersebut tidak mempunyai sikap sendiri untuk menentukan apakah musik itu haram atau halal.  Dia tidak mempunyai dasar nilai dalam dirinya untuk menentukan dan mengendalikan respon, dasar nilai yang sebenarnya sudah ada dalam setiap manusia yang disebut sebagai "nurani".  Dia tidak tahu bagaimana cara merespon sebuah stimuli, karena tidak pernah bertanya kepada nuraninya.  Dia lebih percaya kepada aturan dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebingungan, ketidaktahuan, kegelapan pikiran, maka tindakan paling mudah yang dilakukan adalah: lebih baik menghindari stimuli.  Lebih baik mengingkari adanya stimuli.  Lebih jauh lagi .. mari kita hilangkan stimulinya.  Tindakan-tindakan ini mengisyaratkan bahwa orang itu tidak pernah dilatih untuk memahami, menerima, dan berinteraksi dengan stimuli.  Lebih baik steril, pikiranku tidak terganggu, agar tetap "suci".  Dia tidak pernah dilatih untuk menghadapi kesulitan hidup, karena kesulitan hidup itu diingkari keberadaannya, dengan mencoba mengharamkannya, menafikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, sikap seperti ini tidak membantu, tidak memberi pencerahan dan tidak melatih bagaimana mengelola kesadaran.  Sikap ini membuat orang-orang sibuk menghindari stimuli dengan mengharamkannya.  Karena stimuli ini terus ada dalam hidup, maka kebingunganpun terjadi: kalau ini haram atau halal?  kalau itu boleh atau tidak? musik itu haram atau halal? menyalami orang Kristen boleh atau tidak? memotong kuku dan rambut saat haid boleh atau tidak? memakan daging akikah anak haram atau halal? apa hukumnya terlambat sholat Jumat? bagaimana hukum berhubungan intim saat Ramadhan? dan terus .. dan terus .. tidak pernah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang ini selalu berorientasi ke luar, selalu melihat stimuli sebagai sumber dosa, sumber penggoyah iman.  Mereka tidak pernah melatih diri bagaimana mengendalikan respon agar iman tidak goyah.  Tidak pernah melatih diri mengelola dan menjernihkan batin sehingga terbentuk nilai-nilai yang berdasar nurani.  Sehingga pada akhirnya, mereka tidak mempunyai ketrampilan untuk mengendalikan batin, mengndalikan pikiran, mengasah nurani.  Nilai-nilai hidup lalu dicari dari luar, dari kata-kata ustadz, dari ayat-ayat dalam buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gilirannya, ketidakmampuan diri ini menjadi alasan pembenaran untuk menghilangkan stimuli.  Lihat bagaimana bunyi undang-undang pornografi, lihat bagaimana perilaku berpakaian perempuan yang harus rapat agar tidak menimbulkan birahi, lihat bagaimana perilaku orang-orang terhadap sebuah patung tidak berbaju, lihat bagaimana ada aturan gerbong kereta api khusus perempuan, lihat dalam berbagai pesta pernikahan yang memisahkan lelaki dan perempuan, dan terus .. dan terus .. kesalahan selalu ditimpakan pada obyek di luar dirinya, dibebankan pada stimuli yang tidak bisa dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berdaya, maka kau jangan mengganggu aku.  Aku berbuat jahat karena kau-lah penyebabnya.  Buruk muka cermin dibelah ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah pemikiran&lt;br /&gt;dari obrolanku dengan Yani&lt;br /&gt;27/8/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8013581132911230827?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8013581132911230827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8013581132911230827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8013581132911230827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8013581132911230827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/08/buruk-muka-cermin-dibelah.html' title='Buruk Muka Cermin Dibelah'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-7072005815212660461</id><published>2010-08-13T16:34:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T17:34:57.757-07:00</updated><title type='text'>Harga Sebuah "Diri"</title><content type='html'>Dalam kehidupan sehari-hari, harga diri seringkali menjadi sebab dari banyak pertikaian, perselisihan, bahkan saling menghilangkan nyawa.  Banyak sekali contohnya.  Apakah yang dimaksud dengan harga diri?  Apakah "diri" itu?  Berapa harganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manusia tidak mengenal dirinya sendiri.  Dia tidak mengetahui kesejatian dirinya, sehingga diri kemudian di asosiasikan dengan berbagai hal yang "dimiliki"nya, misalnya: harta - bahwa saya seorang milyuner, punya banyak tanah diseluruh Indonesia, anaknya yang punya pabrik rokok "Samsoedji", dan sebagainya.  Demikian juga dengan pangkat - saya seorang menteri kehewanan dan anak buah saya ratusan, saya seorang ilmuwan dan doktor di bidang nuklir lulusan Amerika Serikat.  Atau saya seorang ustadz atau pastor pemimpin umat yang jumlahnya jutaan (menurut saya), yang fasih tentang isi alkitab dan menjadi perantara Tuhan bagi manusia kebanyakan seperti kamu.  Status sosial - saya seorang public figure yang terkenal di seluruh dunia, sehingga anak2 kecil di Afrikapun tahu nama dan makanan kegemaran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian seterusnya sehingga "diri" lalu bermakna jika ada embel-embel lain, seperti pangkat, harta, kepandaian, status sosial, dan seribu satu macam yang dapat dijadikan 'cantolan' untuk diri.  Masyarakat menciptakan pandangan-pandangan demikian, dan membentuk nilai-nilai yang kemudian dianut oleh anggotanya.  Nilai-nilai ini seringkali juga merupakan strategi industri, politik, rasisme, ekonomi, dan banyak hal lain.  Misalnya, nilai kecantikan adalah perempuan yang putih kulitnya, langsing, berwajah Indo.  Maka muncullah industri kosmetik yang membantu para perempuan menjadi "diri' yang diinginkan, orang Jawa pun ingin kulitnya putih seperti orang Eropa.  Di Indonesia sedang ramai bahwa nilai kesalehan diciptakan dengan penggunaan jilbab.  Maka berduyun-duyunlah perempuan Indonesia berjilbab meskipun tidak cocok dengan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pangkat, orang dianggap berhasil hidupnya kalau menjadi seorang pemimpin perusahaan, atau pegawai negeri.  Maka berbondong-bondonglah orang-orang menuju ke sana meski harus dengan cara nyogok kiri kanan, tendang teman sebelah, injak kaki orang lain, dan sebagainya.  Demikian juga dengan harta, dan semua embel-embel untuk menentukan yang namanya "diri".  Kalau tidak ada embel-embel itu, maka "diri' tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai contoh di atas, sudah terlihat betapa "diri" harus mempunyai "harga" yang berupa embel-embel tadi, dan harga ini perlu didapat dengan perjuangan keras, karena banyak saingan dan posisi puncak hanya satu.  Jika posisi puncak sudah didapat maka saya akan lebih dari yang lain, saya akan berbeda dengan yang lain sehingga lebih mudah untuk mengenal "diri" saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, yang disebut harga diri adalah seperti halnya kita menempel "harga" di jidat kita masing-masing (tanpa harus disetujui oleh orang lain), karena menurut keyakinan saya, itulah "harga diri" saya, sesuai dengan perjuangan dan jalan hidup saya, serta persepsi saya terhadap nilai.  Konflik terjadi ketika orang lain memberi harga lebih rendah dari harga yang saya pasang di jidat.  Saya merasa dilecehkan, saya tersinggung dan saya akan marah.  Maka timbullah pertikaian, perselisihan dan bahkan saling bunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah yang disebut kesejatian diri itu?  Perlukah ada harga dalam diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali akan saya coba tuliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;pagi hari, baru selesai sakit perut&lt;br /&gt;14 agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-7072005815212660461?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/7072005815212660461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=7072005815212660461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7072005815212660461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/7072005815212660461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/08/harga-sebuah-diri.html' title='Harga Sebuah &quot;Diri&quot;'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8842980239054313834</id><published>2010-08-11T23:36:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T23:37:24.462-07:00</updated><title type='text'>Cerita Debby: Derita Dalam Sebuah Dendam</title><content type='html'>Sore itu aku baru saja menyelesaikan laporan terakhir di kantorku.  Sudah hampir seminggu kami di kantor sibuk menyelesaikan laporan tahunan proyek kami, sehingga hari-hari yang melelahkan itu seolah menguras segenap energi yang kami punya.  Hari itu harapan untuk dapat sedikit melepas lelah terbetik di pikiran.  Kenikmatan secangkir kopi membayang di pelupuk mata yang sudah terasa semakin berat karena kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang baru menjelang menggantikan terik siang hari setelah seminggu tidak ada hujan yang diharapkan dapat menyejukkan ibukota ini.  Kesibukan pekerja kantor seperti diriku seolah mencapai titik terendah dalam kurva ritme hidup, ketika semakin terlihat mereka pulang ke rumah dengan sisa pikiran dan tenaga yang ada.  Pola ritme seperti ini terjadi setiap hari: pagi hari dengan energi besar berangkat ke kantor, menguras energi di kantor dengan berbagai kesibukan, dan pulang ke rumah dengan energi sisa.  Sering kurenungkan, dari mana sebuah keluarga mendapatkan energi dari setiap anggotanya, untuk tetap menjaga kebersamaannya dan keutuhan lembaga sosial terkecil, namun merupakan inti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di tanganku menunjukkan waktu hampir magrib, sewaktu aku sampai di tempat parkir VW kodok yang telah dengan setia mengantarku kemana saja tujuanku.  Baru ketika kututup pintunya, kudengar suara bel tanda sebuah sms masuk ke dalam HP ku.&lt;br /&gt;Rrr … rrr …dingdong …..  Kubaca sms yang masuk: “jd ktmuan dimana?”  Kubaca sendernya, Debby.  Siang tadi kami sudah bersepakat bertemu untuk sekedar ngobrol.  Namun dari nada sms-nya, kurasakan kali ini obrolan akan cukup serius setelah kutangkap getar kesedihan dalam kata-katanya.  Lalu jempol jariku cepat menyusun balasan:”ntar ktmu di wrung kopi dkat kntor, sktr jm 6 lebih”  dan kutekan ‘send’. Kuperhatikan gambar sebuah surat melayang menjauh di layar hpku.  Kututup pintu mobilku, dan dengan pelan kodokku membawaku ke warung kopi tidak jauh dari kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, kulihat warung kopi langgananku sudah banyak didatangi pelanggan.  Rasanya belum begitu lama dia dibangun di situ, namun kulihat perkembangannya sangat pesat.  Semakin banyak pelanggan yang datang dan pergi mereguk nikmatnya kafein.  Barangkali, ini ada hubungannya dengan menurunnya energi para pekerja kantoran di sore hari, dan mereka membutuhkan suatu pemicu energi seketika yang menyamankan.  Suntikan kafein nampaknya mampu melayani kebutuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan warung itu tidaklah terlalu besar, namun ketika masuk ke dalamnya, terasa banyak menawarkan keramahan baik dari para barista yang senantiasa menyapa setiap tamu yang datang, maupun warna dan aneka peralatannya.  Setiap ruangan dari dua ruang terpisah antara merokok dan bebas rokok, dipenuhi pernik-pernik tradisional serta kursi dan meja yang bergaya retro.  Di dindingnya terpampang foto-foto lama yang menggambarkan wajah awal warung dan pendirinya di jaman penjajahan Belanda, seolah ingin memastikan bahwa pengalaman mereka menyajikan mutu kopi tidak perlu diragukan lagi.  Ada beberapa lukisan tradisional dan beberapa permainan meja yang dapat membantu menyajikan sebuah nuansa warung lama yang nyaman untuk menjadi tempat ngobrol selepas dari kesibukan harian di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekitar 10 menit aku duduk menunggu, Debby-pun datang.  Setelah saling memberi salam, kami memesan minum kepada para barista yang sebagian mengenalku karena seringnya aku berkunjung ngopi di situ.  Debby memesan segelas es kapucino, dan seperti biasa kupesan es kopi moka.  Dua ollie bolen menemani dua gelas minuman dingin kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu kopi kami, kuamati perempuan yang duduk di seberang meja ini.  Seperti biasanya, dia kelihatan menarik.  Aku yakin, kulitnya yang putih yang mewarnai postur badannya yang berisi, dipadu dengan wajahnya yang bulat telur, hidung yang bagus dan mulut yang selalu sedikit terbuka memperlihatkan baris giginya yang putih bersih, serta rambutnya yang pendek bebas tergerai, mampu menarik perhatian banyak lelaki.  Namun sore itu dia seperti kehilangan senyum manisnya.  Wajahnya yang bersih semakin kelihatan agak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru saja putus dengan cowokku”, dia mengawali pembicaraan itu dengan pernyataan yang sederhana, namun selalu mengandung segumpal cerita yang biasanya penuh dengan derita.  Kulihat wajahnya sedikit memerah.  Aku terdiam.  Kubiarkan energinya masuk dalam pikiranku, dan kucoba untuk ciptakan sebuah koridor langsung untuk membuat hubungan mental kami tidak banyak terhalangi.  Detik jam terus berganti, dan kebisuan menguasai diri kami berdua untuk beberapa saat.  Aku masih diam sambil mencoba meningkatkan intensitas kerja inderawiku untuk siap mendengarkan pesan-pesannya.  Katanya, dalam ideogram Cina, ‘mendengarkan’ berunsur tiga hal: mata, telinga dan hati, sehingga perlu disiapkan ketiganya sebagai sebuah kegiatan mental yang bekerjasama dengan baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebisuan sesaat tadi terpecah dengan suaranya yang pelan namun terdengar jelas, “Cowokku mengaku mempunyai hubungan dengan kekasih lamanya.  Aku samasekali tidak pernah menduganya, mas.  Setelah sekian lama kami menjalin hubungan yang kelihatan mesra, sehingga jarak Jakarta – Jogja sudah bukan halangan buat kami berdua untuk selalu bertemu di hati.  Pertemuan demi pertemuan fisik selalu kami lakukan sebisa mungkin untuk mengobati kerinduan kami yang berjarak satu jam terbang.  Namun usahaku nampaknya gagal, dan dia sudah menceritakan semuanya padaku.  Aku begitu terluka dan marah. Senin lalu aku lepaskan seluruh kemarahanku dan keputus-asaanku, dengan memaki-makinya melalui telpon sampai sekitar setengah jam ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua gelas kopi dingin yang kami pesan tiba, ditemani dua kue kesukaanku.  Kuucapkan terimakasih pada barista yang mengantarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nada kesal bercampur sedikit kepuasan dalam kata-kata Debby yang mulai mengalir keluar tanpa hambatan, melalui koridor komunikasi yang kami ciptakan.  Energinya dengan intens mengantarkan pesan pikirannya, sehingga membuatku sedikit tergagap untuk menampung dan mencernanya.  Namun hanya sejenak, ketika setelah itu suaranya agak melunak dan berubah menjadi pernyataan yang tersisip oleh sebuah keputusasaan.  “Coba mas bayangkan, kepercayaanku padanya yang aku berikan sejak lama, dengan begitu saja dikhianati.  Betapa teganya dia.  Aku gak habis pikir, kenapa begitu sampai hati dia menyakitiku.  Aku sudah berusaha mati-matian untuk tetap setia meski kami tidak dapat selalu bertemu, tapi selama ini kuusahakan selalu menyapanya hampir setiap hari.”  Kali ini matanya mulai merebak sembab, lalu tangannya menghapus genangan airmata yang mulai menggantung di sudut pelupuk matanya.  Aku masih berdiam diri sambil memperhatikan kata-katanya, memperhatikan gejolak hatinya, dan memperhatikan setiap gerak halus di tatapan matanya, serta gerak dan kerut di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ini sering tanduk iblisku muncul, dan kemunculannya selalu mendorongku untuk telpon dia dan memaki-makinya sambil mempertanyakan pengkhianatannya.  Dia selalu tidak bisa menjawab ketika kutanya kenapa dia setega itu melakukannya kepadaku”.  Dia terdiam sejenak, mukanya kembali memerah dan kali ini kutangkap getar kesedihan serta gejolak kemarahan, “Aku sudah coba melupakannya, tapi ketika aku berdiam diri, bayangan wajahnya muncul lagi, dan kepedihanku kembali merasuk dalam pikirku.  Aku gak tahan mas, rasanya pedih dan hancur mengingatnya …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan dia menumpahkan segenap lumpur hitam kepedihan hatinya.  Aku terus mencoba menjaga keterbukaan pikiran dan hatiku sehingga jalur komunikasi tidak terputus.  Getaran kepedihannya begitu terasa dalam hatiku, dan energi kemarahannya dapat tertangkap dengan jelas dalam batinku.  Aku masih terus diam membuka pikiranku.  “Lalu sekarang aku harus bagaimana?” akhirnya segenap rasa yang campur aduk dalam hatinya berakhir dengan pertanyaan sederhana, sesederhana pernyataan ketika dia mengawali pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam, membersihkan semua pikiran yang tidak ada kaitannya dengan perkara yang baru saja dia tumpahkan kepadaku.  Kucoba mengheningkan batinku dan membiarkan mata batinku melihat melalui kejernihan yang terciptakan.  Ada sebuah jeda hampir semenit yang cukup terasa lama.  Kerasnya suara canda tawa tamu lain dan musik di kafe itu terdengar sayup di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau harapkan darinya, Deb?” kubalas pertanyaannya dengan pertanyaan juga.  Dia terdiam sejenak.  Barangkali hal itu tidak begitu diperhatikan, karena dia disibukkan dengan kemarahannya dan kepedihannya, sehingga sebentuk ‘harapan’ menjadi agak sulit ditemukan dalam kemelut amarah dan derita yang mengungkung dan menguasainya. Setelah beberapa saat dia mencoba menemukan pikirannya kembali, dia berkata, “Aku inginkan kejelasan, kenapa dia begitu tega menyakitiku.  Kepercayaanku yang begitu besar kepadanya telah dia khianati.  Memang kita berjauhan, tapi jarak Jakarta - Jogja seharusnya bukan hambatan karena aku percaya kami bisa saling setia.  Begitu teganya dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terdiam sambil menghela nafas panjang dia melanjutkan, “Ada keinginan dalam hatiku untuk membuatnya menderita …. Rasanya nggak adil kalau hanya aku yang terluka.  Dia harus bisa merasakan kepedihan seperti yang kurasakan saat ini.”  Aku terdiam, dan mencoba memahami dengan baik apa yang baru saja dikatakannya.  Dendam.  Ya, sebuah klimaks dari sebentuk rasa, yang awalnya merupakan rasa derita akibat diperlakuan tidak adil, lalu bertransformasi menjadi sebuah kekecewaan, lalu terpupuk menjadi sebuah amarah, dan berakhir dengan sebuah puncak kekerasan, sebuah dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau mau membuatnya menderita?” tanyaku, “Aku gak tahu, tapi itu yang ada dalam pikiran iblisku” jawabnya.  Lalu tanyaku,  “Apakah dengan membuatnya menderita lalu penderitaanmu berkurang?”.  Dia menggeleng lemah, “Aku rasa tidak …”  Sebuah jawaban yang jujur, yang saat itu langsung aku hargai dan hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deb, aku pernah baca sebuah cerita.” Kumulai kata-kataku seolah sedang mendongeng kepada seorang anak.  Debby terdiam, mengambil ollie-bollen yang sejak tadi belum tersentuh.  Dikunyahnya gigitan kecil kue itu, lalu diletakkannya kembali sisa gigitannya.  Dia lalu menatapku lekat-lekat, seolah bersiap mendengarkan ceritaku selanjutnya.  “Suatu hari ada orang yang tertabrak mobil, dan karena luka-lukanya, dia sedang sekarat.  Sambil berdarah-darah dan mendesis menahan hebatnya sakit yang dideritanya, dia berkata kepada orang-orang yang menolongnya, dan ngotot berusaha mencari tahu siapa yang menabraknya, mencoba menggambarkan mobilnya apa dan keluaran tahun berapa, lalu menanyakan kenapa sopir mobil itu bisa menabrak dia yang sudah menyeberang dengan benar sesuai aturan, …”  Debby masih terus mendengarkan dengan seksama, lalu aku teruskan, “Akhirnya orang tersebut mati, karena tidak segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.”  Dia diam menyimak ceritaku. “Menurutku, peristiwa itu serupa denganmu.  Kau tahu maksudku?”  Dia terdiam beberapa saat dan kemudian mengangguk lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutku, daripada ingin tahu kenapa dia sampai tega meninggalkankanmu, bahkan kau sibuk cari jalan untuk membalas perlakuannya yang kau rasa membuatmu menderita, apa gak sebaiknya kamu mengurus dirimu sendiri, mencoba memberikan perhatian pada hati dan pikiranmu agar bisa kembali lebih tenang?”  Dia masih terdiam. Aku menduga bahwa itu merupakan sebuah alternatif yang tidak mudah baginya untuk menjatuhkan keputusan memilihnya.  Barangkali, hal itu juga tidak pernah terduga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalaupun akhirnya kau tahu alasannya meninggalkanmu, lalu apa yang bisa kamu lakukan?  Apakah ada jaminan itu akan memperbaiki keadaan?”  Dia menggeleng lagi dengan lemah, sambil menyeka matanya yang kembali sembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, mas, bagaimana mencegah agar pikiran tentang dia nggak muncul lagi?  Aku sudah coba mengalihkan perhatianku dengan melakukan hal lain, tapi pikiran itu selalu datang lagi dan datang lagi … sakit sekali rasanya, mas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah kepedihan di hati bukan untuk dihindari.  Melakukan hal lain sama halnya dengan membelakangi masalah, yang berarti mengingkari keberadaannya.  Kepedihan itu ada, dan seharusnya tidak diingkari, tapi harus dihadapi …”  Kulihat dahinya berkerut sambil menatapku lekat-lekat.  “Tapi begitu berat mas …” Dan kukatakan, “Memang Deb, sekarang bisa terasa sangat berat, tapi perasaan selalu berubah karena waktu.  Perasaan itu ada dan tergantung kita sendiri untuk menanggapinya.  Kita bisa layani dia, sehingga kita terbawa olehnya bahkan diapun bisa semakin menenggelamkan kita, sampai akhirnya harus bunuh diri … “ Dia mendadak menyela,”Memang ada mas pikiranku untuk minum obat tidur …” Giliran aku yang mengerutkan dahi dan menatap lekat wajahnya yang cantik itu.  Sejenak aku terdiam, lalu aku lanjutkan,” … atau dengan lebih bijaksana kita pahami pikiran dan perasaan itu dengan baik, kita coba temukan akarnya, dan coba mengatasinya dengan penuh kesadaran …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deb, kamu tidak bisa merubah sikap cowokmu itu, meski memaki-makinya seharian penuh.  Yang perlu kita rubah adalah diri kita sendiri, bagaimana menghadapi kondisi demikian itu.  Barangkali perlu kau teliti kembali harapan-harapanmu kepadanya, ketergantungan-ketergantunganmu …. Tapi yang lebih penting adalah, kau pahami ketakutan yang ada jauh di lubuk hatimu ketika harapan-harapanmu tidak terpenuhi.  Barangkali itu adalah akar masalah yang sedang kau hadapi sekarang ini.”  Dia mengangguk pelan, meski nampak masih ada keraguan pada wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah hampir dua jam kami berbincang, dan gelas kami sudah mulai menampakkan dasarnya, yang penuh sisa busa-busa krim.  Piring makananpun sudah bersih, tinggal segenggam tissue dan garpu yang penuh remah-remah ollie bollen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu berjalan ke arah mobilnya, dia berkata,”Thanks mas, hatiku agak ringan rasanya …”  Aku balas senyum manisnya, “Sama-sama Deb …, take care …”  Kamipun berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya ada sms darinya:”thx mas, aku bs senyum lagi n tidur nyenyak”, lalu beberapa saat masuk lagi sms-nya,”tp msh susah skl ya hilangkan skt hatiku” … Aku hanya bisa jawab: …”prlu wkt dan ksungguhan dlm proses pnjernihan ini, tp mmang hnya kau sndiri yg bs mngatasinya, bukan org lain. good luck n hang in there”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8842980239054313834?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8842980239054313834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8842980239054313834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8842980239054313834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8842980239054313834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/08/cerita-debby-derita-dalam-sebuah-dendam.html' title='Cerita Debby: Derita Dalam Sebuah Dendam'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-924657679654513747</id><published>2010-08-08T08:11:00.000-07:00</published><updated>2010-08-08T09:12:40.072-07:00</updated><title type='text'>Tuhan tidak beragama</title><content type='html'>Diskusiku tentang agama dan Tuhan senantiasa menjadikan orang yang kuajak diskusi  seolah merasa dirinya adalah orang yang paling saleh beragama, dan seolah merasa dirinya paling dekat dengan Tuhan.  Siapapun orang itu, entah itu sopir taksi, teman kantor, teman chatting di dunia maya, kolega, ataupun saudara sendiri.  Ada sebentuk usaha yang ditunjukkan dia adalah penyembah Tuhan yang beriman teguh kepada agamanya.  Tidak akan ada yang mampu menggoyangnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Tapi Tuhan kan tidak beragama? " begitu selalu aku sampaikan pernyataan setengah bertanya, untuk melihat reaksinya.  Berbagai reaksi pernah aku amati selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. hahaha .. betul mas. Jadi kenapa kita ribut tentang agama ya? hahaha .."&lt;br /&gt;" .. wah .. yang itu saya belum nyampe ilmunya pak .. " kata seseorang, setelah terdiam beberapa saat, dan yang sebelumnya berapi-api menjelaskan ayat2 dari kitabnya untuk menunjukkan penguasaannya tentang alkitab ..&lt;br /&gt;" .. ah, bapak bisa aja .. kalau menurut agama kami Tuhan itu beragama .. " katanya sedikit ngotot untuk memperkuat bahwa agamanya adalah yang disenangi Tuhan,&lt;br /&gt;" .. iya ya pak, hal itu gak pernah terpikir oleh saya .. kayanya selama ini Tuhan itu seagama dengan saya .." sebuah pengakuan yang jujur,&lt;br /&gt;" .. iya mas, tapi kan Tuhan menciptakan agama agar manusia bisa mengenalnya dan kemudian menyembahnya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan sederhana bahwa Tuhan tidak beragama, ternyata memancing berbagai reaksi yang bermacam-macam dan sering keluar dari ketidak-terdugaan.  Biasanya dengan sedikit kaget.  Meski dalam membuat pernyataan itu, aku sendiri juga hanya mendasarkan pada pemahamanku tentang Tuhan dari berbagai sumber, termasuk tingkat pemahaman yang pribadi dan tidak perlu disepakati oleh siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman berbagai diskusi itu, aku dapat merasa bahwa manusia sering sibuk dengan pikirannya sendiri.  Sibuk dengan konsep-konsep yang dikembangkannya sendiri.  Sibuk dengan gambaran-gambaran imaji yang diciptakannya sendiri.  Manusia tidak lagi memberi ruang terhadap kemungkinan lain yang tidak diketahuinya.  Seluruh ruang dalam benaknya dipenuhi dengan keyakinan yang kemudian dianggap sebagai realitas dan kebenaran, yang menjadi melekat erat.  Pemahaman baru lalu tidak mendapatkan pintu untuk masuk dan memberi warna berlainan dalam benak yang penuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keterbukaan.  Tidak ada pembaruan.  Pikiran menjadi beku dan terkungkung oleh kebenaran dogmatis.  Tidak ada ruang untuk menerima pandangan berbeda.  Tidak ada perbedaan, harus sama dengan apa yang dipikirkannya.  Barangkali inilah awal dari ketegangan terutama dalam beragama.  Kepicikan, kata temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah berharap bahwa pertanyaanku tentang agama Tuhan mampu mengubah konsep kebenaran yang digenggam oleh orang-orang beragama.  Itu bukanlah urusanku.  Namun mudah-mudahan pertanyaan itu mampu sedikit menggoyang kenyamanan pikiran seseorang .. entah setelah itu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan mereka lalu sedikit demi sedikit mau memberi ruang untuk kesadaran yang lebih hakiki, dan mengurangi kesibukan2 pikiran agar kebenaran sejati dapat muncul memberikan cahayanya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minggu malam&lt;br /&gt;hampir jam 11&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-924657679654513747?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/924657679654513747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=924657679654513747' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/924657679654513747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/924657679654513747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/08/tuhan-tidak-beragama.html' title='Tuhan tidak beragama'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8777730233221603302</id><published>2010-08-04T21:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T21:52:34.744-07:00</updated><title type='text'>Tuhan di luar, Tuhan di dalam</title><content type='html'>Dalam sebuah diskusi di FB baru-baru ini, kami berbincang tentang Tuhan.  Sebuah materi diskusi yang tidak pernah habis dibahas dari jaman ke jaman, sehingga sejalan dengan sejarah pencarian manusia, maka Tuhan-pun akhirnya punya sejarah.  Cerita perkembangan sejarah Tuhan ditulis dengan baik oleh Karen Armstrong dalam bukunya "A History of God" terbitan Ballantine Books, 1993.  Sebuah saga pencarian Tuhan selama 4000 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menawarkan pandangan bahwa manusia sekarang ini kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sering melihat Tuhan di atas sana, mencipta kita dan semesta, lalu duduk-duduk di singgasana surga sambil mengawasi perilaku ciptaannya.  Kalau ada yang berperilaku baik dipuji dan diberi pahala, kalau ada yang buruk perilakunya lalu dihukum.  Manusia-lah yang sebetulnya menciptakan hubungan seperti ini, karena hanya itulah pemahaman tentang Tuhan.  Jika sudah mati, maka manusia dipilih oleh Tuhan untuk dimasukkan ke surga atau ke neraka sesuai dengan perilakunya di dunia semasa hidup.  Ada petugas2 khusus di bawah kordinasi Tuhan yang melakukan pemilihan ini berdasar catatan hidup dan persidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan manusia tercipta karena sekarang ini dirinya terpisah dengan Tuhan, terpisah dengan surga dan neraka.  Bingung karena tidak tahu sebetulnya dia ada dimana.  Bingung karena sesungguhnya manusia telah memisahkan diri dari sumber kehidupan sejati.  Kesejatian yang dipaksa dipisahkan menjadikan manusia tidak lagi mengenal dirinya, tidak mengenal kesejatiannya, tidak mampu memahami asal muasalnya.  Manusia telah terpisah dari energi yang menghidupinya, terpisah dari sumber kasih, dan terpisah dari kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpisahan dengan sumber kehidupan menciptakan ketakutan yang sangat.  Keterpisahan dengan sumber kasih menciptakan kekejaman.  Keterpisahan dengan kemanusiaannya menciptakan kejahatan terhadap sesama manusia.  Kebingungan juga lalu membuat manusia mencari-cari pegangan, karena tidak memahami apa yang harus dipikirkan dan dilakukan dalam hidup ini.  Manusia berada dalam kegelapan batin.  Namun demikian, pegangan di dunia ini banyak tersedia, baik yang berbau suci seperti kitab-kitab yang dikeramatkan, tokoh-tokoh yang disanjung-sanjung dan disucikan, sampai pada jumlah angka dalam secarik kertas uang, atau imajinasi yang dikembangkan sendiri dalam pikiran.  Begitu banyaknya pegangan yang tersedia, tinggal memilih mana yang disukai dan sesuai dengan keinginannya.  Maka, kebingungan bertambah karena satu sama lain berbeda pegangan dan masing-masing ngotot bahwa pegangan yang dimilikinya-lah yang bisa menyelamatkannya dari kebingungan dan ketakutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia seperti itulah yang sekarang sedang terjadi, dan dengan semakin banyak tersedia pegangan untuk hidup, semakin bingung-lah manusia-manusia sekarang.  Kesibukan mencari pegangan (buat diri sendiri) semakin menjauhkan manusia dari rasa kebersamaan, rasa persaudaraan, rasa kasih terhadap sesama, rasa bahwa manusia adalah satu.  Yang semakin subur berkembang adalah mementingkan diri dan kelompoknya sendiri, rasa bahwa kita sangat berbeda, bahwa saya paling benar yang lain salah dan kalau perlu dibasmi agar tidak mempengaruhi pegangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pemahaman fundamental ini akan berubah total seandainya kita paham bahwa Tuhan ada di dalam diri kita.  Sumber kehidupan, sumber segala kasih, sudah ada di dalam, tinggal kita menemukan dan mempersilahkannya menuntun kehidupan kita.  Segala rasa terasing, segala ketakutan akan lenyap dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemis kliwon&lt;br /&gt;5 agustus 2010&lt;br /&gt;masih di rumah selesaikan proposal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8777730233221603302?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8777730233221603302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8777730233221603302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8777730233221603302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8777730233221603302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/08/tuhan-di-luar-tuhan-di-dalam.html' title='Tuhan di luar, Tuhan di dalam'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1634700510600343174</id><published>2010-07-30T04:24:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T09:48:39.755-07:00</updated><title type='text'>Power to Choose</title><content type='html'>".. Science promised man power …. But, as so often happens when people are seduced by promises of power, the price is servitude and impotence.  Power is nothing if it is not the power to choose .." Joseph Weizenbaum, MIT scientist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cuplikan itu ketika temanku senantiasa memperkenalkan dirinya sebagai seorang scientist.  Dia memang seorang doktor fisika lulusan salah satu universitas ternama di Amerika Serikat, dengan predikat cum-laude.  Dia patut bangga karena tidak banyak manusia di negri ini yang dapat mencapai prestasi sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan apa-apa.  Aku melihatnya dalam konteks lebih luas, tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan saja.  Aku rasa, ada banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang juga menjanjikan kekuasaan kepada kita.  Misalnya, harta benda, pangkat, gelar pendidikan, kelebihan (spiritual), bahkan bentuk dan ciri fisik.  Semua hal dapat menjanjikan apa yang disebut (dan kita anggap) sebagai "kekuasaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mempunyai uang lebih banyak dari orang lain, maka orang tersebut merasa mempunyai kekuasaan, dan rasa berkuasa itu mulai menggoda dengan kuat, misalnya untuk menggunakan alat kekuasaan (uang) dalam berinteraksi dengan orang lain.  Seandainya seseorang merasa mempunyai kelebihan (spiritual) sehingga orang tersebut dijuluki "paranormal" atau "orang pandai" atau "pemuka agama", maka dia lalu tergoda oleh rasa berkuasa karena merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain tersebut.  Demikian juga untuk hal lainnya, seperti misalnya: tingkat pendidikan, pangkat, jabatan, bahkan yang remeh-temeh seperti jenggot dan cara berpakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ongkos atau biaya yang harus ditanggung adalah pelayanan dan ketidakberdayaan.  Kita lalu melekat dan menghamba kepada hal-hal yang (kita anggap) memberikan kekuasaan tersebut.  Kita lalu terjebak dalam sebuah hubungan ‘hirarkis’ antara kita dan hal tersebut.  Kemelekatan lalu menjadi sebuah pelayanan, karena kita harus menjaga semua hal tersebut agar tidak jatuh.  Kita selalu siap melayani rasa berkuasa dan menjunjung tinggi imaji (yang kita ciptakan sendiri) karena ‘memiliki’ hal-hal tersebut.  Diri kita lalu tidak mempunyai keberdayaan sama sekali.  Kita merasa bahwa diri ini sama dengan hal yang melekat.  Saya adalah orang kaya, saya adalah rektor, saya adalah direktur, saya adalah paranormal, saya adalah berwajah indo, saya adalah orang saleh (dan berjenggot), saya adalah orang katolik, saya adalah scientist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memahami bahwa hal itu bukanlah identitas, melainkan rasa yang melekat.  Ataupun kalau disebut identitas, maka itu bukanlah kesejatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Power is nothing if it is not the power to choose .. "  Benar adanya.  Kekuasaan sesungguhnya terjadi ketika seseorang mampu memilih.  Ketika kita bisa mendobrak belenggu imajiner yang selama itu telah mengungkung kita dan memberi rasa nyaman dalam bungkus imaji tentang kekuasaan.  Dalam konteks ini pula aku memahami kata-kata Yesus ketika dicobai oleh setan, misalnya, dan dia menjawab .. manusia hidup bukan dari roti saja.  Lalu Yesus juga tidak silau dengan kekuasaan yang dijanjikan setan.  Yesus mampu memilih.  Gautama Buddha memilih meninggalkan nikmatnya kemewahan istana untuk memahami kehidupan dan mengenali kesejatian dirinya.  Dia memilih melepaskan kemelekatan kepada harta benda, dan itulah "power to choose", sebuah kekuasaan yang sebenarnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minggu sore&lt;br /&gt;sambil kerja di rumah&lt;br /&gt;1 agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1634700510600343174?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1634700510600343174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1634700510600343174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1634700510600343174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1634700510600343174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/07/power-to-choose.html' title='Power to Choose'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5747727007275779987</id><published>2010-07-27T10:50:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T11:49:54.404-07:00</updated><title type='text'>Kesadaran di Mata Tua-nya</title><content type='html'>Matanya yang tua memandangku tanpa berkedip.  Mata yang setua wajahnya itu meski nampak lelah sepertinya menunjukkan bahwa dari puluhan tahun yang telah dilewatinya, dari milyaran obyek yang telah dilihatnya, masih mempunyai ruang untuk sesuatu yang belum pernah dicerapnya.  Mata yang saat itu seolah berubah menjadi mata kanak-kanak yang menginginkan melihat mainan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kesadaran adalah kehadiran Tuhan? .. " sergahnya sambil memandangku dengan caranya tadi.  Kubiarkan dirinya menunggu sejenak, meski nampak padaku bahwa sejenak bisa berarti lama bagi rentang waktu dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. karena kesadaran menerangi kegelapan batin kita .. " akhirnya kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, seolah sudah kupersiapkan sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lanjutku, " .. tanpa kehadiran kesadaran, pikiran dan batin akan tertutup oleh banyak kepentingan, banyak keinginan, banyak kemarahan, dan banyak ketakutan serta penderitaan .. semua aneka warna yang diciptakan sendiri oleh ego kita yang akhirnya mengaburkan kacamata batin dalam 'melihat' kehidupan, .. semua beban yang akhirnya menumpuk memberatkan pundak kita sehingga tidak ada kebebasan dalam bergerak dan menari bersama aliran kehidupan .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. demikian kuatnyakah kesadaran sehingga mampu mengubah semua itu ..? "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. ya.  Kesadaran adalah kejernihan pikiran dan batin kita dalam berinteraksi dengan jagat dan semesta 'diluar' diri kita, meski kau kelak juga akan menyadari bahwa mereka adalah perluasan dari pikiran dan batin kita sendiri .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan kata-kataku tadi " .. kesadaran yang menyatukan kita dan semesta itulah yang merupakan kehadiran Tuhan dalam istilah orang beragama.  Dalam penyatuan itu semua menjadi benderang, tidak lagi ada tempat untuk ego yang mengganggu dan menutup interaksi yang indah itu.  Kesadaran dalam tataran demikian bila terjaga setiap waktu, akan menjadi sumber energi luar biasa bagi perjalanan hidup kita, dan disitulah kebahagiaan hidup berada .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata tuanya seolah tidak pernah berkedip sejak awal pembicaraan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekilas peristiwa&lt;br /&gt;di hotel Kemang sore tadi&lt;br /&gt;27/7/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5747727007275779987?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5747727007275779987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5747727007275779987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5747727007275779987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5747727007275779987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/07/kesadaran-di-mata-tua-nya.html' title='Kesadaran di Mata Tua-nya'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8113974901183318467</id><published>2010-07-02T17:03:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T18:07:44.124-07:00</updated><title type='text'>Diskusi singkat tentang ma'rifat</title><content type='html'>Temanku kirim email dan menanyakan apa itu ma'rifat dan pengalaman ma'rifat.  Dari pengetahuanku yang terbatas, kucoba menjawab secara singkat apa yang kuketahui tentang kedua hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" ... Mas Gareng kinasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya ma'rifat itu salah satu tingkatan ilmu "surgawi" yang sering dianggap sebagai tataran tertinggi, meski di paham lain ada juga yang menganggap "ajimat" adalah tataran di atasnya.  Tingkatan ilmu tertinggi ini mempelajari tentang kesatuan antara manusia dan Allah atau "kemanunggalaning kawula - Gusti".  Ilmu ini dipelajari pada tarekat Nakhsabandiyah, juga oleh para sufi, seperti halnya Syekh Siti Jenar.  Tataran "ilmu surgawi" adalah: syariat, tarekat, hakikat dan marifat (sebagai pengetahuan yang tertinggi).  Dalam syariat (sebagai ilmu paling dasar) digambarkan bahwa kata "Allah" dalam tulisan Arab terdiri dari alif-lam-lam-ha.  Alif adalah satu, berdiri sendiri, merupakan awal, artinya Allah adalah awal dari segala sesuatu, awal dari alam semesta, dan alif terpisah dari lam-lam-ha karena Allah pencipta semesta.  Dalam hakikat, alif maujud dalam lam-lam-ha, dan Sayidina Muhammad adalah pengejawantahan dari Allah, seperti Yesus adalah sisi kemanusiaan dari Allah Bapa.  Dalam marifat sebagai pengetahuan tertinggi, alif dan lam-lam-ha adalah satu, sebuah kesatuan tanpa awal dan akhir.  Di Kristen dipahami bahwa Alpha dan Omega menyatu sebagai sebuah lingkaran.  Penyatuan inilah yang disebut manunggaling kawula-Gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan utama antara pandangan syariat dan ma'rifat terletak pada keberadaan Allah, karena dalam manunggaling kawula - Gusti, Allah bukan 'berada' di luar sana, tapi dalam diri manusia.  Pandangan ini, seperti pada sufisme, akhirnya memahami bahwa untuk menjumpai Allah, manusia hanya perlu masuk ke dalam dirinya sendiri (journey within).  Syekh Siti Jenar dibunuh oleh para Wali Sanga karena mengajarkan ilmu pengetahuan ini, ilmu tentang rahasia alam semesta, ilmu yang secara singkat diekspresikan sebagai: "Akulah Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku tafsirkan secara bebas tentang ajaran Yesus, maka ma'rifat sejalan dengan ajaran Yesus yang mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada dalam hatimu, bukan dimana-mana.  Manusia seperti Yesus adalah satu pribadi dengan Allah Bapa, dan untuk menuju ke Bapa, perlu melalui Yesus sang Anak Manusia.  Artinya, kita hanya perlu memahami manusia untuk memahami Allah, karena manusia adalah citra Allah.  Yesus (manusia) adalah jalan menuju Bapa.  Sehingga manusia hanya perlu masuk melalui kita sendiri (manusia) untuk menjumpai Allah Bapa yang bertahta dalam KerajaanNya, di dalam batin kita sendiri.  A journey within.  Juga Buddhisme yang mengajarkan untuk menemukan Sang Buddha dalam diri kita (buddha within).  Demikian juga dalam Hinduisme, manusia (atman) adalah percikan Brahman.  Percikan api adalah api itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena yang diperlukan adalah 'a journey within', maka dengan begitu, pengalaman ma'rifat merupakan pengalaman pribadi dalam bertemu dengan 'Allah'.  Pengalaman ini unik, karena sangat pribadi sifatnya, tergantung dari pengalaman hidup masing-masing, dan peristiwa2 yang menjadi titik balik kehidupan, yang membawa pribadi itu ke dalam pengalaman pertemuan (penyatuan) tersebut.  Pengalaman ini bukan sebuah "ilmu" yang berarti hanya pemahaman, tapi peristiwa yang dialami dan membawa transformasi batin seseorang, sehingga seluruh hidupnya akan berubah.  Menurutku ma'rifat tidak lagi bisa dilakukan secara berjamaah seperti dalam syariat, namun sudah masuk ke dalam diri masing-masing yang sifatnya sangat pribadi.  Karena itulah Mahatma Gandhi pernah berkata yang kira-kira artinya seperti ini: " .. kalau jumlah manusia di bumi ini ada (misalnya) tiga milyar, maka jumlah agama seharusnya ya tiga milyar itu.  Bukan hanya Hindu, Kristen, Islam, Buddha .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan membantu.  Silahkan teruskan diskusinya jika masih diperlukan ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Agus ... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi hari setelah semalam Belanda menang atas Brazil&lt;br /&gt;3 juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8113974901183318467?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8113974901183318467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8113974901183318467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8113974901183318467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8113974901183318467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/07/diskusi-singkat-tentang-marifat.html' title='Diskusi singkat tentang ma&apos;rifat'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-20179430259590036</id><published>2010-06-24T06:31:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T06:35:05.581-07:00</updated><title type='text'>Pikiran Monyet</title><content type='html'>Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran kita selalu sibuk.  Kesibukan pikiran ini, yang bersifat monolog, diisi berbagai ‘kegiatan’ seperti: keinginan, penolakan, prasangka, kritikan, keraguan, kecemasan, fantasi, ilusi, kemarahan, ketakutan, dan sebagainya, yang muncul secara terus menerus dan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan ini selalu kita anggap sebagai kondisi normal, dimana pikiran ber’kegiatan’ sesuai dengan keadaan sekitar.  Kita merencanakan, menghitung, menganalisis, berspekulasi, dan terus berpidah dari satu hal ke lainnya secara cepat dan mudah.  Seolah-olah kita sedang mengontrol pikiran kita.  Namun sesungguhnya, dan ini yang seringkali terjadi, kita dicengkeram oleh obsesi-obsesi yang dibuat oleh pikiran kita sendiri, sambil tidak menyadari akan hal-hal disekitar kita, dan pikiran terus menerus mengulangi hal yang sama (terpola).  Misalnya, kita sedang dalam keadaan emosi.  Obsesi bisa semakin kental, maka kita bisa menjadi marah, yang terus kita kembangkan sendiri menjadi dendam, lalu berfantasi melakukan kekerasan terhadap seseorang atau sesuatu – terus menerus.  Siapa sebenarnya yang sedang mengontrol pikiran: kita atau pikiran itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dalam keadaan marah kita mampu (secara tidak sadar) mengendalikan diri untuk tidak melukai seseorang, tapi tahukah kita akibat yang ditimbulkan oleh pikiran (fantasi, kemarahan) terhadap diri kita sendiri?  Sebagai contoh misalnya saja: tekanan darah berubah, tangan bisa gemetar, perut bisa mengejang, dan sebagainya.  Pikiran (mental) bisa berubah menjadi seperti kertas perangkap lalat yang mengikat pikiran tadi, meninggalkan jejak yang sangat sulit hilang, bahkan bisa bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran yang sibuk tadi sungguh berlaku sebagai monyet.  Mereka melompat dari sini ke sana sesukanya, lari kesana kemari, berayun, mencengkeram, memekik dan agresif.  Pikiran monyet ini mendominasi kehidupan kita dari hari ke hari, tanpa kita bisa mengendalikannya.  Kita bisa mnegkritik seorang tirani yang menguasai segenap kehidupan rakyat, namun pada kenyataan, kita dijajah oleh pikiran kita sendiri!  Pikiran ini pula yang lalu membatasi kemampuan kita untuk mengembangkan pikiran secara bebas.  Sehingga sebenarnya, kita hanya menggunakan sekitar sepersepuluh dari kemampuan pikiran kita yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa “nyaman” dan “normal’ ketika kita disibukkan oleh pikiran kita, dan sebaliknya merasa tidak nyaman ketika kita mencoba menyingkirkan pikiran yang sedang muncul.  Apa yang sesungguhnya terjadi?  Bila ini adalah cara pikiran berfungsi, lalu apa masalahnya?  Jawabannya adalah : meskipun kita sudah belajar mengontrol hampir semua fungsi-fungsi alamiah kita, namun baru sangat sedikit kita belajar mengontrol pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita merasa nyaman dalam genggaman pikiran monyet sejauh kita percaya bahwa itulah kehidupan yang normal.  Sesungguhnya tidak!  Kita sekarang baru sangat sedikit menggunakan potensi pikiran kita, selalu kehilangan perhatian dan kesadaran terhadap apa yang terjadi disekeliling kita, dan berada dalam dunia yang penuh ilusi.  Para guru meditasi mengajarkan bahwa kedamaian pikiran adalah warisan alam yang ada dalam diri kita dan kita dapat membangunkannya setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus masuk kedalam keheningan dan menemukan kedamaian dalam pikiran kita sendiri.  Rahasianya: pikiran monyet memberi makan kita (dalam bentuk buah pikiran) dalam keadaan tidak sadar, dalam kegelapan.  Pikiran monyet bersembunyi dari sinar pengamatan.  Dengan demikian, hanya dalam “keheningan pikiran” –lah kita akan mampu mengamati pikiran kita sendiri, akan mampu mengendalikan jalannya pikiran kita, dan menerangi serta menguak luas kemampuan berpikir kita yang terbatasi oleh pikiran monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheningan itu dapat tercipta apabila secara terus menerus kita melatihnya melalui meditasi.  Ini merupakan komitmen jangka panjang, agar kita bisa hidup dengan lebih penuh oleh kebijakan dan terbebas dari pikiran monyet.  Komitmen untuk terus menerus melatih diri kita membebaskan diri dari pikiran monyet akan menuntun kita menuju pencerahan (enlightenment), yang banyak disebut sebagai: nirvana, satori, kensho, kesadaran kosmis, kesadaran transcendental, atau bahkan disebut sebagai surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali definisi serta cerita-cerita tentang pencerahan ini, namun itu membuktikan bahwa hal ini harus dialami sendiri, tidak dapat dan cukup hanya diceritakan melalui kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… enlightenment is a verb rather than a noun.  It is not a state but a process.  Enlightenment does not end with an attainment; it is a continuous unfolding ...” (DACooper, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuplikan dari “A Heart of Stillness”&lt;br /&gt;David A. Cooper&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-20179430259590036?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/20179430259590036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=20179430259590036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/20179430259590036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/20179430259590036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/06/pikiran-monyet.html' title='Pikiran Monyet'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-2403235360595635683</id><published>2010-06-19T01:00:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T02:05:33.892-07:00</updated><title type='text'>Kemaksiatan komunal</title><content type='html'>Baru-baru ini ada pembongkaran patung Tiga Mojang yang dianggap tidak senonoh karena menggambarkan perempuan berbaju seksi.  Di salah satu postingan note temanku, dia mengatakan bahwa betapa kemaksiatan ada dalam pikiran yang kotor, dan patungpun dianggap bisa menimbulkan birahi.  Sebuah sinyalemen bahwa martabat para lelaki pembongkar patung adalah amat sangat rendah, ketika birahi-pun bisa muncul hanya karena melihat sebuah patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sepakat dengan pendapat temanku, bahwa kemaksiatan hanya ada dalam pikiran, bukan pada patung.  Peristiwa pembongkaran patung Tiga Mojang merupakan sebuah perilaku yang menarik untuk dipahami lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, manusia hidup dalam dinamika stimuli - respon.  Stimuli adalah hal2 yang berada "diluar" diri manusia dan hal2 yang terbangkitkan dari pikiran dan "di dalam" diri manusia.  Respon adalah bagaimana kesadaran kita menanggapi stimuli tersebut.  Misalnya, sekarang aku sedang menulis isi blog ini.  Ada stimuli di luar diriku berupa: hawa panas Jakarta, suara orang menyapu pakai sapu lidi di luar sana, lalu-lalang kendaraan di jalan depan rumah, suara kelentang-kelenting piring orang makan di dapur, atau yang timbul dari dalam diriku seperti haus yang aku rasakan, dan sebagainya.  Semua adalah dinamika yang perlu aku hadapi dengan bijaksana.  Pikiran dan cara serta tindakan yang aku lakukan terhadap stimuli ini merupakan respon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia seharusnya mengasah pribadi, mempertajam pikiran, menjernihkan batin, untuk merespon segala stimuli dalam hidup kita ini.  Tidak setiap stimuli harus aku respon dengan tingkat yang sama.  Misalnya, karena suara lalu lintas di depan rumah kuanggap mengganggu, maka aku berhentikan semua kendaraan yang lewat.  Pengolahan respon ini merupakan bagian dari pelatihan kesadaran diri manusia yang menurutku hanya bisa didapat melalui pelatihan keheningan batin, meditasi, karena meditasi adalah melatih kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada patung Tiga Mojang di Kota Harapan Indah Bekasi.  Patung adalah sebuah perwujudan dari perenungan batin dan kebulatan pikiran yang menjadi sebuah karya seni.  Dia ada di sana, tak bergerak atau berperilaku menggairahkan.  Pandangan terhadap patung itu, yang dianggap sebagai sebuah kemaksiatan, adalah respon pikiran terhadap patung sebagai sebuah stimuli.  Dengan demikian, kemaksiatan hanya ada dalam pikiran manusia-manusia yang mempunyai pandangan demikian.  Bukan di patungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pikiran tidak dapat dikendalikan, karena pikiran menimbulkan sebuah anggapan, sebuah opini.  Opini yang diolah sendiri sehingga patung menjadi menggairahkan dan menimbulkan birahi.  Ukuran yang diterapkan untuk menghakimi patung-pun lalu didasarkan atas opini, yang berasal dari persepsi yang sangat tergantung pada frame of reference, pengalaman pribadi orang tersebut.  Semua proses respon ini hanya ada dalam pikiran seseorang.  Ketika pikiran seseorang ini dipaksakan menjadi pikiran kelompok, maka pikiran kelompok-pun menjadi ter-kooptasi oleh pikiran awal seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, banyak diantara orang beragama yang tidak mendapat pelatihan kesadaran dalam ajaran-ajaran agamanya.  Pemahaman tentang persepsi, pikiran, penghakiman, pembubuhan ukuran, interaksi dan dinamika stimuli-respon, tidak secara tuntas diajarkan dalam agama mereka.  Yang ada adalah baik-buruk menurut sebuah buku, benar-salah menurut pemuka agama, lurus-sesat menurut sebuah kelompok, aturan demi aturan, halal-haram, surga-neraka, pahala-hukuman, yang semuanya berdasar pada persepsi sepihak.  Perbedaan persepsi tidak lagi dimungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemahaman dangkal seperti itulah kemudian muncul penghakiman-penghakiman sepihak berdasar ukuran-ukuran yang hanya dipahami oleh mereka yang mempunyai perspektif sama.  Penghakiman yang sepihak itu lalu dimunculkan dalam tindakan sebagai sebuah respon terhadap stimuli.  Respon yang berdasar pemikiran sepihak, tanpa harus menimba pemikiran dan menimbang batin orang lain, misalnya orang yang menciptakan patung Tiga Mojang.  Penghakiman seperti ini mengeras, tidak lagi ada ruang untuk pembelaan diri dari yang dihakimi, tidak ada lagi sebuah ruang untuk duduk sejajar dan saling berargumen secara cerdas.  Yang terjadi adalah hukum rimba.  Tidak ada lagi rahmatan lil'alamin, pandangan bahwa perbedaan itu adalah berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaksiatan yang menggelembung dalam pikiran kelompok sudah mengeras dan menjadi paham, yang juga sebenarnya hanyalah pikiran dan pendapat, dan menggelapkan batin ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia di negeri ini.  Begitu gelapnya sehingga tidak lagi tahu mana stimuli mana respon, tidak lagi mampu mengendalikan respon dalam pikirannya, dan tidak lagi mengenal sisi kemanusiaannya sendiri, apalagi kemanusiaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pembongkaran patung Tiga Mojang tidak hanya dilakukan oleh kelompok tertentu, namun dilakukan oleh jutaan orang yang menyetujuinya.  Kegelapan batin juga sudah merasuk jauh di dalam batin-batin manusia yang mengaku beragama, namun tidak menyadari fitrah yang berupa rahmatan lil'alamin.  Tidak menyadari bahwa ada perbedaan yang merupakan anugerah dari Allah, dan sekaligus sebuah kesamaan bahwa di hadapan Allah semua makhluk adalah sama.  Tidak ada yang bisa menghakimi orang lain atas nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah, sore hari, hujan gerimis&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-2403235360595635683?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/2403235360595635683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=2403235360595635683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2403235360595635683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2403235360595635683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/06/kemaksiatan-komunal.html' title='Kemaksiatan komunal'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8368733690988397937</id><published>2010-06-09T19:28:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T20:32:29.328-07:00</updated><title type='text'>Buddha dan Kristen</title><content type='html'>Kami masih di dalam taksi, menuju Kemang untuk sebuah pertemuan.  Jalan sore itu macet berat karena sejak siang tadi hujan turun.  Entah kenapa, lalu lintas Jakarta begitu rentan terhadap hujan.  Barangkali ahli got dan parit di Pemerintahan Daerah sedang sibuk menghitung uang hasil korupsi pembangunan parit sisi jalan, dan melupakan bahwa parit itu belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedang membaca sebuah buku tentang persamaan antara dua agama besar di dunia: Buddha dan Kristen, yang aku pinjamkan kepadanya.  Dua bunga indah yang ada dalam taman kehidupan ini, katanya menyitir pernyataan dalam buku.  Dia bilang sudah sampai pada pembahasan tentang mindfulness, kewaspadaan, atau tingkat kesadaran yang tinggi.  Aku mencoba menjawab pertanyaannya, bahwa tingkat kesadaran seperti itu mempunyai dampak luar biasa dalam kehidupan kita.  Kesadaran yang ada dalam batin bagaikan sumber cahaya yang menerangi kehidupan.  Dalam Buddha disebut "Buddha within" atau dalam Kristen dikenal sebagai "cahaya Roh Kudus", atau "nurani".  Segala perilaku kita tidak lagi karena kegelapan pikiran, namun dipandu oleh cahaya yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lintas sore itu benar2 padat.  Jam-jam pulang seperti itu seolah menumpahkan seluruh mobil yang siang tadi berada di parkiran kantor, ke jalan raya.  Kami hanya bisa berharap agar dapat sampai di tempat rapat pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi juga merembet pada sebuah keyakinan orang Kristen sepertinya, bahwa agama Kristen menjangkau "sumber" atau "Allah", atau "Pencipta", sedangkan Buddha berada pada wilayah hilir, berhubungan dengan penerapan petunjuk yang didapat dari sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sepakat dalam satu hal bahwa prinsip Buddhisme mengajarkan hal yang lebih pragmatis, dalam hal yang berhubungan dengan pikiran dan kondisi batin di kehidupan sekarang.  Buddha merupakan ilmu tentang pikiran, science of minds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, satu hal yang aku sampaikan bahwa Buddha juga mengajarkan "source" itu ada dalam "diri" kita sendiri.  Bukan di luar sana, atau ada di surga di atas langit ke tujuh.  Dia ada tepat dalam seluruh sistem kita.  Sehingga, Buddhisme dengan begitu mengajarkan seluruhnya, dari hulu sampai ke hilir.  Tidak ada pemisahan keduanya, karena begitu kita mengenal hulu, maka hilir hanya manifestasi hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang aku pahami dan aku sampaikan kepadanya sore itu, tepat sebelum taksi kami memasuki halaman kantor yang kami tuju ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10juni2010&lt;br /&gt;pagi sebelum ngantor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8368733690988397937?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8368733690988397937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8368733690988397937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8368733690988397937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8368733690988397937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/06/buddha-dan-kristen.html' title='Buddha dan Kristen'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-9192229722054350312</id><published>2010-06-05T02:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-05T03:32:43.432-07:00</updated><title type='text'>Bebaskah manusia memilih dan bagaimana mengasihi?</title><content type='html'>Hidangan makanan sore itu sudah tersedia.  Kami berdelapan duduk di sebuah rumah makan khas Sunda di bilangan Pasir Kaliki, Bandung.  Diskusi bergerak dari rencana program biogas di Pangalengan ke masalah spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kolega senior yang juga pendeta sedang memaparkan pandangan orang Kristen tentang norma-norma yang dianut dalam agamanya.  Tuhan sudah memberikan panduan untuk hidup, yang tertulis di Kitab Suci orang Kristen.  Kemudian Tuhan bersabda bahwa manusia harus mengikuti apa yang telah ditulis di kitab itu.  Namun pak Pendeta juga mengatakan bahwa manusia sebetulnya mempunyai pilihan, semacam wewenang untuk memutuskan, apakah dia mengikuti aturan di Kitab Suci, atau tidak mengikutinya.  Kalau tidak mengikuti maka akibatnya kelak dia tidak akan mendapat surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan yang sebetulnya bukan pilihan.  Dengan pilihan seperti itu maka Tuhan sebenarnya tidak memberikan wewenang apapun bagi manusia untuk memilih.  Siapa diantara manusia yang tidak ingin mendapat surga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah itu pemaksaan dari Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana manusia yang tidak paham akan Kitab Suci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kebebasan yang ditawarkan Tuhan menjadi sangat mengungkung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah sebuah Kitab Suci menjadi aturan yang mengancam seperti halnya sebuah undang-undang dengan ancaman penjara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak lagi yang kami diskusikan dengan hangat diseling menikmati tempe bacem, ayam goreng laos, lalap dan sambel cikur yang ekstra pedas.  Diskusi baru selesai sekitar jam setengah delapan malam, tanpa harus ada kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan pulang ke Jakarta, pak Pendeta dan saya banyak berbincang melanjutkan beberapa hal yang didiskusikan tadi.  Salah satunya adalah pemahamanku akan ajaran2 Buddha, meski aku pernah dibaptis secara Katolik.  Pak Pendeta bertanya kepadaku:" .. tidakkah menjadi bingung ketika menjadikan beberapa ajaran menuntun kehidupanmu .. ?  Aku jawab " .. samasekali tidak .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengajarkan kasih.  Buddha mengajarkan nilai yang sama.  Pada saat intisari ajaran Kitab Suci "kasih" diambil sebagai panduan utama, maka interpretasi tidak lagi diperlukan.  Kasih memang tidak interpretatif.  Dia hanya bisa dipahami dengan keheningan batin dan kebersihan pikiran.  Sayang dalam Kitab Suci Kristen tidak diajarkan secara jelas bagaimana memahami kasih dan melakukannya.  Idiom "kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri .. " masih interpretatif dan memungkinkan menjurus kepada egotistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, masalahnya bukan bagaimana mengasihi diri, karena yang namanya "diri" juga perlu dipahami dengan benar.  Menurutku, diri adalah ilusi, gambar yang kita ciptakan sendiri sehingga seolah kita merupakan sebuah makhluk yang solid, mempunyai bentuk diri.  Yang penting adalah bagaimana kita bisa memiliki energi kasih dalam batin kita, dan barulah energi itu kita bagikan kepada sesama.  Dengan pemahaman itu, diri bukan lagi obyek untuk kita kasihi, namun subyek yang penuh kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari di rumah,&lt;br /&gt;5 Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-9192229722054350312?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/9192229722054350312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=9192229722054350312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/9192229722054350312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/9192229722054350312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/06/bebaskah-manusia-memilih-dan-bagaimana.html' title='Bebaskah manusia memilih dan bagaimana mengasihi?'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5471625611159481223</id><published>2010-05-22T09:49:00.000-07:00</published><updated>2010-05-22T10:08:50.346-07:00</updated><title type='text'>Pemahaman akan Tuhan</title><content type='html'>Ketika Tuhan dipahami sebagai sebuah konsep, misalnya sebagai: pencipta segala, maha kuasa, pemilik semesta, penguasa surga, .. maka hubungannya dengan manusia menjadi hirarkis, jauh, hegemonis dan kadang menakutkan. Dalam pola hubungan seperti ini, maka manusia sering berada dalam ketakutan akan kuasa Tuhan.  Dan akibatnya, ketakutan yang dalam itu membuat manusia terasing dari sisi kemanusiaannya karena yang dipentingkan adalah bagaimana membuat Tuhan senang, bagaimana berusaha memenuhi kehendak Tuhan, dan bagaimana tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.  Orientasi hidup terarah kepada Tuhan agar kelak jiwanya diselamatkan dan tidak masuk neraka (siksaan abadi).  Arah hidup ini yang mengasingkan manusia dari sisi kemanusiaannya.  Hubungan dengan manusia menjadi kelas dua.  Yang penting aku kelak masuk surga, yang penting aku bisa beribadah untuk menabung pahala agar masuk surga.  Yang penting aku .. aku .. aku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika Tuhan dirasakan sebagai energi kasih yang hidup dalam nurani, hubungan itu menyatu dan membahagiakan karena kasih lebih mudah diterapkan di kehidupan sehari-hari.  Kehidupan tidak lagi diwarnai dan didominasi oleh rasa ketakutan terhadap Tuhan.  Tuhan tidak lagi berada di atas sana dan mengawasi tindak-tanduk manusia, namun berada dalam batin kita dan menyinari pikiran serta batin dengan cahaya kasihnya.  Tuhan menjadi guru karena mengajarkan kasih secara langsung.  Menjadi seorang sahabat karena senantiasa membisikkan kebaikan dan memperingatkan agar kita tidak berlaku yang merugikan orang dan makhluk lain.  Diapun menjadi pemandu karena terus menerus menerangi jalan hidup kita dengan cahaya kasih yang membahagiakan dan bebas dari rasa takut.  Hidup lalu berorientasi ke sesama, ke makhluk lain, karena inilah penerapan energi kasih Tuhan.  Aku menjadi tidak dipentingkan lagi, karena aku hanya bertugas menyalurkan energi kasih Tuhan ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya terserah kepada kita semua dalam memaknai kehadiran Tuhan di kehidupan kita masing-masing.  Sebuah pemahaman yang bebas dari tafsir orang lain, bahkan dari kitab suci manapun ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tengah malam.&lt;br /&gt;22mei2010&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5471625611159481223?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5471625611159481223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5471625611159481223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5471625611159481223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5471625611159481223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/05/pemahaman-akan-tuhan.html' title='Pemahaman akan Tuhan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-6175838441353128992</id><published>2010-04-28T19:40:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T19:46:45.640-07:00</updated><title type='text'>Great Things Start From Within</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;" Egg broken from outside force ...... a life ends. If an egg breaks from within .... life begins. Great things always began from within." – Anonymous&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata mutiara di atas dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut: “ Telur yang pecah karena kekuatan dari luar menyebabkan sebuah kehidupan berakhir (kematian), namun jika pecah karena kekuatan dari dalam, kehidupan dimulai.  Hal-hal yang besar selalu diawali dari kekuatan yang berasal dari dalam ..”, ditulis oleh seseorang yang tidak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang sangat benar dan mencakup segala ajaran spiritual.  Dalam pemahaman semua agama, disebut bahwa yang bernama Tuhan, Allah, Buddha, Brahman, ada di dalam kalbu kita.  Kekuatan dalam diri inilah yang sangat besar dan selalu mendatangkan kebaikan.  Kebenaran sejati ada dalam diri dan cara mengetahuinya adalah dimulai dari pemahaman atas diri.  Fenomena di luar merupakan persepsi diri, sehingga sebenarnya tidak ada pemisahan antara dalam dan luar.  Semuanya satu, yang berada di “luar” diri adalah refleksi dan hasil ciptaan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita tidak bisa mengharapkan terjadinya hal2 besar dari luar diri.  Kita tidak bisa menggantungkan hidup dari "kekuatan di luar diri", dari "Tuhan Allah di surga, di atas sana".  Semua harus dimulai dari dalam diri kita sendiri.  Allah bersemayam dalam kalbu kita, dan biarkanlah Dia bersabda, biarkanlah Beliau mencipta dan memimpin kehidupan ini.  Janganlah kehendakNya dikotori oleh kehendak pikiran kita yang berupa keinginan, kemarahan, kekecewaan, kebencian, dan kegelapan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pagi hari masih di rumah,&lt;br /&gt;29/04/2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-6175838441353128992?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/6175838441353128992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=6175838441353128992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6175838441353128992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6175838441353128992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/great-things-start-from-within.html' title='Great Things Start From Within'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1601276303744276241</id><published>2010-04-25T09:06:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T09:32:06.711-07:00</updated><title type='text'>Pesta dan kehidupan</title><content type='html'>Tadi sore aku menghadiri sebuah pesta (perkawinan) di sebuah gedung yang mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesta selalu menarik untuk diamati.  Tetamu datang dalam kondisi yang tidak biasanya, karena pada umumnya mereka menggunakan pakaian dan perhiasan yang terbaik.  Mereka datang dengan berdua atau dengan anggota keluarga lainnya.  Di pesta itu tersaji makanan dan minuman untuk disantap.  Para tetamu bisa bertemu dengan berbagai kenalan, ngobrol bersenda-gurau dan nampak kesenangan dalam diri masing-masing, meski ada juga yang tetap bersedih dalam hatinya.  Tata hiasan gedung sangat indah dipandang mata.  Setelah bertemu dengan kenalan dan sanak keluarga, terutama ketika pesta sudah usai, para tetamu harus pulang satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya memikirkan bahwa kehidupan seperti sebuah pesta.  Kita masuk ke dalam kehidupan ini dengan sukacita dalam kelahiran.  Lalu dalam hidup ini kita saling mengenal satu sama lain, berkawan, bisa bersahabat dan bahkan membentuk keluarga baru.  Makanan dan minuman secukupnya juga bisa kita dapatkan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah itu, kita harus meninggalkan gedung kehidupan, satu demi satu.  Gedung kehidupan yang indah banyak perhiasan ini bukanlah milik kita.  Kita tidak dapat membawa apapun ketika meninggalkan gedung.  Tidak juga hiasan2 indah itu.  Kita pulang seperti sewaktu kita datang.  Kita tidak boleh menginap di gedung itu, dan harus pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu meninggalkan gedung kehidupan ini, kita kembali ke rumah, sebuah rumah yang memang menjadi tempat tinggal kita, dan itulah kehidupan yang sebenarnya.  Pesta hanya berjalan sebentar, hanya sekedar bertemu teman dan sanak keluarga, makan dan minum sekedarnya.  Di pesta kita juga perlu bersikap baik terhadap sesama tetamu, demi keindahan dan persaudaraan dalam pesta secara keseluruhan.  Setelah itu, pesta usai dan kita harus pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta bukanlah kehidupan kita yang sebenarnya.  Kehidupan di rumahlah yang sebenarnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelang tengah malam,&lt;br /&gt;jakarta, 25 april 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1601276303744276241?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1601276303744276241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1601276303744276241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1601276303744276241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1601276303744276241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/pesta-dan-kehidupan.html' title='Pesta dan kehidupan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-6214941369966320849</id><published>2010-04-18T09:13:00.000-07:00</published><updated>2010-04-18T09:59:56.418-07:00</updated><title type='text'>Rasa miskin dan ketakutan</title><content type='html'>Banyak stasiun TV akhir-akhir ini yang selalu menyuguhkan berita sekitar korupsi.  Para koruptor ini mengumpulkan harta dan kekayaan untuk dirinya sambil merugikan orang lain.  Mengapa mereka korupsi besar2an dengan mengumpulkan uang dan harta yang sebetulnya bukan menjadi haknya?  Ada banyak pendapat tentang mengapa seseorang ingin mengumpulkan banyak harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah rasa miskin.  Ada rasa miskin yang terus berada di pikirannya, sehingga pikiran ini memicu segala tindakan untuk mencoba menyembuhkan rasa miskin ini.  Dipikirnya, dengan menumpuk harta, dia bisa mengisi ruang kosong bernama rasa miskin ini sehingga akan merasa lebih nyaman.  Namun ruang ini ternyata seperti sumur tak berdasar, sehingga berapapun harta yang dimilikinya tidak akan mampu menimbun dan menyelesaikan rasa dan pikirannya.  Bagaimana sebuah ilusi dalam pikiran bisa disembuhkan dengan harta dan angka dalam tabungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang menimbun harta karena menganggap bahwa harta akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya.  Seseorang menganggap bahwa kebahagiaan perlu ditopang dengan faktor-faktor dari luar dirinya, seperti harta, pangkat, banyak teman, anggota keluarga, gelar dan lainnya.  Orang tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan faktor2 penopang kebahagiaan yang didambakan ini.  Pada akhirnya dia akan kecewa karena faktor2 tersebut tidak mampu mendatangkan kebahagiaan dalam batinnya.  Apalagi bila faktor2 tersebut gugur satu demi satu karena perubahan alamiah, maka kebahagiaan yang ditopang olehnya dapat dengan mudah runtuh bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali alasan terdalam dari seseorang menimbun harta adalah karena ketakutan yang ada jauh di lubuk hatinya.  Sebuah ketakutan akan adanya perubahan.  Beban rasa takut ini timbul ketika dalam hidupnya seseorang mengalami perubahan-perubahan.  Meskipun perubahan ini alamiah sifatnya, namun dia tidak mau mengalaminya, karena perubahan bersifat tidak tentu, dan mutlak tidak dapat dihindari.  Untuk tetap mengalami kehidupan seperti sekarang yang dirasa nyaman dan nikmat, seseorang lalu membangun "kekuatan" untuk mencoba menunda perubahan atau kalau bisa tidak berubah.  Keinginan ini hanyalah ilusi.  Semakin seseorang ingin menggenggam kehidupannya sekarang ini dan tidak mau berubah, semakin tambah penderitaan batinnya karena dia tidak mengalir bersama alam.  Bagai air yang terkungkung dalam sebuah genangan yang tidak mengalir, lama-kelamaan air ini akan berlumut dan membusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu melihat orang-orang tua itu terkuak kelakuan busuknya dan masuk penjara satu demi satu, aku hanya bisa merasa prihatin dan bersimpati terhadap penderitaan yang ada dalam batin mereka, akibat dari kegelapan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelang tengah malam,&lt;br /&gt;jakarta, 18april2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-6214941369966320849?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/6214941369966320849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=6214941369966320849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6214941369966320849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6214941369966320849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/rasa-miskin-dan-ketakutan.html' title='Rasa miskin dan ketakutan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1394369468362475190</id><published>2010-04-15T08:55:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T09:27:23.199-07:00</updated><title type='text'>Kemuliaan manusia yang tidak beradab</title><content type='html'>Kulihat di berita TV malam itu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan anggota satpol PP pontang-panting melarikan diri, dikejar 'massa'.  Sosok tubuh itu tertelungkup dan tidak bergerak.  Beberapa orang masih terus memukulinya menggunakan berbagai alat pemukul.  Seseorang lari ke arahnya, meloncat di udara dan mendarat di badannya.  Seorang yang lain mengambil potongan batu bata dan dengan sekuat tenaga dihempaskannya ke kepala yang sudah tertelungkup tak bergerak itu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV-pun aku matikan segera.  Aku menyesal menyaksikan kebiadaban yang telanjang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan aku makan malam bersama teman sekantorku di sebuah rumah makan gaya Aceh di dekat pasar Takengon.  Usianya masih sangat muda, belum juga separuh dari usiaku, dia seorang agamis yang taat dan beriman.  Akhir-akhir ini dia sering mengajak berdiskusi denganku tentang banyak hal.  Beberapa kali dia mengatakan bahwa dia banyak belajar dari diskusi-diskusi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami ramai berdiskusi, salah satunya, tentang manusia yang menurutnya makhluk yang sungguh mulia.  Makhluk yang diciptakan oleh Allah sesuai citraNya, karena Allah menyayangi manusia lebih dibanding makhluk lain.  Manusialah yang mempunyai akal budi yang tidak terdapat pada makhluk lain.  Demikian pendapat yang diyakininya, yang menurutku memenuhi kriteria anthroposentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu menulis ini, aku hanya ingin mencari benang merah yang mampu menyambung dua hal di atas: manusia yang membunuh sesamanya dengan wajah berseri-seri dan meneriakkan asma Allah, dengan manusia yang merupakan citra Allah yang menjadi sebuah identitas bahwa manusia adalah makhluk yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasku sesak dan batinku bergetar, karena benang merah itu tidak kutemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tergambar dengan jelas dipikiranku adalah manusia yang sudah terasing dari kemanusiaannya, manusia yang tidak lagi mengenali jati dirinya, dan manusia yang tidak mempunyai kepantasan apapun untuk disebut sebagai makhluk yang mulia.  Binatangpun tidak pernah membunuh demi sebuah ide, sebuah konsep, kesenangan ataupun rasa kepuasan.  Mereka membunuh karena terancam atau untuk makan, untuk hidup.  Alasan yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manusia ngotot merasa lebih mulia dibandingkan dengan binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemirisan itu masih menggantung di pikiranku.  Aku berniat akan melepaskannya secepat mungkin ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hotel mahara, takengon&lt;br /&gt;15042010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1394369468362475190?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1394369468362475190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1394369468362475190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1394369468362475190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1394369468362475190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/kemuliaan-manusia-yang-tidak-beradab.html' title='Kemuliaan manusia yang tidak beradab'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-3715329061340570421</id><published>2010-04-11T09:01:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T09:11:19.236-07:00</updated><title type='text'>GANJURAN: TEMPAT BERTEDUH</title><content type='html'>Malam itu aku dibangunkan oleh suara keras dering telpon di kamar hotelku.  Kuangkat telpon dan diujung sana suara seorang lelaki berkata:” .. maaf pak, .. sudah ada yang menunggu di lobby ..” Kulihat jam tanganku, sepuluh menit lewat tengah malam.  Wah .. rupanya aku ketiduran!  Buru-buru kujawab, “ .. baik pak, saya segera ke lobby ..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang sebetulnya sudah janjian dengan teman lamaku di kota gudeg ini.  Kami berjanji ketemu tepat tengah malam untuk bersama mengunjungi gereja Ganjuran yang terletak di sebelah selatan kota.  Gereja yang pernah hancur akibat gempa Jogja 2006 lalu, akhir-akhir ini menjadi tujuan bagi orang-orang yang mempunyai niat untuk mencari ketenangan sejenak.  Di depan lobby hotel, kulihat temanku sambil merokok, tertawa keras dan komplain, “ .. ketiduran ya ..”  Menjaga agar tidak tidur sampai tengah malam setelah mengikuti seminar yang cukup melelahkan, tidaklah mudah.  Namun aku minta maaf juga kepadanya tanpa perlu menjelaskan mengapa aku ketiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul satu dinihari, barulah kami sampai di tempat tujuan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja itu nampak megah benar.  Bentuknya mirip dengan pendopo kraton Jogja, terbuka tanpa dinding.  Di malam itu, lampu2 di dalam gereja memberikan aksen yang memikat bagi keseluruhan bangunan.  Di halaman depan gereja, ada dua gazebo besar yang banyak orang berkelompok sambil ngobrol dan memberi suasana akrab di malam itu.  Di samping gereja, ada sebuah bangunan seperti candi, di depan sebuah los besar yang banyak bangku.  Banyak orang tidur di bangku2 itu. Di sebelah kanan ada ruang panjang berisi seperangkat gamelan Jawa.  Di sisi kiri candi terdapat sekitar delapan kran air sebagai tempat untuk wudhu, karena begitu datang, temanku mengingatkan untuk mencuci muka, tangan dan kaki sebelum berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan candi kecil beberapa orang duduk di bangku menghadap candi dan berdoa.  Di beranda candi ada beberapa botol plastik berisi air yang diambil dari sisi kiri candi, dan didoakan untuk kemudian dibawa pulang.  Candi dan konstruksi pendukung di sekitarnya memberi kesan mistis pada keseluruhan kompleks gereja.  Menurut cerita temanku, banyak juga pengunjung dari agama selain Katholik, misalnya ibu2 berjilbab, atau dari etnis Cina yang menggunakan hio, yang ikut berdoa di depan candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ber”wudhu”, aku naik ke candi kecil itu, yang berongga dan di dalamnya ada sebuah patung marmer putih berwajah mirip Yesus namun memakai pakaian raja Jawa.  Dia duduk dengan satu tangan menunjuk ke hatinya yang menyala ada apinya.  Hati Kudus Yesus.  Pangkuan dan lutut patung nampak kotor seperti bekas dijamah orang.  Setelah sejenak berlutut di depan patung Sang Raja dan mencoba membuka diri untuk menerima pengalaman saat itu, akupun berjalan mundur menuruni tangga candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana malam itu yang tenang, dan energi para pendoa yang memenuhi ruang sekitar candi, menjadikan lokasi ini nyaman untuk bermeditasi.  Kulihat temanku sudah menyelesaikan setengah doa rosario di genggamannya.  Akupun mulai bermeditasi, dan energi di lokasi itu terasa padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai meditasi, aku ajak dia bermeditasi.  Pelan kutuntun, sambil kubantu dengan meningkatkan eneginya.  Ketika kuminta merasakan telapak tangannya, dia seperti kaget dan langsung bangun sambil mengibas-ngibaskan tangan: “ .. lho kok tanganku panas banget ..”  Aku jelaskan bahwa itulah energi yang mengalir lewat telapak tangan.  Aku minta dia kembali ke kondisi meditasi.  Kembali kutuntun dia dan kualirkan energi semesta yang padat ini kepadanya.  Belum lima menit kemudian, dia kembali kaget terbangun “ .. lho .. lho .. kok aku melayang .. wah kowe kok nakut2in aku .. gimana kalau aku jatuh .. rasanya kok ringan sekali ..“ Lalu mulailah celotehnya yang menyatakan kekhawatirannya kalau jatuh.  Sekalian kucandai, “ .. ya lain kali bawa stagen, terus iket di tiang dan di badanmu biar gak terbang ..” Kami tertawa lepas meski agak tertahan karena takut mengganggu yang lain.  Akhirnya, selesai juga sesi meditasi pendek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kembali ke hotel, kujelaskan segala sesuatu tentang meditasi.  Dia janji akan mencoba sendiri di rumah.  Aku kembali tidur di hotel ketika waktu menunjukkan jam 3 pagi dini hari.  Aku perlu istirahat sejenak karena pagi nanti beberapa teman peserta seminar ingin belajar bermeditasi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 11042010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-3715329061340570421?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/3715329061340570421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=3715329061340570421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3715329061340570421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3715329061340570421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/ganjuran-tempat-berteduh.html' title='GANJURAN: TEMPAT BERTEDUH'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1518787047877089230</id><published>2010-04-04T04:06:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T04:17:23.202-07:00</updated><title type='text'>Kematian yang dibutuhkan</title><content type='html'>Hari Sabtu siang aku ikut mengantar jenazah Letjen TNI (Purn) Ashari Danudirjo ke liang lahat di Tonjong Bogor, yang wafat Jumat sore. Di KOMPAS hari ini ada sedikit riwayat hidup beliau yang menurutku hebat, seperti menjadi Dubes RI, Menteri, banyak bintang penghargaan dari negara, dan sederet kepeloporan beliau di bidang olahraga air, dan penyelamatan lingkungan hidup terutama satwa. Pemakamannya- pun diiringi upacara militer penuh, dengan inspektur upacara seorang jendral berbintang dua. Beliau dimakamkan di samping istrinya tercinta yang mendahuluinya empat tahun lalu. Aku ada di situ karena beliau salah satu paman istriku. Sabtu pagi aku dan istriku melayat ke rumah beliau di Jl. Padang. Kuamati sejenak jenazah yang terbujur, wajahnya kelihatan damai, namun memang terlihat lebih kurus dengan alis yang sudah banyak beruban. Saat itu kulantunkan doa agar beliau mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya yang sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian dimana-mana selalu menyedihkan banyak orang, karena banyak sebab, namun terutama karena memori dalam pikiran. Yang diperbuat oleh orang lain adalah mencoba mengingat apa yang telah diperbuat almarhum pada masa hidupnya. Bahkan seperti kata temanku, seorang budayawan yang kebetulan ketemu di pemakaman setelah lebih setahun tidak ketemu, mari kita bicarakan hal-hal yang baik saja dari beliau. Apa yang sudah dirintis, dipelopori, diperjuangkan, dan patut dijadikan suri tauladan buat kita yang masih hidup. Memori yang kita simpan biasanya yang baik, yang memberi kompensasi terhadap rasa sedih karena kehilangan almarhum. Bahkan ajaran-ajaran semasa hidupnya perlu kita kaji ulang dan kita jadikan panduan untuk dapat hidup seperti beliau. Bukan memori tentang penderitaan semasa sakit di rumah sakit, atau kesakitan semasa almarhum kesulitan buang air, atau rasa ketika sesak nafas menyerang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat itu adalah Jumat Agung, ketika umat Katolik seluruh dunia memperingati kematian Yesus. Berbeda dengan kematian Om Ashari, kematian Yesus barangkali tidak menyedihkan banyak orang. Kematian Yesus dibutuhkan, karena hanya dengan kematiannya itulah seluruh umat diselamatkan dan dijamin kehidupan dunia akhirat. Yang dikenang adalah kesengsaraannya, proses berdarah-darah yang digambarkan dengan rinci, sampai tarikan nafas terakhir di kayu salib. Sebuah sms masuk ke ponselku tadi pagi: " ... karena bilur-bilurnya kita disembuhkan ... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus mencoba memahami pandangan orang-orang Katolik terhadap kematian Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Paskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sore dirumah,&lt;br /&gt;minggu paskah 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1518787047877089230?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1518787047877089230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1518787047877089230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1518787047877089230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1518787047877089230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/kematian-yang-dibutuhkan.html' title='Kematian yang dibutuhkan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5695586331235676980</id><published>2010-04-02T18:18:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T18:23:21.373-07:00</updated><title type='text'>Bebas dari kungkungan konsep</title><content type='html'>Profesor yang satu ini memang eksentrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya yang sudah banyak beruban dibiarkan panjang dan diikat ekor kuda, jenggotnya yang panjang dan kumisnya yang juga beruban dibiarkan agak liar memenuhi sekitar mulutnya yang selalu terselip sebatang rokok Jisamsoe kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang diajarkannya adalah mencoba membongkar persepsi yang terkungkung oleh konsep, oleh ide, dan oleh dogma.  Pembebasan diri dari kungkungan seperti itu kedengaran mudah, namun ternyata bagi banyak orang tidak selalu semudah membalikkan telapak tangan.  Hari itu dia berbicara tentang agama, berbagai belief systems, sistem kepercayaan yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendekati salah satu mahasiswa yang sedang mengikuti kuliahnya pada hari itu, dan dengan tatapan matanya yang tajam dibalik kacamata bulat kecil yang nampak lucu, dia bertanya: " .. apa pendapatmu seandainya tuhan tidak ada .. ?"  Sebuah pertanyaan yang tidak terduga, dan sebuah pengandaian yang tidak umum dilakukan.  Si mahasiswa terlihat gelagapan dan tidak bisa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu profesor itu mendekati seorang mahasiswa perempuan dan bertanya: " .. kenapa kamu pakai beha dan celana dalam ..?"  Si mahasiswa tidak dapat menjawab dan hanya mampu memperlihatkan wajahnya yang mendadak berubah merah menahan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu profesor ini mulai menjelaskan betapa seseorang akan sukar sekali membebaskan diri dari sebuah ide yang selama hidupnya sudah menjadi kebiasaan, sebuah kepercayaan, sebuah dogma, bahkan menjadi sebuah iman, bagian dari sebuah sistem kepecayaan.  Ketika diajukan sebuah pernyataan antitesis, seseorang tidak pernah siap untuk menerimanya.  Sewaktu seseorang diajak untuk berpikir keluar dari kotak (out of the box), dia sering merasa gamang karena kemudian tidak mempunyai dasar berpijak atau pegangan yang sudah secara umum tersedia atau disediakan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pertanyaan berikut misalnya: bisakah kita hidup seandainya tidak ada Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali bagi seorang muslim atau kristen, hal ini tidaklah mungkin terjadi.  Banyak alasannya, termasuk misalnya, lalu siapa yang menciptakan kita dan alam beserta semua isinya ini?  Namun bagi seorang buddhis, ada tuhan ya syukur, tidak ada juga tidak apa-apa.  Lain lagi bagi seorang atheist, yang misalnya akan bertanya kembali, memang Tuhan pernah ada?  Kalaupun ada itu kan ciptaan manusia, sehingga "keberadaannya" gak penting amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia hidup dan berkembang berdasarkan opini.  Opini yang diterima dan berlaku umum kemudian menjadi sebuah nilai yang dianut dan diagungkan.  Mempertanyakan dan mengajukan anti-thesis terhadap nilai-nilai ini menjadi sebuah anomali perspektif.  Bahkan bisa dianggap pemberontakan terhadap tradisi, konvensi dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, kebebasan dari konsep, mempunyai ide kreatif, keberanian menerobos dan mendobrak perspektif untuk menemukan nilai universal merupakan awal dari kebahagiaan dalam hidup.  Karena kebebasan seperti itu mampu menjangkau nilai-nilai yang lebih luas, lebih dalam dan berlaku bagi siapapun dan apapun.  Kemampuan ini juga merupakan keterbukaan terhadap sesuatu yang baru, sebuah proses pembelajaran yang diperlukan untuk memperkaya pemahaman kita tentang hidup dan kehidupan ini.  Sebuah sifat yang universal dan menjadi obyektif, tidak lagi relatif.  Realitas adalah nilai2 yang tidak relatif.  Di situlah kita bisa memahami realitas, hidup lebih membumi tidak mengawang, akan lebih mampu menemukan kemanusiaan kita sendiri.  Kearifan akan lebih mudah kita pupuk dari pemahaman akan nilai kemanusiaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelang jumat agung,&lt;br /&gt;jakarta, april 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5695586331235676980?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5695586331235676980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5695586331235676980' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5695586331235676980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5695586331235676980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/04/bebas-dari-kungkungan-konsep.html' title='Bebas dari kungkungan konsep'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-6820579859391157102</id><published>2010-03-27T20:47:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T21:12:54.768-07:00</updated><title type='text'>Sebab sebuah keberadaan</title><content type='html'>"Bolehkah saya menanyakan sesuatu yang saya rasa penting dalam hidup ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email itu datang dari kawanku dan langsung aku jawab, "Silahkan, mudah2an bisa menjawabnya".  Lalu lanjutnya," .. apakah segala sesuatu yang ada ini ada karena ada sebab?"  Wah, jawabku, pertanyaannya berat dan belum tentu aku bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kucoba jelaskan, bahwa pertanyaan itu sudah banyak sekali dilontarkan dan diperdebatkan.  Misalnya bahwa orang2 bertuhan menganggap segala yang ada karena diciptakanNya.  Ada proses ex-nihilo, dari ketiadaan timbul keberadaan.  Orang dari aliran lain menganggap bahwa segala sesuatu ada karena lahir dari kondisi sebelumnya.  Ada denyut kehidupan, baik yang terjadi dalam waktu nano detik maupun milyar tahun seperti planet yang hidup, berkembang, kontraksi dan mati, meledak, hidup, ekspansi, dan seterusnya.  Ada juga yang menganggap bahwa ada itu tidak perlu ada sebab, ada ya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih nyaman menganggap ada adalah ada.  Tuhan adalah Hyang Maha Ada, karena tidak ada yang mengada tanpa Ada itu sendiri.  Karena begitu kita hanya mensyukuri Hyang Ada, kita akan menyadari setiap detik eksistensi kita.  Kita tidak akan terkungkung dalam konsep tentang penciptaan, tentang hidup kita milik Pencipta dan bukan milik kita, tentang harus berbaik-baik dan menyembah pada yang memberi keberadaan kita, harus takut, harus ini, harus itu ... karena keberadaan kita bukanlah milik kita dan hidup ini ditentukan oleh yang berkuasa, Tuhan.  Dia adalah bos kehidupan, dan agar kita diberi hidup yang baik, haruslah berbaik-baik kepada bos.  Perbanyak doa, perbanyak amal ibadah, biar bos senang dan bulan depan naik gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku pola hubungan dengan Pencipta dalam hirarki seperti itu merupakan pandangan primitif.  Lalu timbullah dewa-dewa dan akhirnya timbullah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati dan mensyukuri keberadaanku saat ini dalam kehidupan sekarang ini.  Kehidupan yang meng-ada, dalam hubungan yang bersifat satu dengan segalanya.  Apa yang aku pikirkan dan lakukan akan mempunyai dampak kepada segala sesuatu di semesta ini, sehingga aku perlu menjaga keberadaan semesta dan segala isinya dengan sebaik-baik aku bisa pikirkan dan lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sebab yang menjadikan keberadaan ini?  Kalaupun ada, aku syukuri.  Kalaupun tidak ada, tidak menjadi soal bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;28 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-6820579859391157102?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/6820579859391157102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=6820579859391157102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6820579859391157102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6820579859391157102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/sebab-sebuah-keberadaan.html' title='Sebab sebuah keberadaan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8094080791596143232</id><published>2010-03-25T06:18:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T06:36:58.136-07:00</updated><title type='text'>Tuhan dan Manusia</title><content type='html'>Dalam sebuah pembicaraan, pernah aku bertanya kepada kawanku, benarkah bahwa Tuhan itu berada di luar manusia.  Misalnya, saya ini adalah makhluk ciptaannya, dan dia ada di sana, di langit, bertahta di surga di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab dengan sebuah pertanyaan juga, apakah bisa manusia hidup di luar Tuhan?  Kalau begitu, seolah ada dua entitas berlainan: Tuhan yang menciptakan saya, dan saya yang diciptakannya.  Hubungan yang ada hanya dia yang mencipta dan saya sebagai obyek ciptaannya.  Dua individu yang berbeda, terpisah secara fungsi.  Bisakah saya hidup di luar Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya menarik.  Bisakah aku hidup di luar Tuhanku?  Betapa sombongnya diriku bahwa aku bisa hidup tanpa Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah kebalikannya, sebuah ide bahwa Tuhan berada dalam diriku.  Tuhan tidak di sana menciptakan aku, tapi keberadaanku adalah keberadaannya, keberadaannya termanifestasikan sebagai keberadaanku. Aku adalah perwujudan Tuhan, aku adalah citra Tuhan yang maujud.  Keberadaan Tuhan bukan dimana-mana, karena dialah sang maha ada.  Dialah yang meng-ada.  Dia-lah ada itu sendiri.  Tidak perlu mencari bukti tentang keberadaan Tuhan selain memahami tentang yang ada, yang maujud maupun yang tidak tercerap oleh kemampuan spektrum mata kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau melihatku, kau melihat Tuhan.  Jika aku melihatmu, aku melihat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam Jumat pon&lt;br /&gt;aguswidianto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8094080791596143232?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8094080791596143232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8094080791596143232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8094080791596143232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8094080791596143232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/tuhan-dan-manusia.html' title='Tuhan dan Manusia'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4921158234025142311</id><published>2010-03-24T18:45:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T18:49:14.550-07:00</updated><title type='text'>Yanti Mencari Tuhannya</title><content type='html'>Senja itu udara terasa pengap, setelah gerimis di siang hari tadi meninggalkan uap yang padat dan lembab meskipun sisa-sisa panas matahari siang masih terasa. Karena hari ini hari libur, kubiarkan badan lelahku tergolek di lantai tingkat dua rumahku. Udara pengap membuatku setengah terlelap namun tetap terjaga. Kudengar penjaja keliling lewat di depan rumahku sambil sesekali meneriakkan kata-kata yang kadang terdengar tidak bermakna. Sering seperti sebuah lenguhan, terkadang pekikan, dan selalu tidak menceritakan nama barang yang dijualnya. Sebuah strategi pemasaran yang aneh. Kudengar masjid di ujung gang depan rumahku melantunkan panggilan adzan. Suara setengah parau itu sudah lama kukenal karena hampir tiap hari pada waktu yang sama, selalu melantunkan doa yang sama, dalam susunan nada yang sama, sebuah ritual yang sama. Sesekali aku merasa kehilangan ketika suara yang terdengar bukan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesadaranku yang hampir hilang menuju tidur, dan barangkali karena suara adzan tadi, tiba-tiba ingatanku menjelajah ke alam pengalaman yang tersimpan dalam benakku, ke masa-masa yang bergelora dengan intensitas tinggi dalam usahaku menemukan Tuhanku. Sebuah gelora kerinduan, sebuah gelegak kehausan, sekaligus sebuah perjalanan spiritual cukup panjang untuk sebuah usaha yang terdengar mulia, dan merupakan sebuah cerita yang mungkin perlu dibagi karena banyak manusia yang mempunyai pengalaman serupa denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku membawa diriku terbang ke masa sekitar empat tahun lalu, menjelang tengah malam. Sebuah malam dari banyak malam lain pada penanggalan ganjil di bulan Ramadhan. Setelah kusisir rambutku, dan kubasahi wajahku untuk menghilangkan bekas kantuk sore tadi, kukenakan jaket blujin tebalku. Pelan-pelan kubuka pintu rumahku dan kututup serta kukunci kembali dengan hati-hati, takut membangunkan bapak dan ibuku yang sudah terlelap di ruang tidur dekat kamar tamu. Udara di luar terasa dingin menembus jaket yang kukenakan, dan menyentuh kulitku dengan kelembutan yang tajam. Si Abdul, abang ojeg langganan sudah menungguku sambil menghisap batang rokoknya yang tinggal separuh. Jarang dia melupakan pesanan yang kubuat. Seperti malam itu, sore tadi sudah kupesan agar siap mengantarku sekitar tengah malam. Kulihat dia membuang sisa rokoknya begitu melihatku berjalan menuju tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil kupegang ujung jaket Abdul yang merebakkan aroma apek seperti kain yang tidak pernah kena air selama seminggu, kududuk membonceng di belakangnya. Sejenak kemudian motor bebeknya menggerung pelan menuju sebuah masjid besar di bilangan Menteng, yang menjadi tujuanku untuk mencoba menemukan cerahnya seribu bulan. Cerahnya cahaya yang ingin kurengkuh untuk menerangi batinku yang sudah sekian lama menggumamkan tembang kerinduanku akan Pencipta dan Pelindungku. Kerinduan akan kebahagiaan ilahiah, yang kuharapkan akan menyembuhkan segala derita dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual tahunan setiap bulan suci Ramadhan, berkunjung dari satu masjid ke masjid lain, dengan rajin kulakukan dengan sepenuh hati. Juga dengan sepenuh harapan agar dilimpahkanNya anugerah seribu cahaya bulan. Seperti itulah yang dikatakan para pandai. Kata-kata yang selalu menggugah kembali harapan-harapan dalam pikiranku akan kehidupan yang lebih baik, yang berarti enteng rejeki dan enteng jodoh. Begitu menyejukkan, begitu menjanjikan, dan begitu enteng dalam mengatakannya. Melakukan ritual berbekal kesungguhan hati yang penuh dengan kehausan akan harapan sering menyentuh ujung syaraf rasa, yang terkadang membuat seluruh bulu tubuhku berdiri, serta air mataku menggenang di pelupuk. Sering seluruh rasaku terhanyut dibawa oleh getaran halus yang deras membuai segenap sel di semesta tubuhku. Namun jauh di dasar palung kalbuku, ada setitik noktah kecil kegelisahan yang aku tak pahami, dan yang kelak menjadi semakin membesar dan mengeras ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibesarkan dalam keluarga yang taat menjalankan syariat keagamaan. Ayah seorang ‘pencari’, yang mempunyai kecintaan dan keinginan untuk terus menyempurnakan pemahaman beliau tentang agama. Ibu seorang yang taat menjalankan ritual keagamaan bagai seorang murid yang patuh kepada aturan sekolah. Demikian juga kakak dan adikku, mereka menapaki setiap bekas langkah bapak dan ibu, tanpa sekalipun bertanya mengapa. Hidup mereka terlihat mengalir rapih dalam pola ritual keseharian yang diulang-ulang, dari satu ke yang lain dan kembali ke yang satu, terus dan terus dan terus, tanpa putus atau perubahan yang berarti. Ketaatan pada ritme kehidupan beragama yang seringkali membuatku kagum. Terlihat bagai keikhlasan untuk melakukan semua itu, terlihat bagai ketulusan dan hampir menjadi kekhusu’an dalam menjalankan ritual yang sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam kesehariaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan aku? Aku menilai diriku sebagai orang yang cukup sukses secara materi, terutama dibanding dengan kakak dan adik-adikku. Sebagai seorang sekretaris eksekutif di sebuah perusahaan yang cukup besar, pendapatanku jauh lebih dari cukup sehingga sebagian dapat kusisihkan untuk membantu anggota keluargaku. Barangkali karena kesibukanku membantu keluargaku itulah yang membuatku masih belum mempunyai niat untuk segera berumahtangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dingin Jakarta pada malam itu menyeruak masuk melalui sela-sela jaketku, dan membuatku tetap terjaga dibelakang bang Abdul. Bangunan masjid di daerah Menteng itu kelihatan gagah, dengan pilar-pilar kekar yang menyangga kubahnya yang berkilau memantulkan berkas-berkas cahaya bulan. Siluet banyak orang di halaman masjid terlihat bergerak-gerak akibat sinar dari dalam, bagai wayang yang sedang dimainkan oleh seorang dalang yang mempunyai kuasa atas segala wayangnya. Sesekali terdengar kelepak sayap burung malam yang masih terjaga di sela-sela dedaunan pohon beringin yang kokoh berdiri menjaga masjid besar itu. Beberapa katak di rerumputan mengurangi suaranya ketika kulewati jalan setapak menuju pintu masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya udara dingin tengah malam itu tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk datang dan khusu’ berdoa sambil banyak memohon. Barangkali mereka mempunyai kerinduan yang sama denganku, atau barangkali alasan lain yang tidak akan pernah kutahu. Jika itu sebuah kerinduan, maka sebentuk kerinduan yang bagaikan gatal di kulit yang selalu ingin digaruk untuk mengurangi kegatalannya. Datang ke masjid malam itu memberikan sedikit garukan yang terasa menyenangkan, karena aliran darah yang menghangatkan permukaan kulit yang gatal dan mengurangi rasa gatalnya. Mendengarkan ceramah seorang pandai malam itu membuat kegelisahanku sebentar menghilang. Anehnya, memang hanya sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid, lailatul qadar, khotbah si pandai, ritual, dan segala atribut keagamaan ternyata tidak mampu menghilangkan noktah kegelisahanku yang sekarang mungkin sudah sebesar bola sepak dan semakin membesar namun berongga. Kegelisahan yang terasa kosong, meskipun padat dipenuhi dengan ramainya pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Seperti sebuah gua yang dalam yang penuh dengan suara pantulan yang berulang muncul tanpa pernah tahu asalnya dari mana. Salah satunya, mengapa aku tidak menemukan Tuhanku di masjid, tidak di malam lailatul qadar, tidak juga di mulut para pandai? Dimanakah Dia berada? Dimanakah sumber kebahagiaan itu? Dimanakah bisa kudapatkan dokter yang mampu menyembuhkan kegatalan berupa kerinduan dalam diriku, sekali untuk selamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjaga dari jelajah ingatan ini, kesadaranku membawa kembali pikiranku kepada diriku, dan kudapati diriku masih tergolek di lantai dua rumahku dengan keringat yang mulai membasahi lipatan-lipatan tubuhku. Pelan-pelan, pengapnya udara sore itu mulai mencair sejalan dengan makin gelapnya alam, digantikan oleh kesejukan udara kota besar yang masih tidak pernah bisa seharum udara desa yang beraroma pepohonan. Namun begitu, kesejukan angin malam itu mampu mengusap segenap permukaan tubuhku, seolah membasuh butiran keringat yang tadi membalutku. Pelan-pelan aku bangkit dan duduk tegak lurus, kulipat kedua kakiku, bersila dengan posisi setengah lotus, lalu kuamati sebuah titik di lantai di depanku sampai pelan-pelan mataku tertutup dengan sendirinya. Kubiarkan alunan nafas timbul dan tenggelam dengan sendirinya. Kuamati nafasku yang keluar dan masuk melalui hidung, kuamati proses nafasku, proses sederhana yang menghidupiku, proses yang vital namun selalu tidak pernah menjadi perhatianku, apalagi bersyukur karenanya. Kumulai meditasi malamku. Semakin lama nafas yang keluar masuk menjadi semakin jelas terasa. Kurasakan kenyamanan dalam proses bernafas, kurasakan ketenangan menghampiriku. Kedamaian mulai melingkupi dan merasuki pikiranku, kedamaian yang menenangkan, kedamaian yang membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa benar kata pembimbing meditasiku,bahwa selama ini aku mencari sumber kebahagiaan di tempat yang keliru, karena aku selalu mencari sumber itu di luar diriku, yang seringkali membuatku kebingungan karena ‘luar diriku’ itu tidak jelas, kabur, sangat luas, dan tak pernah berujung. Pembimbingku mengatakan bahwa ternyata kebahagiaan ada dalam pikiranku, dalam diriku sendiri. Sumber kebahagiaan sudah tersedia dalam diri ini, di tataran kesadaran yang dalam, hidup dalam sumber dari segala rasa. Hanya ketenangan dan kejernihan batinlah yang dapat mengantarkan kita kepadanya. Kesucian tidak ada di masjid atau bangunan yang disebut rumah Tuhan, melainkan ada dalam batin kita yang bersih dari segala keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi sederhana yang diajarkan pembimbingku dengan pelan tapi pasti membuatku mengalami kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang muncul dari dalam, bukan dari luar diriku seperti hasil dari kesuksesanku, dari banyaknya angka dalam tabunganku, dari rajinnya melakukan ritual agamaku, dari masjid, lailatul qadar, kata-kata para pandai, bahkan bukan juga dari orang-orang yang hidup di dekatku. Kebahagiaan dari dalam yang tidak tergantung kepada kondisi apapun. Dia muncul bak sebuah sumber air yang terbuka di relung kalbuku, melimpahkan kesejukan dan menyuarakan gemericik kedamaian yang menenangkan. Air jernih yang mengalir dan memberi daya luar biasa kepada jiwa dan ragaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kebahagiaan inilah barangkali yang seringkali disebut orang sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Maret 2008&lt;br /&gt;Agus Widianto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4921158234025142311?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4921158234025142311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4921158234025142311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4921158234025142311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4921158234025142311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/yanti-mencari-tuhannya.html' title='Yanti Mencari Tuhannya'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-462961199332758463</id><published>2010-03-22T05:19:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T05:23:00.310-07:00</updated><title type='text'>Derita dalam sebuah dendam</title><content type='html'>Sore itu aku baru saja menyelesaikan laporan terakhir di kantorku.  Sudah hampir seminggu kami di kantor sibuk menyelesaikan laporan tahunan proyek kami, sehingga hari-hari yang melelahkan itu seolah menguras segenap energi yang kami punya.  Hari itu harapan untuk dapat sedikit melepas lelah terbetik di pikiran.  Kenikmatan secangkir kopi membayang di pelupuk mata yang sudah terasa semakin berat karena kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang baru menjelang menggantikan terik siang hari setelah seminggu tidak ada hujan yang diharapkan dapat menyejukkan ibukota ini.  Kesibukan pekerja kantor seperti diriku seolah mencapai titik terendah dalam kurva ritme hidup, ketika semakin terlihat mereka pulang ke rumah dengan sisa pikiran dan tenaga yang ada.  Pola ritme seperti ini terjadi setiap hari: pagi hari dengan energi besar berangkat ke kantor, menguras energi di kantor dengan berbagai kesibukan, dan pulang ke rumah dengan energi sisa.  Sering kurenungkan, dari mana sebuah keluarga mendapatkan energi dari setiap anggotanya, untuk tetap menjaga kebersamaannya dan keutuhan lembaga sosial terkecil, namun merupakan inti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di tanganku menunjukkan waktu hampir magrib, sewaktu aku sampai di tempat parkir VW kodok yang telah dengan setia mengantarku kemana saja tujuanku.  Baru ketika kututup pintunya, kudengar suara bel tanda sebuah sms masuk ke dalam HP ku.  Rrr … rrr …dingdong …..  Kubaca sms yang masuk: “jd ktmuan dimana?”  Kubaca sendernya, Debby.  Siang tadi kami sudah bersepakat bertemu untuk sekedar ngobrol.  Namun dari nada sms-nya, kurasakan kali ini obrolan akan cukup serius setelah kutangkap getar kesedihan dalam kata-katanya.  Lalu jempol jariku cepat menyusun balasan:”ntar ktmu di wrung kopi dkat kntor, sktr jm 6 lebih”  dan kutekan ‘send’. Kuperhatikan gambar sebuah surat melayang menjauh di layar hpku.  Kututup pintu mobilku, dan dengan pelan kodokku membawaku ke warung kopi tidak jauh dari kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, kulihat warung kopi langgananku sudah banyak didatangi pelanggan.  Rasanya belum begitu lama dia dibangun di situ, namun kulihat perkembangannya sangat pesat.  Semakin banyak pelanggan yang datang dan pergi mereguk nikmatnya kafein.  Barangkali, ini ada hubungannya dengan menurunnya energi para pekerja kantoran di sore hari, dan mereka membutuhkan suatu pemicu energi seketika yang menyamankan.  Suntikan kafein nampaknya mampu melayani kebutuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan warung itu tidaklah terlalu besar, namun ketika masuk ke dalamnya, terasa banyak menawarkan keramahan baik dari para barista yang senantiasa menyapa setiap tamu yang datang, maupun warna dan aneka peralatannya.  Setiap ruangan dari dua ruang terpisah antara merokok dan bebas rokok, dipenuhi pernik-pernik tradisional serta kursi dan meja yang bergaya retro.  Di dindingnya terpampang foto-foto lama yang menggambarkan wajah awal warung dan pendirinya di jaman penjajahan Belanda, seolah ingin memastikan bahwa pengalaman mereka menyajikan mutu kopi tidak perlu diragukan lagi.  Ada beberapa lukisan tradisional dan beberapa permainan meja yang dapat membantu menyajikan sebuah nuansa warung lama yang nyaman untuk menjadi tempat ngobrol selepas dari kesibukan harian di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekitar 10 menit aku duduk menunggu, Debby-pun datang.  Setelah saling memberi salam, kami memesan minum kepada para barista yang sebagian mengenalku karena seringnya aku berkunjung ngopi di situ.  Debby memesan segelas es kapucino, dan seperti biasa kupesan es kopi moka.  Dua ollie bolen menemani dua gelas minuman dingin kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu kopi kami, kuamati perempuan yang duduk di seberang meja ini.  Seperti biasanya, dia kelihatan menarik.  Aku yakin, kulitnya yang putih yang mewarnai postur badannya yang berisi, dipadu dengan wajahnya yang bulat telur, hidung yang bagus dan mulut yang selalu sedikit terbuka memperlihatkan baris giginya yang putih bersih, serta rambutnya yang pendek bebas tergerai, mampu menarik perhatian banyak lelaki.  Namun sore itu dia seperti kehilangan senyum manisnya.  Wajahnya yang bersih semakin kelihatan agak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru saja putus dengan cowokku”, dia mengawali pembicaraan itu dengan pernyataan yang sederhana, namun selalu mengandung segumpal cerita yang biasanya penuh dengan derita.  Kulihat wajahnya sedikit memerah.  Aku terdiam.  Kubiarkan energinya masuk dalam pikiranku, dan kucoba untuk ciptakan sebuah koridor langsung untuk membuat hubungan mental kami tidak banyak terhalangi.  Detik jam terus berganti, dan kebisuan menguasai diri kami berdua untuk beberapa saat.  Aku masih diam sambil mencoba meningkatkan intensitas kerja inderawiku untuk siap mendengarkan pesan-pesannya.  Katanya, dalam ideogram Cina, ‘mendengarkan’ berunsur tiga hal: mata, telinga dan hati, sehingga perlu disiapkan ketiganya sebagai sebuah kegiatan mental yang bekerjasama dengan baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebisuan sesaat tadi terpecah dengan suaranya yang pelan namun terdengar jelas, “Cowokku mengaku mempunyai hubungan dengan kekasih lamanya.  Aku samasekali tidak pernah menduganya, mas.  Setelah sekian lama kami menjalin hubungan yang kelihatan mesra, sehingga jarak Jakarta – Jogja sudah bukan halangan buat kami berdua untuk selalu bertemu di hati.  Pertemuan demi pertemuan fisik selalu kami lakukan sebisa mungkin untuk mengobati kerinduan kami yang berjarak satu jam terbang.  Namun usahaku nampaknya gagal, dan dia sudah menceritakan semuanya padaku.  Aku begitu terluka dan marah. Senin lalu aku lepaskan seluruh kemarahanku dan keputus-asaanku, dengan memaki-makinya melalui telpon sampai sekitar setengah jam ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua gelas kopi dingin yang kami pesan tiba, ditemani dua kue kesukaanku.  Kuucapkan terimakasih pada barista yang mengantarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nada kesal bercampur sedikit kepuasan dalam kata-kata Debby yang mulai mengalir keluar tanpa hambatan, melalui koridor komunikasi yang kami ciptakan.  Energinya dengan intens mengantarkan pesan pikirannya, sehingga membuatku sedikit tergagap untuk menampung dan mencernanya.  Namun hanya sejenak, ketika setelah itu suaranya agak melunak dan berubah menjadi pernyataan yang tersisip oleh sebuah keputusasaan.  “Coba mas bayangkan, kepercayaanku padanya yang aku berikan sejak lama, dengan begitu saja dikhianati.  Betapa teganya dia.  Aku gak habis pikir, kenapa begitu sampai hati dia menyakitiku.  Aku sudah berusaha mati-matian untuk tetap setia meski kami tidak dapat selalu bertemu, tapi selama ini kuusahakan selalu menyapanya hampir setiap hari.”  Kali ini matanya mulai merebak sembab, lalu tangannya menghapus genangan airmata yang mulai menggantung di sudut pelupuk matanya.  Aku masih berdiam diri sambil memperhatikan kata-katanya, memperhatikan gejolak hatinya, dan memperhatikan setiap gerak halus di tatapan matanya, serta gerak dan kerut di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ini sering tanduk iblisku muncul, dan kemunculannya selalu mendorongku untuk telpon dia dan memaki-makinya sambil mempertanyakan pengkhianatannya.  Dia selalu tidak bisa menjawab ketika kutanya kenapa dia setega itu melakukannya kepadaku”.  Dia terdiam sejenak, mukanya kembali memerah dan kali ini kutangkap getar kesedihan serta gejolak kemarahan, “Aku sudah coba melupakannya, tapi ketika aku berdiam diri, bayangan wajahnya muncul lagi, dan kepedihanku kembali merasuk dalam pikirku.  Aku gak tahan mas, rasanya pedih dan hancur mengingatnya …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan dia menumpahkan segenap lumpur hitam kepedihan hatinya.  Aku terus mencoba menjaga keterbukaan pikiran dan hatiku sehingga jalur komunikasi tidak terputus.  Getaran kepedihannya begitu terasa dalam hatiku, dan energi kemarahannya dapat tertangkap dengan jelas dalam batinku.  Aku masih terus diam membuka pikiranku.  “Lalu sekarang aku harus bagaimana?” akhirnya segenap rasa yang campur aduk dalam hatinya berakhir dengan pertanyaan sederhana, sesederhana pernyataan ketika dia mengawali pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam, membersihkan semua pikiran yang tidak ada kaitannya dengan perkara yang baru saja dia tumpahkan kepadaku.  Kucoba mengheningkan batinku dan membiarkan mata batinku melihat melalui kejernihan yang terciptakan.  Ada sebuah jeda hampir semenit yang cukup terasa lama.  Kerasnya suara canda tawa tamu lain dan musik di kafe itu terdengar sayup di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau harapkan darinya, Deb?” kubalas pertanyaannya dengan pertanyaan juga.  Dia terdiam sejenak.  Barangkali hal itu tidak begitu diperhatikan, karena dia disibukkan dengan kemarahannya dan kepedihannya, sehingga sebentuk ‘harapan’ menjadi agak sulit ditemukan dalam kemelut amarah dan derita yang mengungkung dan menguasainya. Setelah beberapa saat dia mencoba menemukan pikirannya kembali, dia berkata, “Aku inginkan kejelasan, kenapa dia begitu tega menyakitiku.  Kepercayaanku yang begitu besar kepadanya telah dia khianati.  Memang kita berjauhan, tapi jarak Jakarta - Jogja seharusnya bukan hambatan karena aku percaya kami bisa saling setia.  Begitu teganya dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terdiam sambil menghela nafas panjang dia melanjutkan, “Ada keinginan dalam hatiku untuk membuatnya menderita …. Rasanya nggak adil kalau hanya aku yang terluka.  Dia harus bisa merasakan kepedihan seperti yang kurasakan saat ini.”  Aku terdiam, dan mencoba memahami dengan baik apa yang baru saja dikatakannya.  Dendam.  Ya, sebuah klimaks dari sebentuk rasa, yang awalnya merupakan rasa derita akibat diperlakuan tidak adil, lalu bertransformasi menjadi sebuah kekecewaan, lalu terpupuk menjadi sebuah amarah, dan berakhir dengan sebuah puncak kekerasan, sebuah dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau mau membuatnya menderita?” tanyaku, “Aku gak tahu, tapi itu yang ada dalam pikiran iblisku” jawabnya.  Lalu tanyaku,  “Apakah dengan membuatnya menderita lalu penderitaanmu berkurang?”.  Dia menggeleng lemah, “Aku rasa tidak …”  Sebuah jawaban yang jujur, yang saat itu langsung aku hargai dan hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deb, aku pernah baca sebuah cerita.” Kumulai kata-kataku seolah sedang mendongeng kepada seorang anak.  Debby terdiam, mengambil ollie-bollen yang sejak tadi belum tersentuh.  Dikunyahnya gigitan kecil kue itu, lalu diletakkannya kembali sisa gigitannya.  Dia lalu menatapku lekat-lekat, seolah bersiap mendengarkan ceritaku selanjutnya.  “Suatu hari ada orang yang tertabrak mobil, dan karena luka-lukanya, dia sedang sekarat.  Sambil berdarah-darah dan mendesis menahan hebatnya sakit yang dideritanya, dia berkata kepada orang-orang yang menolongnya, dan ngotot berusaha mencari tahu siapa yang menabraknya, mencoba menggambarkan mobilnya apa dan keluaran tahun berapa, lalu menanyakan kenapa sopir mobil itu bisa menabrak dia yang sudah menyeberang dengan benar sesuai aturan, …”  Debby masih terus mendengarkan dengan seksama, lalu aku teruskan, “Akhirnya orang tersebut mati, karena tidak segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.”  Dia diam menyimak ceritaku. “Menurutku, peristiwa itu serupa denganmu.  Kau tahu maksudku?”  Dia terdiam beberapa saat dan kemudian mengangguk lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutku, daripada ingin tahu kenapa dia sampai tega meninggalkankanmu, bahkan kau sibuk cari jalan untuk membalas perlakuannya yang kau rasa membuatmu menderita, apa gak sebaiknya kamu mengurus dirimu sendiri, mencoba memberikan perhatian pada hati dan pikiranmu agar bisa kembali lebih tenang?”  Dia masih terdiam. Aku menduga bahwa itu merupakan sebuah alternatif yang tidak mudah baginya untuk menjatuhkan keputusan memilihnya.  Barangkali, hal itu juga tidak pernah terduga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalaupun akhirnya kau tahu alasannya meninggalkanmu, lalu apa yang bisa kamu lakukan?  Apakah ada jaminan itu akan memperbaiki keadaan?”  Dia menggeleng lagi dengan lemah, sambil menyeka matanya yang kembali sembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, mas, bagaimana mencegah agar pikiran tentang dia nggak muncul lagi?  Aku sudah coba mengalihkan perhatianku dengan melakukan hal lain, tapi pikiran itu selalu datang lagi dan datang lagi … sakit sekali rasanya, mas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah kepedihan di hati bukan untuk dihindari.  Melakukan hal lain sama halnya dengan membelakangi masalah, yang berarti mengingkari keberadaannya.  Kepedihan itu ada, dan seharusnya tidak diingkari, tapi harus dihadapi …”  Kulihat dahinya berkerut sambil menatapku lekat-lekat.  “Tapi begitu berat mas …” Dan kukatakan, “Memang Deb, sekarang bisa terasa sangat berat, tapi perasaan selalu berubah karena waktu.  Perasaan itu ada dan tergantung kita sendiri untuk menanggapinya.  Kita bisa layani dia, sehingga kita terbawa olehnya bahkan diapun bisa semakin menenggelamkan kita, sampai akhirnya harus bunuh diri … “ Dia mendadak menyela,”Memang ada mas pikiranku untuk minum obat tidur …” Giliran aku yang mengerutkan dahi dan menatap lekat wajahnya yang cantik itu.  Sejenak aku terdiam, lalu aku lanjutkan,” … atau dengan lebih bijaksana kita pahami pikiran dan perasaan itu dengan baik, kita coba temukan akarnya, dan coba mengatasinya dengan penuh kesadaran …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deb, kamu tidak bisa merubah sikap cowokmu itu, meski memaki-makinya seharian penuh.  Yang perlu kita rubah adalah diri kita sendiri, bagaimana menghadapi kondisi demikian itu.  Barangkali perlu kau teliti kembali harapan-harapanmu kepadanya, ketergantungan-ketergantunganmu …. Tapi yang lebih penting adalah, kau pahami ketakutan yang ada jauh di lubuk hatimu ketika harapan-harapanmu tidak terpenuhi.  Barangkali itu adalah akar masalah yang sedang kau hadapi sekarang ini.”  Dia mengangguk pelan, meski nampak masih ada keraguan pada wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah hampir dua jam kami berbincang, dan gelas kami sudah mulai menampakkan dasarnya, yang penuh sisa busa-busa krim.  Piring makananpun sudah bersih, tinggal segenggam tissue dan garpu yang penuh remah-remah ollie bollen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu berjalan ke arah mobilnya, dia berkata,”Thanks mas, hatiku agak ringan rasanya …”  Aku balas senyum manisnya, “Sama-sama Deb …, take care …”  Kamipun berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya ada sms darinya:”thx mas, aku bs senyum lagi n tidur nyenyak”, lalu beberapa saat masuk lagi sms-nya,”tp msh susah skl ya hilangkan skt hatiku” … Aku hanya bisa jawab: …”prlu wkt dan ksungguhan dlm proses pnjernihan ini, tp mmang hnya kau sndiri yg bs mngatasinya, bukan org lain. good luck n hang in there”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-462961199332758463?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/462961199332758463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=462961199332758463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/462961199332758463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/462961199332758463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/derita-dalam-sebuah-dendam.html' title='Derita dalam sebuah dendam'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4998119804543352964</id><published>2010-03-20T18:49:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T21:40:46.865-07:00</updated><title type='text'>Kebenaran</title><content type='html'>Siang itu habis makan bersama beberapa teman dari berbagai LSM yang berkantor di Bandung.  Kami baru saja membicarakan rancangan sebuah program lingkungan yang menggabungkan antara energi alternatif dengan konservasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat diskusi sudah mulai agak menurun, kami lebih banyak diam sambil menyeruput sisa2 minuman, ketika seseorang mulai bicara soal agama dan kepercayaan.  Entah bagaimana awalnya, topik itu bisa muncul dalam pembicaraan.  Gayung pun bersambut.  Mata yang tadi sudah setengah terpejam kembali terbuka lebar, seolah ada  energi baru yang tiba-tiba merasuki pikiran kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. bagi saya, aturan2 dalam agama tidak begitu penting .. " kata teman yang mengawali diskusi ini, " .. yang saya hadapi sekarang adalah masalah pikiran saya sendiri, sakit batin saya sendiri, bahkan kerusakan lingkungan di desa saya sendiri, .. agama kayanya gak punya aturan2 yang dapat membantu saya dalam menghadapi masalah2 itu .. ", dia terus nyerocos tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. yang disuruh ustadz adalah beriman dan takwa kepada Allah, berbuat baik misalnya dengan berzakat, sholat lima waktu jangan bolong, perangi hawa nafsu, dan masih banyak lagi .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman lain pada diam mendengarkan.  Belum ada protes dari yang lain.  Akupun masih diam menunggu kalimat2 lain yang ingin dilepaskan dari pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. di situlah seharusnya ada keseimbangan antara hablumin allah dan hablumin anas .." seseorang mencoba menimpali. " .. Kita perlu tahu mana porsi yang untuk manusia dan kehidupan sehari-hari, namun juga tidak boleh lepas dari kewajiban kita untuk terus bergerak vertikal dalam menjaga hubungan dengan Allah Sang Pencipta .. di situlah keseimbangan iman kita kepadaNya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mendengarkan dinamika diskusi ini, dan rasanya topik ini sangat familiar kedengaran di telingaku.  Topik yang seringkali muncul dalam diskusi-diskusi tentang kehidupan dan bagaimana hidup dengan baik.  Pertanyaan-pertanyaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari, dan jawaban-jawaban yang normatif berdasar nilai-nilai sebuah agama.  Juga sebuah kata yang selalu ampuh yang disebut "iman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang kita iman-i merupakan kebenaran dalam agama.  Keseimbangan dalam hubungan vertikal dan horisontal itu yang harus di-iman-i.  Namun bagiku juga masih banyak menimbulkan pertanyaan lanjutan, seperti misalnya: bagaimana kita tahu sebuah keseimbangan tercapai?  Bagaimana kita berhubungan dengan Tuhan, apakah cukup mendirikan sholat lima kali sehari?  Bagaimana caranya berhubungan dengan sesama secara horisontal - apa saja yang perlu diperhatikan dan dilakukan?  Banyak pertanyaan tentang apa dan bagaimana dalam memenuhi aturan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika untuk menemukan sebuah "kebenaran" seseorang masih harus banyak bertanya, masih harus banyak tergantung dari interpretasi, maka "kebenaran" tersebut menjadi relatif sifatnya.  Segala sesuatu yang relatif, bukanlah sebuah realitas.  Kebenaran seperti itu tidak dapat digunakan karena tidak bersifat universal.  Tidak dapat diterima oleh semua orang karena sangat interpretatif sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang tidak relatif?  Adakah sesuatu yang berlaku universal?  Adakah sesuatu yang tidak dapat dibantah dan tidak tergantung dari interpretasi?  Jika ada, maka sesuatu tersebut bisa disebut sebagai sebuah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemahaman itu, aku menawarkan sebuah bahan diskusi kepada teman2 lain di siang itu. " .. Tahukah sikap apa yang selalu kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari sejak kita lahir sampai kita mati?"  Mereka diam dan menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Dalam Buddhisme, dikenal sikap utama: duduk, berdiri, berjalan dan berbaring.  Itulah sikap yang kita lakukan setiap hari.  Adakah yang bisa membantahnya? .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua diam dan kelihatannya mendengarkan serta menunggu lanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Mengapa sikap-sikap itu kita lakukan?  Karena kita ingin mengurangi penderitaan.  Coba bayangkan seseorang yang duduk di sofa terlembut di dunia.  Pada beberapa jam awalnya, pasti sangat menikmati.  Namun setelah sehari, dia pasti ingin berdiri, lalu beberapa jam berdiri, pasti ingin berjalan, lalu berbaring ... demikian seterusnya.  Mengapa dia melakukan itu?  Karena dia ingin mengurangi penderitaannya.  Bukankah ini sebuah kebenaran sederhana yang tidak terbantahkan? .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Adakah yang membantah bahwa hidup kita penuh dengan derita?  Contoh di atas baru derita karena secara fisik kita berada dalam gaya gravitasi.  Belum kalau kita memahami derita dalam pikiran, derita batin atau derita dalam hati.  Adakah yang sudah hidup bebas dari derita itu? .. "  Lalu kulanjutkan, " .. itulah sebuah kebenaran .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman masih diam mendengarkan.  Kelihatannya mereka semakin tertarik untuk mendengarkan kelanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Perlukah kebenaran seperti itu kita kaitkan dengan iman?  Perlukah itu kita kaitkan dengan takwa kepada Tuhan?  Perlukah segala aturan tentang sholat dan syariat untuk memahami kebenaran sederhana ini? .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" .. Ada empat kebenaran sejati dalam ajaran Buddha: pertama, hidup ini penuh dengan penderitaan; kedua, penderitaan dalam hidup kita lebih banyak disebabkan oleh keinginan (tanha).  Yang ketiga, ternyata penderitaan itu dapat dihentikan.  Keempat, Buddha memberikan ajaran bagaimana menghentikan penderitaan tersebut .. Inilah awal dari pemahaman sebuah kebenaran sejati, kebenaran yang tidak terbantahkan .. Masih banyak lagi yang nanti bisa kita diskusikan lagi bersama, tentang hal-hal yang akan membebaskan pikiran dan batin kita dari genggaman aturan dan kungkungan dogma .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hal yang kami diskusikan lewat tengah hari itu.  Namun diskusi hangat siang itu harus aku hentikan karena aku masih harus kembali ke Jakarta.  Aku juga sengaja berhenti di situ agar kami masih banyak bahan diskusi pada kesempatan pertemuan berikutnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 21 maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4998119804543352964?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4998119804543352964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4998119804543352964' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4998119804543352964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4998119804543352964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/kebenaran.html' title='Kebenaran'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-6373606947507680324</id><published>2010-03-19T19:53:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T20:42:02.966-07:00</updated><title type='text'>Takengon - Medan</title><content type='html'>Tugas dua hari di Takengon dan Bener Meriah, Aceh Tengah, sudah selesai.  Malam itu aku dan kolega harus kembali ke Medan untuk besoknya terbang ke Jakarta.  Alat transportasi yang tersedia adalah bus malam yang siap menembus kegelapan malam selama sekitar 10 jam.  Diantar beberapa staf lapangan, kami bersiap untuk berangkat sambil ngobrol dan minum kopi Aceh yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendapat tempat duduk di kursi nomor 8 dan 9.  Menjelang jam 9:00 para penumpang sudah masuk ke bus.  Kulihat di depan warung tempat pemberangkatan bus ini, ada kelompok kecil laki-laki berjubah dan sebagian berjenggot lebat, hampir semua memakai penutup kepala seperti sorban.  Aku lalu menempatkan diri di kursiku, mengatur diriku agar terasa nyaman.  Bus-pun berangkat sekitar jam 9:30 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat salah satu lelaki yang berjubah putih duduk di bangku nomor 10.  Dia agak mencolok karena cara berpakaiannya.  Ikat kepalanya mengingatkan aku pada berita TV tentang pelatihan teroris di Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekitar 15 menit kemudian, saat bus mau keluar dari kota Takengon, bus berhenti dan sekelompok pemuda berpakaian preman yang memperkenalkan diri sebagai polisi dan bersenjata lengkap masuk ke bus.  Salah seorang berkata dengan cukup keras: " kursi nomor 10 .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan memberi hormat, seorang polisi muda mulai menanyakan kartu identitas kepada lelaki berjubah itu.  Kemudian datang yang lainnya dan mulailah serentetan pertanyaan tentang berbagai hal, seperti dari mana, disini ngapain, nginap dimana, apa yang dibawa, dan sebagainya, sambil salah seorang polisi mencocokkan foto KTP dengan foto yang ada di ponselnya.  Entah apa yang menarik, tapi pengamatan itu cukup lama.  Beberapa pembicaraan yang kudengar misalnya: dia berasal dari Palembang, berada di Takengon untuk ketemu teman lamanya yang sudah 8 tahun terpisah, mengajar agama, tidur di masjid, dan mengaku pernah ke Yaman.  Sekitar lima belas menit kemudian baru kami boleh berangkat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tengah malam kami dibangunkan lagi, dan sambil setengah ngantuk, semua lelaki harus turun dari bus untuk diperiksa kartu identitasnya.  Kulihat papan tempat itu tertulis Polres Bireun.  Kembali lelaki berjubah menjadi salah satu fokus utama interogasi, barang bawaannya diaduk-aduk, dan kulihat banyak kertas2 selebaran bertuliskan Arab dan terjemahan Indonesia di bawahnya.  Hampir setengah jam kami di Polres itu.  Pemeriksaan KTP yang ke tiga terjadi ketika kami akan masuk Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati semua peristiwa itu terutama setelah pemeriksaan ketiga, membuatku merenung, terutama tentang kekerasan dan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia bisa melakukan tindak kekerasan kepada sesama?  Mengapa dengan mudah seseorang bisa menghilangkan nyawa sesamanya?  Adakah memang agama mengajarkan perilaku seperti itu?  Kalau tidak, darimana seseorang merasa mempunyai hak untuk membunuh?  Apa yang ada dalam pikiran seseorang ketika dia meledakkan dirinya dan orang lain?  Apa arti sebuah kehidupan - dan sebuah kematian - bagi dirinya?  Benarkah seseorang selalu melihat orang lain sebagai musuh?  Dan sebetulnya, apa sih yang dimusuhinya: tubuh orangnya, atau cara berpakaiannya, atau pikirannya, atau pendapatnya?  Atau apa yang dipercayainya?  Atau apa yang di-iman-inya?  Dengan menghancurkan kehidupan seseorang, apakah juga menghancurkan kepercayaan yang dianutnya? Mengapa .. Betulkah .. Apakah .. ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalaku yang belum kutemukan jawabannya.  Pikiranku terbawa oleh pertanyaan2 itu, dan sejenak kubiarkan dia melanglang kemana-mana.  Akibatnya, aku tidak lagi bisa tidur sampai kami tiba di terminal di Medan.  Setelah mengunjungi toilet terminal yang lumayan bersih meski sempit, kami carter taksi untuk sarapan, beli oleh-oleh dan early check-in di Bandara Polonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat ke Jakarta kebetulan kosong.  Setelah makan, kucari tempat duduk deretan tiga kursi, kurebahkan diriku di tiga kursi itu .. betapa nyaman ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jakarta, 20maret2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-6373606947507680324?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/6373606947507680324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=6373606947507680324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6373606947507680324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/6373606947507680324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/takengon-medan.html' title='Takengon - Medan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4640190258870377419</id><published>2010-03-14T10:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T10:15:44.531-07:00</updated><title type='text'>Gajah Ungu</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CTHOMAS%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CTHOMAS%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CTHOMAS%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Malam sudah semakin larut, dan udara dingin Pangalengan semakin kuat menembus jaket blujin yang kukenakan, menggigit kulit dengan giginya yang dingin dan tajam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami berlima masih duduk santai dan ngobrol sambil sesekali tergelak bila ada yang lucu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pembicaraan yang semakin terbuka mengalirkan energi hangat sehingga mampu menghalau gigitan angin dingin dari luar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang malam itu sudah kami rencanakan untuk bertemu dan berbincang sekitar kehidupan, melalui sudut pandang yang agak berbeda dari kebanyakan pembicaraan orang dalam keseharian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“.. peristiwa itu sudah empat tahun yang lalu, namun sampai sekarang masih saja menggumpal di dada saya ..” tutur seorang peserta ngobrol dengan senyum lebar di bibirnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Senyuman yang mempunyai banyak arti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku masih menunggu cerita lanjutannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“.. enam bulan sekali dia datang hanya untuk beberapa hari, dan kemudian dia harus kembali ke Arab Saudi untuk melanjutkan pekerjaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap enam bulan pula, dia menyuntikkan racun yang semakin banyak mengendap di hati saya ..”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia diam sejenak dan pandangannya jauh menerawang seolah ingin menggambarkan wajah istrinya yang membuatnya menjalani hidup dengan setengah “gila” seperti ungkapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“.. bagaimana saya harus hidup dengan cara seperti ini? ..” dia melemparkan pertanyaan yang membuat peserta lain terdiam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ .. saya tidak bisa menceraikan dia karena ibu saya menyayanginya, dan saya tidak mau menyakiti hati ibu ..” sebuah pengakuan yang sangat jujur sekaligus memberikan separuh jawaban terhadap pertanyaannya sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lama dia terdiam dan pandangannya masih terus menerawang jauh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ .. saya ingin melupakannya, tapi ternyata betapa susahnya, setiap kali bayangannya semakin melekat di kepala dan kepergiannya semakin menusuk batin saya ..” tambahnya, dan kembali kesunyian malam menjadikan gemuruh suara sepeda motor yang lewat terdengar sangat jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. pernahkah mendengar cerita tentang gajah ungu? ..: suaraku menyela kesunyian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada beberapa yang menggelengkan kepala, dan sebagian berbisik, belum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. ada seseorang yang mempunyai bayangan dalam pikirannya, seekor gajah berwarna ungu .. sebuah bayangan yang aneh dan dia sebetulnya tidak mau mempunyai pikiran seperti itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia berusaha menyingkirkan bayangan gajah ungu itu dari pikirannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun semakin dia berusaha, semakin jelas gambaran gajah ungu tadi ..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kulihat teman-temanku masih menunggu kelanjutan ceritaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. bahkan semakin kuat keinginannya untuk melupakan, semakin jelas nampak ekor gajah yang ungu, telinganya, kakinya bahkan kerut-kerut kulitnya yang ungu .. “&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Teman2 mulai tersenyum, barangkali mereka sekarang melihat seekor gaJah ungu di pikirannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. artinya, ibarat sebuah perang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu kita ingin memerangi sebuah pikiran, maka pikiran itu menjadi lawan yang bersiap untuk bertahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semakin kuat kita memeranginya, semakin kuat pertahanannya, dan bahkan dia siap menyerang balik ..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. jadi bagaimana kita harus memperlakukan ingatan yang tidak kita kehendaki karena menjadi beban dalam hidup?” seorang teman mulai tidak sabar mencari jawabannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ .. berdamailah dengan pikiran kita sendiri, sadari keberadaannya, namun setelah itu, biarkan dia pergi dengan sendirinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak perlu kita memberi energi kepadanya dengan cara menggenggamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lepaskan, dan lepaskan dia dengan damai, dengan senyuman ..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:9pt;" &gt;Pangalengan, tengah malam, 13 Maret 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4640190258870377419?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4640190258870377419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4640190258870377419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4640190258870377419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4640190258870377419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/gajah-ungu.html' title='Gajah Ungu'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-3790011075039717691</id><published>2010-03-11T03:12:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T04:11:40.633-08:00</updated><title type='text'>Keterasingan dari kemanusiaan</title><content type='html'>Kemanusiaan merupakan kesejatian dari manusia.  Jika kita memahami kesejatian manusia, maka disitulah kita menemukan kemanusiaan kita.  Pemahaman seperti ini bisa diawali dengan banyak pertanyaan, misalnya: siapakah aku ini? Katakanlah namaku Agung.  Lalu, siapakah Agung ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung adalah orang Jawa, ini hanya mengetengahkan suku asal kelahirannya,&lt;br /&gt;Agung orangnya tinggi hitam, rambut keriting, ini menyampaikan kondisi fisiknya,&lt;br /&gt;Agung itu orangnya pemarah, ini mungkin hanya temperamennya,&lt;br /&gt;Agung itu pejabat eselon satu sebuah Departemen pusat, ini hanya jabatannya,&lt;br /&gt;Agung itu duda beranak sembilan, istrinya kawin lagi, itu hanya status perkawinan,&lt;br /&gt;Agung itu suka minum susu, itu hanya kegemarannya,&lt;br /&gt;Agung itu orang yang soleh, rajin beribadah, sudah naik haji 7 kali ...&lt;br /&gt;Agung itu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua itu menceritakan kesejatian Agung?  Apakah semua atribut tersebut membantu kita memahami siapa diri kita sesungguhnya?  Tidak bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam kenyataannya, betapa seseorang menganggap atribut2 tadi sebagai dirinya.  Sewaktu Agung menjadi orang soleh, rajin beribadah, naik haji 7 kali, maka Agung menganggap dirinya adalah haji super yang soleh dan rajin beribadah.  Segala pikiran dan perilakunya disesuaikan dengan atribut tersebut.  Topeng yang dikenakan sesuai dengan anggapannya itu, sehingga sewaktu bertemu dengan seseorang, dia akan berperilaku sebagai seorang haji super yang soleh dan rajin beribadah.  Anggapan ini akan terus disandangnya, melekat pada dirinya dan bisa sepanjang hidupnya.  Segala energi kehidupannya dikerahkan untuk menjaga citra (baca: topeng) yang selalu dipelihara dan dijaga agar tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini bukan kondisi yang apa adanya, tapi sebuah kondisi yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri.  Atribut adalah hasil reka pikiran untuk menentukan nilai yang melekat dalam diri kita sendiri.  Nilai ini sangat relatif karena akan berbeda satu orang dengan lainnya.  Sesuatu yang relatif sifatnya, bukanlah sebuah kesejatian.  Bagaimana seharusnya?  Awal pemahaman diri adalah melepaskan segala atribut tadi.  Hanya dengan pemahaman yang jernih dan dalam, maka akan terkuak apa sebenarnya kesejatian diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang dapat dilakukan adalah: seseorang harus melakukan sebuah perjalanan ke dalam diri, menguak dan membongkar semua atribut yang ada, dan memahami kelima agregat (panca skandhas) yang merupakan unsur2 kesejatian "diri" manusia.  Kelima unsur yang disebut nama-rupa itu adalah: raga, persepsi, rasa, bangunan mental dan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemahaman yang semakin dalam terhadap setiap agregat, kita akan menuju sebuah pemahaman tentang kekosongan ... yang bernama "diri" akan hilang, karena "diri"-pun merupakan sebuah gambaran yang tercipta oleh pikiran.  Yang tertinggal hanyalah energi kasih yang tidak terbatas dan terkungkung dalam sebuah gambar imajiner tentang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RS Mitra Internasional Jatinegara, 11 Maret 2010&lt;br /&gt;menunggu anakku yang meringkuk kena DBD&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-3790011075039717691?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/3790011075039717691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=3790011075039717691' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3790011075039717691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3790011075039717691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/keterasingan-dari-kemanusiaan.html' title='Keterasingan dari kemanusiaan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8267066952557011017</id><published>2010-03-03T11:12:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T11:26:30.723-08:00</updated><title type='text'>Ketamakan kolektif</title><content type='html'>Ketamakan merupakan salah satu dorongan kuat untuk 'memiliki' sesuatu.  Meskipun konsep memiliki hanyalah reka pikiran manusia, namun manusia tetap terdorong untuk melakukannya.  Sebenarnya tidak ada kemampuan manusia untuk memiliki apapun, karena masing-masing "apapun" mempunyai khittah dan jalan hidup sendiri-sendiri.  Dorongan manusia untuk "memiliki" akibat dari ketakutan dalam dirinya terhadap segala ketidak-pastian dalam kehidupan ini.  Sehingga seolah-olah dengan cara "memiliki" sesuatu, maka akan membantu manusia mempunyai kepastian, pegangan, ataupun proteksi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan, ketamakan tidak hanya individual, namun juga bisa kolektif.  Akibat dari adanya ketamakan kolektif ini bisa dilihat sebagai kerusakan tata kehidupan, lingkungan hidup, hutan, air, dan dunia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketamakan kolektif hanya bisa diubah melalui kesadaran pribadi.  Kesadaran akan adanya ketakutan dalam diri, dan mendapatkan kemampuan untuk mengatasi rasa takut ini.  Kesadaran diri ini kemudian perlu ditularkan kepada orang lain untuk menjadi sebuah kekuatan massa kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dini hari, 4 maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8267066952557011017?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8267066952557011017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8267066952557011017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8267066952557011017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8267066952557011017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/03/ketamakan-kolektif.html' title='Ketamakan kolektif'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5098567231822333317</id><published>2010-02-19T16:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T16:45:02.436-08:00</updated><title type='text'>Sumber energi</title><content type='html'>Malam itu jam menunjukkan pukul 11:45 dan aku masih asyik browsing email yang hari itu berjumlah lebih dari 600.  Kotak messenger di kanan bawah muncul dan seorang temanku menyapa: "halo, masih bangun?"  Kujawab masih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku ini seseorang yang masih muda, cerdas dan sudah cukup lama mencoba menjelajahi dunia spiritual bersamaku, dan beberapa teman2 lainnya.  Kami masih sering kontak dan berdiskusi banyak hal, karena ternyata memang banyak hal dalam kehidupan ini yang seringkali perlu dibahas secara mendalam, dari dimensi yang diluar pembicaraan sehari-hari.  Aku tahu, kalau selarut itu, pasti ada kegundahan dalam hatinya yang perlu disampaikan.  Akupun siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"adakah energi positif dan negatif dalam hidup ini?"&lt;br /&gt;"menurutku, energi adalah satu, energi semesta, energi kasih"&lt;br /&gt;"apakah membunuh makhluk lain termasuk energi kasih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya.  Pembunuhan selalu dianggap negatif oleh manusia, karena menghilangkan kehidupan, mematikan energi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"pembunuhan adalah tindakan yang dihasilkan oleh pikiran", aku mencoba menjawabnya, "positif atau negatif adalah nilai yang diberikan manusia pada pikiran dan tindakan itu". Lalu aku terus mencoba memberi contoh, "membunuh kambing atau sapi untuk korban, diberi nilai positif karena dipersembahkan atas kehendak Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"jadi apakah yang disebut energi negatif?" desaknya.&lt;br /&gt;"energi adalah energi, yang selalu ada dan hidup, tidak ada nilai positif dan negatif. Kematian-pun hanya sebuah konsep manusia, dan dari pandangan energi, kondisi itu hanya sebuah transformasi energi ke dalam bentuk ragawi berbeda".&lt;br /&gt;"hmmm .. jadi kita hidup karena energi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan seperti ini sering disampaikan.  Manusia hidup karena ada energi kehidupan.  Tapi, bisakah memisahkan antara "manusia" dan "energi"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"segala sesuatunya adalah energi, bukan ada sesuatu lalu menjadi hidup karena dimasuki energi".  aku lanjutkan, "segala sesuatu energi, dan benda yang dalam konsep kita 'mati' pun sebetulnya adalah energi yang hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mas .."&lt;br /&gt;"ya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kalau dalam agama kan ada sumber energi yang disebut tuhan, sebetulnya dimana sumber energi itu?"&lt;br /&gt;"kalau segala sesuatu adalah energi, adakah sumber energi itu?" aku balik bertanya.&lt;br /&gt;"hmmm .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cukup lama pesan baru tidak muncul .. dan sebuah pesan singkat nampak di layar,&lt;br /&gt;"terimakasih mas .. pertanyaanku terjawab"&lt;br /&gt;"sama-sama, selamat tidur"&lt;br /&gt;"good nite"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan larut malam itu selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, pagi, 20-02-2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5098567231822333317?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5098567231822333317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5098567231822333317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5098567231822333317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5098567231822333317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2010/02/sumber-energi.html' title='Sumber energi'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-3702980075979773070</id><published>2009-11-05T08:20:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T08:41:10.198-08:00</updated><title type='text'>Manunggaling Kawula Gusti dan Mekanika Kuantum</title><content type='html'>Siti Jenar, para sufi, dan banyak pelaku spiritual mengatakan bahwa "manunggaling kawula Gusti", manunggalnya manusia dan Allah, wihdatul wujud (atau ada yang bilang wihdatul tauhid), merupakan sebuah pencapaian dalam hidup yang sudah seharusnya, meski banyak orang menganggap “ilmu” ini berada pada tataran yang "tinggi", karena dianggap berada dalam tataran hakekat, bukan lagi di tataran syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, ada yang disebut sebagai tingkatan-tingkatan ilmu surgawi, misalnya pada mashab Nakshabandiyah (Naqshbandi Muhibeen), yang terdiri dari tingkatan (dari yang paling rendah ke yang paling tinggi): syariat, tarikat, makrifat, dan hakikat, lalu ada azimat.  Derajat ketinggian ilmu ini dapat dilihat dalam huruf Arab: “Allah”, dimana huruf Aliff berdiri sendiri dan lam-lam-ha menyatu.  Dalam syariat, Allah masih berada di luar lam, di situ dipelajari bahwa Allah adalah Pencipta dan Muhammad adalah rasul Allah.  Allah adalah awal dari segala yang ada.  Pada hakikat ada pertemuan antara Lam dan Aliff, dimana dipelajari realitas Sayidina Muhammad yang merupakan Lam sebagai perwujudan dari Aliff.  Dan akhirnya, pada  Azimat dipelajari bahwa Aliff membuka dan menjadi, dimana tidak ada awal dan tidak ada akhir, seperti sebuah lingkaran, alpha dan omega menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari tingkatan-tingkatan itu, banyak diantara orang Islam yang rata-rata mengatakan bahwa hakikat, ataupun ajaran sufi, adalah ajaran tinggi yang hanya dipelajari oleh orang-orang yang hidupnya hanya untuk Allah.  Mereka selalu bilang, “saya kan masih orang biasa, ilmu saya belum sampai ke sana, masih dalam tataran syariat.  Para sufi itu kan orang yang sudah dapat membuka rahasia alam, sehingga di banyak hal ajaran mereka tidak boleh disebarluaskan”.  Jawaban seperti ini sangat tipikal.  Ketika ditanyakan lebih lanjut misalnya, bukankah untuk menjadi “manusia biasa” kita harus memahami rahasia alam?  Bukankah untuk melihat secara "apa adanya" di dunia ini, kita harus memahami hakikat semesta, bahwa fenomena adalah perwujudan dari “Allah”?  Jadi, bukankah seharusnya hakikat-lah yang diajarkan agar kita menjadi manusia biasa, bukannya sekedar syariat yang lebih banyak mengatur bagaimana manusia bersikap dalam hidup ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mekanika kuantum, ada beberapa hal menarik yang agaknya nyambung dengan manunggaling kawula-Gusti ini.  Mekanika kuantum merupakan ilmu yang mencoba mempelajari dunia sub-atomik.  Banyak hal terungkap bahwa misalnya, pandangan atom sebagai dasar keberadaan segala sesuatu di dunia ini ternyata sampai sekarang tidak dapat dipahami oleh manusia.  Tidak ada seorangpun yang pernah melihat atom.  Apalagi dunia sub-atom yang masih berupa imajinasi para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti pandangan-pandangan para ilmuwan tentang dunia per-atom-an ini, melalui teori-teori yang dikembangkan, akhirnya bermuara pada pendapat bahwa “realitas” di luar tidak berdiri dengan sendirinya.  Manusia sebagai pengamat mempengaruhi segala bentuk dan pemahaman tentang “realitas” dunia luar.  Alat observasi kita merupakan portal hubungan antara obyek yang diamati dan subyek pengamat.  Tanpa ada pengamat, realitas tidak ‘meng-ada’.  Sehingga, kitalah sebetulnya yang menciptakan realitas itu.  Jika realitas di luar kita beri judul ‘dunia’, maka kitalah yang menciptakan dunia dan segala isinya.  Manusia bukan lagi menjadi bagian dari dunia, tapi sebagai Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pencipta realitas, apakah kita Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan oleh Siti Jenar, akulah Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah yang dimaksud dengan manunggaling kawula gusti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemahaman azimat, bahwa Aliff membuka dan menjadi, dimana tidak ada awal dan tidak ada akhir, seperti sebuah lingkaran, alpha dan omega menyatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan seperti itu seharusnya disampaikan dengan lirih, karena masih banyak di luar sana yang mendengar dan lantas menghakimi: “… itu hujatan, dosa, murtad …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah renungan malam hari,&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-3702980075979773070?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/3702980075979773070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=3702980075979773070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3702980075979773070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/3702980075979773070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/11/manunggaling-kawula-gusti-dan-mekanika.html' title='Manunggaling Kawula Gusti dan Mekanika Kuantum'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1959581489765179208</id><published>2009-10-17T03:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T03:21:25.177-07:00</updated><title type='text'>Hari Yang Istimewa</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:14pt;"  lang="EN-US" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CAGUSWI%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CAGUSWI%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CAGUSWI%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Maiandra GD"; 	panose-1:2 14 5 2 3 3 8 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:-.3pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-indent:.3pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-left:-.3pt; 	text-indent:.3pt;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:0cm; 	mso-para-margin-left:-.3pt; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	text-indent:.3pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Siang itu segala urusan pekerjaanku di kota ini sudah selesai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap aku pergi ke kota ini, selalu kurasakan adanya dorongan yang kuat untuk mencoba bertemu dengannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia masih tinggal di kota ini, dan sekarang menduduki jabatan yang cukup tinggi di sebuah bank swasta internasional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dorongan itu lebih merupakan kerinduan, atau barangkali masih merupakan kemelekatan, akan masa-masa yang kuanggap sangat berpengaruh dalam kehidupanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masa sudah lebih dari 30 tahun lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Dia kuanggap kekasih pertamaku, yang waktu itu benar-benar kucintai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akupun merasa bahwa dia mempunyai anggapan yang sama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang tidak sedikit teman perempuan yang pernah singgah dalam hidupku, namun yang satu ini lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulu, masih kuingat selalu kurasakan ada energi yang sama dan mampu menyambung dua batin kami, sehingga setiap pertemuan dengannya selalu menimbulkan rasa nyaman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memori tentang kenyamanan, kenikmatan, terkadang bisa secara traumatik berada dalam ingatan untuk jangka waktu yang lama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekarang setelah masa lama itu kami lalui, kami hidup dalam dunia masing-masing, dalam ikatan keluarga masing-masing, namun rasa yang timbul dari masa lalu itu tidak mudah hilang, meski barangkali sudah bertransformasi menjadi sebuah bentuk kasih yang jauh lebih longgar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukan sebuah bentuk cinta yang ingin memiliki dan menguasai secara fisik, ataupun bentuk keinginan seksual semata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;‘bagaimana kalau ketemu di kantorku di …’ dan disebutlah sebuah jalan besar di kota ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Langsung sms itu aku jawab ‘ya’ dengan sukacita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa kali aku ke kota ini dan setiap kali pula, wajah yang dulu sangat kukenal itu selalu maujud dalam pikiran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masa lalu yang menempati salah satu dari banyak sudut pikiranku ini tidak mau juga lepas begitu saja dan menghilang dalam lubang hitam ingatan berupa lupa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali karena aku tidak mau kehilangan ingatan tentangnya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Waktu sudah agak sore, hujan sedikit membasahi jalanan kota ini, ketika aku masuk ke parkiran kantornya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah dipersilahkan duduk oleh resepsionis, aku menunggu dengan berbagai pikiran yang muncul silih berganti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masih samakah penampilannya dengan dia dulu yang kukenal, masih ingatkah dia denganku yang secara fisik sudah banyak berubah ini, bagaimana reaksi ketika kami ketemu nanti, aku berharap ada acara cium pipi, … dan semua fantasi yang berebut menyeruak keluar menjadikan kepalaku sungguh berisik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kudiamkan pikiran-pikiran ini, hanya kuamati dan aku sadari keberadaan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu pelan-pelan aku alihkan, dan aku mulai mengamati detil ruangan besar tempat tamu menunggu ini, dimana aku duduk di salah satu sofanya yang lembut dan suhu ruangan yang mampu membuatku bersedekap menahan dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah bank internasional yang menunjukkan kekuatannya, terekspresikan dalam pilihan unggul perangkat dan desain keseluruhan di ruangan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Rasanya waktu bergerak terlalu lambat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun tidak lama kemudian, muncullah sosok yang pada awalnya hampir tidak kukenali karena tidak tertangkap detilnya, mungkin karena jarak yang agak jauh dan pandanganku tidak lagi sempurna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tergopoh dia jalan ke arahku, dan baru kemudian tertangkap beberapa elemen wajah yang sudah aku kenal dengan baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku berdiri menyambut uluran tangannya yang bersih dan kulihat ada beberapa cincin di beberapa jarinya, baik di tangan kanan maupun kiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jam di tangan kanannya sepertinya jam yang mahal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada dua gelang batu di tangan kirinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jabat tangan itu tidak terlalu keras, namun kurasakan kehangatannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku menduga bahwa itu adalah sebuah jabat tangan yang sering dilatih untuk seorang pejabat yang sering bertemu dengan client.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terlepas dari dugaanku, aku menikmati genggamannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Kami duduk di salah satu dari tiga ruang rapat seperti akuarium berbentuk segi enam, dan dia menawarkan minuman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari caranya minta minuman ke office girl yang sangat deskriptif dan detail untuk menyebut ‘kopi hitam tanpa krim’, menunjukkan sikapnya yang perfeksionis, dan sedikit ada kekuasaan yang ditunjukkan, meski semuanya disampaikan dalam tata bahasa dan kosa kata yang sangat sopan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Kuamati sosok istimewa di depanku ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rambutnya jauh berbeda dari yang aku imajinasikan sebelumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada sedikit tone buatan warna kemerahan, bentuknya rapih, lurus tidak lagi keriting, dipotong pendek, seperti layaknya rambut perempuan modern masa sekarang, namun entah mengapa aku merasakannya sebagai menjadi agak kaku dan ada kesan kurang bebas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada awal-awal pembicaraan, matanya tidak pernah menatapku lama-lama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mata yang dulu kukenal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hidungnya yang agak besar dan mancung masih juga kukenal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wajahnya bersih dan terawat dengan sangat baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di bawah matanya sudah mulai nampak garis samar kantung tanda kelelahan, barangkali juga usia yang seingatku berada di awal empatpuluhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bibir itu yang masih melekat dalam ingatan, kini disaput pemerah warna muda, namun masih mengingatkanku pada saat pertama kami berciuman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam itu aku menyanyi sepanjang jalan pulang ke rumah ..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Tanpa diminta dia lalu mengakui badannya agak gemuk, pernyataan ini keluar begitu saja mungkin sebagai sebuah reaksi kegelisahan, karena aku terus mengamatinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat itu tidak ada kaidah tatakrama dalam benakku dalam cara memandang wajah seseorang, yang ada hanya keinginan untuk menatapnya lekat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali dia merasa gerah dipandang lekat, karena mulai kurasakan ketidaknyamanannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun aku tidak mau kehilangan kesempatan baik ini, dan ingin terus mengamati detil wajahnya, dan tubuhnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah wajah yang selama ini terkadang muncul dalam kesadaranku, mewakili sebuah masa cukup panjang dalam segmen kehidupan masa laluku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah kenangan yang diam-diam menempati batinku sekian lama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kesempatan itu kucoba manfaatkan dengan sebaik-baiknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat-saat itu seolah sejenak menenggelamkanku ke sebuah kolam yang mampu menggelitik permukaan pikiran melalui sensor penglihatanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruang segi enam dan kantor besar itu menjadi kabur, hanya ada sebuah lingkaran energi yang menyambung antara kami berdua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sungguh merasa nyaman, sebuah kenyamanan yang tidak asing bagiku, yang dulu pernah kualami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Barangkali karena semakin kurasakan kegelisahannya, pelan-pelan aku coba sadari keberadaanku di ruangan itu, dan kulepaskan segala pikiran yang ramai mewarnai benakku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suasana rasanya menjadi lebih rileks dan longgar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku samasekali tidak bermaksud untuk mendominasi pertemuan ini dengan mencoba menggenggamnya kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kesadaran itu membuatku membiarkannya berada dalam kebebasan yang mengurangi kegelisahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Kami lalu terlibat dalam pembicaraan yang lebih banyak pada kondisi sosial masyarakat sekarang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak ada pembicaraan tentang masa lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia tidak mulai dan akupun tidak tertarik untuk membicarakannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suasana yang semakin longgar itu aku coba nikmati dengan baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku menikmati kehadirannya di satu ruangan bersamaku, hanya berbatas sebuah meja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku larutkan diriku, pikiranku dan batinku dalam suasana yang terbangun, dan kurasakan semakin lama dia merasa semakin ringan dan lepas dari kekakuan yang ada di saat-saat awal pertemuan kami tadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sosok yang pernah kukenal ini kembali lagi dalam suasana yang rasanya sama dengan masa lebih dari tiga puluh tahun lalu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia masih menarik, hampir dalam segala hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Topik demi topik mengalir dengan lebih rileks.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena permintaanku, dia tunjukkan foto anak perempuan satu-satunya yang berada di telpon genggamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejenak aku tenggelam dalam foto itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wajah yang cantik, namun menurutku tidak banyak unsur wajah ibunya yang menurun kepadanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali anak ini lebih mirip ayahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pasti ayahnya tampan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Topik demi topik pembicaraan terus berganti, misalnya dia mengaku membaca buku tentang berbagai agama, tentang korupsi, nilai-nilai masyarakat, dan sebagainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sampai setelah hampir satu jam, dia mulai melirik ke luar ruangan beberapa kali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku menyadari bahwa waktuku berbincang dengannya sudah selesai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diapun mengatakan sudah sedikit korupsi waktu kerja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah indikasi profesionalisme dan loyalitas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pamit, dan dia mengantarku sampai pintu ke luar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak ada ciuman di pipi yang masih kuharapkan, hanya sebuah jabat tangan erat untuk perpisahan hari itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tersenyum memahami kekecewaanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Keesokan harinya, aku merasa jauh lebih ringan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah energi bernama “keinginan bertemu dengannya” sudah mulai terlepas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Energi yang berbentuk rasa penasaran, fantasi, imajinasi, sudah terpenuhi dan terlepas dengan sendirinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertemuanku dengannya merupakan momen yang istimewa bagiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah momen yang membawaku ke masa lalu yang tersimpan dalam ingatan, dan menggugah rasa yang masih ada, rasa nyaman ketika bersamanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun juga menjadi istimewa karena melepaskanku dari pelukan energi yang penuh dengan imajinasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang tertinggal adalah sebuah rasa yang tidak ingin menguasainya, sebuah rasa yang hanya mendekatinya, mengasihinya, tidak lebih dan tidak kurang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku senang dengan rasa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Aku berterimakasih kepadanya karena memberiku waktu untuk bertemu dengannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku biarkan rasa kasih ini tetap berada dalam batinku, dan membiarkannya tetap berada dalam sebuah ikatan energi semesta, agar ikatan batin ini menjadi lebih bebas, tidak harus saling memiliki dan menjadi dominatif, sehingga tetap terjaga keindahannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Terimakasih kekasihku ..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:85%;"&gt;Menara BII Thamrin, Pain de France Café&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1959581489765179208?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1959581489765179208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1959581489765179208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1959581489765179208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1959581489765179208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/10/hari-yang-istimewa.html' title='Hari Yang Istimewa'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5179397064215634824</id><published>2009-09-12T04:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T04:57:21.379-07:00</updated><title type='text'>Mas Dokter: Dimana Peran Tuhan?</title><content type='html'>Kami janjian ketemu malam ini, dan dia akan menjemputku. Sekitar jam 20:30, teman lamaku, mas Dokter datang menjemput aku dan saudara2ku, dan berempat kamipun berangkat ke sebuah warung kopi sederhana untuk ngopi, ngobrol dan melepas rindu.  Sudah lama kami tidak berjumpa, dan kebetulan beberapa hari ini aku di kota kelahiranku untuk sebuah tugas.  Mengetahui aku di kota ini, diapun langsung kirim sms mengatakan ingin berjumpa dan ngobrol.  Kafe itu cukup banyak dikunjungi anak2 muda, yang ketika kami masuk, rasanya banyak yang menatap kami, mungkin terheran karena usia yang tidak setara dengan mereka. Beberapa teh jahe dan kopi kami pesan, mendampingi camilan ringan, dan obrolanpun langsung dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Dokter banyak berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman dari profesi yang digelutinya, sebagai seorang ahli kandungan terkenal di kota ini.  Obrolan semakin rame ketika dia cerita tentang seorang TKI yang menyewakan rahimnya untuk mengandung anak dari sepasang suami istri orang Singapura.  Kami mencoba memahami mengapa hal tersebut bisa terjadi.  Berbagai alasan disampaikan, misalnya barangkali karena desakan ekonomi, sehingga motivasinya adalah imbalan uang belaka.  Pertanyaan yang muncul adalah, etiskah itu?  Berdosakah itu dilihat dari kacamata agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika peristiwa itu juga menyangkut pandangan bahwa rahim seseorang diperlakukan sebagai sebuah petri-dish, sebuah cawan laboratorium untuk pembesaran janin.  Begitu berkuasakah uang dalam membentuk sebuah kehidupan?  Diskusi semakin hangat ketika pembahasan mencoba mendasari peristiwa itu dengan kaidah agama.  Berdosakah si ibu yang menyewakan rahim demi uang?  Dimana peranan Tuhan dalam mekanisme sewa menyewa tersebut? Dahulu, anak selalu dianggap sebagai anugerah Tuhan, namun dalam konteks sewa rahim, masihkah ada konsep anugerah Tuhan?  Mas Dokter menjadi bingung sewaktu harus menuliskan akte kelahiran, karena sebenarnya anak siapakah si jabang bayi?  De jure barangkali hasil pembuahan suami istri orang Singapura, namun de facto dia keluar dari rahim ibu TKI.  Dia juga bercerita bahwa perdebatan antar dokter-pun tidak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Tuhan dalam sebuah proses reproduksi manusia semakin hangat didiskusikan ketika sudah ada kemampuan rekayasa manusia untuk memilih apakah bayi yang dilahirkan lelaki atau perempuan.  Ada sebuah proses yang pada dasarnya adalah pembilasan kromosom.  Jika ingin bayi perempuan, maka kromosom Y dibilas sehingga yang ada hanyalah kromosom X, dan pembuahan dilakukan dengan sistem in fitro.  Demikian pula kalau ingin bayi lelaki, tinggal kromosom X dibilas dan meninggalkan kromosom Y.  Pembilasan adalah pembunuhan sel sperma.  Pertanyaannya kembali kepada, dimanakah peran Tuhan dalam proses konsepsi tersebut?  Menentukan kromosom yang berhak hidup dan yang tidak, bukankah itu peran Tuhan, bukan seorang dokter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi merembet ke masalah stem cell yang sedang ramai diperdebatkan.  Dalam proses kelahiran, stem cell bisa didapat dengan mengambilnya dari ari-ari.  Sekarang ini ada mekanisme penyimpanan stem cell yang sedang digemari oleh para empunya. Sewa “bank stem cell - Cordlife” mencapai puluhan juta rupiah, yang tentu hanya bisa tersentuh oleh para empunya. Kekhawatiran semakin muncul ketikan pertanyaan2 seperti: di bank itu, diapakan saja stem cell yang disimpan? Adakah kemungkinan menyalahgunakan stem cell yang tersimpan sebelum diambil kembali dan dimanfaatkan oleh si empunya?  Pertanyaan lalu menggelembung dengan pemikiran tentang siapakah raksasa (baca pengusaha atau penguasa besar) yang berdiri dibalik mekanisme penyimpanan stem cell tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan bahwa ada kegalauan di batin mas Dokter tentang peran Tuhan dalam proses konsepsi manusia, atau bahkan juga dalam proses konsepsi makhluk di bumi ini.  Sebuah kegundahan yang pelan tapi pasti merasuk dalam batin mas Dokter, bahkan dalam batin setiap manusia.  Misalnya tentang Dolly seekor domba hasil kloning, peternakan ayam dan bebek yang sudah menjadi sebuah industri - sebuah pabrik, perkawinan silang anggrek yang bertujuan untuk memenuhi selera keindahan manusia, jagung hibrida bahkan GMO (genetically modified organism) untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, dan masih banyak lagi.  Namun, mas Dokter masih mempunyai harapan terhadap kekuasaan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, manipulasi itu akan sukses, namun kalau tidak, Tuhan masih bisa mencabut nyawa hasil manipulasi itu.  Kematian menjadi kunci kekuasaan Tuhan, dan hanya Dia yang mempunyai 'ijin' memberi atau menghilangkan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang sangat mendasar karena menyentuh sebuah proses hakiki tentang asal-muasal kehidupan yang selama ini disakralkan karena dihubungkan dengan “ke-Maha Pencipta-an” Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi.  Layaknya sebuah komando kehidupan semesta.  Kesakralan tersebut sudah menjadi dogma, keyakinan yang tidak perlu dipertanyakan ulang. Namun kenyataan sekarang seolah menantang ke-maha pencipta-an Tuhan, dan peran Tuhan seolah diambil alih oleh manusia.  Kesakralan otoritas tertinggi pencipta kehidupan mulai dipertanyakan dan bahkan diperebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu materi diskusi yang sangat berisi dibicarakan dengan gelak tawa dan suasana cewawakan yang lepas.  Ketawa menggelegar seperti mau meruntuhkan bilik2 di kafe itu.  Kelompok para orang tua ini ternyata jauh lebih rame dibanding dengan para pemuda di sekitar meja kami.  Sungguh sebuah suasana yang membuat rindu akan adanya pertemuan-pertemuan serupa berikutnya. Tiba-tiba mas Dokter ditelpon anaknya disuruh pulang, yang hanya ditimpali dengan ketawanya yang lepas dan khas. Belakangan kami baru tahu bahwa telpon itu sebenarnya terjadi pada saat ada guncangan gempa, dan orang rumah mengkhawatirkan keberadaannya.  Kami tidak merasakan dan tidak memahami apa yang dirasakan orang rumah mas Dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali seperti itu juga semua pemeran manipulasi proses konsepsi manusia yang rame kami diskusikan ... tidak merasa dan memahami kehadiran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Jakarta, September 12, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5179397064215634824?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5179397064215634824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5179397064215634824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5179397064215634824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5179397064215634824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/09/mas-dokter-dimana-peran-tuhan.html' title='Mas Dokter: Dimana Peran Tuhan?'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-1782145410002759940</id><published>2009-07-22T05:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-23T07:33:04.980-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Spiritual ke Baduy, 18 - 20 Juli 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/SmclZv3gVHI/AAAAAAAAACc/MogWyKVZuZs/s1600-h/PICT0124.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/SmclZv3gVHI/AAAAAAAAACc/MogWyKVZuZs/s200/PICT0124.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361295005684094066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari itu sehari setelah para pengecut meledakkan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton.  Di pelataran parkir motor Sarinah Thamrin, jarum jam sudah menunjukkan waktu 7:30, saat kami harus berangkat.  Masih ada seorang peserta, dari ke 11 orang keseluruhan, yang baru muncul setelah 10 menit kemudian.  Para pemandu sebetulnya ingin membatalkan perjalanan kali ini karena kurangnya peserta, namun dengan semangat bahwa acara ini adalah ‘temu darat’ dari kelompok cyber yang sesama mencintai perjalanan petualangan, maka rencana ke Baduy tetap dilanjutkan.  Setelah berdoa bersama, dan melakukan ‘toss’, kamipun masuk ke mobil Elf biru, yang harus mengorbankan satu deret tempat duduk paling depan untuk tumpukan ransel dan berbagai peralatan seperti sleeping bags dan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan antar peserta sudah dilakukan pada saat briefing seminggu lalu, dan pemandu kami kali ini terdiri dari Epoy, Bagol dan Kelik.  Mereka bertiga sudah lebih sepuluh tahun bergaul dengan saudara2 di Baduy, dan banyak dikenal oleh kalangan “porter” atau orang-orang Baduy Dalam yang rumahnya sering dikunjungi para pelancong, sebut saja di Cibeo ada: Naldi, Sangsang, Karmain, Sapri, atau Narpa di Cikeusik.  Rombongan terdiri dari mayoritas perempuan: Uti, Meniek, Oming, Joe, Yani, Rien, Neny, dan aku satu-satunya lelaki.  Kami mempunyai persepsi yang sama bahwa kunjungan ke Baduy bukanlah wisata kultural semata, namun lebih kepada bertamu ke desa para saudara kita yang mempunyai adat yang masih kuat dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana, kami sampai di Pasar Karoya lewat tengah hari.  Route yang diambil dimulai dari Cikeusik tempat kami rencana bermalam, lalu hari kedua perjalanan panjang akan kami tempuh melalui desa Cikartawarna Baru, dan Cibeo untuk makan siang, lalu diteruskan ke Gajeboh di Baduy Luar untuk bermalam.  Hari ketiga kami tinggal menjalani sisa perjalanan sedikit dari Gajeboh ke Ciboleger dimana mobil kami sudah akan siap menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah unload barang bawaan kami di huma kang Narpa, kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di situ.  Joe dengan sepasang mata arsiteknya yang jeli mengamati bentuk huma (gubug) kang Narpa yang menurutnya sangat arif.  Bangunan yang rendah dimaksudkan untuk menjaga kehangatan diwaktu malam, serta disesuaikan dengan bentuk badan orang Baduy yang relatif lebih kecil dibanding manusia kota.  Sebuah rumah adalah cerminan manusianya, demikian kata Joe.  Bubungan atap yang ditutup ijuk mencerminkan kecerdasan, dan beranda yang tertutup atap luas menandakan kecerdikan untuk mendapatkan kesejukan pada siang hari.  Demikian juga keseimbangan huma yang berdiri di tanah berkontur tetap terjaga melalui perhitungan konstruksi yang pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu selanjutnya kami lewatkan untuk berjalan-jalan di lembur (desa) Cikeusik yang hanya berjarak seperempat jam berjalan.   Tidak lupa kami bawa sekantong manik-manik yang kami beli di Jakarta sebagai buah tangan buat para remaja di desa itu.  Menyaksikan para remaja berkerumun saling membagi manik-manik, dan raut wajah mereka yang senang namun malu untuk mengekspresikannya, merupakan anugerah bagiku.  Beberapa dari mereka menggenggam kantong-kantong plastik berisi manik-manik dengan erat, dan senyuman polos mereka tersembul dengan cantiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yani tidak kuasa menahan keinginannya mendatangi dua gadis kecil yang dari kejauhan memandang penuh rasa ingin tahu pada kerumunan teman-temannya, dan bermaksud mengajak mereka untuk bergabung.  Namun dia diingatkan bahwa dia sudah melampaui tanda sebatang bambu besar yang digantungkan dari sebuah rumah ke rumah lain, yang ternyata adalah batas dimana orang luar Baduy tidak lagi diperbolehkan menginjak tanah di seberang bambu itu.  Tanah itu merupakan ‘kompleks’ para pemuka desa, dengan rumah seorang Puun (ketua adat) di ujungnya.  Teman kami surut ke belakang sambil minta maaf.  Kami kembali ke huma ketika hari sudah menjadi gelap, dan dengan perut minta diisi.  Makanan yang disiapkan Epoy menyambut kedatangan kami dengan baunya yang menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lauk pauk sederhana kami nikmati menemani nasi ladang dari Baduy yang menjadikan paket itu sungguh nikmat, apalagi ditemani dengan semilirnya udara dingin yang mulai menggigit badan kami yang sudah kelelahan.  Beberapa saat kemudian Jaro Nalim datang karena undangan para pemandu kam.  Sebetulnya ingin kami temui di rumah beliau namun waktu itu sedang pergi.  Sebuah kesempatan yang sungguh baik untuk bertemu dan berbincang dengan kepala desa yang diangkat secara adat oleh masyarakat setempat.  Aku bergabung dengan beliau mencicipi sirih dan pinangnya.  Semenit setelah kunyahan pertama, sensasi hangat di sekujur tubuh mulai terasa.  Energi hangat menyebar ke seluruh tubuh, keringat keluar, dan kepala rasanya ringan.  Kunyahan demi kunyahan terus menambah sensasi tersebut.  Aku diam sejenak untuk kembali ke kondisi semula, lalu kuludahkan sirih di luar huma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaro Nalim membuka diri untuk diajak berbincang tentang banyak hal, yang terkadang harus diterjemahkan oleh Bagol, salah seorang pemandu kami.  Beberapa yang menarik dicatat adalah pengakuan bahwa Baduy mengalami perubahan, terutama dari pertumbuhan penduduk.  Mereka menyadari hal ini.  Tanah Baduy tidak pernah berkembang, namun penduduk berkembang sehingga tanah garapan terasa semakin sempit.  Variasi hasil pertanian tidak banyak berkembang karena salah satunya adanya larangan untuk menanam jenis tumbuhan tertentu seperti singkong yang sebetulnya dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat nabati, namun memang dapat merusak struktur tanah.  Juga ternak kambing dan sapi ditabukan.  Kami belajar banyak dari diskusi malam itu, meski ada pertanyaan yang sempat membuat Bagol tidak nyaman menerjemahkan ketika kami menanyakan apakah orang Baduy percaya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Naldi dan aku menuju sungai di lembah untuk mandi.  Dalam gelapnya malam diterangi seberkas cahaya senter, ketelanjangan di alam bebas ternyata menjadi sebentuk rasa kebebasan.  Setelah mandi, aku dan Yani menyempatkan diri untuk bermeditasi di halaman, beratap langit berbintang dan bulan yang baru membuat cahaya dalam sebentuk sabit, berselimut udara malam yang dingin menggigit dan diiringi nyanyian hewan malam.  Kami menyatu dengan semesta di tanah suci itu.  Malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak seolah melepas kebekuan kaki dan badan kami setelah hampir lima jam meringkuk di tempat duduk mobil yang sempit itu.  Kang Narpa mengiringi tidur kami dengan dentingan kecapinya, yang berkawat bekas rem sepeda motor.  Dentingan yang sangat kontras dengan lembutnya desir angin malam, namun menjadi pelengkap yang mampu menambah kenyamanan dengkur kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ketika Epoy membangunkan kami dari kelelapan.  Di pagi yang berkabut itu kami akan ke pasar Karoya untuk mencoba mengambil gambar para gadis Baduy yang berbelanja.  Di pasar orang banyak menjajakan segala keperluan harian masyarakat setempat, dari tembakau padat, ikan pindang sampai sampo dan golok.  Seorang pedagang bisa mewakili sebuah supermarket.  Kamera kami langsung mengincar gadis2 Baduy Dalam yang kebanyakan memakai baju blacu putih berselendang putih atau hitam, dan berkain hitam.  Pria-pria baduy juga berbaju blacu putih atau hitam, berikat kepala putih, berkain hitam bergaris halus warna putih.  Hanya ada dua warna, putih dan hitam, tidak ada warna lain atau warna diantaranya.  Dua warna dasar yang kontras cerminan dua kutub ekstrim dalam kehidupan ini.  Kesederhanaan yang justru merupakan simbolisasi keseimbangan hidup, sebuah penerimaan apa adanya terhadap kedua energi dalam fenomena kehidupan: hitam – putih, buruk – baik, salah – benar, panas – dingin, yin dan yang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna lain sedikit muncul dalam hiasan gelang tangan, kalung di leher yang berupa untaian manik-manik beraneka rupa dan warna.  Demikian juga pada gincu di bibir para gadis muda itu.  Aneka warna asesori berlatar belakang hitam dan putih seolah mencerminkan aneka warna fenomena kehidupan yang muncul di atas sifat dasar kehidupan berupa kutub energi yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis-gadis muda yang berbelanja di hari pasar yang hanya ada di setiap hari Minggu itu seolah menghadiri sebuah pesta, mereka bersolek dengan sungguh-sungguh cantik dan menarik.  Perpaduan antara perilaku yang lugu, malu-malu, dan pakaian sederhana putih dan hitam, dengan gincu merah, bedak cukup tebal, hiasan manik-manik berwarna-warni, sungguh merupakan pemandangan yang eksotis.  Aku merasa berada di sebuah negara yang jauh dari Indonesia.  Frame demi frame foto kami habiskan di pasar Karoya yang menyajikan pemandangan eksotis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir menjelang tengah hari kami kembali ke Cijahe, tempat kami sarapan bersama.  Sewaktu kami ke pasar, beberapa orang Baduy dan Epoy mengatur sarapan dan membawa semua perlengkapan kami ke Cijahe.  Sarapan pagi itu terasa enak sekali, meski berupa paduan sederhana antara telur bumbu kecap dan mie goreng instan dan nasi.  Epoy sungguh kreatif membuat perpaduan makanan dari bahan sederhana yang tersedia.  Setelah pamit ke kang Narpa, kami melanjutkan perjalanan ke desa Cibeo, melewati Batu Beulah dan Cikartawarna Baru.  Batu Beulah merupakan pusat pembuatan golok, dan aku membeli salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan selanjutnya merupakan episode yang menarik, sebuah simponi alam yang lengkap.  Ada tanjakan maupun turunan, hutan maupun ladang, jalan licin berkerikil lepas maupun berbongkah batu, panas terik yang menguras keringat maupun gemericik sejuknya pancuran dan aliran sungai yang jernih bebas dari pencemaran.  Sebuah perpaduan hitam dan putih, seperti disimbolkan dalam pakaian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam lewat tengah hari, kami tiba di Cibeo, desa di mana kang Naldi, Sangsang dan Sapri berasal.  Beberapa teman langsung tergolek di dalam rumah kang Sangsang.  Beberapa memutuskan untuk mandi di siang itu untuk mendinginkan panasnya tubuh karena sengatan matahari di sepanjang perjalanan tadi.  Epoy kembali sibuk menyiapkan makan siang yang kali itu merupakan paduan antara sayur asem, kentang keripik pedas dan ikan asin goreng tipis.  Kembali juru masak kami menunjukkan kepiawaiannya dalam memilih paduan menu, yang mampu membuat kami makan seperti berbuka setelah puasa dua hari tanpa henti.  Hal menarik yang aku amati adalah volume nasi yang ekstra besar yang selalu menjadi menu setiap orang Baduy, setiap kali makan.  Meski lauk tinggal sesendok, mereka bisa melengkapinya dengan nasi tigapuluh sendok.  Nasi yang merupakan satu-satunya sumber karbohidrat nampaknya menjadi asupan utama untuk menjadi bahan bakar bagi mobilitas orang Baduy yang dilakukan hanya dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam tiga sore, kami mulai perjalanan episode kedua, ke arah Gajeboh yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan normal.  Kondisi badan kami sudah berkurang sekitar 50%, sehingga sisa tenaga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Pemandangan sepanjang perjalanan rasanya lebih indah dari episode sebelumnya.  Barangkali karena matahari sudah mulai mengurangi intensitas panasnya, sehingga cuaca menjadi lebih bersahabat.  Namun juga karena kami banyak melewati rimbunnya hutan.  Paling tidak dua tanjakan merupakan jalur panjang non-stop dengan sudut sekitar 30 derajat.  Dua turunan juga merupakan jalur panjang serupa.  Tanjakan dan turunan, hitam dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyeberangi jembatan untuk masuk di Gajeboh sudah lepas maghrib, dan langsung menuju rumah Ceu Rokayah yang merupakan rumah terbesar di Gajeboh, karena suaminya bekerja sebagai pengepul barang kerajinan dari berbagai produsen di Baduy Luar.  Setelah melepas lelah, mandi di sungai, kamipun berkumpul untuk mengadakan evaluasi perjalanan ini.  Hampir semua mengamini bahwa segala sesuatunya berjalan lancar, dan para pemandu kami merupakan orang yang cocok karena banyak dikenal di kalangan keluarga porter di Baduy Dalam.  Misalnya, pertemanan Bagol dengan beberapa orang Baduy yang menyertai kami, seperti kang Naldi, sudah berjalan dua puluh tahun, dan Epoy-pun sudah dikenal sejak lima belas tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tawarkan sesi meditasi.  Beberapa tertarik untuk mencoba: Epoy, Bagol, Rien, Neny, Yani dan aku.  Malam semakin gelap ketika kami selesai meditasi, namun Rien, Neny dan Yani tetap terjaga dan terlibat dalam diskusi banyak hal tentang kehidupan.  Hampir tengah malam diskusi baru berhenti.  Sejenak kemudian Oming bangun dan mengeluh dada serta tenggorokannya sakit, dan tidak bisa tidur.  Minyak telon terus digosokkan namun nampaknya tidak mengurangi rasa sakitnya.  Aku menjadi khawatir, lalu kutawarkan terapi pijat refleksi, dan dia mengangguk mengiyakan.  Hampir satu jam dia terus mengerang, meringis dan mengatupkan bibir menahan sakit ketika bagian-bagian tertentu kakinya kusentuh.  Bajunya basah karena keringat dan pipinya basah karena air mata.  Selewat tengah malam, baru dia bisa tidur untuk beberapa jam dan segar kembali di keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Joe juga mengeluh sakit kepala yang sangat, sampai semalam tidak dapat memicingkan mata.  Pagi itu kembali aku buka praktek refleksi untuk Joe, yang juga hampir satu jam bergoyang kesana kemari menahan sakit.  Setelah itu dia merasa agak baikan.  Sarapan pagi itu berupa nasi dan dendeng ikan serta mie instan rebus.  Menu yang selalu menarik komposisinya, dan selalu tandas pada akhir ritual mengisi perut.  Setelah itu, warung kerajinan Ceu Rokayah dibuka dan acara belanja kain dimulai.  Setelah acara buka dasar kain bak di Tanah Abang selesai, kamipun berkemas untuk menuju pos terakhir, Ciboleger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan episode terakhir sekitar satu setengah jam ternyata tidak juga lebih ringan.  Tanjakan non-stop lebih setengah kilometer kembali kami temui, hanya bedanya, di tengah tanjakan ada penjaja yang menawarkan minuman dingin.  Uti adalah peserta terakhir yang sampai di ujung tanjakan, dan kami bersama-sama menyemangatinya agar terus maju.  Sisa-sisa tenaga kami kuras untuk mencapai Kaduketug, dimana kami secara resmi berpamitan dengan para pemilik rumah yang kami kunjungi, pendamping, porter, teman bercanda, sekaligus guru-guru kami, dan saudara-saudara kami yang baru, orang-orang Baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tengah hari, Elf biru membawa kami keluar dari terminal Ciboleger, keluar dari sebuah peradaban unik yang tidak banyak tersisa di muka bumi ini, kembali ke peradaban yang kami anggap normal, modern, praktis, dan jauh lebih berwarna bukan sekedar hitam dan putih.  Peradaban yang kami semua agungkan sebagai sebuah dunia yang maju, namun penuh dengan segala konsekuensi “kemajuan” yang ada, seperti pembunuhan sesama manusia yang baru kita saksikan dalam bom bunuh diri, penghancuran lingkungan dan sumberdaya alam, polusi, krisis ekonomi global, permainan politik, tindak kriminal, kekerasan, narkoba, dan segala jenis komplikasi kehidupan yang penuh aneka warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, orang-orang Baduy yang mendasarkan hidupnya pada warna hitam dan putih, kesederhanaan falsafah hidup, merupakan sebuah “kemajuan” pada dimensi lain di kehidupan ini.  Keteguhan pada aturan adat, ketahanan terhadap berbagai stimuli dari dunia luar, dan konsistensi pada perilaku, mengajarkan banyak kearifan hidup yang seringkali perlu direnungkan.  Aku kembali masuk ke Baduy untuk kedua kali ini barangkali merupakan manifestasi sebuah kerinduan, sebuah kebutuhan seorang manusia untuk mengenali kembali dimensi-dimensi dasar kehidupan: hitam dan putih, yang menyatu pada simbol di seperangkat pakaian.  Kerinduan akan hadirnya guru alam, yang mampu memberikan gambar kearifan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan ibunya, dengan alam semesta, secara apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda di hatiku sudah tercatat untuk sekali waktu kembali kepada saudara-saudaraku dan guru-guruku di pedalaman Baduy sana: Narpa, Karmain, Sapri, Naldi, Sangsang, Jaro Nalim ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Widianto&lt;br /&gt;23 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-1782145410002759940?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/1782145410002759940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=1782145410002759940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1782145410002759940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/1782145410002759940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/07/perjalanan-spiritual-ke-baduy-18-20.html' title='Perjalanan Spiritual ke Baduy, 18 - 20 Juli 2009'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/SmclZv3gVHI/AAAAAAAAACc/MogWyKVZuZs/s72-c/PICT0124.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8684097453020725112</id><published>2009-07-05T20:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T08:51:28.877-07:00</updated><title type='text'>Cinta dan Perkawinan</title><content type='html'>"&lt;br /&gt;‘qt ktmu jm 3, aq di kamar 205’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms itu aku kirimkan kepadanya.  Aku kebetulan datang di kota itu, dan aku ingin sekali ketemu dengannya.  Sudah hampir dua minggu aku kontak dengannya melalui telpon dan sms, namun belum pernah bertemu secara fisik.  Awalnya terjadi ketika aku harus menelpon teman kerjaku yang baru, Widarti, untuk minta berkas-berkas pengiriman para TKI agar dapat diserahkan ke kantor pusat paling lambat pertengahan bulan Juni ini.  Karena aku tidak punya nomor telponnya, aku minta kepada sekretaris kantor Pusat.  Ketika nomor telpon pemberian sekretaris itu aku putar, tak terduga  yang menjawab seorang lelaki.  Lelaki itu mengaku bernama Wibowo.  Ke-salah-an ataupun ke-betul-an dalam hidup, tergantung dari mana memandangnya, terkadang terjadi dengan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lalu suamiku yang mengawiniku secara siri, menceraikanku, atau lebih tepat, meninggalkanku begitu saja.  Tidak ada proses perceraian secara hukum negara, karena perkawinan siri bukan urusan negara, tapi urusan pada tingkat paling bawah yang keabsahannya bisa menjadi sangat situasional.  Dua tahun bersamanya seperti sebuah mimpi yang merupakan rangkaian cerita roman picisan.  Dia sudah beristri, dan menjadi istri ‘siri’nya harus pandai-pandai menguasai diri, pandai-pandai mengatur waktu untuk menyalurkan hasratku dan terlebih hasratnya.  Barangkali benar bahwa perkawinan ‘siri’ dibuat untuk sekedar menyalurkan hasrat dasar manusia, hasrat menikmati hubungan perkelaminan.  Sebuah hasrat yang mustahil disalurkan dengan terbuka karena dianggap sebagai sebuah dosa, sehingga perlu dibungkus dengan kemasan berbau agama untuk mempunyai kekuatan keilahian yang dianggap mengubahnya menjadi halal.  Absurditas, kemunafikan, dan kedangkalan pemahaman bergabung menjadi satu, dan lunas diganti dengan beberapa lembaran rupiah bagi tokoh pengabsah.  Meski aku mempunyai pandangan seperti itu, namun aku jalani juga perkawinan itu, karena kebutuhanku untuk dukungan moral dan material dalam membesarkan anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita roman picisanku dengannya memang akhirnya hanya seputar birahi, seputar ranjang, permainan petak-umpet menghindari pelacakan istri sahnya, dan manipulasi rasa yang ada diantara dua kutub: kebencian dan kerinduan.  Benci karena dia bukan sepenuhnya milikku yang seharusnya memberikan segala waktu dan perhatiannya padaku, namun menjadi sebuah kemewahan yang mustahil kudapatkan.  Banyak waktu dimana aku membutuhkan kehadirannya, namun dia tidak dapat memenuhinya.  Rindu karena setiap kehadirannya mampu mengisi kesepianku dalam menjanda lebih dari dua tahun, setelah suamiku yang pertama kuceraikan akibat memelihara perempuan sialan yang akhirnya hubungan mereka kupergoki di sebuah hotel di kota besar dekat desaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun sudah aku kembali menjanda setelah berakhirnya romanku dengan suami siriku.  Kerinduanku akan belaian, pelukan dan pemenuhan hasratku kembali menggantung dalam kehidupanku.  Sebuah kerinduan akan kehidupan yang dulu pernah aku nikmati sehingga membuahkan dua anak2ku yang sekarang kupelihara dengan sepenuh hati meskipun semakin hari menjadi semakin tidak mudah.  Namun begitu, keduanya adalah bagian sejarah hidupku, keduanya adalah kepingan kebahagiaan yang dulu pernah aku nikmati bersama suamiku yang pertama.  Sekarang sering aku gugat hidupku yang lalu, benarkah keduanya adalah keping kebahagiaan, atau keduanya adalah akibat dari pemenuhan hasrat alamiah kami berdua.  Seandainya mereka adalah buah dari kebahagiaan, mengapa sekarang terasa menjadi beban yang harus aku pikul sendiri?  Benarkah kebahagiaan dapat berubah menjadi beban dan bahkan derita sejalan dengan waktu?  Adakah kebahagiaan hidup yang abadi?  Dimanakah keadilan dalam berbagi kebahagiaan dan beban hidup pada sepasang suami istri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janjian ketemu dengannya sekitar setengah jam lagi.  Sempat kurenungkan awal kenalanku dengannya.  Kesalahan nomor telpon akibat kecerobohan sekretaris kantor pusat.  Namun dalam beberapa kali pembicaraan telpon dengan Wibowo, aku dapat merasa sebagai seorang perempuan yang terisi kembali kebutuhan hidupku.  Entah kenapa kekosongan batinku dapat sejenak terpenuhi dengan sesuatu yang aku sendiri tidak pahami, namun terasa nyaman.  Aku belum pernah bertemu dengan Wibowo, dan aku tidak banyak tahu tentang kehidupannya.  Namun setiap kata yang diucapkan dalam telpon terasa memberi energi yang membuatku hanyut dalam sebuah aliran yang terasa sejuk, penuh, dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit kaget ketika kudengar ketukan di pintu kamarku.  Kubuka pintu kamar hotelku, dan kudapati seorang pria setengah baya, dengan rambut tersisir ke belakang dengan rapi, beberapa helai uban terlihat kontras dengan rambut hitamnya.  Jalur-jalur uban itu seolah memberi aksen yang kontras, putih di atas hitam, sebagai alur yang seolah menunjukkan kebijaksanaan.  Badannya sedikit lebih tinggi dari padaku, perawakannya tegap untuk pria seumurnya.  Wajahnya tidak terlalu tampan namun cukup menarik.  Sore itu dia mengenakan kemeja kerja dan menjinjing sebuah tas sederhana yang nampak berat yang kuduga berisi komputer jinjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku persilahkan dia masuk, dan sambil duduk di tempat tidur ukuran king-size, obrolan sedikit demi sedikit mulai mengalir.  Udara pengap di kamar mulai mencair dan membebaskan rasa.  Kesesakan hatiku karena berbagai gambaran dan keinginan untuk bertemu dengan pria ini pelan-pelan menguap dan kamar terasa menjadi jauh lebih luas menembus dinding-dinding bercat coklat muda itu.  Ada kehangatan yang menyeruak ke dalam tubuhku, mengurangi dinginnya ruangan akibat pengatur suhu.  Kehangatan yang rasanya sangat intim, sangat tidak asing, yang bahkan menjadi bagian dari diriku yang pernah hilang beberapa tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan santai mulai merambah pada kehidupan pribadiku dan kehidupan pribadinya.  Suasana menjadi sangat cair, menjadi sangat akrab, dan aku sangat tergoda untuk memeluknya agar rasa nyaman ini tidak hilang, agar kehangatan ini menjadi sebuah kenyataan, agar energi ini menyatu dengan diriku.  Hasratku untuk memilikinya menjadi semakin kuat.  Kamipun lalu bercinta.  Segenap kegairahanku yang tadi kurasakan berdesakan di seluruh pintu pori-pori kulitku, kini seolah seluruh pintu itu terbuka sehingga sel-sel gairahku terbebaskan dan menari dengan semakin liar.  Tarian itu saling bersambut dan diakhiri dengan sebuah rasa kepuasan yang memenuhi seluruh saraf paling primitif dalam tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lapar menyergapku setelah aku membersihkan diriku.  Aku ajak Bowo, begitu dia minta dipanggil, ke bawah untuk mencari makanan.  Sambil menikmati bakmi sederhana di warung dekat hotelku, kami berbincang banyak.  Rasanya tidak ada lagi tembok penghalang dalam komunikasi kami, segala batasan runtuh bersama gelegak nafas kami di kamar tadi.  Pembicaraan berbagai topik banyak membuka batinku, karena seperti anggapanku pada saat perkenalan dengannya melalui telpon, Bowo mempunyai sesuatu yang tidak semua orang miliki.  Aku rasa itu karena dia mempunyai sebuah keluasan cakrawala pandang tentang berbagai sendi kehidupan ini, yang bebas menembus segala dogma dan kaidah umum, bahkan akidah agama yang kuimani.  Sebuah dimensi yang menarik dan baru buat pemahamanku yang sederhana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang sampai kini membekas di kepalaku adalah pandangannya tentang cinta dan perkawinan.  Kami sempat berdebat, ketika kukatakan bahwa aku jauh lebih tahu tentang perkawinan dan cinta daripada dia karena sudah pernah dua kali kawin, dengan dua cara yang berbeda.  Aku seharusnya lebih berpengetahuan dan berpengalaman daripadanya.  Namun pendapatnya tentang cinta dan perkawinan mampu meruntuhkan seluruh bangunan pemahamanku.  Menurutnya, mencintai orang lain sebenarnya mencintai diri sendiri.  Menurutnya sangat jarang perkawinan yang dilandasi oleh rasa cinta yang selalu kita idolakan dan kita fantasikan.  Fantasi keindahan cinta hanya ada di buku-buku novel, katanya.  Menurutnya lagi, perkawinan sebenarnya hanya sebatas sebuah janji, yang karena takut tidak ditepati, lalu diberi embel-embel suci, sehingga menjadi janji suci.  Aku terperangah, dan mengingat bahwa kedua perkawinanku yang berantakan, pernyataannya menjadi sangat masuk akal.  Dimanakah kesucian sebuah perkawinan?  Gugatanku kepada perkawinanku kembali tergambar jelas dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai orang pada dasarnya adalah mencintai diri sendiri.  Kata-katanya membuatku menegangkan seluruh saraf pendengaranku untuk menangkap pesannya lebih lanjut.  Jika aku mencintai dia, katanya, maka aku hanya mencintai rasa yang kudapatkan darinya ketika dia berada di dekatku.  Aku hanya mencintai energi yang diberikannya kepadaku, yang membuatku merasa nyaman, merasa penuh, utuh, dan lebih hidup.  Rasa itu yang aku cintai, dan kupertahankan dengan segenap cara, yang sering juga disebut pengorbanan, agar rasa itu tidak hilang.  Dia adalah sumber energiku.  Ketika sumber itu meredup karena berbagai hal, misalnya mengalihkan tujuannya kepada orang lain seperti yang dilakukan oleh suami pertamaku, maka aku merasakan kehilangan, merasakan ketimpangan, ketidakseimbangan yang sangat tidak nyaman.  Kurasa dia ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku harus kembali ke kota kecilku.  Dalam perjalanan pulang, pengalaman singkat bebrsama Bowo kemarin ternyata sangat membekas dalam hatiku.  Tidak hanya kesenangan yang telah kudapatkan, namun juga pemahaman baru yang dia berikan.  Rasanya aku kembali berenergi dan mampu melangkah dengan ringan.  Aku merasa nyaman.  Barangkali, rasa seperti ini yang dia maksudkan, ketika rasanya aku mulai mencintai Bowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kebetulan dalam sebuah kehidupan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, seperti terjadi padaku seminggu lalu itu.  Tapi, adakah kebetulan dalam hidup ini?  Betulkah Bowo datang begitu saja dalam hidupku?  Ataukah dia membantuku memahami kegagalan perkawinanku yang selama ini menjadi beban yang semakin berat dalam menghadapi hidupku?  Benarkah dia membantuku memahami kehampaan hidupku, dan memberikan petunjuk bagaimana mengatasinya?  Rasanya, masih, aku inginkan sumber energi itu selalu berada di dekatku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumedang - Jakarta, medio Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8684097453020725112?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8684097453020725112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8684097453020725112' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8684097453020725112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8684097453020725112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/07/cinta-dan-perkawinan.html' title='Cinta dan Perkawinan'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8294626631759233717</id><published>2009-05-14T04:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T20:54:02.892-07:00</updated><title type='text'>Agama, Teras Dari Sebuah Rumah</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya sebenarnya pernah dibaptis secara katolik, dengan nama Thomas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sendiri tidak tahu kenapa dulu memilih nama itu, barangkali karena kedengaran keren, dan dulu juga Thomas Cup sedang menjadi banyak perhatian banyak orang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Thomas, seseorang yang tidak percaya kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali belakangan ini nama itu banyak kebenarannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepercayaan saya, termasuk kepada dogma dan iman dalam agama, banyak saya kritisi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Termasuk tentang Tuhan yang selalu kita sembah sambil memohon-mohon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam banyak diskusi tentang agama, saya senang menggunakan analogi sebuah rumah berbentuk kubah yang besar, mempunyai banyak pintu dengan teras (beranda) di masing-masing pintu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin sudah banyak teman yang mendengar cerita ini, tapi ijinkan saya mengulanginya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam analogi itu, orang-orang senang berada di teras-teras pintu tersebut, duduk-duduk sambil mengagumi teras mereka sendiri-sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir dengan cara narsistik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka lalu pamer keindahan teras ini kepada yang berada di teras lain sambil berkata:”Lihatlah terasku yang paling indah dibanding segala teras lain di muka bumi ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mari, bergabung dengan kami, karena hanya teras ini yang paling indah dan paling diberkati.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Orang-orang yang duduk di teras sebelah juga pamer tentang hal yang sama, dengan cara yang sama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Demikian juga kelompok orang yang duduk di teras-teras lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka sangat menikmati keindahan teras masing-masing.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sayangnya, mereka tidak mau masuk ke dalam rumah besar itu, meski rumah itu adalah milik mereka bersama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama mereka ada di teras, mereka tidak dapat merasakan kebersamaan di dalam rumah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut saya, agama adalah teras-teras itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka memang berbeda satu sama lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Agama juga berbeda, tergantung banyak faktor yang menciptakannya, seperti sejarah, tokoh utama, latar belakang budaya, waktu, tempat, dan juga dimensi mistisnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi, ungkapan semua agama sama saja, menurut saya keliru.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Agama tidak sama, karena teras-teras itu juga tidak sama satu sama lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang sama adalah rumahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rumah yang menjadi milik bersama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rumah yang sebenarnya menjadi inti dari keseluruhan tempat tinggal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teras hanya pintu gerbang untuk masuk rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bila kita hanya duduk di teras tanpa masuk ke dalam rumah, maka kita akan tetap merasa berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita terjebak dalam konsep kelompok, dalam konsep kebenaran semu karena tergantung dari dimensi empiris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Cobalah masuk ke dalam rumah besar itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka kita akan merasakan kebersamaan, karena kitalah pemilik rumah itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua sama, karena semua adalah penghuni rumah besar itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Komunikasi sebagai sesama pemilik rumah akan tercipta dengan baik, perbedaan akan hilang dengan sendirinya, dogma agama sudah lewat dan berada di belakang, karena begitu kita masuk rumah, teras sudah ada di belakang kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nafsu untuk lebih unggul dari lainnya menjadi tidak relevan lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inilah tahap hakekat dari sebuah agama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inilah sisi spiritual dari agama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inilah kebenaran bagi semua makhluk, kebenaran yang melampaui kebenaran yang dogmatis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sini berlaku hukum ‘inter-beings’, hukum tentang inter-connectedness, tentang saling berhubungan satu sama lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah hukum tentang ke-fitri-an makhluk dan semesta, bahwa di hadapan Allah semua sama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hukum yang tidak membedakan saya dan selain saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak ada dualism, semua adalah satu dan satu adalah semua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini ada karena itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya memahami kehidupan seperti rumah besar itu, dan saya memahami agama seperti sebuah teras dari rumah besar itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama anda berada di teras dan tidak mau masuk ke dalam rumah, maka anda akan hidup berkelompok dan merasa nyaman di dalam kelompok itu, namun sukar menyeberang ke teras lain karena segala kondisinya akan berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anda juga terjebak dalam aturan-aturan yang berlaku di teras anda sendiri, yang tentu tidak sama dengan aturan-aturan yang berlaku di teras lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi, sudah saatnya ada keberanian untuk masuk ke dalam rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah sinar matahari beragama Islam dan hanya menyinari orang Islam? Apakah hujan beragama Kristen dan hanya menyirami sawahnya orang Kristen?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah oksigen beragama Buddha dan hanya menghidupi orang Buddha?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Molekul oksigen yang saya hirup dan menghidupi saya lalu saya kelurkan, dan dihirup orang Buddha dan menghidupi mereka, lalu di hirup babi dan menghidupi babi, lalu dihirup orang Islam dan menghidupi orang Islam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu seterusnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak bisalah kita memisahkan oksigen yang haram dan halal, yang kafir dan yang bukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah, maka akan diperoleh kebebasan dalam dirinya, kedamaian dalam batinnya, dan pengetahuan tentang kehidupan yang jauh lebih luas, yang akhirnya membahagiakan hidupnya.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8294626631759233717?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8294626631759233717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8294626631759233717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8294626631759233717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8294626631759233717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2009/05/agama-teras-dari-sebuah-rumah.html' title='Agama, Teras Dari Sebuah Rumah'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8357839783737452254</id><published>2008-12-31T22:05:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T23:37:41.754-08:00</updated><title type='text'>Selamat Natal 2008</title><content type='html'>Gegap gempita Natal masih terasa.  Berbagai acara, berbagai persiapan, berbagai ritual sudah dijalankan.  Barangkali setiap gereja sudah melakukan hal-hal yang semakin meriah untuk menarik banyak umat agar tahun depan akan lebih banyak lagi yang hadir.  Saya dan istri hadir di misa gereja Kotabaru, Jogjakarta jam 23:00, yang khusus untuk anak muda karena mengantar ketiga anakku yang masih muda.  Di sekitar kita dapat kita saksikan bahwa semua sektor menyambut Natal dengan cara dan kepentingan sendiri-sendiri, misalnya sektor industri mainan maupun perdagangan.  Satu benang merah dari berbagai kegiatan tahunan ini ialah bahwa kita baru saja merayakan penyambutan kelahiran Yesus Sang Penebus, Sang Jalan, Sang Anak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan serba gegap gempita itu aku mencoba untuk merenungkan peristiwa natal dan Yesus yang sedang dirayakan ini dengan lebih hening ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus pernah mengatakan bahwa Dia-lah jalan menuju Allah Bapa.  Interpretasi pernyataan itu bisa bermacam-macam.  Seperti misalnya diartikan bahwa untuk hidup bahagia di sisi Allah Bapa setelah kita meninggal, kita harus melalui jalan Yesus, harus mencontoh perilakunya, atau paling tidak melakukan apa-apa yang diajarkannya.  Namun untuk masuk ke dalam barisan pengikut Yesus, dalam tradisi gereja Kristen, harus diawali dengan sebuah proses permandian, baptis, sidi, seperti juga Yesus ketika dipermandikan oleh Yohanes Pembaptis.  Setelah itu baru dapat menjadi sebuah keluarga besar pengikut Yesus -- yang sudah ditebus dosa-dosanya melalui kematian Yesus di kayu salib, dan mempunyai privilege bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi lain, Yesus adalah jalan menuju Allah.  Sebuah jalan adalah sarana untuk lewat, sebuah sarana untuk menuju ke suatu tempat yang dituju.  Namun, jalan bukanlah tujuan itu sendiri.  Kebingungan orang Kristen dalam menentukan apakah jalan juga tujuan, menjadi perdebatan menarik dalam sejarah perkembangan gereja, yang kemudian melahirkan konsep Trinitas yang mencoba menempatkan Yesus pada posisi khusus dalam konteks hubungan antara manusia dan Allah Bapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan Buddha, jangan keliru memahami antara jari yang menunjuk ke arah bulan dengan bulan itu sendiri.  Jika bulan adalah kebenaran hidup, maka jari yang menunjukkan ke arah bulan, bukanlah kebenaran itu sendiri.  Dalam pemahaman kata-kata Yesus bahwa Dia adalah jalan menuju ke Allah Bapa di surga, maka Yesus bukanlah tujuan.  Dia hanyalah jalan, yang menunjukkan arah ke Allah Bapa.  Segala yang diajarkannya adalah rambu-rambu yang terdapat di sepanjang jalan, yang harus kita taati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Yesus pernah juga berkata, bahwa Dia adalah kebenaran itu, yang berarti bahwa segala yang diajarkannya adalah kebenaran.  Misalnya, Dia menyebut Allah sebagai Bapa, sehingga dapat dipahami bahwa Dia adalah Anak Allah, dia adalah atman dari Brahman.  Dalam pemahaman Hinduisme, setiap manusia adalah percikan dari Brahman sehingga setiap unsur yang ada pada atman adalah unsur yang juga ada pada Brahman.  Setiap manusia adalah bagian dari Brahman, dari semesta, dari Allah Pencipta.  Sufisme mempunyai pemahaman serupa bahwa Allah ada dalam diriku, sebuah konsep tentang wihdatul wujud, penyatuan, dan Allah maujud pada diriku.  Ilmu pengetahuanpun membuktikan bahwa semua makhluk mempunyai elemen sama dengan semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika Yesus hanyalah jalan menuju Allah, haruskah pemahaman kita tentang Yesus Kristus dirubah, misalnya bahwa Dia bukanlah Anak Allah; Dia bukan kebenaran karena hanya jari telunjuk dan bukan bulan, hanya jalan bukan tujuan?  Masalahnya tidaklah sesederhana itu, tidak hitam dan putih, tidak senaif pengertian bahwa a bukanlah b, either or.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan Yesus sangatlah dalam, karena sejalan dengan apa yang diajarkan Buddha, ajaran- ajarannya mengandung kebenaran yang tidak terbantahkan tentang kesejatian kehidupan ini.  Misalnya interpretasi pemahaman bahwa setiap manusia adalah ‘anak Allah’.  Jika kita ingin memahami Allah Bapa, maka pahamilah diri kita sendiri, pahamilah ‘anak Allah’ ini.  Dalam diri kita yang serupa dengan semesta, kita diciptakan serupa dengan Allah.  Kita dalah citra Allah.  Dan seperti kata para sufi, kitalah Allah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vibrasi kesadaran Yesus demikian tinggi.  Kesadaran yang jauh menembus kotak dunia materi, memberontak dari kungkungan dunia persepsi, dan membongkar struktur hasil cerapan inderawi, serta membebaskan diri dari dimensi ruang dan waktu.  Sebuah pemberontakan yang kemudian dianggap membahayakan keteraturan kehidupan beragama saat itu, mengancam kedudukan para pemuka agama yang sudah mapan serta diakui oleh masyarakat banyak.  Memang, tidak semua mampu dan berani melakukan apa yang dilakukan Yesus.  Tidak semua mampu memahami apa yang dirasakan Yesus.  Tidak semua mempunyai nyali untuk berontak kepada kemapanan dan keteraturan dalam kehidupan beragama seperti yang Yesus pernah lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebelumnya, kita merayakan Natal dengan cara yang nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun.  Kita merayakan kelahiran Yesus melalui sebuah tradisi agama, melalui ritual yang hampir rigid.  Kita beramai-ramai ke tempat ibadah melakukan doa demi doa, mendengar cerita demi cerita yang hampir menjadi acara sosial tahunan.  Barangkali sudah saatnya kita lebih mendalami kehidupan dan ajaran Yesus melalui sepasang kacamata baru, dan keberanian yang pernah diajarkan Yesus sendiri untuk mempunyai kesadaran yang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Natal dan Tahun Baru 2009, semoga kebahagiaan sejati senantiasa beserta anda semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8357839783737452254?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8357839783737452254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8357839783737452254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8357839783737452254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8357839783737452254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/12/selamat-natal-2008.html' title='Selamat Natal 2008'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-4513999163779521083</id><published>2008-12-05T01:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T01:45:51.446-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/STj1R91M2ZI/AAAAAAAAABM/BWf5DuezD5Y/s1600-h/IMAG0127.jpg'/><title type='text'>Hidup tanpa keinginan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/STj2D76mwdI/AAAAAAAAABU/OcJKT4rqH6s/s1600-h/IMAG0126.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 261px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/STj2D76mwdI/AAAAAAAAABU/OcJKT4rqH6s/s200/IMAG0126.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276237510948078034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telpon di rumahku malam itu berdering, lalu kuangkat.  Di ujung sana temanku menyapa slamat malam, dan kamipun terlibat dalam pembicaraan pembuka.  Aku tahu bahwa bila selarut itu dia telpon, pasti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan.  Akupun menunggu dengan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, dia mulai menyatakan keperluannya sehingga malam itu dia menelpon.  Suaranya terdengar lebih serius dibanding dengan dialog pembuka tadi.  “Mas, apakah mungkin seseorang hidup tanpa mempunyai keinginan?”  Selalu ada pertanyaan sulit seperti ini yang dia lemparkan kepadaku.  Namun aku tahu, bahwa sewaktu pertanyaan seperti itu muncul, dia pasti berada dalam kebimbangan, dan memerlukan seorang teman untuk mendengarkan pengalamannya, ataupun seseorang yang dapat ikut memastikan bahwa apa yang dijalaninya merupakan jalan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenalnya sudah cukup lama, dan dari dialog-dialog denganku selama ini, dia sudah memahami bahwa keinginan senantiasa mempunyai sisi lain yang berupa kekecewaan.  Seperti penjelasannya kepadaku malam itu, kekecewaan yang dia baru alami sangatlah menyakitkan hatinya.  Diapun tahu bahwa dalam kehidupan ini ada tiga hal yang seringkali menjadi racun yang menyakitkan: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.  Keinginan merupakan bentuk lebih lunak dari keserakahan, namun begitu, keinginan mempunyai potensi yang cukup besar untuk mendatangkan kekecewaan yang sungguh pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar kata-katanya dengan pelan, “Itu yang baru terjadi denganku, mas.  Aku merasakan sakit hati yang cukup dalam karena keinginanku tidak terpenuhi …” lalu lanjutnya, “apakah hidupku ini harus steril dari keinginan, biar aku tidak mengalami lagi kepedihan-kepedihan yang cukup banyak menyita energy dalam hidup ini?”&lt;br /&gt;Dia terus melanjutkan bicaranya tetap dengan suara pelan dan teratur, “Tapi mas, aku juga heran bahwa aku bisa recover dengan cepat, hanya beberapa jam kemudian, kepedihan itu sudah banyak melemah intensitasnya.  Dan sekarang sambil aku bicara dengan mas, aku rasakan kepedihan itu sudah berlalu.  Kenapa bisa begitu ya mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus mendengarkan dengan seksama semua ceritanya yang menarik itu.  Aku tidak tahu apa yang menjadi akar permasalahnya, bentuk keinginannya.  Dia tidak bermaksud mengungkap hal itu dalam pembicaraan kami, sehingga akupun tidak ingin mengetahuinya lebih jauh.  Aku menghormati sikapnya.  Namun aku juga memahami bahwa apapun bentuknya, penyebab penderitaannya masih masuk dalam kategori: keinginan, sebuah bentuk yang lebih lunak yang merupakan bagian dari keserakahan.  Dan hal ini merupakan sisi dari sebuah mata uang yang sama dengan kekecewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kukatakan kepadanya:” Aku rasa keinginan merupakan sebuah pikiran yang manusiawi.  Semua manusia mempunyai pikiran itu, disadari ataupun tidak disadari.”  Dia masih terdiam, lalu kulanjutkan, “Pikiran demikian bisa berbeda tingkat intensitasnya, tergantung apakah kita memberi sedikit energy, atau memberi banyak energy sehingga seringkali menjadi tidak proposional.”  Pikiran seseorang yang terkadang berupa keinginan senantiasa ada, dan itu tidak ada kaitannya apakah hal itu baik atau apakah hal itu buruk.  Dia hanya ada dalam kesadaran kita.  Tergantung kepada kemampuan kitalah untuk memahami keberadaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengiyakan semua yang aku katakan tadi.  Aku lalu melanjutkan penjelasanku, “ … Seringkali sebuah pikiran muncul dengan begitu saja, dan bagaimana sebuah pikiran muncul, masih banyak merupakan misteri.  Keinginan adalah salah satu bentuk pikiran, seringkali muncul ke permukaan dengan begitu saja, dan seringkali pula kita tidak bisa membendung munculnya pikiran-pikiran tersebut.  Artinya, sepemahamanku, hampir mustahil dalam sebuah kehidupan, seseorang steril dari keinginan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gumamnya, aku kira dia memahami apa yang kumaksudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting barangkali adalah sejauh mana kita menyadari keberadaan sebuah keinginan dalam pikiran kita, dan juga memahami bahwa keinginan tersebut berpotensi untuk menimbulkan kekecewaan.  Juga kesadaran tentang sifat pikiran-pikiran kita.  Mereka timbul dan tenggelam, muncul dan kemudian pergi, ada dan kemudian tidak ada.  Bagai gelembung busa sabun yang sewaktu muncul berkilau menarik, lalu meletus hilang dengan sendirinya.”  Kesadaran seperti inilah yang perlu kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa artinya, mas? Apakah kita biarkan keinginan itu ada dalam pikiran karena pada waktunya dia akan hilang dengan sendirinya?”.  Aku lalu coba menjelaskan apa yang kuketahui, bahwa ada dua kutub ekstrim: ada keinginan di kutub satunya, dan ada penolakan di kutub yang lain.  Namun seseorang tidak perlu hidup terpaku pada kutub-kutub ekstrim tersebut.  Dia bisa hidup dengan lebih dewasa, karena dengan penuh kesadaran, dia bisa menari diantara dua kutub tersebut.  Itulah tarian kehidupan kita.  Dengan penuh kesadaran berarti mampu dengan jernih memahami bahwa: keinginan merupakan bagian dari kehidupan ini; keinginan mempunyai sisi lain yang disebut kekecewaan; dan sebagai bagian dari pikiran, keinginan mempunyai sifat seperti sebuah pikiran, keberadaannya tidaklah kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan pengalaman-pengalaman hiduplah maka seseorang dapat mempertajam kesadaran tentang pikiran sendiri.  Hanya dengan mengalami kekecewaan-lah maka seseorang mampu melihat sisi lain dari sebuah keinginan.  Hanya dengan mengalami penderitaan maka seseorang dapat melihat sumber yang mengakibatkan deritanya.   Tarian hidup dapat kita bawakan dengan lebih piawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rasa kau dapat dengan segera recover dari penderitaan, karena kau terlatih untuk melepaskan pikiranmu, terlatih untuk tidak terikat dan menggenggam keinginanmu, juga terlatih untuk tidak terkungkung pada kekecewaan dan derita akibat dari keinginanmu.  Semakin cepat engkau kembali pulih dari deritamu, semakin mudah bagimu untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiranmu dan kembali kepada kesadaran yang lebih dalam.  Kesadaran yang tidak lagi mudah terombang-ambing dalam dualisme fenomena dalam hidup ini: senang-susah, sehat-sakit, terkenal-terkucil, bahkan hidup-mati ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah cukup larut ketika kami saling menyampaikan salam perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agus Widianto&lt;br /&gt;Desember 2008&lt;br /&gt;sedang merenungkan sebuah keinginan yang muncul dengan kuat&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-4513999163779521083?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/4513999163779521083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=4513999163779521083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4513999163779521083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/4513999163779521083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/12/hidup-tanpa-keinginan.html' title='Hidup tanpa keinginan?'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/STj2D76mwdI/AAAAAAAAABU/OcJKT4rqH6s/s72-c/IMAG0126.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-5794737909285745969</id><published>2008-11-30T10:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T20:34:28.600-08:00</updated><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>Mencintai seseorang merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa dalam keping sejarah hidup manusia.  Dinamika energi yang terjadi pada saat tersebut merupakan peristiwa yang menggores ingatan dengan kejam, sehingga luka itu tidak mudah tersembuhkan.  Apalagi ketika dalam mencintai, tidak terjadi seperti yang diharapkan, sebuah akhir yang membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sebuah akhir yang membahagiakan?  Adakah harapan yang selalu terpenuhi dalam hidup ini?  Adakah sebuah ikatan cinta yang selalu memberikan kebahagiaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu ingatanku melayang kembali kepada percakapan singkatku, meski dalam catatan telponku aku bercakap sekitar duapuluh menit, dengan seseorang yang dulu amat kucintai.  Kisahku tidak seindah roman dalam novel cinta.  Perpisahan dengannya terjadi dan masing-masing telah menjalani sisa hidup dalam jalan yang berbeda.  Namun terkadang ingatan itu mengintip dan berbayang dalam bentuk samar, seolah menunggu adanya sebuah kesempatan yang membukakan pintu untuk maujud dalam pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan itu adalah pintu yang terbuka.  Kisah yang dulu kembali maujud dalam bentuk ingatan.  Luka akibat goresan itu seolah berdarah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah akhir yang membahagiakan?  Bisakah luka itu tertutup selamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku renungkan dalam-dalam peristiwa percakapanku dengannya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku renungkan kembali, maka semakin banyak membantuku menyembuhkan goresan luka yang selama ini ternyata tidak sembuh benar.  "Cinta tidak harus memiliki", merupakan kata-kata klise yang sering digunakan untuk mengampuni sebuah kegagalan hubungan yang terikat dalam energi saling membutuhkan.  Bagiku, kata-kata itu bisa dipahami lebih dalam ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai dan memiliki bukan kata yang sama.  Sebetulnya aku lebih senang menggunakan kata "bersama" daripada "memiliki".  Sesungguh-sungguhnya tidak ada yang dapat kita miliki di dunia ini.  Apapun itu.  Kata "bersama" lebih lunak dan itu yang dapat dilakukan, kebersamaan secara fisik, dalam dunia materi.  Aku bisa mencintai tanpa harus bersama, dan akupun bisa bersama tanpa harus mencintai.  Dalam cintaku kepadanya, kesadaranku muncul bahwa "tidak bersama" bukan lagi dalam nafas apologetik.  Bagiku, mencintai tanpa harus mengungkung yang dicintai, merupakan bentuk kasih yang sesungguhnya, karena tidak ada harapan yang timbul dari mencintai dia, tidak ada lagi kehendak apapun dari mencintainya.  Yang ada adalah mengasihinya.  Kasih yang membiarkan orang yang dikasihi hidup dalam kehidupannya, berkembang sesuai dengan jalan hidupnya, termasuk berkeluarga dan mencintai orang lain pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sekarang seperti ini yang aku rasakan.  Kasihku kepadanya akan tetap ada, sebuah rasa yang seringkali memberikan warna tersendiri dalam hidupku.  Namun keinginanku untuk bersamanya telah kulepaskan samasekali ... kubiarkan batinku bebas dari sebentuk derita yang diam-diam tetap berada dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihku, hidup dan bertumbuhlah seperti yang engkau inginkan.  Nafasmu adalah nafasku, ... kebahagiaanmu adalah juga kebahagiaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Jakarta, 1 Desember 2008&lt;br /&gt;Untuk kekasihku &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-5794737909285745969?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/5794737909285745969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=5794737909285745969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5794737909285745969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/5794737909285745969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/11/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8210512617336836493</id><published>2008-11-30T10:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T10:44:49.036-08:00</updated><title type='text'>Aku tidak imun</title><content type='html'>Ada seorang teman yang sudah beberapa tahun ikut kelas meditasiku.  Dalam perjalanan hidupnya aku menganggap dia berhasil mengalami transformasi yang luar biasa, karena pemahaman tentang kehidupan yang makin matang dan dalam telah didapatnya.  Ketenangan dan kedamaian hidup dicapainya, dan sering dikatakannya bahwa jiwanya telah menjadi lebih bebas ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin ayahnya meninggal.  Selama ayahnya sakit cukup lama, dia merasa heran karena dirinya satu-satunya dalam keluarga yang jarang menangis, merasa tegar, meski tetap merasa dekat dengan ayahnya.  Setiap ada kesempatan, dia dampingi ayahnya dan diusahakan mengajak ngobrol meski semakin lama ayahnya semakin diam, dan seringkali banyak tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melayat ke rumahnya, dia cerita banyak tentang bagaimana dia mendampingi ayahnya dan menyaksikan proses kematiannya.  Ketika sukma ayahnya akan lepas, dia meledak, hatinya berkeping-keping ... Dia lalu berkata kepadaku:" ... ternyata saya tidak imun, mas ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cepat menjawab:" ... tidak ada yang imun ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedalaman spiritual seseorang tidak menjadikannya imun akan peristiwa-peristiwa yang dihadapinya.  Pencerahan yang terjadi sebenarnya membuat seseorang lebih dapat menjaga kedamaian batinnya yang terdalam, sebuah inner peace.  Peristiwa sehari-hari yang berada dalam tataran fenomena bagai riak-riak samudra yang turun naik, besar kecil, ada siklus timbul tenggelam ... dan itu akan dialami oleh siapapun.  Namun bila pencerahan telah didapatkan oleh seseorang, maka dia berada dalam kedalaman samudra.  Berada dalam sebuah ketenangan yang luar biasa.  Gejolak ombak masih ada, namun tidak terlalu lama mengguncangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudra itu akan kembali tenang, hening dan tetap menyimpan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku, aku ikut dalam dukamu, semoga kematian menjadi guru terbaik untuk kita semua agar dapat menghargai dan mensyukuri kehidupan.  Banyak yang dapat kita lakukan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Jakarta, 30 November 2008, tengah malam&lt;br /&gt;Catatan buat sahabatku yang sedang berduka&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8210512617336836493?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8210512617336836493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8210512617336836493' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8210512617336836493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8210512617336836493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/11/aku-tidak-imun.html' title='Aku tidak imun'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-2153700862889150808</id><published>2008-11-27T02:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T03:06:31.701-08:00</updated><title type='text'>Hari yang istimewa</title><content type='html'>Pagi ini ada sebuah lokakarya di sebuah hotel berbintang lima yang aku ikuti.  Tiba-tiba ada sms masuk "maaf baru membalas. boleh tau ini siapa?" hatiku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelumnya tanpa direncanakan aku berhasil mendapatkan nomor HP seorang teman lamaku, seseorang yang dulu pernah kucintai, dan sampai sekarangpun masih ada sebagian hatiku yang ditempatinya.  Barulah hari ini ada kesempatan untuk mendapatkan balasan sms yang kukirimkan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang tidak berubah dalam hidup ini?  Pertanyaan itu lalu muncul ketika aku bercakap dengannya.  Sebuah percakapan yang bagiku seolah membalik semua putaran waktu kembali ke tigapuluh tahun lalu, ketika aku mencintainya.  Sebuah percakapan yang membongkar laci-laci ingatan dan mengaduk-aduk kembali semua isinya.  Aku sejenak berada pada sebuah kondisi yang tidak kusadari sepenuhnya, namun sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah berkeluarga, demikian pula halnya dengan diriku.  Peristiwa bersamanya-pun sudah jauh terjadi tigapuluh tahun lalu.  Namun aku menyadari bahwa sebuah rasa yang teramat dalam berada di relung batin, tidak dapat dengan mudah berubah, oleh waktu, oleh situasi, oleh stimuli.  Rasa yang ketika muncul kepermukaan sebagai sebuah kesadaran, memberikan kenyamanan meski sejenak.  Rasa yang seringkali dirindukan oleh hampir semua manusia.  Inikah yang mereka sebut sebagai cinta?  Energi yang terkungkung dalam sudut hati, yang sering kita genggam agar tidak lepas, karena memberikan rasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan energi itu mengalir dalam diriku, namun aku sadari bahwa aku harus tetap menjaga kesadaran batinku, agar kekuatan energi itu tidak menghanyutkanku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah usaha yang tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-2153700862889150808?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/2153700862889150808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=2153700862889150808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2153700862889150808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2153700862889150808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/11/hari-yang-istimewa.html' title='Hari yang istimewa'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-2435404062773988629</id><published>2008-10-15T01:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-01T00:46:27.750-08:00</updated><title type='text'>Personifikasi Kristus</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAgus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p style="font-family: arial;font-family:verdana;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada yang menarik dalam buku Eckhart Tolle, “The Power of Now”, yang dalam satu kalimat singkat dikatakan: “ … Never personalize Christ …”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jangan pernah mem-personifikasi-kan Kristus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kemudian dijelaskan bahwa mengidentifikasi para guru kehidupan seperti halnya Kristus menjadi sekedar sebuah sosok tubuh, dapat kehilangan makna ajarannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena mereka yang telah tercerahkan-pun sebetulnya adalah manusia biasa saja, tidak lebih istimewa dibandingkan dengan manusia lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka menjadi besar dan lebih dibandingkan dengan manusia lain karena ada ‘pemujaan’ yang dibuat oleh para pengikutnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut saya, pendapat ini bertentangan dengan konteks ajaran Kristen, karena ide trinitas menempatkan Kristus di atas manusia biasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun bisa juga pendapat ini dianggap memperkuat, karena ide trinitas adalah sebuah bentuk pemujaan terhadap Yesus oleh para pengikutnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agak berbeda dengan misalnya Buddha Gautama yang tidak mau dianggap sebagai super human, manusia adi kodrati, yang tidak sama dengan manusia lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gautama mengajarkan bahwa dia manusia biasa yang mendapat pengetahuan (pencerahan) tentang kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia juga mengakui tidak semua pengetahuan tentang kehidupan diketahuinya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua orang bisa mendapatkan pencerahan seperti dia, tidak terkecuali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meninggalnyapun bukan sebuah peristiwa adi kodrati, melainkan karena keracunan makanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:verdana;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lebih lanjut Tolle mengatakan, “ … Ketika anda tertarik oleh manusia yang telah tercerahkan, maka sebenarnya sudah ada pencerahan di dalam diri anda yang membuat anda mengenali pencerahan yang terjadi pada manusia lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya cahaya yang mengenali cahaya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegelapan tidak mengenal cahaya …”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan demikian bagi saya, pengenalan Kristus bukan terbatas pada sosok tubuhnya, melainkan cahaya yang dipancarkannya, baik melalui perilakunya dan terutama melalui perumpamaan (sabda atau firman) yang sering diceritakannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti diperkuat dalam Yohanes 1:1 bahwa “… Pada awal mula Sabda itu ada dan Sabda itu ada pada Allah ...”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bukan sebuah sosok tubuh, tapi “… Sabda itu telah menjadi daging … (Yoh 1:14)”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun selanjutnya Tolle juga lalu berkata, “ … janganlah percaya kepada hanya sebuah sosok kehidupan, karena kita akan kembali terjebak pada pemahaman bahwa cahaya berada di luar kita, atau cahaya hanya dapat menerangi dan mencapai diri kita melalui sebuah sosok saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cahaya itu sudah ada dalam diri kita, dan hanya dengannya-lah kita akan mampu menangkap cahaya yang dipancarkan manusia tercerahkan lainnya (seperti Kristus) ... ”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini sejalan dengan Yohanes yang berbicara tentang hidup adalah terang, dan terang sudah ada di dalam dunia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahkan hal ini juga pernah membuat kebingungan Petrus, seperti dalam Kisah Para Rasul 11:47 ketika dia dan kelompoknya mewartakan sabda Allah, disebutkan bahwa: “… Bolehkah kami mencegah orang-orang ini dibaptis dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:verdana;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bila kita mau masuk lebih dalam lagi untuk mengenali cahaya Kristus, maka pada akhirnya, kata-katapun tidak akan mampu menjelaskannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memegang erat kata demi kata secara harafiah (misalnya ayat demi ayat dalam sebuah kitab) hanya akan memenjarakan kita dalam keterbatasan pikiran manusia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Misalnya, kata “madu” bukanlah madu itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan hanya mengenali kata “madu”, kita belum mendapatkan esensi “madu” itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya dengan mencicipi madu-lah, maka kita mempunyai pengalaman untuk mengenali madu dengan jauh lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan setelah kita mencicipinya, maka kata “madu” menjadi tidak begitu penting.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan nama apapun dia akan tetap berupa madu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengalaman tercerahkan tidak dapat dibatasi hanya dengan kata-kata, dengan ayat-ayat, atau sebuah kitab.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti halnya kata “madu”, maka setelah mengalami pencerahan dalam batin kita, kata-kata, ayat-ayat, bahkan sebuah kitab, hanyalah menjadi tulisan, menjadi sebuah symbol yang menunjukkan kemana kita mengarah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka merupakan telunjuk yang menunjukkan bulan, tapi bukan bulan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:verdana;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cahaya Kristus (yang adalah cahaya kasih sebagai inti ajarannya) hanya dapat dikenali, dipahami dan menyatu dalam kehidupan ketika kita menerima kehadirannya, mempersatukan cahayanya dengan cahaya kasih kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Proses komuni (communion) dengan Kristus melalui penerimaan roti tanpa ragi di gereja mejadi sebuah simbolisasi belaka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika roti disebut sebagai ‘tubuh Kristus’, bukan tubuh Kristus yang menjadi satu tubuh dengan tubuh kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bukan juga semata personifikasi Kristus yang menyatu dengan diri kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun seluruh ajaran, semangat, dan cahaya Kristus yang tercerahkan yang menyatu dengan cahaya kita yang sudah ‘dilahirkan kembali’, yang (seharusnya juga) sudah tercerahkan, misalnya dalam tradisi Kristen melalui sakramen permandian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka yang boleh menerima roti tanpa ragi dalam komuni adalah mereka yang sudah tercerahkan melalui penerimaan sakramen permandian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:verdana;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali pada personifikasi Kristus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Barangkali menjadi lebih penting bahwa Kristus lebih dimaknai sebagai cahaya pencerahan yang penuh dengan energi kasih, energi Allah semesta yang berada pada sosok Yesus dari Nazareth. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Komuni dengannya memerlukan keterbukaan dan penyamaan energi melalui pembangkitan kasih yang sudah ada dalam diri kita masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua bisa dilakukan dan dialami melalui keheningan, melalui pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan semesta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;font-family:courier new;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Salam,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:courier new;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agus Widianto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt; pertengahan Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-2435404062773988629?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/2435404062773988629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=2435404062773988629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2435404062773988629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/2435404062773988629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/10/personifikasi-kristus.html' title='Personifikasi Kristus'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-8711175239071362809</id><published>2008-07-14T03:26:00.001-07:00</published><updated>2008-07-14T03:45:41.680-07:00</updated><title type='text'>SMS Bagus</title><content type='html'>...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjerit kecil.  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kulihat papi yang duduk di depan bersama sopir menengok ke arahku dengan pandangan bertanya, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku merasakan kepalaku berdenyut, dan pandanganku mulai nanar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SMS itu kubaca sekali lagi, dan kembali kurasakan sebuah tusukan tajam di ulu hatiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sesampai di rumah, papi baru berani menanyakan apa yang terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sebenarnya malas menjawab, tapi karena dia mendesak akhirnya kuceritakan sms yang dikirim Bagus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya sore itu aku merencanakan ketemu dengan Bagus untuk yang pertama kali, setelah dua rencana pertemuan sebelumnya batal karena acaraku dengan papi yang selalu sibuk dengan teman-temannya, dan aku selalu diminta papi untuk mendampinginya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Permintaannya selalu tidak dapat kutolak, karena dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini, sejak berpulangnya mami tiga tahun lalu dan kematian suamiku awal tahun ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Papi sebagai seorang petinggi sebuah angkatan, selalu sibuk dengan jejaringnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Bagus pasti merasa sudah ketiga kalinya ini dikecewakan, dan menurutku, karena hal itulah dengan seenaknya dia memutuskan untuk tidak mau ketemu denganku lagi karena dia sudah cukup dikecewakan dan dipermalukan, “ … seperti orang tolol yang duduk di café tanpa tahu apa yang harus diperbuat …”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tahu siang ini dia sengaja datang langsung dari luar kota ke tempat kami berencana mau bertemu, di bilangan Setiabudi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Belakangan kutahu hampir dua jam lebih dia berusaha sampai ke Setiabudhi agar tepat waktu, tapi harus kukecewakan lagi karena aku mendadak ada pertemuan kantor yang harus aku hadiri, dan setelah itu papi minta diantar ke bandara karena harus berangkat ke Australia bersama teman-temannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku juga tahu kalau Bagus menunggu kata kepastianku selama dua jam di tempat janjian kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi seperti permintaan papi yang lalu-lalu, aku tidak bisa menolak untuk mengantarnya ke bandara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tahu, Bagus pasti sangat kecewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kepalaku tambah pening memikirkan sms yang sungguh mengecewakanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di rumah, papi berkata sesuatu tentang komunikasiku dan hubunganku dengan Bagus meski aku tidak begitu paham apa maksudnya, namun itu malah semakin memicu kemarahanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku marah kepada Bagus yang tidak mau mengetahui keadaanku yang sangat tergantung kepada papi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku marah kepada papi yang selalu menuntut aku menuruti kemauan dan jadwal sibuknya, dan hampir selalu merusak acara pribadiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku marah kepada diriku sendiri karena sejak kematian suamiku enam bulan lalu, aku tidak berdaya dan semakin larut tenggelam ke dalam sebuah palung kesepian yang mencekam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku marah kepada suamiku yang mendadak meninggalkanku, di pagi itu setelah dia mengeluh sakit di dadanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepergiannya yang begitu tiba-tiba membuatku linglung kehilangan pijakan untuk berdiri, dan pegangan untuk berjalan menapaki hidup, aku kehilangan separuh jiwaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak mampu menghindari cekaman kesepian yang menggigit batinku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kehadiran Bagus dalam hidupku, meski baru bertukar sms dan saling telepon yang cukup intensif, telah memberikan secercah cahaya yang menerangi kegelapan batinku dan memberikan kehangatan dalam kebekuan palung hatiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku seperti menemukan sebuah sandaran yang membantuku untuk merambat berdiri kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku marah kepada diriku sendiri karena tidak berdaya masuk kedalam energi Bagus yang menyejukkan meski ada ketakutan bahwa ini adalah sebuah jebakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akupun juga marah kepada ketakutanku sekaligus ketidakberdayaanku untuk menerima kenyataan bahwa Bagus sudah beristri dan beranak tiga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kemarahan yang terpicu oleh sebuah keadaan, dan pada saat itu menjadi sebuah energi besar dan menguasai seluruh sistem dalam badan dan pikiranku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku merasakan sebuah kekuatan besar untuk menghancurkan simbol-simbol yang mewakili energi yang menekan hidupku selama ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku mulai melempar semua foto-fotoku dan almarhum suamiku yang terpajang di dinding kamarku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku datangi akuarium papi, dan dengan sekali pukul menggunakan bangku kecil di ruang tamu itu, akuarium itu hancur berantakan, dan ikan arwana kesayangan papi menggelepar meregang nyawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tiket pesawat papi ke Australia yang tadi kubelikan, dengan sekali renggut kusobek.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin papi tahu bahwa salah satu sebab aku menerima sms Bagus yang menghancurkan tadi adalah perintahnya untuk mengantarkannya ke bandara sore ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin semua tahu keadaanku, aku ingin mereka memahami kepedihanku, kesepianku, ketidakberdayaanku, dan kehancuran batinku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin semua mengerti keterpurukanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Aku berlari masuk kembali ke kamarku di lantai dua dekat kolam renang, dan sambil menyeka air mataku yang terus membanjir, kuambil beberapa baju dan baju dalamku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu bergegas turun, keluar melewati papi yang terpaku berdiri di dekat pintu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulirik papi yang kulewati, dan sejenak sempat kutangkap cahaya lemah yang berasal dari pantulan setitik air mata di sudut bawah matanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi hatiku begitu sakit untuk menyadari semua itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak tahu harus kemana, saat itu yang penting aku ingin lari dari sebuah kepengapan kungkungan jiwa, sebuah penjara yang sungguh sangat mewah secara materi namun tidak memberikan kebebasan jiwa, sebuah tekanan terhadap pikiranku karena semua orang tidak dapat memahami apa yang aku inginkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam itu rasanya rumah papi yang mewah ibarat sebuah akuarium emas namun tidak pernah diganti airnya, dan aku bagai ikan yang megap-megap mencari kesegaran oksigen dari udara di luar akuarium mewah itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin keluar dari jaring papi yang mengungkungku bagai seorang anak buahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku berteriak kepada pembantuku untuk mengambilkan kunci salah satu mobil yang diparkir di deretan paling luar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Aku mampir ke sebuah hotel mewah dekat rumah untuk mendapatkan sebotol minuman yang kuharapkan dapat membantu melupakan kepedihan hatiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak pernah minum sebelumnya, tapi entah pikiran dari mana, malam itu aku ingin melakukannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan sekali teguk isi botol kecil itu mengalir menghangati kerongkongan dan perutku, semua kulakukan tanpa ragu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sambil kupacu mobilku masuk jalan tol, kurasakan kehangatan mengalir dalam darahku dan memberi rasa ringan yang membantuku mendapatkan sedikit udara kebebasan yang kuinginkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasa ringan itu semakin intens.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jalan tol di gelap malam itu terlihat begitu sempit mengerucut di depan sana, aku tidak tahu ada di jalur mana, tapi rasanya mobil-mobil di kiri kanan terlihat jauh lebih kecil dan berlalu lalang seperti mainan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lampu-lampu jalan tol seolah berkedip ketika kulewati satu demi satu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama perjalanan, beberapa kali kudengar suara keras karena rasanya mobilku menghantam pembatas jalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya aku bisa sampai ke rumah temanku, Kiki, di bilangan Kelapa Gading.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia temanku yang kuanggap paling memahami karakterku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia pernah mendapatiku dalam keadaan sedih pada saat kematian suamiku, namun aku yakin dia pasti tahu bahwa yang kali ini jauh lebih parah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku dipapahnya ke tempat tidur kamarnya, rambutku yang basah kuyup karena kusiram air di jalan tadi agar tetap sadar, dilapnya dengan handuk kering, dan dibiarkannya aku berbaring menenangkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Baru beberapa saat, kudengar HPku bergetar, ada sms masuk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat di layar, dari Bagus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘apa kabar?’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah pertanyaan bodoh yang amat sangat tidak tepat waktu dalam kondisi yang sedang kualami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah pertanyaan yang tidak tahu diri, yang seolah tidak bersalah sehabis menghancurkan hati seseorang sepertiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tercenung, namun pelan-pelan timbul keinginan yang tak dapat kubendung untuk menjawab pertanyaan konyol tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘abang sama sekali tidak mempunyai perasaan, dengan mengirim sms seperti tadi. Aku sdh hancur skrg,’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘kenapa? Bukankah kau tdk mau lg bertemu dgku?’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘abang sdh mnghancurkan aku, saaakkiiit’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘aku minta maaf, bukan itu maksudku. Tapi sdh ketiga kali ini aku kau kecewakan. Makanya aku bilang ya sudah mgkn tidak perlu kita berhubungan lg, krn kau tdk pernah memberiku wkt utk ketemu’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘aku kan sdh bilang, aku mendadak hrs ikut rapat dan papi minta diantar ke bandara setelah itu, dan kubilang abang pulang saja istirahat dulu’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘ya sdh, kan. Terus turutilah papimu itu. Aku hanya minta wkt satu jam saja tidak kau beri, aku sdh tunggu dua jam dan seperti org tolol duduk sendirian di café itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seenaknya kau batalkan janjimu sendiri, dan coba ingat, kau sama sekali tdk minta maaf kpdku.’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sms demi sms secara intens membentuk dialog yang terus mengalir lewat udara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alat kecil yang disebut telpon selular ini begitu canggih dan mampu menghancurkan hati seseorang sepertiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa wajah, tanpa emosi dan tanpa hati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Serasa aku ingin membanting alat keparat itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi sekarang ini, alat itulah yang menghubungkan aku dengan Bagus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah alat yang kubenci namun sangat kubutuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘kau menang bang … kau berhasil menghancurkan hidupku’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘aku tidak tahu maksudmu, dan aku tidak merasa memenangkan apapun’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;‘hub aku’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Aku dengar telponku bergetar, pasti Bagus sudah ada di ujung sana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanya kuasa untuk mengangkat alat kecil itu dan menempelkannya di telingaku sambil berbaring.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak ada kata keluar dari mulutku, hanya suara tangisku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sana Baguspun juga tidak berkata apapun, aku yakin dia sedang mendengarkanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada sekitar setengah jam kutumpahkan kepedihanku melalui isak tangisku, terkadang dengan keluhanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagus tidak berkata sepatahpun, tapi aku yakin dia mendengarkan dengan seksama, karena sebentar kemudian dia berbisik halus: “… sudahlah, beristirahatlah … “&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Aku merasakan sebuah kehangatan yang pelan tapi pasti mengalir dari telapak kakiku, ke atas keseluruh tubuhku dan wajahku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasa yang nyaman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pelan-pelan aku berbisik: “ … semua orang tidak peduli denganku, abangpun ternyata juga tidak peduli denganku … mereka tidak tahu apa yang aku inginkan” isak tangisku makin menjadi sejalan dengan makin kosongnya batinku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya aku berbaring di atas sebuah lubang besar yang hampa dan siap menelanku dan melumatku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Itulah yang bikin kau menderita”, kudengar Bagus berkata dengan hangat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Selama kau pusatkan semua kepada dirimu, kepada keinginanmu, maka di situlah awal dari penderitaanmu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pernahkah kau coba untuk memikirkan orang lain? Pernahkah kau memikirkan perasaan papi? Pernahkah kau bahkan memikirkan kekecewaanku?” Kepalaku yang terasa berat tidak mampu mencerna kata-katanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku memang menderita, dan derita itu nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku juga tahu kalau semua orang tidak tahu apa yang kuinginkan, dan itu juga nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi aku tidak paham apa yang Bagus katakan tentang penyebab penderitaanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikiranku semakin keruh, mataku berat, dan yang kuinginkan hanya tidur untuk melupakan semua yang baru saja kualami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“… bang, aku ingin tidur,” bisikku, masih ditengah isak tangisku yang semakin melemah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kembali kudengar kata-kata lembutnya, “ … ya sudah, tidurlah …”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu dengan susah payah kutekan tombol bergambar telpon merah itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan kesadaranku hilang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kurasakan goyangan dikakiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan setengah membuka mata, samar-samar kulihat Kiki duduk di tepi tempat tidurku, sambil tersenyum dia bilang bahwa papi sudah menunggu di bawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku yakin papi dengan mudah dapat menemukanku meski aku tidak pernah bilang kemana aku akan pergi, terutama setelah kejadian malam tadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemarahanku kepada papi masih menyisakan rasa pedih di dalam dadaku, seperti sebuah bekas sayatan pisau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku diam tak bergerak sambil tetap berbaring.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepalaku masih berdenyut meski tidak seintens semalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pandanganku masih agak kabur, namun sudah bisa menangkap senyuman tipis di bibir Kiki yang kelihatan sudah disaput lipstik merah muda warna kesukaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kurasakan kelembutan kehangatan sinar matahari yang menyeruak lewat jendela.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Setelah sekitar sepuluh menit aku berbaring diam, pelan-pelan kutegakkan badanku, lalu kubersihkan wajahku di kamar mandi. Dengan pakaian seadanya aku turun untuk menemui papi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu melihatku, papi menundukkan kepalanya dan kulihat beberapa kali menyeka matanya dengan punggung telapak tangannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jarang aku lihat papi menangis, dan pemandangan seperti itu membuatku ikut meneteskan air mataku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pelan-pelan kuhampiri papi, dan kami berpelukan sambil melepas kepedihan masing-masing.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejak mami meninggalkan kami tiga tahun lalu, papi merasa bahwa dia harus menjalankan tugas sebagai mami juga, dan barangkali karena itu, disamping juga karena kematian suamiku, papi menjadi semakin protektif.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Aku merasa papi ingin melindungiku, namun entah dari apa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali karena kejandaanku yang orang selalu bilang sebagai sebuah status yang rawan terhadap godaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku seorang janda yang menurut ukuran orang sangat diminati, selain wajahku yang tidak jelek, juga kekayaan materi yang kupunyai dan pangkatku yang cukup terpandang di sebuah instansi pemerintah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali karena alasan itu pula papi, tanpa disadarinya, telah menyimpanku dalam sebuah sangkar emas, yang sekarang semakin kurasakan sebagai sebuah jerat di leherku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Papi membawaku ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dokter yang nampak baik itu hanya mengatakan bahwa aku habis mabuk, sambil memberi secarik resep.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akupun lalu dibawa pulang kembali ke rumah papi, kembali ke sangkar emasku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terkadang aku merasa rindu untuk kembali ke sangkar ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di situ aku menemukan sebuah rasa aman, sebuah pegangan yang sangat aku butuhkan, sebuah penopang dalam menjalankan hidup, ada seseorang yang peduli terhadapku meski dengan caranya sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sangkar itu meski membelenggu namun seolah membentengiku dari gangguan luar, gangguan sebuah kota besar seperti Jakarta, gangguan yang potensial muncul kepada seorang janda sepertiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemewahan sangkar itu sering membuaiku sehingga aku merasa seperti seorang puteri yang disanjung oleh siapapun yang kenal papi, dituruti semua kemauanku, dan dipenuhi semua kebutuhan materiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Namun ternyata gelembung ruang kosong dalam batinku semakin nyata kurasakan, apalagi ketika sms Bagus seolah membangunkanku dari keterlenaanku dalam sangkar emas tadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sms yang langsung menusuk ke dalam jantungku, langsung membunyikan dentang kepedihan dalam ruang batinku yang kerontang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang membangunkan tidur lelap kesadaranku, sekaligus meruntuhkan semua benteng yang kubangun untuk menutupi kekosongan kamar jiwaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kini aku sudah merasa telanjang, rapuh, haus dan pasrah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apalagi yang bisa aku pertahankan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sms itu telah memberikan sebuah kesadaran yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, sms itu menghancurkan namun juga merubah hidupku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kerapuhan batinku menjadi jelas terlihat sebagai sebuah bentuk yang menyerupaiku setiap kali aku bercermin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat di cermin, mataku dengan jelas bercerita tentang kekosongan jiwaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat juga di cermin seluruh sisa-sisa bara yang panas menghauskan tersebar di sekujur tubuhku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun ada sesuatu yang lain yang juga ikut muncul dalam cermin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah semburat cahaya lemah disekitar tubuhku yang menyelimutiku dan memberi kesejukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kesejukan yang seolah pelan tapi pasti menyiramku dengan percikan air kesegaran di kerontang lembah jiwaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali ini merupakan pantulan kesadaran baruku yang sedikit demi sedikit menyegarkan kehausanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kepasrahanku merupakan titik nadir dalam perjuanganku dan harapanku untuk mendapatkan cinta seseorang yang mustahil kudapatkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepasrahan yang membenturkan kepalaku ke lantai dengan keras dan menyadarkanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasa pasrah yang timbul setelah semua ledakan kemarahanku-pun tidak mampu membantu merubah dunia di sekitarku untuk menuruti kemauanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Titik nadir tadi lalu memberikan daya lenting untuk bangkit kembali dengan kesegaran baru, dengan pemahaman baru tentang kehidupan yang secara intensif Bagus tuntunkan kepadaku terutama sewaktu melewati masa kritis malam itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perubahan dunia luar yang kutuntut, ternyata tidak terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun perubahan diriku, pelan dan pasti, sudah terjadi setelah melewati titik nadir hidupku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan perubahan dalam diriku itu pelan tapi pasti, ternyata ikut merubah pandanganku terhadap papi, terhadap Kiki, Bagus, dan dunia di luar diriku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali inikah yang disebut Bagus untuk mulai mengarahkan perhatianku kepada orang lain, dan bukan hanya kepada diriku sendiri, kepada keinginanku, kepada kemarahanku, kepada kekecewaanku dan penderitaanku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Aku tercenung, perlukah aku berterimakasih kepada Bagus yang pernah menghancurkanku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:8;" &gt;Jakarta, Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581397536674799472-8711175239071362809?l=aguswidianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aguswidianto.blogspot.com/feeds/8711175239071362809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581397536674799472&amp;postID=8711175239071362809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8711175239071362809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581397536674799472/posts/default/8711175239071362809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aguswidianto.blogspot.com/2008/07/sms-bagus.html' title='SMS Bagus'/><author><name>Agus Widianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02891895496265033165</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_Yi7BULFAGeY/S4phoIB9Q-I/AAAAAAAAACk/eIHeQuugwuY/S220/IMG_0025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581397536674799472.post-7491372480270385120</id><published>2008-05-29T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T01:32:59.886-07:00</updated><title type='text'>Tuhan itu Energi?</title><content type='html'>Sore itu kami janjian ketemu di sebuah warung kopi di bilangan Pancoran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku datang duluan, dan baru sekitar limabelas menit kemudian kulihat dia masuk warung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia minta maaf karena harus sholat dulu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami lalu pindah dari tempat dudukku, dan memilih sofa yang lebih enak untuk ngobrol.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kupesan kopi moka dingin kegemaranku, dan dia memesan teh rasa strawberry, yang selalu terdengar aneh buatku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Warung kopi ini selalu ramai, meski harga segelas minuman di sini bisa membuat dahi berkerut bagi kebanyakan orang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun entah mengapa selalu ada keinginan untuk kembali ke warung ini, barangkali ini yang disebut sebagai kecanduan terhadap kafein.  Atau barangkali orang kembali karena ingin ikut menikmati imaji yang disandang oleh warung kopi mahal ini.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seperti biasa, perempuan yang duduk di depanku ini kelihatan menarik, matanya selalu hidup memancarkan kecerdasan pikirnya dan sebuah sikap yang penuh rasa percaya diri yang besar, sampai terkadang menjadi terasa agak merendahkan kawan bicaranya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sore itu bibirnya yang tipis kelihatan agak basah, barangkali menggunakan lip-gloss agak berlebih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami mengobrol sana sini tentang teman-teman lain, dan selalu ada kenyamanan ketika menertawakan teman-teman lainnya, entah karena kelucuan ataupun keanehan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang terkadang keanehan sama dan sebangun dengan kelucuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kemudian mendadak, ada sedikit jeda dalam obrolan kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu dengan suara yang sedikit direndahkan, seolah khawatir orang lain ikut mendengar, dia bertanya: ”Mas, apakah betul pendapat bahwa Tuhan itu sebuah energi?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanya terdiam ketika melihatnya menatapku lekat dengan wajah menunggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa bermaksud berpretensi, aku sejenak sempat bertanya dalam hati, apakah dia bertanya atau mengajukan sebuah pendapat dan menginginkan aku menyetujui pendapatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah beberapa lama, aku kembali bertanya kepadanya, apa yang dia ketahui tentang energi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Yah, energi, … sebuah kekuatan yang maha dahsyat sehingga dia mempunyai kekuasaan tak terhingga atas kita manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makanya kita harus tunduk dan pasrah pada kehendaknya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku masih terdiam mendengarkan penjelasannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kembali sepintas rasa itu ada, bahwa dia mempunyai sebuah konsep tentang Tuhan, dan pertanyaannya kepadaku adalah untuk membenarkan dan memperkuat pandangannya tentang konsep itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perasaanku itu membuatku menjadi berhati-hati dalam mencoba menjawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku lalu bercerita tentang hal yang kuketahui tentang energi semesta, yang kadang disebut rei-ki, prana, dan Brahman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan kemudian juga kuceritakan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini yang pada dasarnya adalah energi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan dalam teori sub-atomik atau yang disebut Super String Theory, elemen paling dasar dari semua materi terdiri dari dawai sepanjang satuan Plank yang senantiasa bergetar, dan getaran itulah energi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika semua elemen dalam hidup ini adalah energi, maka kehidupan ini hanya terdiri dari energi, tidak ada yang lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baju inipun energi yang termanifestasi dalam bentuk sebuah baju.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meja, air kopi, tubuh manusia, kertas tisu, semuanya adalah energi yang berbeda-beda manifestasinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat dia mendengarkan dengan seksama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Jadi betul kan mas bahwa Tuhan itu energi, tapi yang jauh lebih besar dari semua energi di dunia ini.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah pernyataan yang ingin mendapat pembenaran dariku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku masih belum menanggapi pernyataan itu secara langsung, karena ada sesuatu yang masih memerlukan pemahaman lebih lanjut: pembedaan energi yang besar dan energi yang kecil, dan energi besar itu lalu disebut Tuhan dan yang kecil itu bukan Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada semacam dualisme yang terciptakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku lanjutkan ceritaku kepadanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bila kita memahami bahwa energi itu merupakan elemen dari semua yang ‘ada’ di dunia ini, maka sebenarnya tidak ada perbedaan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya manifestasi dari elemen itu yang tercerap oleh inderawi kita, dan itu yang membedakan satu dengan lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti tubuh kita, atau wajahmu yang cantik itu, kataku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seseorang mampu mengindera wajah itu karena kapasitas sensor penglihatan kita terbatas pada spektrum gelombang tertentu, sehingga manifestasi energi yang diobservasi tergantung dari kemampuan alat observasinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seekor elang yang mempunyai kemampuan observasi berbeda dari sensor inderawi kita, akan melihat wajah yang menurut kita cantik, berbeda pula.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seekor anjing akan melihat wajah kita juga berbeda, tidak sama dengan apa yang manusia cerap lewat mata kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan begitu, jika kita berbicara tentang realitas atau kenyataan dalam hidup ini, maka sebenarnya tidak ada realitas itu, karena semua menjadi relatif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sesuatu yang relatif, bukanlah sebuah realitas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun jika energi itu adalah elemen dasar dari semua eksistensi di dunia ini, maka barangkali energi itulah sebuah realitas karena dia tidaklah relatif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dia masih diam mendengarkan, dan masih dengan tatapan matanya yang berkilat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Nah, sekarang kembali kepada pertanyaanmu semula, apakah Tuhan itu energi?”, kataku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Jika ada kepercayaan dalam dirimu bahwa Tuhan itu energi, maka semua yang ada di dunia ini adalah Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan ada di mana-mana dan menjadi elemen dari setiap eksistensi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang tercerap oleh kita hanyalah manifestasi elemen-elemen tersebut, manifestasi Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan sendiri, atau elemen itu sendiri, tidak pernah mampu kita persepsikan dengan kemampuan sensorik kita.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu lanjutku, kitapun harus mengingat bahwa elemen sub-atomik itupun masih berupa teori,dan banyak orang mengatakan keberadaan alam sub-atomik itu merupakan fantasi para ilmuwan semata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Lalu apa hubungannya antara elemen dasar tadi dengan kekuasaan Tuhan yang demikian besar?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukankah kita harus tunduk pada kekuasaannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aneh, perasaan bahwa dia hanya mengemukakan pendapatnya dan aku diperlukan untuk memperkuat pendapatnya itu, muncul kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka dari itu, aku cuma tersenyum mendengar pertanyaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Barangkali karena ketidakmampuan kita untuk mencerap dan mencerna elemen dasar kehidupan yang bernama energi ini, namun kita mengetahui bahwa ada sebuah kekuatan yang menghidupi, yang menjadi elemen dari setiap fenomena dalam hidup ini, maka manusia menggambarkannya sebagai sebuah kekuatan besar, sosok Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam perjalanannya, sosok ini semakin sulit dipahami, namun tetap mempunyai kekuatan hidup yang besar, sehingga kita perlu berlutut menyembahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sembah, sebuah gerak yang sangat manusiawi ketika keberdayaan kita tidaklah mampu mengatasi keberdayaan sebuah kekuatan di luar diri kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barangkali inilah masalahnya, bahwa kita menganggap kekuatan itu berada di luar diri kita, bukan menyatu dalam hidup ini, bukan menjadi elemen dari apa yang kita sebut ‘diri’ ini, bukan menjadi elemen setiap sel dalam kehidupan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rencana yang semula hanya ngobrol setengah jam karena dia mempunyai kesibukan lain, tidak terasa menjadi hampir tiga jam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah kopi dan teh di gelas kami masing-masing seluruhnya pindah tempat ke perut kami, kamipun saling bersalaman untuk berpisah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kunikmati Gending2 Palaran Nyi Condrolukito dari kaset player VW kombiku, sambil pelan-pelan jalan kembali ke rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terdengar alunan suaranya yang bening dalam sekar dandhanggula, “ …. Roso kang satuhu, … rasaning rasa punika, upayanen, darapon sampurna, ugi ing kahuripan nira &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;…”&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rasaning rasa, sumber rasa, inti dari segala rasa dalam diri manusia merupakan suatu energi yang perlu ditemukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena hanya dengan menemukannya-lah maka sumber energi dalam diri bisa terpelihara untuk memberikan kebahagiaan hidup.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Energi semesta ada dimana-mana, bahkan dalam diri manusia ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Unsur-unsur yang ada dalam diri manusia adalah sama dengan elemen2 di dalam klehidupan sehari-hari, di dalam ruang di luar diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tubuh ini sering disebut sebagai jagat kecil, bagian dari jagat besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun dalam jagat kecil ini terdapat segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup dalam habitat yang terbentuk di luar namun memberikan daya dukung untuk kehidupan manusia itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="
