Siang itu WA-ku menyala, kubaca pesan dari teman baikku: Mas, ada temanku yang ingin ketemu. Hidupnya akhir-akhir ini menurutnya sudah berantakan. Bisa coba bantu dia?; Oke. Ketemu di bilangan Kuningan aja ya, biar aku dekat; Siip mas. Sore ini sambil ngopi.
Aku datang duluan, lalu bersama teman baikku makan malam sambil menunggu dia. Sambil makan, aku mencoba mendapatkan latar belakang temannya temanku ini yang akan kami temui. Selesai makan, dia belum juga datang, tulisnya dalam WA ke temanku: gojek gak tahu jalan; Ya sudah kita pindah ke warung kopi sebelah.
Baru antri untuk pesan kopi di bar warung sebelah, diapun datang. Warung itu cukup besar dan nyaman, namun masih ada background music yang menurutku agak terlalu keras, barangkali karena aku mengharap musiknya pelan karena kami mau ngobrol serius. Ya sudahlah ... Akhirnya kami memilih tempat duduk yang cukup nyaman untuk ngobrol. Kuletakkan helm dan jaket di kursi dekatku.
Kuamati gadis yang duduk di depanku ini. Baru pertama kali kami bertemu. Usianya masih muda, barangkali awal tigapuluhan. Rambutnya tergerai, sebagian dicat pirang. Baju yang dikenakan agak terbuka namun ditutupi dengan kardigan rajut lengan panjang warna hitam. Meski masih muda, namun nampak jelas kerutan-kerutan di wajahnya, barangkali akibat dari beban pikirannya yang berat. Kesedihan juga nampak pada kesembaban di sekitar kedua matanya.
Kami duduk berdiam diri beberapa saat. Kubiarkan suasana menjadi hening dalam keramaian cafe itu, agar komunikasi intens kami bertiga berada dalam suasana yang mendukung.
Kuamati wajahnya yang kuyu dan tidak bercahaya. Kulihat air mata mulai mengalir di kedua sudut mata, dan temanku segera ke bar mengambilkan beberapa lembar tissue untuknya. Dengan lembut tangan temanku memegang bahunya. Sebuah gesture kecil bahwa kami berada di pihaknya, bahwa kami siap memahami penderitaannya, dan bahwa kami siap membantunya. Energi yang terpancar darinya menandakan bahwa dia mengalami peristiwa hebat yang membebani pikirannya, sampai kata temanku, dia merencanakan untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak kuat lagi menanggung beban pikiran. Kubiarkan peristiwa ini berlangsung. Harapanku, airmatanya bisa menjadi katarsis untuk sedikit mengurangi beban pikirannya.
Dia mulai bercerita bahwa sudah dua kali menjalin hubungan dengan bule (orang asing). Putus dengan yang pertama, mendapat gantinya, namun sekarang juga putus dengan yang kedua, sebut saja John. Saat menjalin hubungan, dia menyadari bahwa status John sudah berkeluarga dan punya anak. Tapi dalam perjalanan hubungannya, John memberikan harapan akan menikahinya dengan meninggalkan istrinya, meski harus menanggung anaknya. Meski kedengarannya sangat klise, aku dan temanku tetap membiarkan dia menumpahkan semua ceritanya tanpa menghakimi sedikitpun. Kubiarkan pikiranku terbuka dan kutampung segala tumpahan deritanya.
John mengingkari janjinya. Gelembung harapan yang tadinya berkembang semakin besar bagai balon berwarna-warni ... sekaligus meletus dan hilang, sirna tidak berbekas lagi. Dunia yang serba indah mendadak menjadi gelap gulita, tidak tahu lagi kemana harus melangkah. Tali pengikat balon yang terciptakan dan dipegang erat sebagai simbol pengendali untuk menikmati keindahan warna balon, menjadi terkulai tidak bermakna, tidak berguna lagi. Tiada lagi kuasa untuk mempertahankan dan mengendalikan balon-balon indah berwarna-warni. Mereka menguap menjadi udara yang bisa dirasakan dampaknya namun tidak dapat lagi dipegang dan dinikmati.
Dampak itu begitu hebat. Semangat hidup yang tadinya bergelora dibakar harapan, padam meninggalkan kegelapan pikir. Hidup menjadi tidak mempunyai arti. Kalaupun harus ada, satu-satunya arti adalah beban, adalah gelap, adalah duka, adalah derita. Tidak ada lagi arah, tidak ada lagi pegangan, tidak ada lagi tujuan, tidak ada lagi arti. Untuk menghilangkan penderitaan dalam hidup, satu-satunya cara adalah menghentikannya. Menghentikan kehidupan. Karena jika kehidupan berhenti, maka berhenti jugalah penderitaan.
Aku masih mendengarkan dengan memberikan keterbukaan pikiranku, keluasan batinku, dan keheningan kesadaranku. Setelah berulang kali menyeka air matanya yang seolah berhasil membobol bendungan, diapun mulai terdiam meski pandangannya masih seperti sepasang mangkok besar tak berisi, kosong, hampa.
Lalu kumulai dengan sebuah cerita tentang diriku yang pernah mengalami titik nadir kehidupan, derita batin yang seolah tidak tertahan. Aku sampaikan bahwa aku memahami deritanya karena aku pernah berada di titik itu. Lalu kuceritakan sebuah kisah agung sepanjang masa tentang Gautama Buddha, dan dimensi-dimensinya yang membantunya untuk memahami penderitaan dalam hidup. Dan juga pemahaman tentang energi kehidupan: keberadaannya, sifat-sifatnya, dinamikanya, bagaimana cara untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkannya. Selama bercerita, dia sebentar2 mengusap mata dan hidungnya, kadang mengangguk, menyela dengan bertanya, tersenyum, dan ... lama-lama ikut tertawa keras.
Esoknya aku kirim pesan ke temanku: mudah-mudahan pertemuan semalam dapat membantunya. Sangat mas. Kami lanjutkan pembicaraan sampai tengah malam, jawab temanku. Sewaktu pulang dia merasa sangat ringan.
Minggu, 08 Januari 2017
Kamis, 16 Juni 2016
Sketsa Keyakinan Beragama
Pagi itu kuantarkan anak perempuanku ke sebuah mesjid terkenal di bilangan Jakarta Pusat. Satu keperluannya: menahbiskan anakku menjadi seorang mualaf.
Anak perempuanku dilamar oleh seorang lelaki asli Surabaya. Dia beragama Islam, sedangkan anakku, mengaku katolik hanya karena ayahnya seorang katolik. Aku memang pernah dibaptis secara katolik, dengan nama baptis: Thomas. Menurut cerita, Thomas adalah satu dari 12 murid Yesus yang selalu ingin bukti untuk mendukung kepercayaannya pada sesuatu. Sampai sewaktu Yesus bangkit dari maut dan mengunjungi para murid, hanya Thomas yang tidak percaya begitu saja bahwa yang dihadapannya adalah gurunya, sebelum dia mencucukkan jarinya di lambung Yesus yang berlubang akibat tikaman prajurit Roma sewaktu menggantung di salib. Thomas, nama yang kupilih untuk nama baptis. Barangkali waktu itu kuanggap sebuah nama yang bagus karena baptisanku semasa dengan ramainya perebutan piala thomas dan Indonesia menjadi juara. Sekitar tahun 70an. Ternyata sampai sekarang nama itu kurasa cocok untukku. Aku masih harus membuktikan segala sesuatu untuk lebih meyakininya. Yesus bersabda, berbahagialah orang yang percaya meski tidak melihat. Kata-kata itu diucapkan setelah Thomas mencucukkan jari2nya ke luka di tubuhnya. Agak bertentangan dengan sabdanya, dalam perjalanan spiritualku, justru dengan mengalami sendiri (melihat, mendengar, merasakan) maka kebahagiaan itu bisa dirasakan. Kupelajari hal ini melalui meditasi dan ajaran dalam Buddhisme. Perilaku Thomas ini pulalah yang membawaku mempelajari ajaran-ajaran Gautama Buddha dengan lebih dalam, dan melakukan meditasi Hindu dalam keseharianku.
Di sebuah bangunan di sebelah masjid, rombongan kami menuju ke lantai 4 untuk bertemu ustadz yang akan meresmikan ke-mualaf-an anakku. Karena masih dalam suasana puasa, kami perlu membangunkan pak ustadz yang kelihatannya kelelahan dan sedang tidur di lantai ruangan itu. Bergegas beliau lalu ke kamar mandi merapihkan diri dan kemudian menyambut kedatangan kami dengan resmi.
Singkat cerita, pak ustadz lalu memberikan banyak nasihat, dan juga pertanyaan mengapa anakku ingin masuk islam. Jawab anakku: mencari agama yang dapat dijadikan pegangan. Waktu pertama keinginannya menjadi mualaf muncul, dia mengatakan kepadaku bahwa meski mengaku sebagai katolik namun tidak pernah sungguh-sungguh melakukan ritual kekatolikan, sehingga dirasakan dia bukan benar2 seorang katolik Jadi untuk melancarkan peristiwa perkawinannya, dia memilih menjadi seagama dengan calon suaminya. Dengan begitu, proses administrasi akan menjadi lebih mudah. Aku sependapat dengannya.
Apapun keputusannya, aku mendukungnya karena dialah yang tahu benar apa yang terjadi dalam dirinya, dan dia mempunyai hak penuh untuk memilih kehidupan seperti yang dipikirkan dan dirasakannya. Kusampaikan juga bahwa ternyata agama bisa menjadi bukan yang terpenting dalam hidup ketika diletakkan dalam konteks perkawinan dan masalah sosial lainnya.
Singkat kata, pak ustadz akhirnya mentahbiskan anakku menjadi islam dengan menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat: bismillah hirochmanhirohim, asyadu an la ilaha ilallah, wa asyadhu anna muhammadar rasululah ... Sah anakkku perempuan menjadi seorang muslimah. Pak ustadz meneruskan wejangannya dengan mengatakan untuk menjadi seorang islam harus melaksanakan 5 rukun, dan seterusnya, dan seterusnya. Anakku mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali membetulkan kerudungnya. Demikian juga pak ustadz mendoakan agar semua anggota keluarga menjadi pemeluk islam ... hatiku meragukan doanya kali ini akan dikabulkan allah.
Peristiwa itu bisa merupakan sebuah peristiwa yang mungkin penting bagi perjalanan hidup seseorang, atau sekelompok orang seperti yang duduk di deret bangku belakang menunggu giliran ditahbiskan. Bagiku, itu peristiwa sosial dan administratif belaka, karena anakkupun belakangan cerita dia sudah bilang ke calon suaminya: meskipun dia seorang mualaf tapi akan mengikuti Yesus yang menurutnya adalah guru yang sudah dikenalnya yang mengajarkan kasih ... Jawab calon suaminya: ya semaumulah, yang penting kita bisa kawin ... akupun akan mau kalau kau minta aku menjadi katolik.
Anakku dan calon suaminya benar, mereka memilih agama yang dapat dijadikan pegangan dalam mengurus sebuah peristiwa penting dalam hidup mereka. Peristiwa yang akan dilakukan di sebuah negeri yang sarat dengan aturan primordial terutama agama.
Berdosakah mereka? Hanya Tuhan yang memutuskan, ... itupun kalau Tuhan benar ada dan mengetahui isi hati mereka.
Volks Kaffee, tengah malam
medio juni 2016
Anak perempuanku dilamar oleh seorang lelaki asli Surabaya. Dia beragama Islam, sedangkan anakku, mengaku katolik hanya karena ayahnya seorang katolik. Aku memang pernah dibaptis secara katolik, dengan nama baptis: Thomas. Menurut cerita, Thomas adalah satu dari 12 murid Yesus yang selalu ingin bukti untuk mendukung kepercayaannya pada sesuatu. Sampai sewaktu Yesus bangkit dari maut dan mengunjungi para murid, hanya Thomas yang tidak percaya begitu saja bahwa yang dihadapannya adalah gurunya, sebelum dia mencucukkan jarinya di lambung Yesus yang berlubang akibat tikaman prajurit Roma sewaktu menggantung di salib. Thomas, nama yang kupilih untuk nama baptis. Barangkali waktu itu kuanggap sebuah nama yang bagus karena baptisanku semasa dengan ramainya perebutan piala thomas dan Indonesia menjadi juara. Sekitar tahun 70an. Ternyata sampai sekarang nama itu kurasa cocok untukku. Aku masih harus membuktikan segala sesuatu untuk lebih meyakininya. Yesus bersabda, berbahagialah orang yang percaya meski tidak melihat. Kata-kata itu diucapkan setelah Thomas mencucukkan jari2nya ke luka di tubuhnya. Agak bertentangan dengan sabdanya, dalam perjalanan spiritualku, justru dengan mengalami sendiri (melihat, mendengar, merasakan) maka kebahagiaan itu bisa dirasakan. Kupelajari hal ini melalui meditasi dan ajaran dalam Buddhisme. Perilaku Thomas ini pulalah yang membawaku mempelajari ajaran-ajaran Gautama Buddha dengan lebih dalam, dan melakukan meditasi Hindu dalam keseharianku.
Di sebuah bangunan di sebelah masjid, rombongan kami menuju ke lantai 4 untuk bertemu ustadz yang akan meresmikan ke-mualaf-an anakku. Karena masih dalam suasana puasa, kami perlu membangunkan pak ustadz yang kelihatannya kelelahan dan sedang tidur di lantai ruangan itu. Bergegas beliau lalu ke kamar mandi merapihkan diri dan kemudian menyambut kedatangan kami dengan resmi.
Singkat cerita, pak ustadz lalu memberikan banyak nasihat, dan juga pertanyaan mengapa anakku ingin masuk islam. Jawab anakku: mencari agama yang dapat dijadikan pegangan. Waktu pertama keinginannya menjadi mualaf muncul, dia mengatakan kepadaku bahwa meski mengaku sebagai katolik namun tidak pernah sungguh-sungguh melakukan ritual kekatolikan, sehingga dirasakan dia bukan benar2 seorang katolik Jadi untuk melancarkan peristiwa perkawinannya, dia memilih menjadi seagama dengan calon suaminya. Dengan begitu, proses administrasi akan menjadi lebih mudah. Aku sependapat dengannya.
Apapun keputusannya, aku mendukungnya karena dialah yang tahu benar apa yang terjadi dalam dirinya, dan dia mempunyai hak penuh untuk memilih kehidupan seperti yang dipikirkan dan dirasakannya. Kusampaikan juga bahwa ternyata agama bisa menjadi bukan yang terpenting dalam hidup ketika diletakkan dalam konteks perkawinan dan masalah sosial lainnya.
Singkat kata, pak ustadz akhirnya mentahbiskan anakku menjadi islam dengan menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat: bismillah hirochmanhirohim, asyadu an la ilaha ilallah, wa asyadhu anna muhammadar rasululah ... Sah anakkku perempuan menjadi seorang muslimah. Pak ustadz meneruskan wejangannya dengan mengatakan untuk menjadi seorang islam harus melaksanakan 5 rukun, dan seterusnya, dan seterusnya. Anakku mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali membetulkan kerudungnya. Demikian juga pak ustadz mendoakan agar semua anggota keluarga menjadi pemeluk islam ... hatiku meragukan doanya kali ini akan dikabulkan allah.
Peristiwa itu bisa merupakan sebuah peristiwa yang mungkin penting bagi perjalanan hidup seseorang, atau sekelompok orang seperti yang duduk di deret bangku belakang menunggu giliran ditahbiskan. Bagiku, itu peristiwa sosial dan administratif belaka, karena anakkupun belakangan cerita dia sudah bilang ke calon suaminya: meskipun dia seorang mualaf tapi akan mengikuti Yesus yang menurutnya adalah guru yang sudah dikenalnya yang mengajarkan kasih ... Jawab calon suaminya: ya semaumulah, yang penting kita bisa kawin ... akupun akan mau kalau kau minta aku menjadi katolik.
Anakku dan calon suaminya benar, mereka memilih agama yang dapat dijadikan pegangan dalam mengurus sebuah peristiwa penting dalam hidup mereka. Peristiwa yang akan dilakukan di sebuah negeri yang sarat dengan aturan primordial terutama agama.
Berdosakah mereka? Hanya Tuhan yang memutuskan, ... itupun kalau Tuhan benar ada dan mengetahui isi hati mereka.
Volks Kaffee, tengah malam
medio juni 2016
Senin, 26 Agustus 2013
Kamulyaning Urip
"Kamulyaning urip dumunung ana tentreming ati", demikian tertulis di salah satu panel di tembok rumah makan Soto Kadipiro. Tulisan itu dalam aksara Jawa, sehingga perlu waktu hampir sepuluh menit untuk memahaminya. Maklum sudah puluhan tahun sejak terakhir aku belajar aksara Jawa, baru kali itu ketemu lagi. Sambil menikmati soto yang terkenal di Jogjakarta itu, tulisan itu terus mengiang di dalam pikiran.
Kemuliaan hidup terletak dalam ketentraman hati, demikian kira-kira artinya. Tidak pada harta benda yang dimiliki, tidak pada pangkat yang tinggi, tidak pada banyaknya teman dalam kehidupan ini, bahkan tidak dari iman dan takwa yang diajarkan oleh agama manapun. Semua kemuliaan berasal dari ketentraman hati yang bebas dari ancaman maupun dogma, kebebasan untuk menjadi makhluk Tuhan yang baik dan berguna bagi sesama dan semesta. Sebuah kalimat sederhana namun sangat mengena, dan benar adanya.
Ketentraman hati ternyata tidak dapat ditimbulkan oleh hal-hal di luar diri, misalnya: harta, pangkat, teman, saudara, agama dan lainnya. Dia sudah ada di dalam hati kita masing-masing, hanya tinggal menemukannya melalui keheningan pikir dan keheningan jiwa. Menemukan ketentraman hati merupakan hakekat dalam hidup, karena itulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tidak tergantung oleh unsur2 eksternal tadi, kebahagiaan yang hanya ada dalam kalbu yang terdalam, tidak mudah tergoyahkan oleh apapun. Ketentraman hati adalah kesejatian hidup, dan kesejatian inilah kemuliaan dalam kehidupan.
Sore di Volks Kaffee
Di musim panas ini nyamuk mulai berdatangan
26 Agustus 2013
Kemuliaan hidup terletak dalam ketentraman hati, demikian kira-kira artinya. Tidak pada harta benda yang dimiliki, tidak pada pangkat yang tinggi, tidak pada banyaknya teman dalam kehidupan ini, bahkan tidak dari iman dan takwa yang diajarkan oleh agama manapun. Semua kemuliaan berasal dari ketentraman hati yang bebas dari ancaman maupun dogma, kebebasan untuk menjadi makhluk Tuhan yang baik dan berguna bagi sesama dan semesta. Sebuah kalimat sederhana namun sangat mengena, dan benar adanya.
Ketentraman hati ternyata tidak dapat ditimbulkan oleh hal-hal di luar diri, misalnya: harta, pangkat, teman, saudara, agama dan lainnya. Dia sudah ada di dalam hati kita masing-masing, hanya tinggal menemukannya melalui keheningan pikir dan keheningan jiwa. Menemukan ketentraman hati merupakan hakekat dalam hidup, karena itulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tidak tergantung oleh unsur2 eksternal tadi, kebahagiaan yang hanya ada dalam kalbu yang terdalam, tidak mudah tergoyahkan oleh apapun. Ketentraman hati adalah kesejatian hidup, dan kesejatian inilah kemuliaan dalam kehidupan.
Sore di Volks Kaffee
Di musim panas ini nyamuk mulai berdatangan
26 Agustus 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Waktu dalam kehidupan
Malam itu Jakarta seperti kota yang ber AC. Dingin menyentuh tulang, angin masih berhembus pelan menyisir jalanan dan mampir ke rumah2 penduduk yang mulai sepi. Barangkali angin ini sisa-sisa badai sore tadi yang sempat merobohkan beberapa pohon di Salemba Raya dan memutus kabel listrik di dekatnya. Suara musik di cafe masih menyampaikan beat yang enak di dengar, sesekali suara motor dan bajay masih terdengar lewat di depan cafe ini. Aku duduk di pojok, sendirian, meski di cluster ini ada tiga lagi kursi kosong yang empuk yang siap untuk memeluk empat orang yang asyik ngobrol dan ngopi.
Kopi dalam cangkir di depanku sudah tinggal separuh. Aku tadi pesan secangkir americano yang rasanya seimbang antara asam, pahit mendekati gurih, serta beraroma wangi kopi segar khas Gayo yang tajam. Tanpa dapat kucegah, ingatanku tiba-tiba mundur ke lebih dari 30 tahun lalu.
Waktu itu aku juga sedang duduk ngobrol dengannya, di rumahnya, sambil minum teh di salah satu dari banyak malam yang kupakai ngobrol dan duduk-duduk bersamanya. Dia masih sangat muda, dan aku beberapa tahun lebih tua darinya. Malam itu juga dingin, anginpun hampir sama cara berhembusnya meski terasa lebih lembut. Kami ngobrol lama dan bicara soal2 yang ringan kadang tanpa isi. Yang aku ingat adalah raut wajahnya yang muda, bersih dan cantik, rambutnya yang ikal panjang serta senyumnya yang selalu menghias bibir tipisnya. Gambaran dalam ingatan sampai di situ, dan menjadi kabur ketika mendadak ada teriakan knalpot bajay lewat di depan cafe.
Betapa cepat pikiran dalam kepalaku meloncat dari sekarang ke 30 tahun lalu, lalu kembali ke sekarang. Betapa cepat dia berpindah dari cafe ini, ke suatu tempat yang ratusan kilometer jaraknya, dan kembali lagi ke sini dalam sekejap. Dimensi waktu dan ruang menjadi tak terbatas dalam pikiran.
Sebetulnya aku sedang di sini dan sedang berada di detik-detik ini. Aku sedang menghabiskan secangkir americano yang harum, bukan sedang ngobrol dengan dia. Aku sedang sendiri menikmati secangkir kopi, bukan sedang bersamanya yang selalu ditutup dengan ciuman hangat yang memabukkan jiwa.
Kerancuan waktu dan ruang selalu ada dalam setiap pikiran manusia. Itulah yang disebut dengan kesibukan pikiran, atau "banyak pikiran". Orang banyak berpendapat bahwa banyak pikiran itu wajar dan manusiawi. Sudah seharusnya, katanya.
Manusia hidup di alam pikirannya, sehingga seringkali dia ada di ruang dan waktu yang tidak nyata. Ada dalam dimensi yang diciptakannya sendiri. Ruangnya imajiner, dan waktunya berupa waktu psikologis, bukan waktu mekanis ataupun biologis. Imajinasi demi imajinasi dipelihara, dipupuk dan dikembangkan. Sehingga hidupnya bagai ada dalam mimpi. Bunga-bunga imajiner berkembang subur dalam alam pikiran dan seringkali itu diyakini sebagai sebuah kenyataan, bahkan sebuah kebenaran. Akhirnya, seringkali pikirannya tidak lagi berada dalam dunia nyata tempatnya berada. Dia sering berada di surga atau di neraka yang diciptakannya sendiri.
Dalam teknik2 meditasi yang kupelajari, diminta meditator berada disini dan mengalami waktu sekarang: here and now, di sini kini. Betapa gampang dan sederhana kedengarannya, namun pelaksanaannya tidak sesederhana kata-katanya. Hanya saat ini dan di sini-lah kenyataan itu berada. Sebuah saat yang tidak berwaktu, karena tidak bersifat masa lalu sebagai sebuah memori atau penyesalan, ataupun masa depan sebagai sebuah harapan atau kecemasan. Saat ini adalah kini, dia tidak terikat dengan waktu psikologis yang tercipta, dia ada dengan sendirinya ketika disadari.
Aku tersentak mendengar sendok kecil kopiku terantuk cangkir tanpa kusengaja. Kulihat kopi tinggal seseruputan lagi, dan ketika habis berpindah ke mulutku, dia meninggalkan beberapa bercak coklat di dasar cangkir. Aku kembali duduk diam dan kuamati beberapa tamu masih asyik ngobrol dengan pasangan masing-masing. Aku menjaga kesadaranku dan tak mau lagi ikut terbawa pikiranku kembali ke masa lalu meski energi itu menyenangkan ego-ku, namun menguras energiku.
Malam makin dingin, terdengar gerimis kecil mengetuk atap cafe yang terbuat dari baja ringan bagai irama lagu malam. Kukancingkan jaketku dan menuju kasir untuk membayar americano yang sekarang sedang bekerja menghangatkan perutku.
Volks Kaffee
Awal Januari 2013
Kopi dalam cangkir di depanku sudah tinggal separuh. Aku tadi pesan secangkir americano yang rasanya seimbang antara asam, pahit mendekati gurih, serta beraroma wangi kopi segar khas Gayo yang tajam. Tanpa dapat kucegah, ingatanku tiba-tiba mundur ke lebih dari 30 tahun lalu.
Waktu itu aku juga sedang duduk ngobrol dengannya, di rumahnya, sambil minum teh di salah satu dari banyak malam yang kupakai ngobrol dan duduk-duduk bersamanya. Dia masih sangat muda, dan aku beberapa tahun lebih tua darinya. Malam itu juga dingin, anginpun hampir sama cara berhembusnya meski terasa lebih lembut. Kami ngobrol lama dan bicara soal2 yang ringan kadang tanpa isi. Yang aku ingat adalah raut wajahnya yang muda, bersih dan cantik, rambutnya yang ikal panjang serta senyumnya yang selalu menghias bibir tipisnya. Gambaran dalam ingatan sampai di situ, dan menjadi kabur ketika mendadak ada teriakan knalpot bajay lewat di depan cafe.
Betapa cepat pikiran dalam kepalaku meloncat dari sekarang ke 30 tahun lalu, lalu kembali ke sekarang. Betapa cepat dia berpindah dari cafe ini, ke suatu tempat yang ratusan kilometer jaraknya, dan kembali lagi ke sini dalam sekejap. Dimensi waktu dan ruang menjadi tak terbatas dalam pikiran.
Sebetulnya aku sedang di sini dan sedang berada di detik-detik ini. Aku sedang menghabiskan secangkir americano yang harum, bukan sedang ngobrol dengan dia. Aku sedang sendiri menikmati secangkir kopi, bukan sedang bersamanya yang selalu ditutup dengan ciuman hangat yang memabukkan jiwa.
Kerancuan waktu dan ruang selalu ada dalam setiap pikiran manusia. Itulah yang disebut dengan kesibukan pikiran, atau "banyak pikiran". Orang banyak berpendapat bahwa banyak pikiran itu wajar dan manusiawi. Sudah seharusnya, katanya.
Manusia hidup di alam pikirannya, sehingga seringkali dia ada di ruang dan waktu yang tidak nyata. Ada dalam dimensi yang diciptakannya sendiri. Ruangnya imajiner, dan waktunya berupa waktu psikologis, bukan waktu mekanis ataupun biologis. Imajinasi demi imajinasi dipelihara, dipupuk dan dikembangkan. Sehingga hidupnya bagai ada dalam mimpi. Bunga-bunga imajiner berkembang subur dalam alam pikiran dan seringkali itu diyakini sebagai sebuah kenyataan, bahkan sebuah kebenaran. Akhirnya, seringkali pikirannya tidak lagi berada dalam dunia nyata tempatnya berada. Dia sering berada di surga atau di neraka yang diciptakannya sendiri.
Dalam teknik2 meditasi yang kupelajari, diminta meditator berada disini dan mengalami waktu sekarang: here and now, di sini kini. Betapa gampang dan sederhana kedengarannya, namun pelaksanaannya tidak sesederhana kata-katanya. Hanya saat ini dan di sini-lah kenyataan itu berada. Sebuah saat yang tidak berwaktu, karena tidak bersifat masa lalu sebagai sebuah memori atau penyesalan, ataupun masa depan sebagai sebuah harapan atau kecemasan. Saat ini adalah kini, dia tidak terikat dengan waktu psikologis yang tercipta, dia ada dengan sendirinya ketika disadari.
Aku tersentak mendengar sendok kecil kopiku terantuk cangkir tanpa kusengaja. Kulihat kopi tinggal seseruputan lagi, dan ketika habis berpindah ke mulutku, dia meninggalkan beberapa bercak coklat di dasar cangkir. Aku kembali duduk diam dan kuamati beberapa tamu masih asyik ngobrol dengan pasangan masing-masing. Aku menjaga kesadaranku dan tak mau lagi ikut terbawa pikiranku kembali ke masa lalu meski energi itu menyenangkan ego-ku, namun menguras energiku.
Malam makin dingin, terdengar gerimis kecil mengetuk atap cafe yang terbuat dari baja ringan bagai irama lagu malam. Kukancingkan jaketku dan menuju kasir untuk membayar americano yang sekarang sedang bekerja menghangatkan perutku.
Volks Kaffee
Awal Januari 2013
Kamis, 08 Desember 2011
MEMANUSIAKAN TUHAN
Hampir setiap saat kita bisa melihat orang-orang sholat, berdoa, baik di rumah ibadah atau di tempat2 lainnya. Mulut mereka komat-kamit mengucapkan rentetan kata-kata yang biasanya terdiri dari: pujian kepada Tuhan bahwa dia yang paling berkuasa di semesta, termasuk untuk mengabulkan permintaan. Lalu muncul permintaan-permintaan kepada Tuhan sesuai yang manusia inginkan, dan biasanya ditutup dengan permintaan maaf atas segala kesalahan dan terakhir adalah pernyataan2 peneguhan diri.
Pola doa biasanya tidak jauh dari hal-hal tersebut di atas, dan bahkan sudah hampir menjadi pakem bahwa sebuah doa akan sempurna, elok didengar, mustajab, kalau mempunyai susunan seperti itu. Banyak usaha mengembangkan doa kepada Tuhan menggunakan pola standard tersebut. Ini dilakukan dalam bahasa apapun, baik Indonesia, Arab, Latin, Jawa ...
Isi doa kebanyakan minta, memohon, mengharap .. agar Tuhan mengabulkan permintaan, baik itu untuk: kesembuhan, makanan yang enak, dapat duit, enteng jodoh, bisnis lancar, dan sebagainya. Bahkan banyak orang percaya, semakin baik susunan kata dalam sebuah doa, apalagi kalau sambil berdoa ditemani dengan ritual dan berpakaian sopan ketika "menghadap" kepada Tuhan, maka semakin besar kemungkinan Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa ini.
Manusia berdoa kepada Tuhan seolah berbicara kepada Bapaknya, kepada Rajanya, kepada majikannya atau kepada teman baiknya. Seolah Tuhan seperti manusia, yang mempunyai perasaan, mempunyai pikiran, mempunyai hati. Kita memperlakukan Tuhan seperti halnya manusia yang mempunyai kelebihan dibanding manusia seperti kita.
Hal ini bisa dimaklumi karena memang pada dasarnya manusia hanya bisa memahami apa yang berada "di luar" dirinya berdasarkan pemahaman manusia atas dirinya. Ukuran dirinya diterapkan pada saat mencoba memahami dunia luarnya. Ikatan emosional manusia dengan alam semesta hanya bisa dibangun melalui cara meng-ekstrapolasi-kan dirinya Maka fenomena alam dipahami sesuai dengan dirinya. Misalnya: alam sedang marah, laut mengamuk, singa menyayangi anaknya, bahkan Tuhan mengampuni dosa.
Keterbatasan pikiran manusia memang membatasi ke'maha'an Tuhan. Meski kita menyebut Tuhan itu 'maha', tapi masih dalam konteks kemampuan manusia, dan Tuhan mempunyai kemampuan yang sama namun jauh lebih berpotensi. Omni potent.
Manusia tidak mampu melepaskan Tuhan sebagaimana adanya. Bahkan dia HARUS punya nama, seperti manusia. Ada yang bilang namanyapun hanya 99. Tuhan mempunyai pribadi tiga, tuhan seperti bapak sendiri, dan sebagainya. Usaha manusia memahami tuhan sudah dilakukan sejak jaman purba dan sampai sekarangpun manusia tetap tidak dapat memahaminya. Akhirnya cara yang paling mudah adalah dengan memanusiakannya. Pemanusiaan tuhan seperti ini membuat manusia memperlakukan tuhan seperti manusia lain tapi linuwih, berkelebihan
Akhirnya, Tuhan menjadi sebatas daya cerap manusia, sebatas ada dalam pikiran dan sebatas persepsi. Ke 'maha' an Tuhan tidak lagi ada karena dia sudah dimanusiakan oleh manusia. Pencipta harus menurut apa yang dimaui oleh yang diciptakannya, dan akhirnya, tuhan hanya diciptakan oleh manusia sesuai dengan kehendaknya. Maka ada tuhan yang hanya mengerti bahasa Arab, ada tuhan yang hanya suka manusia beragama kristen, ada tuhan yang hanya berdiam di mesjid, ada tuhan yang labih menyukai dandanan tertentu dan sebagainya. Inilah memanusiakan tuhan, dan tuhan hanya sebagai anggota kelompoknya, atau, pemimpin kelompoknya. Bahkan tidak jarang tuhan dikangkangi oleh ego manusia untuk memenuhi hasratnya.
21desember2011
soreharidivolkskaffee
Sabtu, 12 November 2011
KEMATIAN
Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru. Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama. Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri. Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.
Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.
Kumasuki rumah itu dengan perlahan. Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada. Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan. Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.
Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau. Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.
Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi. Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya. Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat. Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.
Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka. Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung. Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent. Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.
Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya. Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya. Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan. Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah. Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.
Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai. Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami. Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam. Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.
Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian. Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.
Duka seorang sahabat
13 November 2011
Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru. Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama. Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri. Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.
Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.
Kumasuki rumah itu dengan perlahan. Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada. Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan. Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.
Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau. Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.
Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi. Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya. Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat. Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.
Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka. Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung. Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent. Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.
Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya. Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya. Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan. Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah. Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.
Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai. Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami. Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam. Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.
Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian. Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.
Duka seorang sahabat
13 November 2011
Minggu, 25 September 2011
Ketika Agama Menjadi Isu Sosial
Salah satu tokoh keagamaan Islam pernah membahas bahwa agama itu multidimensi. Artinya, dalam agama ada dimensi2 yang secara intrinsik menyatu, seperti: dimensi simbol, dimensi kelompok, dimensi personal, dimensi mistik, dimensi ritual, dan masih banyak lagi. Ada dimensi simbol, misalnya: salib itu simbol agama kristen, kaabah simbol islam, baju koko, hijab, sampai tanda hitam di jidat. Dimensi kelompok, misalnya: majlis taklim, FPI, kelompok pengajian, dsb. Dimensi personal: pengalaman bertemu tuhan selalu sangat personal, tidak sama satu sama lain karena tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing. Demikian seterusnya.
Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis. Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero. Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah. Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar? Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. " Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.
Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan. Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama. Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan. Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya. Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen. Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama. Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri. Demi apa? Demi kemurnian ajaran, katanya. Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.
Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik. Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.
Jakarta
akhir september 2011
sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara
Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis. Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero. Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah. Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar? Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. " Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.
Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan. Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama. Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan. Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya. Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen. Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama. Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri. Demi apa? Demi kemurnian ajaran, katanya. Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.
Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik. Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.
Jakarta
akhir september 2011
sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara
Senin, 04 April 2011
DONGENG NABI ADAM
Dalam agama-agama samawi, selalu ada cerita tentang nabi Adam. Hampir semua orang tahu siapa pasangan Adam dan Hawa dan bagaimana cerita hidup mereka. Mereka dianggap sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dank arena dosa mereka karena melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan buah terlarang, maka mereka dibuang dari surga yang penuh dengan kebahagiaan, ke dunia dan harus menjalani kehidupan yang penuh derita.
Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama. Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus. Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.
Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian. Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.
Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi. Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya. Tidak ada penderitaan yang dirasakannya. Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani. Semesta yang penuh kasih. Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya, Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia. Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.
Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden. Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual. Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu. Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.
Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita. Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya. Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.
Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.
Salam,
Agus Widianto
Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama. Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus. Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.
Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian. Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.
Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi. Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya. Tidak ada penderitaan yang dirasakannya. Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani. Semesta yang penuh kasih. Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya, Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia. Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.
Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden. Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual. Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu. Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.
Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita. Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya. Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.
Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.
Salam,
Agus Widianto
Rabu, 17 November 2010
Konsep Kematian
Aku datang ke rumahnya lepas tengah hari. Kulihat dia masih sibuk menyalami para tamu yang datang, dan ketika melihatku mendekat, dia memelukku erat-erat. Kubisikkan kata-kata seadanya yang muncul begitu saja di kepalaku: "tetap tabah ya" .. tidak ada lagi kosa kata lain yang mengalir dari mulutku. Dia juga menjawab pendek dengan sedikit terisak: "yang terbaik baginya".
Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari. Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar. Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.
Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad. Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan. Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya. Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring. Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam. Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih. Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu. Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya. Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.
Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku. Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu. Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.
Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti. Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA. Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.
Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.
Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin. Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia. Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri. Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini. Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi. Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus. Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.
Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang. Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini. Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.
Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru. Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain. Siklus itu terus terjadi. Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti. Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.
Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?
ieduladha
sorehari
17november2010
Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari. Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar. Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.
Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad. Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan. Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya. Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring. Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam. Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih. Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu. Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya. Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.
Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku. Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu. Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.
Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti. Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA. Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.
Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.
Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin. Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia. Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri. Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini. Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi. Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus. Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.
Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang. Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini. Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.
Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru. Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain. Siklus itu terus terjadi. Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti. Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.
Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?
ieduladha
sorehari
17november2010
Kamis, 11 November 2010
Derita di Gerimis Sore
Sore itu gerimis kecil turun. Aku baru saja keluar dari sebuah gedung di bilangan Blok M, dan kulihat beberapa orang berlari kecil menyeberang jalan di depan gedung sambil menutup kepala mereka dengan apa saja yang bisa digunakan. Beberapa anak berpayung berdiri di depan pintu gedung menawarkan jasa payung mereka, menunggu penyewa dadakan. Udara terasa hangat meski hujan mulai membasahi jalanan.
Aku berusaha mencari taksi, namun entah kenapa, di tempat itu jarang kulihat taksi kosong melintas. Karena rasanya terlalu lama menunggu dan tidak satupun ada taksi muncul, aku memutuskan untuk menggunakan transportasi umum yang lebih murah, bus TransJakarta. Blok M adalah terminal akhir yang besar. Setelah membeli tiket masuk, sambil berjalan ke arah shelter penungguan bus, kuamati kondisi gang yang membawaku ke sana. Betapa kotor dan sangat seadanya. Penjaga gerbang masuk terlihat terkantuk lelah dan bosan memperhatikan setiap orang yang memasukkan tiket ke slot di gerbang itu. Beberapa pengemis (masih muda2) duduk di tangga mengacungkan tangan atau gelas plastik bekas air mineral, meminta-minta. Shelter penungguan bus tidak kalah kotornya. Di ruang sempit panjang itu udara terasa pengap, ventilasi udara tidak berjalan baik, lampu tidak ada yang menyala untuk menerangi ruang yang mulai temaram, dan para calon penumpang semakin berdesakan karena berkelompok, tidak antri dalam barisan.
Rasa menyesal mulai muncul karena ketidaksabaranku tadi untuk menunggu taksi sedikit lebih lama, dan sekarang terjebak dalam sebuah sistem angkutan umum yang kelasnya jauh di bawah taksi. Ah, mestinya aku tunggu sedikit lama lagi, aku bisa kok bayar yang lebih mahal daripada tiket TransJakarta ini. Tapi itu hanya penyesalan masa lalu, dan disinilah aku sekarang. Aku terjebak dalam antrian yang sesak, pengap, gelap, bau keringat, dan saat itu pula berbagai pikiran negatif mendadak berebut muncul dan serta-merta mengidentifikasi berbagai fenomena di luar sebagai negatifitas.
Penghakiman mulai muncul dalam pikiran, bahwa semua hal negatif ini disebabkan oleh korupnya rejim pemerintahan DKI Jakarta. Berbagai pertanyaan dan juga gugatan mulai muncul, seperti, mengapa mereka tidak memperhatikan kebutuhan dasar warga berupa transportasi publik yang memadai dan bertarif murah, padahal itu adalah sebuah kewajiban mereka sebagai pelayan publik? Mengapa rejim sekarang tidak mau memelihara dan memperbaiki moda transportasi yang sudah diawali oleh rejim sebelumnya? Kemana saja uang rakyat yang sudah disetor melalui pajak? Mana bukti bahwa rejim ini adalah ahli dalam mengurus ibukota jika menyediakan transportasi layakpun tidak becus?
Pikiranku terus mengejar seseorang atau sesuatu, sebagai yang dapat dijadikan hulu dari segala kesalahan dan ke-negatif-an kondisi yang aku hadapi sekarang ini. Gambar Gubernur DKI yang bentuk kumis dan senyumnya yang menjadi tidak lucu, melintas di pikiranku. Seolah fenomena di sekitarku berdiri sendiri sebagai sebuah kenyataan dan berupa sekelompok hal negatif yang harus aku hadapi pada saat itu. Seolah rasa penderitaanku adalah akibat dari dosa besar yang berasal dari perbuatan sekelompok atau seseorang, paling tidak Gubernur.
Penghakiman seperti ini terus berlangsung dalam pikiranku. Rasanya aku berada di pihak yang benar. Rasanya aku mempunyai hak untuk menghakimi para pengurus ibukota ini, para pengurus negri ini. Rasanya aku mempunyai hak untuk menunjukkan ketidakbecusan kerja mereka sesuai dengan ukuran-ukuran yang kupunyai, paling tidak saat itu.
Pikiranku yang sibuk menambah rasa pengap shelter di Blok M ini. Kemarahan lalu muncul dari rasa frustasi. Kemarahan karena aku merasa diperlakukan tidak adil. Frustasi karena aku dipaksa harus menerima kondisi yang tidak kusukai. Waktu tunggu terasa begitu lama.
Akhirnya bus yang kutunggu datang juga, setelah lewatnya beberapa bus yang langsung dipenuhi antrian di depanku. Akupun masuk bus dan berdiri berpegangan gantungan tangan. Di dalam bus yang jauh lebih sejuk dibanding dengan shelter yang baru saja aku tinggalkan, beberapa pikiran masih menggantung, terutama melihat kondisi bus yang sudah mulai terlihat tidak dirawat dengan baik. Kondisi bus terlihat compang-camping. Gantungan yang aku pegang-pun talinya sudah mulai terkoyak sedikit di sana sini. Penghakiman-pun makin menjadi dalam pikiranku. Sungguh, pikiranku sangat sibuk dan aku tidak lagi memperhatikan sekelilingku.
Beberapa saat kemudian, barulah aku sadari bahwa pikiranku telah jauh dibawa kesana-kemari. Pikiranku dibawa oleh sebuah ketidaksadaran yang melompat kesana kemari, dan cenderung menghakimi segala sesuatu, yang dalam skenario yang kuciptakan menjadi penyebab sebuah kondisi yang kusebut sebagai “derita” yang ternyata juga kuciptakan sendiri. Ya, derita itu kuciptakan sendiri, sebagai turunan dari hasil penghakiman yang kubuat. Ini terbukti bahwa beberapa orang di sekitarku masih bisa bercanda, meski berada dalam kondisi yang sama dengan yang sedang aku alami. Mereka bisa tertawa lepas, dan kuat dugaanku bahwa mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan sebagai penderitaan. Aku yakin bahwa semua kondisi yang mereka alami sama dengan yang aku alami. Namun ada beda dalam mem-persepsikan-nya. Barangkali mereka menerimanya dengan ikhlas, sudah biasa, atau tidak berprasangka buruk, bahkan tidak menghakimi siapapun. Mereka menerima keadaan apa adanya.
Kesadaranku terus berkembang dalam perjalanan pulang di atas bus. Dan betul, deritakupun berangsur hilang dengan sendirinya.
Dalam kehidupan, banyak derita yang terciptakan oleh pikiran sendiri. Banyak pula setelah itu, kesalahan dilimpahkan kepada seseorang, sesuatu, bahkan Tuhan yang berada di luar dirinya, untuk minta pertanggungjawaban karena menciptakan derita yang kita rasakan. Banyak orang berpendapat bahwa deritanya adalah kehendak Allah. Sebuah penghakiman yang disampaikan secara lebih sopan, meski esensinya sama.
Namun aku yakin, disinilah awal kesadaran kita untuk berbahagia dalam kehidupan, dengan memahami apa itu penderitaan, dan bagaimana sebuah derita mengada.
Harikunjunganobamakeindonesia
Kemacetandimanamana
9november2010
Aku berusaha mencari taksi, namun entah kenapa, di tempat itu jarang kulihat taksi kosong melintas. Karena rasanya terlalu lama menunggu dan tidak satupun ada taksi muncul, aku memutuskan untuk menggunakan transportasi umum yang lebih murah, bus TransJakarta. Blok M adalah terminal akhir yang besar. Setelah membeli tiket masuk, sambil berjalan ke arah shelter penungguan bus, kuamati kondisi gang yang membawaku ke sana. Betapa kotor dan sangat seadanya. Penjaga gerbang masuk terlihat terkantuk lelah dan bosan memperhatikan setiap orang yang memasukkan tiket ke slot di gerbang itu. Beberapa pengemis (masih muda2) duduk di tangga mengacungkan tangan atau gelas plastik bekas air mineral, meminta-minta. Shelter penungguan bus tidak kalah kotornya. Di ruang sempit panjang itu udara terasa pengap, ventilasi udara tidak berjalan baik, lampu tidak ada yang menyala untuk menerangi ruang yang mulai temaram, dan para calon penumpang semakin berdesakan karena berkelompok, tidak antri dalam barisan.
Rasa menyesal mulai muncul karena ketidaksabaranku tadi untuk menunggu taksi sedikit lebih lama, dan sekarang terjebak dalam sebuah sistem angkutan umum yang kelasnya jauh di bawah taksi. Ah, mestinya aku tunggu sedikit lama lagi, aku bisa kok bayar yang lebih mahal daripada tiket TransJakarta ini. Tapi itu hanya penyesalan masa lalu, dan disinilah aku sekarang. Aku terjebak dalam antrian yang sesak, pengap, gelap, bau keringat, dan saat itu pula berbagai pikiran negatif mendadak berebut muncul dan serta-merta mengidentifikasi berbagai fenomena di luar sebagai negatifitas.
Penghakiman mulai muncul dalam pikiran, bahwa semua hal negatif ini disebabkan oleh korupnya rejim pemerintahan DKI Jakarta. Berbagai pertanyaan dan juga gugatan mulai muncul, seperti, mengapa mereka tidak memperhatikan kebutuhan dasar warga berupa transportasi publik yang memadai dan bertarif murah, padahal itu adalah sebuah kewajiban mereka sebagai pelayan publik? Mengapa rejim sekarang tidak mau memelihara dan memperbaiki moda transportasi yang sudah diawali oleh rejim sebelumnya? Kemana saja uang rakyat yang sudah disetor melalui pajak? Mana bukti bahwa rejim ini adalah ahli dalam mengurus ibukota jika menyediakan transportasi layakpun tidak becus?
Pikiranku terus mengejar seseorang atau sesuatu, sebagai yang dapat dijadikan hulu dari segala kesalahan dan ke-negatif-an kondisi yang aku hadapi sekarang ini. Gambar Gubernur DKI yang bentuk kumis dan senyumnya yang menjadi tidak lucu, melintas di pikiranku. Seolah fenomena di sekitarku berdiri sendiri sebagai sebuah kenyataan dan berupa sekelompok hal negatif yang harus aku hadapi pada saat itu. Seolah rasa penderitaanku adalah akibat dari dosa besar yang berasal dari perbuatan sekelompok atau seseorang, paling tidak Gubernur.
Penghakiman seperti ini terus berlangsung dalam pikiranku. Rasanya aku berada di pihak yang benar. Rasanya aku mempunyai hak untuk menghakimi para pengurus ibukota ini, para pengurus negri ini. Rasanya aku mempunyai hak untuk menunjukkan ketidakbecusan kerja mereka sesuai dengan ukuran-ukuran yang kupunyai, paling tidak saat itu.
Pikiranku yang sibuk menambah rasa pengap shelter di Blok M ini. Kemarahan lalu muncul dari rasa frustasi. Kemarahan karena aku merasa diperlakukan tidak adil. Frustasi karena aku dipaksa harus menerima kondisi yang tidak kusukai. Waktu tunggu terasa begitu lama.
Akhirnya bus yang kutunggu datang juga, setelah lewatnya beberapa bus yang langsung dipenuhi antrian di depanku. Akupun masuk bus dan berdiri berpegangan gantungan tangan. Di dalam bus yang jauh lebih sejuk dibanding dengan shelter yang baru saja aku tinggalkan, beberapa pikiran masih menggantung, terutama melihat kondisi bus yang sudah mulai terlihat tidak dirawat dengan baik. Kondisi bus terlihat compang-camping. Gantungan yang aku pegang-pun talinya sudah mulai terkoyak sedikit di sana sini. Penghakiman-pun makin menjadi dalam pikiranku. Sungguh, pikiranku sangat sibuk dan aku tidak lagi memperhatikan sekelilingku.
Beberapa saat kemudian, barulah aku sadari bahwa pikiranku telah jauh dibawa kesana-kemari. Pikiranku dibawa oleh sebuah ketidaksadaran yang melompat kesana kemari, dan cenderung menghakimi segala sesuatu, yang dalam skenario yang kuciptakan menjadi penyebab sebuah kondisi yang kusebut sebagai “derita” yang ternyata juga kuciptakan sendiri. Ya, derita itu kuciptakan sendiri, sebagai turunan dari hasil penghakiman yang kubuat. Ini terbukti bahwa beberapa orang di sekitarku masih bisa bercanda, meski berada dalam kondisi yang sama dengan yang sedang aku alami. Mereka bisa tertawa lepas, dan kuat dugaanku bahwa mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan sebagai penderitaan. Aku yakin bahwa semua kondisi yang mereka alami sama dengan yang aku alami. Namun ada beda dalam mem-persepsikan-nya. Barangkali mereka menerimanya dengan ikhlas, sudah biasa, atau tidak berprasangka buruk, bahkan tidak menghakimi siapapun. Mereka menerima keadaan apa adanya.
Kesadaranku terus berkembang dalam perjalanan pulang di atas bus. Dan betul, deritakupun berangsur hilang dengan sendirinya.
Dalam kehidupan, banyak derita yang terciptakan oleh pikiran sendiri. Banyak pula setelah itu, kesalahan dilimpahkan kepada seseorang, sesuatu, bahkan Tuhan yang berada di luar dirinya, untuk minta pertanggungjawaban karena menciptakan derita yang kita rasakan. Banyak orang berpendapat bahwa deritanya adalah kehendak Allah. Sebuah penghakiman yang disampaikan secara lebih sopan, meski esensinya sama.
Namun aku yakin, disinilah awal kesadaran kita untuk berbahagia dalam kehidupan, dengan memahami apa itu penderitaan, dan bagaimana sebuah derita mengada.
Harikunjunganobamakeindonesia
Kemacetandimanamana
9november2010
Jumat, 05 November 2010
Ibu Pertiwi
Berbagai berita tersebar melalui layar kaca, koran, internet, telepon selular dan sebagainya. Bencana Jogja menyita perhatian hampir semua warga Indonesia, bahkan manca negara. Para pengungsi yang terlantar, ketakutan, kesakitan, meninggal, banyak mendominasi berita beberapa hari terakhir ini.
Hati terguncang dan mata tergenang.
Rasanya belum lama negeri ini diramaikan berbagai berita tentang korupsi, gambaran ketamakan para pejabat publik akan uang haram, karena berasal dari keringat rakyat yang seharusnya dilayani. Belum lama juga negeri ini semarak oleh berita tentang kekerasan manusia yang beragama terhadap manusia lainnya, gambaran kesombongan manusia yang mengkapling kebenaran dan menghujat keberagaman, yang justru merupakan kearifan alam.
Begitu banyak berita yang menggambarkan para manusia yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukan. Cerminan nyata dari ketidaksadaran kolektif tentang kebersamaan dalam keberagaman, tentang perlunya saling mengasihi dan memperhatikan manusia lainnya terlepas dari kotak-kotak dan kapling-kapling kebenaran semu yang disebut agama. Ketidaksadaran manusia akan nilai-nilai universal yang menembus batas-batas sosial, ekonomi, dan religi. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan bumi, dengan Ibu Pertiwi yang melahirkan segala kehidupan di haribaannya. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan energi semesta.
Aku hanya merenung menyaksikan dan membaca segala kejadian yang sedang berlangsung begitu nyata, begitu menyentuh rasa dan menggugah kesadaran batin.
Sedikit teguran dari bumi melalui mulut Merapi mengingatkan bahwa manusia semua sama dihadapan Ibu Pertiwi. Kaya - miskin, laki - perempuan, tua - muda, besar - kecil, semua berhubungan dengannya. Sentuhan lengan dan jemari panas Merapi menyentil kesadaran manusia bahwa seharusnya manusia sungguh merupakan bagian sangat kecil dari seluruh sistem semesta. Sendawa Merapi menyadarkan manusia bahwa semestinya manusia hidup senafas dengan Pertiwi. Aliran energi dahsyat Merapi menyadarkan manusia bahwa seharusnya kehidupan kita mengalir dan selaras dengan energi alam semesta.
Bumi adalah sosok Ibu yang hidup, mempunyai kebajikan dalam memberi nafas kehidupan anak-anaknya, dengan semangat memberi segala kebaikan dan menerima segala keburukan. Betapa kekayaan bumi terbukti mampu menghidupi segala isinya selama jutaan masa. Betapa kearifan Pertiwi terbukti mampu menerima segala keburukan yang diciptakan anak-anaknya dan kemudian menyeimbangkan dengan berbagai cara yang sungguh diluar jangkauan nalar manusia.
Namun apa yang sudah diperbuat oleh manusia terhadap sang Ibu? Manusia tetap berada pada ketakutan egotistik, berada pada kebodohan dan kegelapan batin dalam merespon kasih yang ditawarkan sang Ibu. Segala kebodohan manusia kemudian mengeras dan berubah bentuk menjadi kesombongan bahwa bumi berada dalam genggaman kekuasaannya. Ketakaburan luar biasa yang menghilangkan kerendahan hati dalam berhubungan dengan sang Ibu Pertiwi. Sang Ibu tetap mengasihi dan menegur dengan caranya sendiri. Berbagai kesombongan manusia tidak pernah mampu menahan teguran sang Ibu. Gedung dan bangunan megah, peralatan mutakhir, kecerdasan otak, kepandaian para pemimpin masyarakat, kekayaan materi, bahkan doa-doa dalam agama yang dipercaya sebagai sabda Tuhan. Semua tidak mampu membendung dan membelokkan teguran dan jamahan Ibu.
Dalam sejarah kehidupan manusia, teguran-teguran Pertiwi selalu ada. Selalu berulang dan selalu memberikan ruang untuk merenungkan segala perilaku manusia dalam rentang masa sekarang ini. Namun adakah perbaikan dalam pikiran, kesadaran dan perilaku manusia, terutama ketika manusia secara intens berinteraksi dengan sang Ibu? Rasanya tidak.
Perusakan habitat hidup terus menerus dilakukan bahkan dalam skala yang mengerikan. Pengurangan kemampuan daya dukung lingkungan terus menerus digerogoti dengan sistematis tanpa diimbangi dengan perbaikan dan pemulihan. Demi apakah semua ini dilakukan? Rasanya hanya ketamakan sebagai muaranya. Ketamakan yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidup, meski pada akhirnya kenikmatan hidup adalah ilusi dan fantasi ketika daya dukung dilemahkan dengan sengaja. Sebuah lingkaran iblis yang meracuni pikiran manusia, dan menimbulkan kebodohan yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga beranak-pinak secara subur bagai kanker yang liar berkembang di permukaan bumi.
Masih adakah kata yang tersisa untuk mengutuk Ibu Pertiwi setelah kita memperkosa Ibu kita sendiri?
masihtersisaairmata
menjelangtengahmalam
5november2010
Hati terguncang dan mata tergenang.
Rasanya belum lama negeri ini diramaikan berbagai berita tentang korupsi, gambaran ketamakan para pejabat publik akan uang haram, karena berasal dari keringat rakyat yang seharusnya dilayani. Belum lama juga negeri ini semarak oleh berita tentang kekerasan manusia yang beragama terhadap manusia lainnya, gambaran kesombongan manusia yang mengkapling kebenaran dan menghujat keberagaman, yang justru merupakan kearifan alam.
Begitu banyak berita yang menggambarkan para manusia yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukan. Cerminan nyata dari ketidaksadaran kolektif tentang kebersamaan dalam keberagaman, tentang perlunya saling mengasihi dan memperhatikan manusia lainnya terlepas dari kotak-kotak dan kapling-kapling kebenaran semu yang disebut agama. Ketidaksadaran manusia akan nilai-nilai universal yang menembus batas-batas sosial, ekonomi, dan religi. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan bumi, dengan Ibu Pertiwi yang melahirkan segala kehidupan di haribaannya. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan energi semesta.
Aku hanya merenung menyaksikan dan membaca segala kejadian yang sedang berlangsung begitu nyata, begitu menyentuh rasa dan menggugah kesadaran batin.
Sedikit teguran dari bumi melalui mulut Merapi mengingatkan bahwa manusia semua sama dihadapan Ibu Pertiwi. Kaya - miskin, laki - perempuan, tua - muda, besar - kecil, semua berhubungan dengannya. Sentuhan lengan dan jemari panas Merapi menyentil kesadaran manusia bahwa seharusnya manusia sungguh merupakan bagian sangat kecil dari seluruh sistem semesta. Sendawa Merapi menyadarkan manusia bahwa semestinya manusia hidup senafas dengan Pertiwi. Aliran energi dahsyat Merapi menyadarkan manusia bahwa seharusnya kehidupan kita mengalir dan selaras dengan energi alam semesta.
Bumi adalah sosok Ibu yang hidup, mempunyai kebajikan dalam memberi nafas kehidupan anak-anaknya, dengan semangat memberi segala kebaikan dan menerima segala keburukan. Betapa kekayaan bumi terbukti mampu menghidupi segala isinya selama jutaan masa. Betapa kearifan Pertiwi terbukti mampu menerima segala keburukan yang diciptakan anak-anaknya dan kemudian menyeimbangkan dengan berbagai cara yang sungguh diluar jangkauan nalar manusia.
Namun apa yang sudah diperbuat oleh manusia terhadap sang Ibu? Manusia tetap berada pada ketakutan egotistik, berada pada kebodohan dan kegelapan batin dalam merespon kasih yang ditawarkan sang Ibu. Segala kebodohan manusia kemudian mengeras dan berubah bentuk menjadi kesombongan bahwa bumi berada dalam genggaman kekuasaannya. Ketakaburan luar biasa yang menghilangkan kerendahan hati dalam berhubungan dengan sang Ibu Pertiwi. Sang Ibu tetap mengasihi dan menegur dengan caranya sendiri. Berbagai kesombongan manusia tidak pernah mampu menahan teguran sang Ibu. Gedung dan bangunan megah, peralatan mutakhir, kecerdasan otak, kepandaian para pemimpin masyarakat, kekayaan materi, bahkan doa-doa dalam agama yang dipercaya sebagai sabda Tuhan. Semua tidak mampu membendung dan membelokkan teguran dan jamahan Ibu.
Dalam sejarah kehidupan manusia, teguran-teguran Pertiwi selalu ada. Selalu berulang dan selalu memberikan ruang untuk merenungkan segala perilaku manusia dalam rentang masa sekarang ini. Namun adakah perbaikan dalam pikiran, kesadaran dan perilaku manusia, terutama ketika manusia secara intens berinteraksi dengan sang Ibu? Rasanya tidak.
Perusakan habitat hidup terus menerus dilakukan bahkan dalam skala yang mengerikan. Pengurangan kemampuan daya dukung lingkungan terus menerus digerogoti dengan sistematis tanpa diimbangi dengan perbaikan dan pemulihan. Demi apakah semua ini dilakukan? Rasanya hanya ketamakan sebagai muaranya. Ketamakan yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidup, meski pada akhirnya kenikmatan hidup adalah ilusi dan fantasi ketika daya dukung dilemahkan dengan sengaja. Sebuah lingkaran iblis yang meracuni pikiran manusia, dan menimbulkan kebodohan yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga beranak-pinak secara subur bagai kanker yang liar berkembang di permukaan bumi.
Masih adakah kata yang tersisa untuk mengutuk Ibu Pertiwi setelah kita memperkosa Ibu kita sendiri?
masihtersisaairmata
menjelangtengahmalam
5november2010
Sabtu, 30 Oktober 2010
Hubungan DenganNya Karena Ketakutan?
Bencana demi bencana menggetarkan hati setiap manusia di negri ini. Bandang di tanah Papua mengingatkan beberapa bah yang menghanyutkan banyak nyawa seperti halnya di lembah Gunung Leuser. Letusan Merapi menggedor rasa takut yang sudah lama bersembunyi di balik kalbu. Tsunami Mentawai membangkitkan trauma yang terasa baru minggu lalu terjadi di Aceh. Puting beliung, rob, dan berbagai bentuk bencana lainnya mampu menjangkau dan mengaduk-aduk rasa takut yang disimpan jauh di relung kalbu.
Serentak terdengar nyanyian bersama, atau keluhan, atau bisikan halus di hati. Tuhan sedang murka. Allah sedang menghantamkan azabNya. Sedang menunjukkan kekuasaanNya, sedang pamer keperkasaanNya, kemahakuasaanNya. Ancaman-ancaman dari mulut para pandai agama berlontaran dan menambah ciutnya nyali manusia kepada Tuhan. Ternyata menurut gambaran mereka, Allah bisa menjadi sangat menakutkan, sangat membahayakan jiwa manusia, bahkan sangat kejam dalam memberi hukuman.
Hubungan berwarna ketakutan lalu terciptakan. Manusia dibuat dan diciptakan oleh Allah untuk menjadi takut kepadaNya. Manusia diciptakan untuk menyembahNya, agar namaNya tetap agung. Manusia diciptakan untuk jatuh tersungkur dihadapNya karena kemahakuatanNya. Manusia harus bertekuk-lutut dihadapanNya bagai sekelompok tawanan perang yang siap untuk dijatuhi hukuman apapun sesuai kehendakNya. Tidak ada posisi tawar yang diwariskan kepada manusia oleh penciptanya.
Bagiku, semua ini menjadi sebuah skema penciptaan yang aneh.
Jika Tuhan memang ingin dihormati dan diagungkan melalui sembahan ciptaanNya, maka dalam ukuran manusia, Tuhan sangat egotistik dan gila hormat. Tidak ada sebutan lain. Jika Tuhan menciptakan manusia untuk mempunyai rasa takut terhadapNya, maka dalam ukuranku, Tuhan sudah sakit jiwa.
Bagiku, Tuhan tidak berada dalam skema seperti itu. Dia terlalu rendah untuk digambarkan dalam pola penciptaan yang hirarkis, egotistik, kejam dan gila hormat. Hanya manusia-manusia yang sakit jiwa-lah yang mempunyai gambaran yang penuh sakit jiwa.
Tuhan, seandainya betul ada dan merupakan pencipta segala, adalah maha ada, maha kasih, maha bijaksana. Ke-mahakasih-an itu tercipta dan jelas tergambar dalam segala fenomena, baik dalam gerak sel dalam tubuh makhluk hidup, perilaku lebah, kicauan merdu seekor burung, secangkir kopi, berkembangnya janin, kedahsyatan gempa bumi, letupan magma, lontaran nuklir matahari, dan ke-takterhingga-an struktur alam semesta.
Manusia hanya sebentuk sel dalam gambaran tubuh semesta ciptaanNya. Tidak selayaknya pikiran sempit manusia melontarkan penghakiman yang penuh kebodohan dan sakit jiwa untuk mengukur Tuhan. Tidak pada tempatnya Tuhan dibelenggu dalam pemahaman picik otak manusia yang penuh ketakutan.
Karena ketakutan hanya menghasilkan gambaran Tuhan yang maha kejam.
lewattengahmalam
akhiroktober2010
Serentak terdengar nyanyian bersama, atau keluhan, atau bisikan halus di hati. Tuhan sedang murka. Allah sedang menghantamkan azabNya. Sedang menunjukkan kekuasaanNya, sedang pamer keperkasaanNya, kemahakuasaanNya. Ancaman-ancaman dari mulut para pandai agama berlontaran dan menambah ciutnya nyali manusia kepada Tuhan. Ternyata menurut gambaran mereka, Allah bisa menjadi sangat menakutkan, sangat membahayakan jiwa manusia, bahkan sangat kejam dalam memberi hukuman.
Hubungan berwarna ketakutan lalu terciptakan. Manusia dibuat dan diciptakan oleh Allah untuk menjadi takut kepadaNya. Manusia diciptakan untuk menyembahNya, agar namaNya tetap agung. Manusia diciptakan untuk jatuh tersungkur dihadapNya karena kemahakuatanNya. Manusia harus bertekuk-lutut dihadapanNya bagai sekelompok tawanan perang yang siap untuk dijatuhi hukuman apapun sesuai kehendakNya. Tidak ada posisi tawar yang diwariskan kepada manusia oleh penciptanya.
Bagiku, semua ini menjadi sebuah skema penciptaan yang aneh.
Jika Tuhan memang ingin dihormati dan diagungkan melalui sembahan ciptaanNya, maka dalam ukuran manusia, Tuhan sangat egotistik dan gila hormat. Tidak ada sebutan lain. Jika Tuhan menciptakan manusia untuk mempunyai rasa takut terhadapNya, maka dalam ukuranku, Tuhan sudah sakit jiwa.
Bagiku, Tuhan tidak berada dalam skema seperti itu. Dia terlalu rendah untuk digambarkan dalam pola penciptaan yang hirarkis, egotistik, kejam dan gila hormat. Hanya manusia-manusia yang sakit jiwa-lah yang mempunyai gambaran yang penuh sakit jiwa.
Tuhan, seandainya betul ada dan merupakan pencipta segala, adalah maha ada, maha kasih, maha bijaksana. Ke-mahakasih-an itu tercipta dan jelas tergambar dalam segala fenomena, baik dalam gerak sel dalam tubuh makhluk hidup, perilaku lebah, kicauan merdu seekor burung, secangkir kopi, berkembangnya janin, kedahsyatan gempa bumi, letupan magma, lontaran nuklir matahari, dan ke-takterhingga-an struktur alam semesta.
Manusia hanya sebentuk sel dalam gambaran tubuh semesta ciptaanNya. Tidak selayaknya pikiran sempit manusia melontarkan penghakiman yang penuh kebodohan dan sakit jiwa untuk mengukur Tuhan. Tidak pada tempatnya Tuhan dibelenggu dalam pemahaman picik otak manusia yang penuh ketakutan.
Karena ketakutan hanya menghasilkan gambaran Tuhan yang maha kejam.
lewattengahmalam
akhiroktober2010
Minggu, 24 Oktober 2010
Tuanku yang Pemarah
Beberapa bulan terakhir ini aku rasakan sebuah bara yang diam tapi pasti, menggumpal di dalam diriku. Aku tidak tahu persisnya di mana, namun rasa itu terus menerus membara bagai sekam merah menyala. Dia ada jauh di dalam diri bagai magma yang bersembunyi jauh dari permukaan bumi. Barangkali orang lain melihat diriku dari luar yang nampak sangat biasa, namun bara itu ada, dan dapat kurasakan kehadirannya.
Pada waktu tertentu, bara dalam diriku panasnya mampu terasa sampai kulit ariku. Terutama apabila ada satu atau dua hal yang mampu memancing bara tadi untuk langsung mencari jalan dalam nadiku, keluar dan meledak di setiap lubang pada tubuhku. Ledakan itu nyata terlihat dimataku yang memerah dan membara, di lubang nafasku yang menjadi tersengal, di mulutku yang mampu melontarkan kata-kata nistaan, di lubang telingaku yang menjadi penyumbat hingga tidak mau lagi mendengar kata-kata orang lain, sekasar apapun, atau selembut apapun.
Betapa bara itu membuatku menderita.
Aku tidak mampu mengendalikannya, apalagi memadamkannya. Dia begitu perkasa, pada saatnya muncul dan menguasai seluruh pikiranku, dia terasa bagai seorang tuan yang membawa cambuknya yang berapi. Aku hanya mampu memasrahkan diriku di bawah injakan kakinya. Aku hanya mampu membiarkan dia membakar seluruh nadi dan sendiku sampai meleleh tanpa daya. Aku hanya mampu membiarkan lubang mulutku melontarkan cacian dan makian berapi bagi orang-orang di sekitarku.
Sel-sel perasa dalam diriku seolah lumpuh. Tidak mampu lagi merasakan batin orang-orang di sekitarku yang kunista dan kuaniaya. Pikiranku menjadi gelap, penuh dengan kabut asap dari sekam yang membara di sekujur tubuhku.
Tuanku yang pemarah dalam diriku begitu kuat menguasai seluruh sistem dalam diriku. Meski dia membuatku menderita, namun aku tidak tahu bagaimana membiarkannya pergi. Aku bahkan pelihara tuanku ini, kubiarkan dia tinggal dalam batinku.
Aku sudah berusaha untuk mengusir tuanku yang pemarah ini dengan banyak cara, dengan banyak tipudaya. Namun dia hanya sembunyi dibalik pikiran-pikiranku, dibalik perasaan-perasaanku, yang seringkali gelap tertutup asap sekam yang membara. Dia tidak mau pergi meninggalkanku. Atau aku tidak mau dia meninggalkanku. Perbedaan keduanya ternyata sangat halus dan aku tidak tahu yang mana yang terjadi. Karena barangkali tuanku adalah bayangan diriku sendiri. Entahlah.
Aku sadar bahwa aku memerlukan sebuah uluran tangan yang membantuku berdiri kembali dari injakan tuanku yang pemarah. Aku perlu sebuah sandaran tempatku mencurahkan derita dari batinku yang hangus dibakar tuanku yang pemarah. Aku butuh uluran tangan seseorang untuk memberiku seteguk air jernih untuk memadamkan kobaran api milik tuanku yang pemarah ini. Namun aku juga sadar bahwa seringkali orang lain tidak benar-benar mengenali tuanku ini. Sebuah sikap yang muncul karena ke-putusasa-an dan kebingungan.
Namun begitu, jauh di dasar kesadaranku, sebetulnya aku tahu bahwa aku juga harus menerangi setiap relung pikiran dan batinku untuk menemukan tuanku yang sedang bersembunyi, mengenalinya dengan lebih baik, dan mengajaknya berbincang agar aku mampu memahami asal-muasalnya. Aku harus membawanya ke luar dari kegelapan asap pekat bara hatiku, agar segenap wujudnya nampak jelas di bawah penerangan cahaya batinku. Aku tahu, tuanku yang pemarah lebih senang tinggal dalam kegelapan pikiranku, dan tidak menyukai cahaya terangnya batinku. Dia akan merasa ditelanjangi, merasa diteliti dan merasa dikuliti sehingga akan nampak wajah bengisnya, bahkan akan nampak jelas belitan akar yang menghidupinya.
Hanya dengan mengenalinya, maka aku bisa sambil tersenyum memintanya untuk meninggalkan diriku.
menjelangtengahmalam
dirumah, 24oktober2010
Pada waktu tertentu, bara dalam diriku panasnya mampu terasa sampai kulit ariku. Terutama apabila ada satu atau dua hal yang mampu memancing bara tadi untuk langsung mencari jalan dalam nadiku, keluar dan meledak di setiap lubang pada tubuhku. Ledakan itu nyata terlihat dimataku yang memerah dan membara, di lubang nafasku yang menjadi tersengal, di mulutku yang mampu melontarkan kata-kata nistaan, di lubang telingaku yang menjadi penyumbat hingga tidak mau lagi mendengar kata-kata orang lain, sekasar apapun, atau selembut apapun.
Betapa bara itu membuatku menderita.
Aku tidak mampu mengendalikannya, apalagi memadamkannya. Dia begitu perkasa, pada saatnya muncul dan menguasai seluruh pikiranku, dia terasa bagai seorang tuan yang membawa cambuknya yang berapi. Aku hanya mampu memasrahkan diriku di bawah injakan kakinya. Aku hanya mampu membiarkan dia membakar seluruh nadi dan sendiku sampai meleleh tanpa daya. Aku hanya mampu membiarkan lubang mulutku melontarkan cacian dan makian berapi bagi orang-orang di sekitarku.
Sel-sel perasa dalam diriku seolah lumpuh. Tidak mampu lagi merasakan batin orang-orang di sekitarku yang kunista dan kuaniaya. Pikiranku menjadi gelap, penuh dengan kabut asap dari sekam yang membara di sekujur tubuhku.
Tuanku yang pemarah dalam diriku begitu kuat menguasai seluruh sistem dalam diriku. Meski dia membuatku menderita, namun aku tidak tahu bagaimana membiarkannya pergi. Aku bahkan pelihara tuanku ini, kubiarkan dia tinggal dalam batinku.
Aku sudah berusaha untuk mengusir tuanku yang pemarah ini dengan banyak cara, dengan banyak tipudaya. Namun dia hanya sembunyi dibalik pikiran-pikiranku, dibalik perasaan-perasaanku, yang seringkali gelap tertutup asap sekam yang membara. Dia tidak mau pergi meninggalkanku. Atau aku tidak mau dia meninggalkanku. Perbedaan keduanya ternyata sangat halus dan aku tidak tahu yang mana yang terjadi. Karena barangkali tuanku adalah bayangan diriku sendiri. Entahlah.
Aku sadar bahwa aku memerlukan sebuah uluran tangan yang membantuku berdiri kembali dari injakan tuanku yang pemarah. Aku perlu sebuah sandaran tempatku mencurahkan derita dari batinku yang hangus dibakar tuanku yang pemarah. Aku butuh uluran tangan seseorang untuk memberiku seteguk air jernih untuk memadamkan kobaran api milik tuanku yang pemarah ini. Namun aku juga sadar bahwa seringkali orang lain tidak benar-benar mengenali tuanku ini. Sebuah sikap yang muncul karena ke-putusasa-an dan kebingungan.
Namun begitu, jauh di dasar kesadaranku, sebetulnya aku tahu bahwa aku juga harus menerangi setiap relung pikiran dan batinku untuk menemukan tuanku yang sedang bersembunyi, mengenalinya dengan lebih baik, dan mengajaknya berbincang agar aku mampu memahami asal-muasalnya. Aku harus membawanya ke luar dari kegelapan asap pekat bara hatiku, agar segenap wujudnya nampak jelas di bawah penerangan cahaya batinku. Aku tahu, tuanku yang pemarah lebih senang tinggal dalam kegelapan pikiranku, dan tidak menyukai cahaya terangnya batinku. Dia akan merasa ditelanjangi, merasa diteliti dan merasa dikuliti sehingga akan nampak wajah bengisnya, bahkan akan nampak jelas belitan akar yang menghidupinya.
Hanya dengan mengenalinya, maka aku bisa sambil tersenyum memintanya untuk meninggalkan diriku.
menjelangtengahmalam
dirumah, 24oktober2010
Jumat, 15 Oktober 2010
Rindu
Rasa rindu itu datang menyergap sejak semalam. Dalam meditasi malamku, kuamati dan kusadari rasa yang aneh ini. Pagi ini intensitasnya sudah jauh mengendur, tinggal sayup seolah melambai mengucapkan selamat tinggal.
Namun, dari mana rasa rindu itu muncul, sehingga bisa datang tiba-tiba?
Dari apa rasa rindu itu terbentuk, sehingga mampu menggumpal dan menyesakkan dada?
Mengapa kita merindukan seseorang, sesuatu, semasa?
Rindu adalah sebuah rasa yang seolah kosong dan menginginkan isi dari sumber lain untuk memenuhinya. Sering kurasa dia seolah ada tapi tidak lengkap dan menginginkan bagian lain untuk membuatnya utuh. Sebuah rasa yang kerontang dan menanti setetes air dari luar untuk membasahinya. Sebuah penantian, sebentuk keinginan, segenggam harapan, barangkali sebuah derita ..
Benarkah sebuah kerinduan akan selalu terpuaskan oleh energi luar yang diinginkannya untuk mengisi kekosongan ruang batinnya? Benarkah kerinduan hanya berakhir dengan kesenangan sesaat - rasa penuh, nyaman, nikmat? Benarkah pikiran betul-betul akan lebih penuh setelah kerinduan sembuh?
Benarkah obat derita dalam pikiran harus berasal dari kekuatan luar diriku? Ataukah sebenarnya aku sendiri yang menciptakan kekuatan luar untuk menyembuhkan derita dalam batinku? Jika derita itu kuciptakan sendiri, bukankah lebih mudah untuk menyembuhkannya dengan tidak menciptakannya?
Aku masih duduk di coffee shop sebuah hotel di kota itu.
Kupandangi bekas hujan tadi pagi di dedaunan di halaman hotel ini. Adakah kerinduan di pepohonan itu, yang mereka ciptakan sendiri? Atau baginya, kerinduan bukan untuk sebuah kesenangan, tapi sungguh sebuah garis antara hidup dan mati .. ketika mereka merindukan hujan seperti pagi tadi. Aku yakin, kerinduannya sudah terpuaskan dan kehidupannya sudah kembali.
Aku ragu, bahwa kerinduanku padanya sebesar makna hidup dan mati.
Kubiarkan dia melambai pergi ..
kedatonhabissarapan
16oktober2010
Namun, dari mana rasa rindu itu muncul, sehingga bisa datang tiba-tiba?
Dari apa rasa rindu itu terbentuk, sehingga mampu menggumpal dan menyesakkan dada?
Mengapa kita merindukan seseorang, sesuatu, semasa?
Rindu adalah sebuah rasa yang seolah kosong dan menginginkan isi dari sumber lain untuk memenuhinya. Sering kurasa dia seolah ada tapi tidak lengkap dan menginginkan bagian lain untuk membuatnya utuh. Sebuah rasa yang kerontang dan menanti setetes air dari luar untuk membasahinya. Sebuah penantian, sebentuk keinginan, segenggam harapan, barangkali sebuah derita ..
Benarkah sebuah kerinduan akan selalu terpuaskan oleh energi luar yang diinginkannya untuk mengisi kekosongan ruang batinnya? Benarkah kerinduan hanya berakhir dengan kesenangan sesaat - rasa penuh, nyaman, nikmat? Benarkah pikiran betul-betul akan lebih penuh setelah kerinduan sembuh?
Benarkah obat derita dalam pikiran harus berasal dari kekuatan luar diriku? Ataukah sebenarnya aku sendiri yang menciptakan kekuatan luar untuk menyembuhkan derita dalam batinku? Jika derita itu kuciptakan sendiri, bukankah lebih mudah untuk menyembuhkannya dengan tidak menciptakannya?
Aku masih duduk di coffee shop sebuah hotel di kota itu.
Kupandangi bekas hujan tadi pagi di dedaunan di halaman hotel ini. Adakah kerinduan di pepohonan itu, yang mereka ciptakan sendiri? Atau baginya, kerinduan bukan untuk sebuah kesenangan, tapi sungguh sebuah garis antara hidup dan mati .. ketika mereka merindukan hujan seperti pagi tadi. Aku yakin, kerinduannya sudah terpuaskan dan kehidupannya sudah kembali.
Aku ragu, bahwa kerinduanku padanya sebesar makna hidup dan mati.
Kubiarkan dia melambai pergi ..
kedatonhabissarapan
16oktober2010
Rabu, 13 Oktober 2010
Takut di Umur Empat Puluh
Siang itu para peserta lokakarya makan bersama. Seorang teman lama dari Jawa Timur bergabung di mejaku. Kami banyak ngobrol tentang kehidupan, dan karena dia sudah mengenalku, maka obrolan masuk ke hal-hal yang lebih pribadi.
"Kenapa ya saya dalam setahun terakhir ini, terutama setelah masuk di usia 40, selalu merasa takut?"
"Takut apa?". tanyaku
"Tidak tahu .. misalnya kalau saya harus memilih untuk pergi ke dua tempat, saya akan memilih yang lebih dekat, agar resiko tidak terlalu besar dan dapat kembali ke rumah lebih cepat."
Aku amati wajahnya, dan dia tidak bercanda.
"Ketakutan itu muncul ketika umurku mencapai 40, dan kudengar bahwa umur 40 merupakan puncak kematangan seseorang dalam hidupnya. Di usia itu katanya energi manusia berada di tingkat paling tinggi, sampai ada istilah puber kedua .. "
"Jadi, mengapa takut pada puncak kehidupan?" selidikku lagi.
"Entahlah .. tapi ketakutan itu nyata dan ada."
Sejenak aku berkaca pada diriku sendiri, apakah pada ulang tahunku yang ke 40 aku juga dulu merasa takut? Aku sama sekali tidak ingat.
"Kalau dari ceritamu bahwa kau selalu ingin cepat kembali ke rumah, rasanya ada ketakutan berada di luar rumah dan merasa aman ketika berada dalam rumah .."
"Ya, seperti itulah rasanya .."
Aku tidak dapat memahami ketakutannya, namun kucoba tawarkan sebuah pemahaman tentang rasa takut.
"Biasanya orang takut akan kematian .." lalu kuamati reaksi wajahnya. Ada sedikit gerakan kepalanya, dan kulihat dia menatapku lekat.
".. barangkali itu benar .." katanya pelan.
"Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa kematian selalu menakutkan .. ?" tanyaku, dan dia terdiam sambil menatapku seolah mencari jawabannya di wajahku.
".. menurut yang kupahami, paling tidak ada tiga alasan mengapa manusia takut akan kematian. Pertama, kematian merupakan peristiwa yang tidak dapat diperbaiki. Beda misalnya dengan sakit yang bisa sembuh .. jatuh yang bisa bangun kembali .. sedih yang dapat bergembira lagi. Mati tidak dapat hidup kembali."
Kulihat dia mendengarkan dengan diam sambil sesekali menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Alasan kedua, kematian merupakan kondisi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, karena itu menakutkan. Coba bayangkan ketika kita masuk ke sebuah gua, atau bahkan masuk ke sebuah kota, yang belum pernah kita ambah, kita alami, pasti ada rasa takut itu .."
"Alasan ketiga, dan ini yang paling menakutkan, adalah anihilasi .."
"Apa maksudmu dengan anihilasi?" sergahnya.
"Anihilasi merupakan penghilangan keberadaan. Kematian menghilangkan seseorang. Hari ini ada, besok sudah tidak ada dan tidak dapat ditemui sosoknya. Eksistensi menjadi hilang, tidak ada, musnah .. tidak lagi dapat tercerap oleh sensor inderawi kita. Hilangnya eksistensi ini yang paling memberikan rasa takut karena berarti akan hilang pula semua kenangan, semua pengalaman, usaha, dan kepemilikan terhadap segala sesuatu yang pernah dikumpulkan semasa hidup. Kehilangan eksistensi berarti kehilangan referensi yang selama hidupnya menjadi identitas, misalnya: aku profesor, aku orang kaya, aku seorang direktur, aku seorang ayah dalam sebuah keluarga baik-baik .. dan sebagainya. Kelekatan ini akan hilang sejalan dengan hilangnya eksistensi diri."
Lanjutku, "Kehilangan eksistensi menjadi sebuah titik dimana sebuah imaji yang pernah cemerlang menjadi kosong, hampa, tidak berguna, tidak ada .."
"Diam-diam, ketakutan itu terus mengeras dalam pikiran ketika kita menyaksikan orang-orang yang mati di sekitar kita .."
"Lalu, bagaimana cara mengatasi ketakutan besar itu ya?", tanyanya.
Sayang, waktu makan siang sudah habis dan kami harus kembali lagi ke ruang diskusi untuk melanjutkan sesi berikut ..
lewattengahmalam
14oktober2010
"Kenapa ya saya dalam setahun terakhir ini, terutama setelah masuk di usia 40, selalu merasa takut?"
"Takut apa?". tanyaku
"Tidak tahu .. misalnya kalau saya harus memilih untuk pergi ke dua tempat, saya akan memilih yang lebih dekat, agar resiko tidak terlalu besar dan dapat kembali ke rumah lebih cepat."
Aku amati wajahnya, dan dia tidak bercanda.
"Ketakutan itu muncul ketika umurku mencapai 40, dan kudengar bahwa umur 40 merupakan puncak kematangan seseorang dalam hidupnya. Di usia itu katanya energi manusia berada di tingkat paling tinggi, sampai ada istilah puber kedua .. "
"Jadi, mengapa takut pada puncak kehidupan?" selidikku lagi.
"Entahlah .. tapi ketakutan itu nyata dan ada."
Sejenak aku berkaca pada diriku sendiri, apakah pada ulang tahunku yang ke 40 aku juga dulu merasa takut? Aku sama sekali tidak ingat.
"Kalau dari ceritamu bahwa kau selalu ingin cepat kembali ke rumah, rasanya ada ketakutan berada di luar rumah dan merasa aman ketika berada dalam rumah .."
"Ya, seperti itulah rasanya .."
Aku tidak dapat memahami ketakutannya, namun kucoba tawarkan sebuah pemahaman tentang rasa takut.
"Biasanya orang takut akan kematian .." lalu kuamati reaksi wajahnya. Ada sedikit gerakan kepalanya, dan kulihat dia menatapku lekat.
".. barangkali itu benar .." katanya pelan.
"Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa kematian selalu menakutkan .. ?" tanyaku, dan dia terdiam sambil menatapku seolah mencari jawabannya di wajahku.
".. menurut yang kupahami, paling tidak ada tiga alasan mengapa manusia takut akan kematian. Pertama, kematian merupakan peristiwa yang tidak dapat diperbaiki. Beda misalnya dengan sakit yang bisa sembuh .. jatuh yang bisa bangun kembali .. sedih yang dapat bergembira lagi. Mati tidak dapat hidup kembali."
Kulihat dia mendengarkan dengan diam sambil sesekali menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Alasan kedua, kematian merupakan kondisi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, karena itu menakutkan. Coba bayangkan ketika kita masuk ke sebuah gua, atau bahkan masuk ke sebuah kota, yang belum pernah kita ambah, kita alami, pasti ada rasa takut itu .."
"Alasan ketiga, dan ini yang paling menakutkan, adalah anihilasi .."
"Apa maksudmu dengan anihilasi?" sergahnya.
"Anihilasi merupakan penghilangan keberadaan. Kematian menghilangkan seseorang. Hari ini ada, besok sudah tidak ada dan tidak dapat ditemui sosoknya. Eksistensi menjadi hilang, tidak ada, musnah .. tidak lagi dapat tercerap oleh sensor inderawi kita. Hilangnya eksistensi ini yang paling memberikan rasa takut karena berarti akan hilang pula semua kenangan, semua pengalaman, usaha, dan kepemilikan terhadap segala sesuatu yang pernah dikumpulkan semasa hidup. Kehilangan eksistensi berarti kehilangan referensi yang selama hidupnya menjadi identitas, misalnya: aku profesor, aku orang kaya, aku seorang direktur, aku seorang ayah dalam sebuah keluarga baik-baik .. dan sebagainya. Kelekatan ini akan hilang sejalan dengan hilangnya eksistensi diri."
Lanjutku, "Kehilangan eksistensi menjadi sebuah titik dimana sebuah imaji yang pernah cemerlang menjadi kosong, hampa, tidak berguna, tidak ada .."
"Diam-diam, ketakutan itu terus mengeras dalam pikiran ketika kita menyaksikan orang-orang yang mati di sekitar kita .."
"Lalu, bagaimana cara mengatasi ketakutan besar itu ya?", tanyanya.
Sayang, waktu makan siang sudah habis dan kami harus kembali lagi ke ruang diskusi untuk melanjutkan sesi berikut ..
lewattengahmalam
14oktober2010
Kamis, 07 Oktober 2010
Sore Itu Di Restoran Ayam Goreng
Badanku terasa penat, barangkali sepenat sopir mikrolet yang membawaku ke daerah Tebet, melalui kemacetan luar biasa malam itu, yang ditingkahi oleh hujan salah musim yang akhir-akhir ini sering membanjiri ibukota.
Pikiranku-pun terpecah dan terberai ke setiap sudut kepalaku. Sungguh, malam itu aku tidak sepenuhnya menyadari apa yang aku sedang jalani. Sebentar pikiranku melayang ke Bambang, calon suamiku. Bulan depan kami berencana mengikatkan diri dalam perkawinan gereja. Bambang bukan orang baru dalam hidupku, dia kukenal sejak kami di sekolah dasar, bertahun lalu. Tanpa sengaja kami bertemu lagi dalam acara reuni, dan sejak itu tumbuh rasa cintaku kepadanya. Entah apa yang menggiring hal itu terjadi, namun berbincang dan bersamanya membuatku seolah berada dalam mangkok sup energi yang sungguh menyenangkan.
Sebentar kemudian pikiranku hinggap di rumahku, seolah sedang mendengarkan ocehan papa dan mamaku. Menurutku, sejak kepulangannya dari ibadah haji tiga tahun lalu, ada perubahan aneh. Barangkali itu hanya perasaanku saja, namun keduanya seolah hidup diantara dua sisi: harus menjadi suci di hadapan Allah melalui gencarnya ritual keagamaan yang dilakukannya untuk mengumpulkan pahala; dan ketakutan akan hukuman Allah yang menjadikannya menutup diri dari interaksi bebas dengan manusia yang tidak sejalan dalam agamanya karena dianggap bisa membahayakan surganya kelak. Dua sisi ini merubah perilaku dan warna interaksi mereka dengan orang lain, termasuk dengan diriku, termasuk dengan Bambang.
Pelan-pelan di dalam mikrolet dan derasnya hujan di luar, kurasakan hangatnya air mataku yang mengalir tanpa dapat kucegah. Air mata yang mampu membuatku menahan beban batin yang menghimpitku sampai ke sumsum tulangku. Air mata yang dapat memberiku energi untuk kembali kepada kesadaranku, meski tubuhku terasa semakin lelah. Aku baru tersadar ketika penumpang sebelahku mengetuk atap mikrolet minta berhenti di kawasan Tebet, dekat tempat tujuanku, restoran ayam goreng.
Di restoran itu aku akan dilamar oleh keluarga Bambang.
Dari luar restoran kulihat abangku, istrinya, dan saudara sepupuku, sudah duduk berhadapan dengan keluarga Bambang. Kulihat dia duduk di ujung deretan kursi yang didepannya masih kosong, yang pasti disediakan untukku. Cepat kuusap air mataku. Kurapikan rambutku, dan kukibaskan butiran air di bajuku. Sejenak kepedihan menyayat batinku, namun sejenak itu pula kucoba tekan hatiku agar tidak berdarah karenanya.
Begitu kududuk ditempatku, acara lamaran-pun dimulai. Intinya, kakak lelakiku menerima lamaran keluarga Bambang, dan semua pihak akan membantu agar pernikahanku bulan depan dapat berjalan dengan baik.
Kurasakan bibirku tertutup rapat, membendung gejolak hatiku. Kubayangkan rumah orangtuaku yang mewah, dan kugambarkan kejadian ini berada di sana, penuh ceria dan sukacita orangtuaku. Sejenak kemudian kusadari aku duduk di kursi keras sederhana ini, di depan sajian ayam goreng, sayuran, tempe tahu goreng, lalapan dan sambal. Kusadari bahwa orangtuaku tidak hadir dalam peristiwa teramat penting dalam hidupku ini. Kusadari kekosongan hatiku berada dalam keramaian kelompok kecil ini. Hanya sayup kutangkap obrolan dan canda tawa dua keluarga ini.
Pikiranku kembali sibuk. Pertanyaan demi pertanyaan muncul silih berganti. Mengapa Allah menciptakan agama kalau hanya untuk memisahkan aku dan orangtuaku? Mengapa Tuhan tidak mampu mengakui perbedaan agama umat ciptaannya dan tetap menyambungkan tali silaturahmi umatnya yang beraneka agama? Mengapa Tuhan begitu kejam menghukumku melalui orangtuaku yang tidak lagi mengakui aku sebagai anaknya ketika tahu aku pindah agama mengikuti calon suamiku? Mengapa Tuhan begitu membenciku sehingga aku merasakan batinku tercerai berai, terinjak oleh iman sebuah agama ciptaannya?
Mengapa aku tidak boleh berbeda?
Mengapa perbedaan bisa menimbulkan kebencian yang teramat dalam?
Semakin banyak pertanyaan yang hilir mudik dalam kepalaku membuatku semakin merasakan kelelahan yang sangat. Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah calon suamiku, aku terlelap di pundaknya.
7/10/2010
Pikiranku-pun terpecah dan terberai ke setiap sudut kepalaku. Sungguh, malam itu aku tidak sepenuhnya menyadari apa yang aku sedang jalani. Sebentar pikiranku melayang ke Bambang, calon suamiku. Bulan depan kami berencana mengikatkan diri dalam perkawinan gereja. Bambang bukan orang baru dalam hidupku, dia kukenal sejak kami di sekolah dasar, bertahun lalu. Tanpa sengaja kami bertemu lagi dalam acara reuni, dan sejak itu tumbuh rasa cintaku kepadanya. Entah apa yang menggiring hal itu terjadi, namun berbincang dan bersamanya membuatku seolah berada dalam mangkok sup energi yang sungguh menyenangkan.
Sebentar kemudian pikiranku hinggap di rumahku, seolah sedang mendengarkan ocehan papa dan mamaku. Menurutku, sejak kepulangannya dari ibadah haji tiga tahun lalu, ada perubahan aneh. Barangkali itu hanya perasaanku saja, namun keduanya seolah hidup diantara dua sisi: harus menjadi suci di hadapan Allah melalui gencarnya ritual keagamaan yang dilakukannya untuk mengumpulkan pahala; dan ketakutan akan hukuman Allah yang menjadikannya menutup diri dari interaksi bebas dengan manusia yang tidak sejalan dalam agamanya karena dianggap bisa membahayakan surganya kelak. Dua sisi ini merubah perilaku dan warna interaksi mereka dengan orang lain, termasuk dengan diriku, termasuk dengan Bambang.
Pelan-pelan di dalam mikrolet dan derasnya hujan di luar, kurasakan hangatnya air mataku yang mengalir tanpa dapat kucegah. Air mata yang mampu membuatku menahan beban batin yang menghimpitku sampai ke sumsum tulangku. Air mata yang dapat memberiku energi untuk kembali kepada kesadaranku, meski tubuhku terasa semakin lelah. Aku baru tersadar ketika penumpang sebelahku mengetuk atap mikrolet minta berhenti di kawasan Tebet, dekat tempat tujuanku, restoran ayam goreng.
Di restoran itu aku akan dilamar oleh keluarga Bambang.
Dari luar restoran kulihat abangku, istrinya, dan saudara sepupuku, sudah duduk berhadapan dengan keluarga Bambang. Kulihat dia duduk di ujung deretan kursi yang didepannya masih kosong, yang pasti disediakan untukku. Cepat kuusap air mataku. Kurapikan rambutku, dan kukibaskan butiran air di bajuku. Sejenak kepedihan menyayat batinku, namun sejenak itu pula kucoba tekan hatiku agar tidak berdarah karenanya.
Begitu kududuk ditempatku, acara lamaran-pun dimulai. Intinya, kakak lelakiku menerima lamaran keluarga Bambang, dan semua pihak akan membantu agar pernikahanku bulan depan dapat berjalan dengan baik.
Kurasakan bibirku tertutup rapat, membendung gejolak hatiku. Kubayangkan rumah orangtuaku yang mewah, dan kugambarkan kejadian ini berada di sana, penuh ceria dan sukacita orangtuaku. Sejenak kemudian kusadari aku duduk di kursi keras sederhana ini, di depan sajian ayam goreng, sayuran, tempe tahu goreng, lalapan dan sambal. Kusadari bahwa orangtuaku tidak hadir dalam peristiwa teramat penting dalam hidupku ini. Kusadari kekosongan hatiku berada dalam keramaian kelompok kecil ini. Hanya sayup kutangkap obrolan dan canda tawa dua keluarga ini.
Pikiranku kembali sibuk. Pertanyaan demi pertanyaan muncul silih berganti. Mengapa Allah menciptakan agama kalau hanya untuk memisahkan aku dan orangtuaku? Mengapa Tuhan tidak mampu mengakui perbedaan agama umat ciptaannya dan tetap menyambungkan tali silaturahmi umatnya yang beraneka agama? Mengapa Tuhan begitu kejam menghukumku melalui orangtuaku yang tidak lagi mengakui aku sebagai anaknya ketika tahu aku pindah agama mengikuti calon suamiku? Mengapa Tuhan begitu membenciku sehingga aku merasakan batinku tercerai berai, terinjak oleh iman sebuah agama ciptaannya?
Mengapa aku tidak boleh berbeda?
Mengapa perbedaan bisa menimbulkan kebencian yang teramat dalam?
Semakin banyak pertanyaan yang hilir mudik dalam kepalaku membuatku semakin merasakan kelelahan yang sangat. Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah calon suamiku, aku terlelap di pundaknya.
7/10/2010
Senin, 04 Oktober 2010
Menghargai Perempuan
Wajahnya kusut dan bibir yang biasanya nampak penuh dan menarik, sore itu tertutup dan berkerut, kedua ujungnya seolah tertarik dengan paksa ke arah berlawanan. Aku tahu itu karena bibirnya adalah salah satu bagian menarik dari wajahnya yang selalu kuamati pertama kali setiap kami bertemu. Dan aku juga tahu bahwa itulah gambaran dari hatinya.
.. aku gak mau sholat di masjid itu lagi, rajuknya
.. kenapa? selidikku
.. waktu sembahyang Ied, yang sudah aku tunggu setahun sekali, perempuan di taruh di baris belakang hampir di luar masjid, tidak dialasi karpet seperti para lelaki, tapi tikar plastik yang kumuh, dan waktu gerimis datang, sebagian kami harus menghambur ke dalam karena kebasahan, jelasnya dengan berapi-api
.. kenapa perempuan diperlakukan seperti manusia kelas dua? lanjutnya, masih berapi-api
Aku tidak dapat segera menjawabnya, dan barangkali tidak berguna untuk temanku yang masih berapi hatinya ini.
.. coba jelaskan, apa bedanya lelaki dan perempuan di hadapan Allah? Hanya karena yang satu ber-penis dan yang lain ber-vagina? Hanya karena itukah kedua jenis manusia ini berbeda dihadapanNya? Apakah Allah memperlakukan manusia berbeda karena alat kelaminnya dan bukan batinnya? Demikian rendahkah Allah dalam memperlakukan ciptaanNya sendiri terutama bagi para perempuan? Betulkah perempuan harus menjadi manusia nomor dua karena kodratnya? Kalau begitu, dimana keadilan Allah?
Terus terang aku tidak mampu berkata selain diam dan mendengarkannya dengan baik.
.. aku betul2 tidak mau lagi ke masjid itu, bahkan aku tidak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki sombong dan mau menang sendiri itu. Suaranya masih berapi dan bahkan terasa lebih panas dari sebelumnya.
Ada kekesalan dan kemarahan dalam suaranya. Dalam nada halus, ada kepedihan yang terdengar sayup dalam gelegak nada suaranya. Ada tangis dalam kemarahannya. Ada kekecewaan dalam protesnya. Ada ratapan dalam keberaniannya menentang aturan.
Aturan?
Siapakah yang mengeluarkan aturan itu?
Barangkali aturan itu dibuat berdasar kebiasaan sebuah masyarakat di sebuah negri yang membedakan peran dan tingkat sosial perempuan dalam masyarakat. Barangkali aturan itu dibuat berdasar ketakutan para lelaki akan kelebihan perempuan, baik itu kekuatan fisik, pandangan yang menyeluruh, kepekaan perasaan, kehalusan budi, sikap melindungi, hasrat memelihara, ataupun kehangatan jiwa.
.. pokoknya aku gak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki yang merasa dirinya lebih tinggi daripada perempuan, yang menyimpan kemunafikan dalam kopiah mereka, dan membungkus ketakutan dalam baju koko mereka ..
Aku tidak dapat berkata lagi, karena sudah ada 'pokoknya'. Namun diam-diam aku sungguh menghargai perempuan ini, sepenuh hatiku.
menjelangtengahmalam
4oktober2010
.. aku gak mau sholat di masjid itu lagi, rajuknya
.. kenapa? selidikku
.. waktu sembahyang Ied, yang sudah aku tunggu setahun sekali, perempuan di taruh di baris belakang hampir di luar masjid, tidak dialasi karpet seperti para lelaki, tapi tikar plastik yang kumuh, dan waktu gerimis datang, sebagian kami harus menghambur ke dalam karena kebasahan, jelasnya dengan berapi-api
.. kenapa perempuan diperlakukan seperti manusia kelas dua? lanjutnya, masih berapi-api
Aku tidak dapat segera menjawabnya, dan barangkali tidak berguna untuk temanku yang masih berapi hatinya ini.
.. coba jelaskan, apa bedanya lelaki dan perempuan di hadapan Allah? Hanya karena yang satu ber-penis dan yang lain ber-vagina? Hanya karena itukah kedua jenis manusia ini berbeda dihadapanNya? Apakah Allah memperlakukan manusia berbeda karena alat kelaminnya dan bukan batinnya? Demikian rendahkah Allah dalam memperlakukan ciptaanNya sendiri terutama bagi para perempuan? Betulkah perempuan harus menjadi manusia nomor dua karena kodratnya? Kalau begitu, dimana keadilan Allah?
Terus terang aku tidak mampu berkata selain diam dan mendengarkannya dengan baik.
.. aku betul2 tidak mau lagi ke masjid itu, bahkan aku tidak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki sombong dan mau menang sendiri itu. Suaranya masih berapi dan bahkan terasa lebih panas dari sebelumnya.
Ada kekesalan dan kemarahan dalam suaranya. Dalam nada halus, ada kepedihan yang terdengar sayup dalam gelegak nada suaranya. Ada tangis dalam kemarahannya. Ada kekecewaan dalam protesnya. Ada ratapan dalam keberaniannya menentang aturan.
Aturan?
Siapakah yang mengeluarkan aturan itu?
Barangkali aturan itu dibuat berdasar kebiasaan sebuah masyarakat di sebuah negri yang membedakan peran dan tingkat sosial perempuan dalam masyarakat. Barangkali aturan itu dibuat berdasar ketakutan para lelaki akan kelebihan perempuan, baik itu kekuatan fisik, pandangan yang menyeluruh, kepekaan perasaan, kehalusan budi, sikap melindungi, hasrat memelihara, ataupun kehangatan jiwa.
.. pokoknya aku gak mau lagi sholat berjamaah dengan para lelaki yang merasa dirinya lebih tinggi daripada perempuan, yang menyimpan kemunafikan dalam kopiah mereka, dan membungkus ketakutan dalam baju koko mereka ..
Aku tidak dapat berkata lagi, karena sudah ada 'pokoknya'. Namun diam-diam aku sungguh menghargai perempuan ini, sepenuh hatiku.
menjelangtengahmalam
4oktober2010
Selasa, 28 September 2010
Kasih Injil Yohannes
Sebuah cerita dari sahabatku.
Aku merasa paham atas apa yang ditulis di kitab suci. Kitab yang menjadi panduan dalam hidupku, dan menjadi perlindunganku dalam segala kesukaran hidup. Di dalam ayat-ayat itulah aku menyandarkan pengetahuanku tentang segala dimensi kehidupan ini.
Di situ diceritakan tentang Yesus yang mengajarkan kasih, sebagai inti dari semua ajarannya. Seandainya kitab suci bisa diperas maka akan keluar setetes embun bernama ‘kasih’ .. hanya itu.
Kata pemimpin agamaku, kasih itu datangnya dari Allah, bukan dari manusia karena manusia sejak lahirnya sudah cacat membawa dosa asal dari Adam. Hanya dengan melakukan dan menyatu dengan Allah-lah maka kasih dariNya dapat kita peroleh. Satu-satunya penyatuan antara manusia, Yesus dan Allah dibahas dalam injil Yohannes. Bukan oleh penulis2 injil lainnya. Salah satu contoh misalnya, “ .. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam aku dan aku di dalam kamu ..” (Yoh 14:20).
Penggambaran Yesus lebih lanjut tentang penyatuan diri ini ada di ayat selanjutnya, bahwa kita manusia seperti ranting anggur yang harus menyatu dengan pokoknya agar dapat berbuah. Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting2nya (Yoh 15:4 -5). Aku juga tahu bahwa sebagai seorang Kristen, aku harus menyatukan diriku dengan Allah, dengan Kristus. Usaha penyatuan itu digambarkan dengan konsekrasi dan penerimaan komuni di perayaan ekaristi. Sebuah komunion, penyatuan, penerimaan tubuh (dan darah) Kristus ke dalam diri kita masing-masing.
Lebih jauh Yesus mengatakan, “.. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal dalam kasihNya (Yoh 15:10).
.. aku dalam kamu, kamu ada di dalam aku ..
.. kamu tinggal dalam kasihku ..
.. aku tinggal dalam kasih Bapa ..
.. bagai pokok anggur, kamu tidak berbuah kalau tidak tinggal dalam aku ..
.. di luar aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ..
Barangkali sudah puluhan kali ayat2 itu aku baca ulang, aku coba pahami lagi, aku coba kaji kembali. Kata-kata dalam alkitab yang seharusnya menuntunku menemukan kebenaran sejati, semakin lama malah terasa menjadi sebuah konsep. Kata-kata itu menjadi kalimat yang menarik dalam bahasa namun membingungkan dalam arti, sehingga terasa ada sebuah jarak diantara keduanya yang memberi ruang untuk interpretasi, menurut siapapun yang membacanya.
Namun pertanyaanku masih terus menggantung, bagaimana caranya seseorang menyatukan dirinya dengan Allah? Alkitab hanya mengatakan apa, bukan bagaimana. Aku masih ingin mendapatkan sebuah ketrampilan untuk melakukan apa yang diamanatkan dalam buku suci itu. Ketrampilan untuk menemukan arti sejati dari amanat itu, kemudian menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan sehari-hari, tanpa harus bersusah payah membentuk kondisi pendukungnya.
Akhirnya aku kenal seseorang, yang dalam perjalanan hidupku bersahabat dengannya, memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidupku yang masih menggantung. Dia membawa sebuah kesadaran baru yang jauh lebih pragmatis, realistis, sederhana, namun sangat dalam pada dimensi spiritual …
Darinya, ada sebuah kesadaran baru yang kuperoleh. Sebuah kesadaran bahwa penyatuan dengan Allah yang banyak diajarkan oleh banyak agama di dunia ini, merupakan sebuah bentuk kesadaran tertinggi bahwa ‘kerajaan Allah ada dalam diri manusia, dalam diriku’. Allah bersemayam dalam diri masing-masing manusia. Sehingga kini aku menyadari bahwa aku tinggal menemukan kerajaan itu, bagaikan Bima menemukan Dewa Ruci. Kerajaan itu tidak di’luar’ sana, tidak di tanah suci di permukaan bumi ini, tidak di bangunan gereja atau masjid, tidak di pohon atau di gua-gua yang disucikan, namun ada di dalam hatiku. Sudah ada sejak awal jaman. Tinggal menemukannya.
Perubahan sudut pandang, yang masih sangat sejalan dengan bunyi ayat-ayat alkitab di atas, membalik seluruh pertanyaanku menjadi jawaban. Rasanya tidak diperlukan lagi interpretasi tambahan untuk dapat memahami apa yang ditulis dalam injil Yohannes.
Allah ada dalam diriku, karena batinku adalah kerajaanNya ..
Komunion denganNya terjadi setiap saat, tidak hanya pada hari Minggu dalam perayaan ekaristi ..
Kurasakan energiNya dalam diriku, kusyukuri kehadiranNya dalam batinku ..
Terimakasih sahabatku.
Lewattengahmalam
29/9/2010
Aku merasa paham atas apa yang ditulis di kitab suci. Kitab yang menjadi panduan dalam hidupku, dan menjadi perlindunganku dalam segala kesukaran hidup. Di dalam ayat-ayat itulah aku menyandarkan pengetahuanku tentang segala dimensi kehidupan ini.
Di situ diceritakan tentang Yesus yang mengajarkan kasih, sebagai inti dari semua ajarannya. Seandainya kitab suci bisa diperas maka akan keluar setetes embun bernama ‘kasih’ .. hanya itu.
Kata pemimpin agamaku, kasih itu datangnya dari Allah, bukan dari manusia karena manusia sejak lahirnya sudah cacat membawa dosa asal dari Adam. Hanya dengan melakukan dan menyatu dengan Allah-lah maka kasih dariNya dapat kita peroleh. Satu-satunya penyatuan antara manusia, Yesus dan Allah dibahas dalam injil Yohannes. Bukan oleh penulis2 injil lainnya. Salah satu contoh misalnya, “ .. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam aku dan aku di dalam kamu ..” (Yoh 14:20).
Penggambaran Yesus lebih lanjut tentang penyatuan diri ini ada di ayat selanjutnya, bahwa kita manusia seperti ranting anggur yang harus menyatu dengan pokoknya agar dapat berbuah. Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting2nya (Yoh 15:4 -5). Aku juga tahu bahwa sebagai seorang Kristen, aku harus menyatukan diriku dengan Allah, dengan Kristus. Usaha penyatuan itu digambarkan dengan konsekrasi dan penerimaan komuni di perayaan ekaristi. Sebuah komunion, penyatuan, penerimaan tubuh (dan darah) Kristus ke dalam diri kita masing-masing.
Lebih jauh Yesus mengatakan, “.. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal dalam kasihNya (Yoh 15:10).
.. aku dalam kamu, kamu ada di dalam aku ..
.. kamu tinggal dalam kasihku ..
.. aku tinggal dalam kasih Bapa ..
.. bagai pokok anggur, kamu tidak berbuah kalau tidak tinggal dalam aku ..
.. di luar aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ..
Barangkali sudah puluhan kali ayat2 itu aku baca ulang, aku coba pahami lagi, aku coba kaji kembali. Kata-kata dalam alkitab yang seharusnya menuntunku menemukan kebenaran sejati, semakin lama malah terasa menjadi sebuah konsep. Kata-kata itu menjadi kalimat yang menarik dalam bahasa namun membingungkan dalam arti, sehingga terasa ada sebuah jarak diantara keduanya yang memberi ruang untuk interpretasi, menurut siapapun yang membacanya.
Namun pertanyaanku masih terus menggantung, bagaimana caranya seseorang menyatukan dirinya dengan Allah? Alkitab hanya mengatakan apa, bukan bagaimana. Aku masih ingin mendapatkan sebuah ketrampilan untuk melakukan apa yang diamanatkan dalam buku suci itu. Ketrampilan untuk menemukan arti sejati dari amanat itu, kemudian menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan sehari-hari, tanpa harus bersusah payah membentuk kondisi pendukungnya.
Akhirnya aku kenal seseorang, yang dalam perjalanan hidupku bersahabat dengannya, memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidupku yang masih menggantung. Dia membawa sebuah kesadaran baru yang jauh lebih pragmatis, realistis, sederhana, namun sangat dalam pada dimensi spiritual …
Darinya, ada sebuah kesadaran baru yang kuperoleh. Sebuah kesadaran bahwa penyatuan dengan Allah yang banyak diajarkan oleh banyak agama di dunia ini, merupakan sebuah bentuk kesadaran tertinggi bahwa ‘kerajaan Allah ada dalam diri manusia, dalam diriku’. Allah bersemayam dalam diri masing-masing manusia. Sehingga kini aku menyadari bahwa aku tinggal menemukan kerajaan itu, bagaikan Bima menemukan Dewa Ruci. Kerajaan itu tidak di’luar’ sana, tidak di tanah suci di permukaan bumi ini, tidak di bangunan gereja atau masjid, tidak di pohon atau di gua-gua yang disucikan, namun ada di dalam hatiku. Sudah ada sejak awal jaman. Tinggal menemukannya.
Perubahan sudut pandang, yang masih sangat sejalan dengan bunyi ayat-ayat alkitab di atas, membalik seluruh pertanyaanku menjadi jawaban. Rasanya tidak diperlukan lagi interpretasi tambahan untuk dapat memahami apa yang ditulis dalam injil Yohannes.
Allah ada dalam diriku, karena batinku adalah kerajaanNya ..
Komunion denganNya terjadi setiap saat, tidak hanya pada hari Minggu dalam perayaan ekaristi ..
Kurasakan energiNya dalam diriku, kusyukuri kehadiranNya dalam batinku ..
Terimakasih sahabatku.
Lewattengahmalam
29/9/2010
Sabtu, 18 September 2010
(Bukan) Agama Baru?
Aku pernah beragama. Demikian katanya. Sekarang aku tidak tahu, apakah hidupku beragama atau tidak.
Dia meneruskan ceritanya padaku.
Dulu, beragama bagiku adalah rajin mengunjungi rumah ibadah, mengikuti setiap acara ritual di rumah ibadah itu, setia berdoa tepat waktu, melantunkan doa-doa dengan bertasbih, berpakaian terbaik ketika mengunjungi rumah ibadah, selalu mencoba membaca alkitab untuk memahami cerita dan menghafal ayat-ayat yang penting, sangat menghormati para pemimpin agamaku ...
Dalam hatiku, aku merasa nyaman ketika semua kewajiban sudah kulaksanakan. Sekali tidak ke rumah ibadah, rasanya ada sesuatu yang kurang dan harus ditebus .. untuk mengembalikan rasa nyaman tadi. Aku bisa menangis ketika melantunkan doa-doa yang menyentuh hatiku. Aku bisa terhanyut mendengar alunan doa dan nyanyian rohani yang mendayu syahdu. Aku bisa mendapat energi baru ketika mengunjungi tempat-tempat ziarah yang disucikan oleh umat dalam agamaku.
Aku merasa nyaman, merasa aman dalam kelompokku, dan merasa bahwa ada jaminan keselamatan akan kehidupanku kelak setelah kematian ...
Aku masih mendengarkan dengan seksama ceritanya yang sungguh menarik ini.
Suatu ketika aku berubah.
Berubah? tanyaku.
Dia melanjutkan ceritanya. Ya, aku berubah. Ada sebuah peristiwa dalam kehidupanku yang membuatku mempertanyakan peran agama dalam kehidupanku. Ada sebuah titik yang membuatku menggugat seluruh bangunan keyakinan yang selama ini kugenggam teguh dan kubungkus dengan kain putih bertuliskan "iman". Ada sebuah lantai marmer tempat kepalaku dibenturkan untuk mendapatkan kesadaran baru dalam kehidupanku.
Semua peristiwa itu terjadi akibat dari sebuah kondisi kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dihadapkan kepadaku dengan gamblang, sangat mendasar, telak menampar wajahku dan merontokkan seluruh kenyamanan yang melingkupiku, sebuah kenyamanan semu yang selama ini tercipta akibat dari penanaman sugestif yang kulakukan berulang melalui ritual keagamaan. Semua gambaran semu yang terus menerus kubuat untuk membentuk sebuah benteng pengaman dari godaan diluar keyakinanku, yang dicap sebagai setan, iblis penggoda iman oleh kelompok agamaku.
Perubahan apa yang kau alami? selidikku.
Sebuah perubahan yang amat sangat mendasar, yang mampu membongkar seluruh dasar "iman" ku dalam beragama. Perubahan yang mampu mengkritik peran Tuhan atau Hyang Maha. Perubahan ini begitu menyakitkan batinku, seolah membungkam degup jantungku. Perubahan yang mampu menguliti otak dan pikiranku sehingga menemukan keinginan2 yang bersembunyi di dalam kepalaku. Semua itu berproses. Namun memang proses itu seolah mencekik seluruh saraf kesadaranku, sehingga aku berusaha untuk tetap sadar dengan menggapai-gapai untuk mendapatkan energi kehidupan. Sungguh, sebuah proses yang teramat menyiksa segenap sel dalam diriku. Sebuah proses yang membawa rasa takutku yang terdalam, ke permukaan, dan kurasakan secara nyata.
Namun, peristiwa itu ternyata merupakan sebuah transformasi batin yang membongkar bangunan lama keagamaanku dan membentuk sebuah bangunan baru yang jauh lebih terbuka, tidak kaku oleh ritual dan iman, tidak terkungkung oleh proteksi dogma. Bangunan baru ini seperti sebuah energi yang tidak berstruktur kaku, tapi luwes, adaptif terhadap stimuli apapun, seolah menyatu dengan batin dan pikiranku, serta memberi energi berlimpah ke dalam kehidupanku.
Apakah itu sebuah agama baru bagimu? kucoba untuk memahami lebih jauh.
Aku tidak tahu apakah ini sebuah agama baru. Aku tidak lagi melakukan banyak ritual untuk memahami dan mengalaminya. Aku hanya perlu mengheningkan seluruh sistem dalam badan, pikiran dan batinku. Keheningan yang sangat kini, sehingga konsep waktu melarut dan memudar, tidak ada lagi masa lalu dan masa depan. Keheningan yang berada di sini, sehingga tidak ada lagi konsep ruang selain di sini. Sebuah kondisi yang amat sangat menenangkan, berenergi, amat sangat membebaskan, dan ternyata sangat membahagiakan.
Aku tidak tahu benar apa yang terjadi, namun rasanya agama yang pernah kuanut dan sempat memberiku rasa keselamatan dan proteksi, menjadi tidak berarti .. aku tidak lagi merasakan ketakutan atau kecemasan tentang dosa, tidak juga merasakan adanya ancaman apapun dalam hidup ini. Tidak ada rasa khawatir terhadap masa depan, konsep surga dan neraka setelah kematian, karena seperti kataku tadi, waktu yang ada hanya masa kini, masa depan adalah sebuah fantasi ...
Kalau kau tanya aku sekarang, apa agamamu, aku tidak mampu menjawabnya, karena apa yang kualami pasti tidak masuk dalam kategori agama yang kau miliki.
Tapi, aku tidak peduli lagi dengan aturan-aturan yang sekarang masih terus kau ikuti dan jalani. Itu semua adalah masa laluku yang kini telah mati dan pergi entah kemana.
Mendengar ceritanya, aku hanya terdiam. Apalagi yang bisa kulakukan selain itu?
tengah hari,
di rumah, 19/9/2010
Dia meneruskan ceritanya padaku.
Dulu, beragama bagiku adalah rajin mengunjungi rumah ibadah, mengikuti setiap acara ritual di rumah ibadah itu, setia berdoa tepat waktu, melantunkan doa-doa dengan bertasbih, berpakaian terbaik ketika mengunjungi rumah ibadah, selalu mencoba membaca alkitab untuk memahami cerita dan menghafal ayat-ayat yang penting, sangat menghormati para pemimpin agamaku ...
Dalam hatiku, aku merasa nyaman ketika semua kewajiban sudah kulaksanakan. Sekali tidak ke rumah ibadah, rasanya ada sesuatu yang kurang dan harus ditebus .. untuk mengembalikan rasa nyaman tadi. Aku bisa menangis ketika melantunkan doa-doa yang menyentuh hatiku. Aku bisa terhanyut mendengar alunan doa dan nyanyian rohani yang mendayu syahdu. Aku bisa mendapat energi baru ketika mengunjungi tempat-tempat ziarah yang disucikan oleh umat dalam agamaku.
Aku merasa nyaman, merasa aman dalam kelompokku, dan merasa bahwa ada jaminan keselamatan akan kehidupanku kelak setelah kematian ...
Aku masih mendengarkan dengan seksama ceritanya yang sungguh menarik ini.
Suatu ketika aku berubah.
Berubah? tanyaku.
Dia melanjutkan ceritanya. Ya, aku berubah. Ada sebuah peristiwa dalam kehidupanku yang membuatku mempertanyakan peran agama dalam kehidupanku. Ada sebuah titik yang membuatku menggugat seluruh bangunan keyakinan yang selama ini kugenggam teguh dan kubungkus dengan kain putih bertuliskan "iman". Ada sebuah lantai marmer tempat kepalaku dibenturkan untuk mendapatkan kesadaran baru dalam kehidupanku.
Semua peristiwa itu terjadi akibat dari sebuah kondisi kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dihadapkan kepadaku dengan gamblang, sangat mendasar, telak menampar wajahku dan merontokkan seluruh kenyamanan yang melingkupiku, sebuah kenyamanan semu yang selama ini tercipta akibat dari penanaman sugestif yang kulakukan berulang melalui ritual keagamaan. Semua gambaran semu yang terus menerus kubuat untuk membentuk sebuah benteng pengaman dari godaan diluar keyakinanku, yang dicap sebagai setan, iblis penggoda iman oleh kelompok agamaku.
Perubahan apa yang kau alami? selidikku.
Sebuah perubahan yang amat sangat mendasar, yang mampu membongkar seluruh dasar "iman" ku dalam beragama. Perubahan yang mampu mengkritik peran Tuhan atau Hyang Maha. Perubahan ini begitu menyakitkan batinku, seolah membungkam degup jantungku. Perubahan yang mampu menguliti otak dan pikiranku sehingga menemukan keinginan2 yang bersembunyi di dalam kepalaku. Semua itu berproses. Namun memang proses itu seolah mencekik seluruh saraf kesadaranku, sehingga aku berusaha untuk tetap sadar dengan menggapai-gapai untuk mendapatkan energi kehidupan. Sungguh, sebuah proses yang teramat menyiksa segenap sel dalam diriku. Sebuah proses yang membawa rasa takutku yang terdalam, ke permukaan, dan kurasakan secara nyata.
Namun, peristiwa itu ternyata merupakan sebuah transformasi batin yang membongkar bangunan lama keagamaanku dan membentuk sebuah bangunan baru yang jauh lebih terbuka, tidak kaku oleh ritual dan iman, tidak terkungkung oleh proteksi dogma. Bangunan baru ini seperti sebuah energi yang tidak berstruktur kaku, tapi luwes, adaptif terhadap stimuli apapun, seolah menyatu dengan batin dan pikiranku, serta memberi energi berlimpah ke dalam kehidupanku.
Apakah itu sebuah agama baru bagimu? kucoba untuk memahami lebih jauh.
Aku tidak tahu apakah ini sebuah agama baru. Aku tidak lagi melakukan banyak ritual untuk memahami dan mengalaminya. Aku hanya perlu mengheningkan seluruh sistem dalam badan, pikiran dan batinku. Keheningan yang sangat kini, sehingga konsep waktu melarut dan memudar, tidak ada lagi masa lalu dan masa depan. Keheningan yang berada di sini, sehingga tidak ada lagi konsep ruang selain di sini. Sebuah kondisi yang amat sangat menenangkan, berenergi, amat sangat membebaskan, dan ternyata sangat membahagiakan.
Aku tidak tahu benar apa yang terjadi, namun rasanya agama yang pernah kuanut dan sempat memberiku rasa keselamatan dan proteksi, menjadi tidak berarti .. aku tidak lagi merasakan ketakutan atau kecemasan tentang dosa, tidak juga merasakan adanya ancaman apapun dalam hidup ini. Tidak ada rasa khawatir terhadap masa depan, konsep surga dan neraka setelah kematian, karena seperti kataku tadi, waktu yang ada hanya masa kini, masa depan adalah sebuah fantasi ...
Kalau kau tanya aku sekarang, apa agamamu, aku tidak mampu menjawabnya, karena apa yang kualami pasti tidak masuk dalam kategori agama yang kau miliki.
Tapi, aku tidak peduli lagi dengan aturan-aturan yang sekarang masih terus kau ikuti dan jalani. Itu semua adalah masa laluku yang kini telah mati dan pergi entah kemana.
Mendengar ceritanya, aku hanya terdiam. Apalagi yang bisa kulakukan selain itu?
tengah hari,
di rumah, 19/9/2010
Senin, 06 September 2010
FITRAH
"Selamat Iedul Fitri, mohon maaf lahir dan batin .."
Kalimat itu merupakan standard ucapan di saat umat Islam memperingati hari selesai berpuasa, hari akhir bulan Ramadhan. Hari yang menurut mereka adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu. Hari itu umat Islam merasakan sebagai manusia baru, manusia yang mampu kembali ke fitrah, sebuah kondisi bersih bagai bayi yang baru lahir.
Seperti disampaikan oleh Abu Hurairah: " .. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada anak yang lahir kecuali dalam Al-fitra dan kemudian orangtuanya menjadikan mereka Yahudi, Kristen atau Magian (Zoroatrian), seperti halnya binatang melahirkan binatang yang sempurna: kau lihatkah bayi binatang itu yang bagian badannya terpotong? " (Sahih al Bukhari, buku 23)
Fitrah adalah kondisi dimana kemanusiaan kita sempurna bagai bayi, tidak ada kedengkian, tidak ada ketakutan, kemarahan, ketamakan .. yang ada adalah kondisi seorang manusia yang utuh jasmani - rohani, murni, bahkan bayi-pun masih terhubung erat dengan dimensi spiritualitas mereka.
Hari raya iedul fitri memang tepat untuk merenungkan kembali kefitrian manusia. Hari yang diperlukan, paling tidak beberapa hari dalam setahun, untuk mengembalikan manusia kepada nilai-nilai kemanusiaannya. Nilai-nilai yang mengatakan bahwa semua manusia adalah sama, seperti kesamaan bayi-bayi yang baru lahir. Nilai-nilai yang membebaskan manusia dari sekat-sekat yang dibuatnya sendiri yang berasal dari: agama, kebangsaan, keturunan, ekonomi, politik, dan masih banyak lagi. Sekat-sekat yang ternyata telah membatasi gerak batin manusia dalam berkomunikasi dengan sesama, dengan alam semesta, bahkan dengan Tuhannya, sumber kehidupannya. Sekat-sekat yang ternyata telah mengasingkan manusia dari sisi kemanusiaannya.
Semoga hari Iedul Fitri 1431 H ini tidak hanya merupakan hari penyelesaian puasa, pembagian zakat karena kewajiban, mudik bertemu sanak keluarga; namun mudah-mudahan hari besar ini dapat mempunyai makna yang lebih dalam di kehidupan kita semua. Makna bahwa kita dapat kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, kembali kepada kebebasan manusia dari sekat-sekat yang membelenggu dan mengurangi kebebasan gerak batin kita untuk saling menyapa, bersilaturahmi, bersatu.
Membuka pintu maaf bagi diri sendiri dan bagi orang lain tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah awal dari pendobrakan sekat-sekat yang membelenggu kemanusiaan kita sendiri, yang diperlukan untuk usaha kita kembali kepada nilai-nilai kesejatian kita sebagai manusia. Kembali kepada fitrah kita.
"Selamat Iedul Fitri 1431 H, semoga dibukakan pintu maaf lahir dan batin ..."
agus widianto
7 september 2010
Kalimat itu merupakan standard ucapan di saat umat Islam memperingati hari selesai berpuasa, hari akhir bulan Ramadhan. Hari yang menurut mereka adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu. Hari itu umat Islam merasakan sebagai manusia baru, manusia yang mampu kembali ke fitrah, sebuah kondisi bersih bagai bayi yang baru lahir.
Seperti disampaikan oleh Abu Hurairah: " .. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada anak yang lahir kecuali dalam Al-fitra dan kemudian orangtuanya menjadikan mereka Yahudi, Kristen atau Magian (Zoroatrian), seperti halnya binatang melahirkan binatang yang sempurna: kau lihatkah bayi binatang itu yang bagian badannya terpotong? " (Sahih al Bukhari, buku 23)
Fitrah adalah kondisi dimana kemanusiaan kita sempurna bagai bayi, tidak ada kedengkian, tidak ada ketakutan, kemarahan, ketamakan .. yang ada adalah kondisi seorang manusia yang utuh jasmani - rohani, murni, bahkan bayi-pun masih terhubung erat dengan dimensi spiritualitas mereka.
Hari raya iedul fitri memang tepat untuk merenungkan kembali kefitrian manusia. Hari yang diperlukan, paling tidak beberapa hari dalam setahun, untuk mengembalikan manusia kepada nilai-nilai kemanusiaannya. Nilai-nilai yang mengatakan bahwa semua manusia adalah sama, seperti kesamaan bayi-bayi yang baru lahir. Nilai-nilai yang membebaskan manusia dari sekat-sekat yang dibuatnya sendiri yang berasal dari: agama, kebangsaan, keturunan, ekonomi, politik, dan masih banyak lagi. Sekat-sekat yang ternyata telah membatasi gerak batin manusia dalam berkomunikasi dengan sesama, dengan alam semesta, bahkan dengan Tuhannya, sumber kehidupannya. Sekat-sekat yang ternyata telah mengasingkan manusia dari sisi kemanusiaannya.
Semoga hari Iedul Fitri 1431 H ini tidak hanya merupakan hari penyelesaian puasa, pembagian zakat karena kewajiban, mudik bertemu sanak keluarga; namun mudah-mudahan hari besar ini dapat mempunyai makna yang lebih dalam di kehidupan kita semua. Makna bahwa kita dapat kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, kembali kepada kebebasan manusia dari sekat-sekat yang membelenggu dan mengurangi kebebasan gerak batin kita untuk saling menyapa, bersilaturahmi, bersatu.
Membuka pintu maaf bagi diri sendiri dan bagi orang lain tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah awal dari pendobrakan sekat-sekat yang membelenggu kemanusiaan kita sendiri, yang diperlukan untuk usaha kita kembali kepada nilai-nilai kesejatian kita sebagai manusia. Kembali kepada fitrah kita.
"Selamat Iedul Fitri 1431 H, semoga dibukakan pintu maaf lahir dan batin ..."
agus widianto
7 september 2010
Langganan:
Postingan (Atom)