Kamis, 08 Desember 2011
MEMANUSIAKAN TUHAN
Hampir setiap saat kita bisa melihat orang-orang sholat, berdoa, baik di rumah ibadah atau di tempat2 lainnya. Mulut mereka komat-kamit mengucapkan rentetan kata-kata yang biasanya terdiri dari: pujian kepada Tuhan bahwa dia yang paling berkuasa di semesta, termasuk untuk mengabulkan permintaan. Lalu muncul permintaan-permintaan kepada Tuhan sesuai yang manusia inginkan, dan biasanya ditutup dengan permintaan maaf atas segala kesalahan dan terakhir adalah pernyataan2 peneguhan diri.
Pola doa biasanya tidak jauh dari hal-hal tersebut di atas, dan bahkan sudah hampir menjadi pakem bahwa sebuah doa akan sempurna, elok didengar, mustajab, kalau mempunyai susunan seperti itu. Banyak usaha mengembangkan doa kepada Tuhan menggunakan pola standard tersebut. Ini dilakukan dalam bahasa apapun, baik Indonesia, Arab, Latin, Jawa ...
Isi doa kebanyakan minta, memohon, mengharap .. agar Tuhan mengabulkan permintaan, baik itu untuk: kesembuhan, makanan yang enak, dapat duit, enteng jodoh, bisnis lancar, dan sebagainya. Bahkan banyak orang percaya, semakin baik susunan kata dalam sebuah doa, apalagi kalau sambil berdoa ditemani dengan ritual dan berpakaian sopan ketika "menghadap" kepada Tuhan, maka semakin besar kemungkinan Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa ini.
Manusia berdoa kepada Tuhan seolah berbicara kepada Bapaknya, kepada Rajanya, kepada majikannya atau kepada teman baiknya. Seolah Tuhan seperti manusia, yang mempunyai perasaan, mempunyai pikiran, mempunyai hati. Kita memperlakukan Tuhan seperti halnya manusia yang mempunyai kelebihan dibanding manusia seperti kita.
Hal ini bisa dimaklumi karena memang pada dasarnya manusia hanya bisa memahami apa yang berada "di luar" dirinya berdasarkan pemahaman manusia atas dirinya. Ukuran dirinya diterapkan pada saat mencoba memahami dunia luarnya. Ikatan emosional manusia dengan alam semesta hanya bisa dibangun melalui cara meng-ekstrapolasi-kan dirinya Maka fenomena alam dipahami sesuai dengan dirinya. Misalnya: alam sedang marah, laut mengamuk, singa menyayangi anaknya, bahkan Tuhan mengampuni dosa.
Keterbatasan pikiran manusia memang membatasi ke'maha'an Tuhan. Meski kita menyebut Tuhan itu 'maha', tapi masih dalam konteks kemampuan manusia, dan Tuhan mempunyai kemampuan yang sama namun jauh lebih berpotensi. Omni potent.
Manusia tidak mampu melepaskan Tuhan sebagaimana adanya. Bahkan dia HARUS punya nama, seperti manusia. Ada yang bilang namanyapun hanya 99. Tuhan mempunyai pribadi tiga, tuhan seperti bapak sendiri, dan sebagainya. Usaha manusia memahami tuhan sudah dilakukan sejak jaman purba dan sampai sekarangpun manusia tetap tidak dapat memahaminya. Akhirnya cara yang paling mudah adalah dengan memanusiakannya. Pemanusiaan tuhan seperti ini membuat manusia memperlakukan tuhan seperti manusia lain tapi linuwih, berkelebihan
Akhirnya, Tuhan menjadi sebatas daya cerap manusia, sebatas ada dalam pikiran dan sebatas persepsi. Ke 'maha' an Tuhan tidak lagi ada karena dia sudah dimanusiakan oleh manusia. Pencipta harus menurut apa yang dimaui oleh yang diciptakannya, dan akhirnya, tuhan hanya diciptakan oleh manusia sesuai dengan kehendaknya. Maka ada tuhan yang hanya mengerti bahasa Arab, ada tuhan yang hanya suka manusia beragama kristen, ada tuhan yang hanya berdiam di mesjid, ada tuhan yang labih menyukai dandanan tertentu dan sebagainya. Inilah memanusiakan tuhan, dan tuhan hanya sebagai anggota kelompoknya, atau, pemimpin kelompoknya. Bahkan tidak jarang tuhan dikangkangi oleh ego manusia untuk memenuhi hasratnya.
21desember2011
soreharidivolkskaffee
Sabtu, 12 November 2011
KEMATIAN
Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru. Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama. Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri. Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.
Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.
Kumasuki rumah itu dengan perlahan. Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada. Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan. Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.
Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau. Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.
Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi. Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya. Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat. Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.
Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka. Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung. Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent. Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.
Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya. Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya. Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan. Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah. Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.
Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai. Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami. Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam. Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.
Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian. Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.
Duka seorang sahabat
13 November 2011
Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru. Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama. Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri. Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.
Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.
Kumasuki rumah itu dengan perlahan. Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada. Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan. Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.
Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau. Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.
Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi. Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya. Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat. Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.
Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka. Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung. Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent. Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.
Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya. Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya. Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan. Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah. Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.
Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai. Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami. Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam. Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.
Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian. Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.
Duka seorang sahabat
13 November 2011
Minggu, 25 September 2011
Ketika Agama Menjadi Isu Sosial
Salah satu tokoh keagamaan Islam pernah membahas bahwa agama itu multidimensi. Artinya, dalam agama ada dimensi2 yang secara intrinsik menyatu, seperti: dimensi simbol, dimensi kelompok, dimensi personal, dimensi mistik, dimensi ritual, dan masih banyak lagi. Ada dimensi simbol, misalnya: salib itu simbol agama kristen, kaabah simbol islam, baju koko, hijab, sampai tanda hitam di jidat. Dimensi kelompok, misalnya: majlis taklim, FPI, kelompok pengajian, dsb. Dimensi personal: pengalaman bertemu tuhan selalu sangat personal, tidak sama satu sama lain karena tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing. Demikian seterusnya.
Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis. Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero. Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah. Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar? Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. " Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.
Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan. Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama. Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan. Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya. Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen. Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama. Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri. Demi apa? Demi kemurnian ajaran, katanya. Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.
Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik. Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.
Jakarta
akhir september 2011
sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara
Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis. Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero. Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah. Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar? Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. " Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.
Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan. Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama. Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan. Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya. Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen. Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama. Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri. Demi apa? Demi kemurnian ajaran, katanya. Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.
Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik. Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.
Jakarta
akhir september 2011
sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara
Senin, 04 April 2011
DONGENG NABI ADAM
Dalam agama-agama samawi, selalu ada cerita tentang nabi Adam. Hampir semua orang tahu siapa pasangan Adam dan Hawa dan bagaimana cerita hidup mereka. Mereka dianggap sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dank arena dosa mereka karena melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan buah terlarang, maka mereka dibuang dari surga yang penuh dengan kebahagiaan, ke dunia dan harus menjalani kehidupan yang penuh derita.
Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama. Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus. Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.
Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian. Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.
Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi. Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya. Tidak ada penderitaan yang dirasakannya. Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani. Semesta yang penuh kasih. Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya, Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia. Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.
Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden. Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual. Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu. Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.
Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita. Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya. Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.
Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.
Salam,
Agus Widianto
Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama. Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus. Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.
Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian. Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.
Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi. Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya. Tidak ada penderitaan yang dirasakannya. Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani. Semesta yang penuh kasih. Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya, Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia. Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.
Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden. Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual. Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu. Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.
Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita. Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya. Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.
Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.
Salam,
Agus Widianto
Rabu, 17 November 2010
Konsep Kematian
Aku datang ke rumahnya lepas tengah hari. Kulihat dia masih sibuk menyalami para tamu yang datang, dan ketika melihatku mendekat, dia memelukku erat-erat. Kubisikkan kata-kata seadanya yang muncul begitu saja di kepalaku: "tetap tabah ya" .. tidak ada lagi kosa kata lain yang mengalir dari mulutku. Dia juga menjawab pendek dengan sedikit terisak: "yang terbaik baginya".
Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari. Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar. Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.
Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad. Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan. Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya. Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring. Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam. Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih. Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu. Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya. Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.
Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku. Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu. Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.
Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti. Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA. Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.
Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.
Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin. Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia. Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri. Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini. Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi. Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus. Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.
Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang. Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini. Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.
Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru. Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain. Siklus itu terus terjadi. Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti. Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.
Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?
ieduladha
sorehari
17november2010
Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari. Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar. Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.
Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad. Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan. Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya. Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring. Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam. Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih. Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu. Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya. Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.
Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku. Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu. Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.
Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti. Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA. Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.
Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.
Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin. Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia. Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri. Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini. Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi. Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus. Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.
Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang. Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini. Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.
Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru. Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain. Siklus itu terus terjadi. Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti. Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.
Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?
ieduladha
sorehari
17november2010
Kamis, 11 November 2010
Derita di Gerimis Sore
Sore itu gerimis kecil turun. Aku baru saja keluar dari sebuah gedung di bilangan Blok M, dan kulihat beberapa orang berlari kecil menyeberang jalan di depan gedung sambil menutup kepala mereka dengan apa saja yang bisa digunakan. Beberapa anak berpayung berdiri di depan pintu gedung menawarkan jasa payung mereka, menunggu penyewa dadakan. Udara terasa hangat meski hujan mulai membasahi jalanan.
Aku berusaha mencari taksi, namun entah kenapa, di tempat itu jarang kulihat taksi kosong melintas. Karena rasanya terlalu lama menunggu dan tidak satupun ada taksi muncul, aku memutuskan untuk menggunakan transportasi umum yang lebih murah, bus TransJakarta. Blok M adalah terminal akhir yang besar. Setelah membeli tiket masuk, sambil berjalan ke arah shelter penungguan bus, kuamati kondisi gang yang membawaku ke sana. Betapa kotor dan sangat seadanya. Penjaga gerbang masuk terlihat terkantuk lelah dan bosan memperhatikan setiap orang yang memasukkan tiket ke slot di gerbang itu. Beberapa pengemis (masih muda2) duduk di tangga mengacungkan tangan atau gelas plastik bekas air mineral, meminta-minta. Shelter penungguan bus tidak kalah kotornya. Di ruang sempit panjang itu udara terasa pengap, ventilasi udara tidak berjalan baik, lampu tidak ada yang menyala untuk menerangi ruang yang mulai temaram, dan para calon penumpang semakin berdesakan karena berkelompok, tidak antri dalam barisan.
Rasa menyesal mulai muncul karena ketidaksabaranku tadi untuk menunggu taksi sedikit lebih lama, dan sekarang terjebak dalam sebuah sistem angkutan umum yang kelasnya jauh di bawah taksi. Ah, mestinya aku tunggu sedikit lama lagi, aku bisa kok bayar yang lebih mahal daripada tiket TransJakarta ini. Tapi itu hanya penyesalan masa lalu, dan disinilah aku sekarang. Aku terjebak dalam antrian yang sesak, pengap, gelap, bau keringat, dan saat itu pula berbagai pikiran negatif mendadak berebut muncul dan serta-merta mengidentifikasi berbagai fenomena di luar sebagai negatifitas.
Penghakiman mulai muncul dalam pikiran, bahwa semua hal negatif ini disebabkan oleh korupnya rejim pemerintahan DKI Jakarta. Berbagai pertanyaan dan juga gugatan mulai muncul, seperti, mengapa mereka tidak memperhatikan kebutuhan dasar warga berupa transportasi publik yang memadai dan bertarif murah, padahal itu adalah sebuah kewajiban mereka sebagai pelayan publik? Mengapa rejim sekarang tidak mau memelihara dan memperbaiki moda transportasi yang sudah diawali oleh rejim sebelumnya? Kemana saja uang rakyat yang sudah disetor melalui pajak? Mana bukti bahwa rejim ini adalah ahli dalam mengurus ibukota jika menyediakan transportasi layakpun tidak becus?
Pikiranku terus mengejar seseorang atau sesuatu, sebagai yang dapat dijadikan hulu dari segala kesalahan dan ke-negatif-an kondisi yang aku hadapi sekarang ini. Gambar Gubernur DKI yang bentuk kumis dan senyumnya yang menjadi tidak lucu, melintas di pikiranku. Seolah fenomena di sekitarku berdiri sendiri sebagai sebuah kenyataan dan berupa sekelompok hal negatif yang harus aku hadapi pada saat itu. Seolah rasa penderitaanku adalah akibat dari dosa besar yang berasal dari perbuatan sekelompok atau seseorang, paling tidak Gubernur.
Penghakiman seperti ini terus berlangsung dalam pikiranku. Rasanya aku berada di pihak yang benar. Rasanya aku mempunyai hak untuk menghakimi para pengurus ibukota ini, para pengurus negri ini. Rasanya aku mempunyai hak untuk menunjukkan ketidakbecusan kerja mereka sesuai dengan ukuran-ukuran yang kupunyai, paling tidak saat itu.
Pikiranku yang sibuk menambah rasa pengap shelter di Blok M ini. Kemarahan lalu muncul dari rasa frustasi. Kemarahan karena aku merasa diperlakukan tidak adil. Frustasi karena aku dipaksa harus menerima kondisi yang tidak kusukai. Waktu tunggu terasa begitu lama.
Akhirnya bus yang kutunggu datang juga, setelah lewatnya beberapa bus yang langsung dipenuhi antrian di depanku. Akupun masuk bus dan berdiri berpegangan gantungan tangan. Di dalam bus yang jauh lebih sejuk dibanding dengan shelter yang baru saja aku tinggalkan, beberapa pikiran masih menggantung, terutama melihat kondisi bus yang sudah mulai terlihat tidak dirawat dengan baik. Kondisi bus terlihat compang-camping. Gantungan yang aku pegang-pun talinya sudah mulai terkoyak sedikit di sana sini. Penghakiman-pun makin menjadi dalam pikiranku. Sungguh, pikiranku sangat sibuk dan aku tidak lagi memperhatikan sekelilingku.
Beberapa saat kemudian, barulah aku sadari bahwa pikiranku telah jauh dibawa kesana-kemari. Pikiranku dibawa oleh sebuah ketidaksadaran yang melompat kesana kemari, dan cenderung menghakimi segala sesuatu, yang dalam skenario yang kuciptakan menjadi penyebab sebuah kondisi yang kusebut sebagai “derita” yang ternyata juga kuciptakan sendiri. Ya, derita itu kuciptakan sendiri, sebagai turunan dari hasil penghakiman yang kubuat. Ini terbukti bahwa beberapa orang di sekitarku masih bisa bercanda, meski berada dalam kondisi yang sama dengan yang sedang aku alami. Mereka bisa tertawa lepas, dan kuat dugaanku bahwa mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan sebagai penderitaan. Aku yakin bahwa semua kondisi yang mereka alami sama dengan yang aku alami. Namun ada beda dalam mem-persepsikan-nya. Barangkali mereka menerimanya dengan ikhlas, sudah biasa, atau tidak berprasangka buruk, bahkan tidak menghakimi siapapun. Mereka menerima keadaan apa adanya.
Kesadaranku terus berkembang dalam perjalanan pulang di atas bus. Dan betul, deritakupun berangsur hilang dengan sendirinya.
Dalam kehidupan, banyak derita yang terciptakan oleh pikiran sendiri. Banyak pula setelah itu, kesalahan dilimpahkan kepada seseorang, sesuatu, bahkan Tuhan yang berada di luar dirinya, untuk minta pertanggungjawaban karena menciptakan derita yang kita rasakan. Banyak orang berpendapat bahwa deritanya adalah kehendak Allah. Sebuah penghakiman yang disampaikan secara lebih sopan, meski esensinya sama.
Namun aku yakin, disinilah awal kesadaran kita untuk berbahagia dalam kehidupan, dengan memahami apa itu penderitaan, dan bagaimana sebuah derita mengada.
Harikunjunganobamakeindonesia
Kemacetandimanamana
9november2010
Aku berusaha mencari taksi, namun entah kenapa, di tempat itu jarang kulihat taksi kosong melintas. Karena rasanya terlalu lama menunggu dan tidak satupun ada taksi muncul, aku memutuskan untuk menggunakan transportasi umum yang lebih murah, bus TransJakarta. Blok M adalah terminal akhir yang besar. Setelah membeli tiket masuk, sambil berjalan ke arah shelter penungguan bus, kuamati kondisi gang yang membawaku ke sana. Betapa kotor dan sangat seadanya. Penjaga gerbang masuk terlihat terkantuk lelah dan bosan memperhatikan setiap orang yang memasukkan tiket ke slot di gerbang itu. Beberapa pengemis (masih muda2) duduk di tangga mengacungkan tangan atau gelas plastik bekas air mineral, meminta-minta. Shelter penungguan bus tidak kalah kotornya. Di ruang sempit panjang itu udara terasa pengap, ventilasi udara tidak berjalan baik, lampu tidak ada yang menyala untuk menerangi ruang yang mulai temaram, dan para calon penumpang semakin berdesakan karena berkelompok, tidak antri dalam barisan.
Rasa menyesal mulai muncul karena ketidaksabaranku tadi untuk menunggu taksi sedikit lebih lama, dan sekarang terjebak dalam sebuah sistem angkutan umum yang kelasnya jauh di bawah taksi. Ah, mestinya aku tunggu sedikit lama lagi, aku bisa kok bayar yang lebih mahal daripada tiket TransJakarta ini. Tapi itu hanya penyesalan masa lalu, dan disinilah aku sekarang. Aku terjebak dalam antrian yang sesak, pengap, gelap, bau keringat, dan saat itu pula berbagai pikiran negatif mendadak berebut muncul dan serta-merta mengidentifikasi berbagai fenomena di luar sebagai negatifitas.
Penghakiman mulai muncul dalam pikiran, bahwa semua hal negatif ini disebabkan oleh korupnya rejim pemerintahan DKI Jakarta. Berbagai pertanyaan dan juga gugatan mulai muncul, seperti, mengapa mereka tidak memperhatikan kebutuhan dasar warga berupa transportasi publik yang memadai dan bertarif murah, padahal itu adalah sebuah kewajiban mereka sebagai pelayan publik? Mengapa rejim sekarang tidak mau memelihara dan memperbaiki moda transportasi yang sudah diawali oleh rejim sebelumnya? Kemana saja uang rakyat yang sudah disetor melalui pajak? Mana bukti bahwa rejim ini adalah ahli dalam mengurus ibukota jika menyediakan transportasi layakpun tidak becus?
Pikiranku terus mengejar seseorang atau sesuatu, sebagai yang dapat dijadikan hulu dari segala kesalahan dan ke-negatif-an kondisi yang aku hadapi sekarang ini. Gambar Gubernur DKI yang bentuk kumis dan senyumnya yang menjadi tidak lucu, melintas di pikiranku. Seolah fenomena di sekitarku berdiri sendiri sebagai sebuah kenyataan dan berupa sekelompok hal negatif yang harus aku hadapi pada saat itu. Seolah rasa penderitaanku adalah akibat dari dosa besar yang berasal dari perbuatan sekelompok atau seseorang, paling tidak Gubernur.
Penghakiman seperti ini terus berlangsung dalam pikiranku. Rasanya aku berada di pihak yang benar. Rasanya aku mempunyai hak untuk menghakimi para pengurus ibukota ini, para pengurus negri ini. Rasanya aku mempunyai hak untuk menunjukkan ketidakbecusan kerja mereka sesuai dengan ukuran-ukuran yang kupunyai, paling tidak saat itu.
Pikiranku yang sibuk menambah rasa pengap shelter di Blok M ini. Kemarahan lalu muncul dari rasa frustasi. Kemarahan karena aku merasa diperlakukan tidak adil. Frustasi karena aku dipaksa harus menerima kondisi yang tidak kusukai. Waktu tunggu terasa begitu lama.
Akhirnya bus yang kutunggu datang juga, setelah lewatnya beberapa bus yang langsung dipenuhi antrian di depanku. Akupun masuk bus dan berdiri berpegangan gantungan tangan. Di dalam bus yang jauh lebih sejuk dibanding dengan shelter yang baru saja aku tinggalkan, beberapa pikiran masih menggantung, terutama melihat kondisi bus yang sudah mulai terlihat tidak dirawat dengan baik. Kondisi bus terlihat compang-camping. Gantungan yang aku pegang-pun talinya sudah mulai terkoyak sedikit di sana sini. Penghakiman-pun makin menjadi dalam pikiranku. Sungguh, pikiranku sangat sibuk dan aku tidak lagi memperhatikan sekelilingku.
Beberapa saat kemudian, barulah aku sadari bahwa pikiranku telah jauh dibawa kesana-kemari. Pikiranku dibawa oleh sebuah ketidaksadaran yang melompat kesana kemari, dan cenderung menghakimi segala sesuatu, yang dalam skenario yang kuciptakan menjadi penyebab sebuah kondisi yang kusebut sebagai “derita” yang ternyata juga kuciptakan sendiri. Ya, derita itu kuciptakan sendiri, sebagai turunan dari hasil penghakiman yang kubuat. Ini terbukti bahwa beberapa orang di sekitarku masih bisa bercanda, meski berada dalam kondisi yang sama dengan yang sedang aku alami. Mereka bisa tertawa lepas, dan kuat dugaanku bahwa mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan sebagai penderitaan. Aku yakin bahwa semua kondisi yang mereka alami sama dengan yang aku alami. Namun ada beda dalam mem-persepsikan-nya. Barangkali mereka menerimanya dengan ikhlas, sudah biasa, atau tidak berprasangka buruk, bahkan tidak menghakimi siapapun. Mereka menerima keadaan apa adanya.
Kesadaranku terus berkembang dalam perjalanan pulang di atas bus. Dan betul, deritakupun berangsur hilang dengan sendirinya.
Dalam kehidupan, banyak derita yang terciptakan oleh pikiran sendiri. Banyak pula setelah itu, kesalahan dilimpahkan kepada seseorang, sesuatu, bahkan Tuhan yang berada di luar dirinya, untuk minta pertanggungjawaban karena menciptakan derita yang kita rasakan. Banyak orang berpendapat bahwa deritanya adalah kehendak Allah. Sebuah penghakiman yang disampaikan secara lebih sopan, meski esensinya sama.
Namun aku yakin, disinilah awal kesadaran kita untuk berbahagia dalam kehidupan, dengan memahami apa itu penderitaan, dan bagaimana sebuah derita mengada.
Harikunjunganobamakeindonesia
Kemacetandimanamana
9november2010
Jumat, 05 November 2010
Ibu Pertiwi
Berbagai berita tersebar melalui layar kaca, koran, internet, telepon selular dan sebagainya. Bencana Jogja menyita perhatian hampir semua warga Indonesia, bahkan manca negara. Para pengungsi yang terlantar, ketakutan, kesakitan, meninggal, banyak mendominasi berita beberapa hari terakhir ini.
Hati terguncang dan mata tergenang.
Rasanya belum lama negeri ini diramaikan berbagai berita tentang korupsi, gambaran ketamakan para pejabat publik akan uang haram, karena berasal dari keringat rakyat yang seharusnya dilayani. Belum lama juga negeri ini semarak oleh berita tentang kekerasan manusia yang beragama terhadap manusia lainnya, gambaran kesombongan manusia yang mengkapling kebenaran dan menghujat keberagaman, yang justru merupakan kearifan alam.
Begitu banyak berita yang menggambarkan para manusia yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukan. Cerminan nyata dari ketidaksadaran kolektif tentang kebersamaan dalam keberagaman, tentang perlunya saling mengasihi dan memperhatikan manusia lainnya terlepas dari kotak-kotak dan kapling-kapling kebenaran semu yang disebut agama. Ketidaksadaran manusia akan nilai-nilai universal yang menembus batas-batas sosial, ekonomi, dan religi. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan bumi, dengan Ibu Pertiwi yang melahirkan segala kehidupan di haribaannya. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan energi semesta.
Aku hanya merenung menyaksikan dan membaca segala kejadian yang sedang berlangsung begitu nyata, begitu menyentuh rasa dan menggugah kesadaran batin.
Sedikit teguran dari bumi melalui mulut Merapi mengingatkan bahwa manusia semua sama dihadapan Ibu Pertiwi. Kaya - miskin, laki - perempuan, tua - muda, besar - kecil, semua berhubungan dengannya. Sentuhan lengan dan jemari panas Merapi menyentil kesadaran manusia bahwa seharusnya manusia sungguh merupakan bagian sangat kecil dari seluruh sistem semesta. Sendawa Merapi menyadarkan manusia bahwa semestinya manusia hidup senafas dengan Pertiwi. Aliran energi dahsyat Merapi menyadarkan manusia bahwa seharusnya kehidupan kita mengalir dan selaras dengan energi alam semesta.
Bumi adalah sosok Ibu yang hidup, mempunyai kebajikan dalam memberi nafas kehidupan anak-anaknya, dengan semangat memberi segala kebaikan dan menerima segala keburukan. Betapa kekayaan bumi terbukti mampu menghidupi segala isinya selama jutaan masa. Betapa kearifan Pertiwi terbukti mampu menerima segala keburukan yang diciptakan anak-anaknya dan kemudian menyeimbangkan dengan berbagai cara yang sungguh diluar jangkauan nalar manusia.
Namun apa yang sudah diperbuat oleh manusia terhadap sang Ibu? Manusia tetap berada pada ketakutan egotistik, berada pada kebodohan dan kegelapan batin dalam merespon kasih yang ditawarkan sang Ibu. Segala kebodohan manusia kemudian mengeras dan berubah bentuk menjadi kesombongan bahwa bumi berada dalam genggaman kekuasaannya. Ketakaburan luar biasa yang menghilangkan kerendahan hati dalam berhubungan dengan sang Ibu Pertiwi. Sang Ibu tetap mengasihi dan menegur dengan caranya sendiri. Berbagai kesombongan manusia tidak pernah mampu menahan teguran sang Ibu. Gedung dan bangunan megah, peralatan mutakhir, kecerdasan otak, kepandaian para pemimpin masyarakat, kekayaan materi, bahkan doa-doa dalam agama yang dipercaya sebagai sabda Tuhan. Semua tidak mampu membendung dan membelokkan teguran dan jamahan Ibu.
Dalam sejarah kehidupan manusia, teguran-teguran Pertiwi selalu ada. Selalu berulang dan selalu memberikan ruang untuk merenungkan segala perilaku manusia dalam rentang masa sekarang ini. Namun adakah perbaikan dalam pikiran, kesadaran dan perilaku manusia, terutama ketika manusia secara intens berinteraksi dengan sang Ibu? Rasanya tidak.
Perusakan habitat hidup terus menerus dilakukan bahkan dalam skala yang mengerikan. Pengurangan kemampuan daya dukung lingkungan terus menerus digerogoti dengan sistematis tanpa diimbangi dengan perbaikan dan pemulihan. Demi apakah semua ini dilakukan? Rasanya hanya ketamakan sebagai muaranya. Ketamakan yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidup, meski pada akhirnya kenikmatan hidup adalah ilusi dan fantasi ketika daya dukung dilemahkan dengan sengaja. Sebuah lingkaran iblis yang meracuni pikiran manusia, dan menimbulkan kebodohan yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga beranak-pinak secara subur bagai kanker yang liar berkembang di permukaan bumi.
Masih adakah kata yang tersisa untuk mengutuk Ibu Pertiwi setelah kita memperkosa Ibu kita sendiri?
masihtersisaairmata
menjelangtengahmalam
5november2010
Hati terguncang dan mata tergenang.
Rasanya belum lama negeri ini diramaikan berbagai berita tentang korupsi, gambaran ketamakan para pejabat publik akan uang haram, karena berasal dari keringat rakyat yang seharusnya dilayani. Belum lama juga negeri ini semarak oleh berita tentang kekerasan manusia yang beragama terhadap manusia lainnya, gambaran kesombongan manusia yang mengkapling kebenaran dan menghujat keberagaman, yang justru merupakan kearifan alam.
Begitu banyak berita yang menggambarkan para manusia yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukan. Cerminan nyata dari ketidaksadaran kolektif tentang kebersamaan dalam keberagaman, tentang perlunya saling mengasihi dan memperhatikan manusia lainnya terlepas dari kotak-kotak dan kapling-kapling kebenaran semu yang disebut agama. Ketidaksadaran manusia akan nilai-nilai universal yang menembus batas-batas sosial, ekonomi, dan religi. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan bumi, dengan Ibu Pertiwi yang melahirkan segala kehidupan di haribaannya. Ketidaksadaran manusia akan hubungannya dengan energi semesta.
Aku hanya merenung menyaksikan dan membaca segala kejadian yang sedang berlangsung begitu nyata, begitu menyentuh rasa dan menggugah kesadaran batin.
Sedikit teguran dari bumi melalui mulut Merapi mengingatkan bahwa manusia semua sama dihadapan Ibu Pertiwi. Kaya - miskin, laki - perempuan, tua - muda, besar - kecil, semua berhubungan dengannya. Sentuhan lengan dan jemari panas Merapi menyentil kesadaran manusia bahwa seharusnya manusia sungguh merupakan bagian sangat kecil dari seluruh sistem semesta. Sendawa Merapi menyadarkan manusia bahwa semestinya manusia hidup senafas dengan Pertiwi. Aliran energi dahsyat Merapi menyadarkan manusia bahwa seharusnya kehidupan kita mengalir dan selaras dengan energi alam semesta.
Bumi adalah sosok Ibu yang hidup, mempunyai kebajikan dalam memberi nafas kehidupan anak-anaknya, dengan semangat memberi segala kebaikan dan menerima segala keburukan. Betapa kekayaan bumi terbukti mampu menghidupi segala isinya selama jutaan masa. Betapa kearifan Pertiwi terbukti mampu menerima segala keburukan yang diciptakan anak-anaknya dan kemudian menyeimbangkan dengan berbagai cara yang sungguh diluar jangkauan nalar manusia.
Namun apa yang sudah diperbuat oleh manusia terhadap sang Ibu? Manusia tetap berada pada ketakutan egotistik, berada pada kebodohan dan kegelapan batin dalam merespon kasih yang ditawarkan sang Ibu. Segala kebodohan manusia kemudian mengeras dan berubah bentuk menjadi kesombongan bahwa bumi berada dalam genggaman kekuasaannya. Ketakaburan luar biasa yang menghilangkan kerendahan hati dalam berhubungan dengan sang Ibu Pertiwi. Sang Ibu tetap mengasihi dan menegur dengan caranya sendiri. Berbagai kesombongan manusia tidak pernah mampu menahan teguran sang Ibu. Gedung dan bangunan megah, peralatan mutakhir, kecerdasan otak, kepandaian para pemimpin masyarakat, kekayaan materi, bahkan doa-doa dalam agama yang dipercaya sebagai sabda Tuhan. Semua tidak mampu membendung dan membelokkan teguran dan jamahan Ibu.
Dalam sejarah kehidupan manusia, teguran-teguran Pertiwi selalu ada. Selalu berulang dan selalu memberikan ruang untuk merenungkan segala perilaku manusia dalam rentang masa sekarang ini. Namun adakah perbaikan dalam pikiran, kesadaran dan perilaku manusia, terutama ketika manusia secara intens berinteraksi dengan sang Ibu? Rasanya tidak.
Perusakan habitat hidup terus menerus dilakukan bahkan dalam skala yang mengerikan. Pengurangan kemampuan daya dukung lingkungan terus menerus digerogoti dengan sistematis tanpa diimbangi dengan perbaikan dan pemulihan. Demi apakah semua ini dilakukan? Rasanya hanya ketamakan sebagai muaranya. Ketamakan yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan kenikmatan hidup, meski pada akhirnya kenikmatan hidup adalah ilusi dan fantasi ketika daya dukung dilemahkan dengan sengaja. Sebuah lingkaran iblis yang meracuni pikiran manusia, dan menimbulkan kebodohan yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga beranak-pinak secara subur bagai kanker yang liar berkembang di permukaan bumi.
Masih adakah kata yang tersisa untuk mengutuk Ibu Pertiwi setelah kita memperkosa Ibu kita sendiri?
masihtersisaairmata
menjelangtengahmalam
5november2010
Langganan:
Postingan (Atom)