Senin, 26 Agustus 2013

Kamulyaning Urip

"Kamulyaning urip dumunung ana tentreming ati", demikian tertulis di salah satu panel di tembok rumah makan Soto Kadipiro. Tulisan itu dalam aksara Jawa, sehingga perlu waktu hampir sepuluh menit untuk memahaminya. Maklum sudah puluhan tahun sejak terakhir aku belajar aksara Jawa, baru kali itu ketemu lagi.  Sambil menikmati soto yang terkenal di Jogjakarta itu, tulisan itu terus mengiang di dalam pikiran.

Kemuliaan hidup terletak dalam ketentraman hati, demikian kira-kira artinya. Tidak pada harta benda yang dimiliki, tidak pada pangkat yang tinggi, tidak pada banyaknya teman dalam kehidupan ini, bahkan tidak dari iman dan takwa yang diajarkan oleh agama manapun. Semua kemuliaan berasal dari ketentraman hati yang bebas dari ancaman maupun dogma, kebebasan untuk menjadi makhluk Tuhan yang baik dan berguna bagi sesama dan semesta. Sebuah kalimat sederhana namun sangat mengena, dan benar adanya.

Ketentraman hati ternyata tidak dapat ditimbulkan oleh hal-hal di luar diri, misalnya: harta, pangkat, teman, saudara, agama dan lainnya. Dia sudah ada di dalam hati kita masing-masing, hanya tinggal menemukannya melalui keheningan pikir dan keheningan jiwa. Menemukan ketentraman hati merupakan hakekat dalam hidup, karena itulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tidak tergantung oleh unsur2 eksternal tadi, kebahagiaan yang hanya ada dalam kalbu yang terdalam, tidak mudah tergoyahkan oleh apapun. Ketentraman hati adalah kesejatian hidup, dan kesejatian inilah kemuliaan dalam kehidupan.


Sore di Volks Kaffee
Di musim panas ini nyamuk mulai berdatangan
26 Agustus 2013

Kamis, 10 Januari 2013

Waktu dalam kehidupan

Malam itu Jakarta seperti kota yang ber AC.  Dingin menyentuh tulang, angin masih berhembus pelan menyisir jalanan dan mampir ke rumah2 penduduk yang mulai sepi.  Barangkali angin ini sisa-sisa badai sore tadi yang sempat merobohkan beberapa pohon di Salemba Raya dan memutus kabel listrik di dekatnya.  Suara musik di cafe masih menyampaikan beat yang enak di dengar, sesekali suara motor dan bajay masih terdengar lewat di depan cafe ini.  Aku duduk di pojok, sendirian, meski di cluster ini ada tiga lagi kursi kosong yang empuk yang siap untuk memeluk empat orang yang asyik ngobrol dan ngopi.

Kopi dalam cangkir di depanku sudah tinggal separuh.  Aku tadi pesan secangkir americano yang rasanya seimbang antara asam, pahit mendekati gurih, serta beraroma wangi kopi segar khas Gayo yang tajam.  Tanpa dapat kucegah, ingatanku tiba-tiba mundur ke lebih dari 30 tahun lalu.

Waktu itu aku juga sedang duduk ngobrol dengannya, di rumahnya, sambil minum teh di salah satu dari banyak malam yang kupakai ngobrol dan duduk-duduk bersamanya.  Dia masih sangat muda, dan aku beberapa tahun lebih tua darinya.  Malam itu juga dingin, anginpun hampir sama cara berhembusnya meski terasa lebih lembut.  Kami ngobrol lama dan bicara soal2 yang ringan kadang tanpa isi.  Yang aku ingat adalah raut wajahnya yang muda, bersih dan cantik, rambutnya yang ikal panjang serta senyumnya yang selalu menghias bibir tipisnya.  Gambaran dalam ingatan sampai di situ, dan menjadi kabur ketika mendadak ada teriakan knalpot bajay lewat di depan cafe.

Betapa cepat pikiran dalam kepalaku meloncat dari sekarang ke 30 tahun lalu, lalu kembali ke sekarang.  Betapa cepat dia berpindah dari cafe ini, ke suatu tempat yang ratusan kilometer jaraknya, dan kembali lagi ke sini dalam sekejap.  Dimensi waktu dan ruang menjadi tak terbatas dalam pikiran.

Sebetulnya aku sedang di sini dan sedang berada di detik-detik ini.  Aku sedang menghabiskan secangkir americano yang harum, bukan sedang ngobrol dengan dia.  Aku sedang sendiri menikmati secangkir kopi, bukan sedang bersamanya yang selalu ditutup dengan ciuman hangat yang memabukkan jiwa.

Kerancuan waktu dan ruang selalu ada dalam setiap pikiran manusia.  Itulah yang disebut dengan kesibukan pikiran, atau "banyak pikiran".  Orang banyak berpendapat bahwa banyak pikiran itu wajar dan manusiawi.  Sudah seharusnya, katanya.

Manusia hidup di alam pikirannya, sehingga seringkali dia ada di ruang dan waktu yang tidak nyata.  Ada dalam dimensi yang diciptakannya sendiri.  Ruangnya imajiner, dan waktunya berupa waktu psikologis, bukan waktu mekanis ataupun biologis.  Imajinasi demi imajinasi dipelihara, dipupuk dan dikembangkan.  Sehingga hidupnya bagai ada dalam mimpi.  Bunga-bunga imajiner berkembang subur dalam alam pikiran dan seringkali itu diyakini sebagai sebuah kenyataan, bahkan sebuah kebenaran.  Akhirnya, seringkali pikirannya tidak lagi berada dalam dunia nyata tempatnya berada.  Dia sering berada di surga atau di neraka yang diciptakannya sendiri.

Dalam teknik2 meditasi yang kupelajari, diminta meditator berada disini dan mengalami waktu sekarang: here and now, di sini kini.  Betapa gampang dan sederhana kedengarannya, namun pelaksanaannya tidak sesederhana kata-katanya.  Hanya saat ini dan di sini-lah kenyataan itu berada.  Sebuah saat yang tidak berwaktu, karena tidak bersifat masa lalu sebagai sebuah memori atau penyesalan, ataupun masa depan sebagai sebuah harapan atau kecemasan.  Saat ini adalah kini, dia tidak terikat dengan waktu psikologis yang tercipta, dia ada dengan sendirinya ketika disadari.

Aku tersentak mendengar sendok kecil kopiku terantuk cangkir tanpa kusengaja.  Kulihat kopi tinggal seseruputan lagi, dan ketika habis berpindah ke mulutku, dia meninggalkan beberapa bercak coklat di dasar cangkir.  Aku kembali duduk diam dan kuamati beberapa tamu masih asyik ngobrol dengan pasangan masing-masing.  Aku menjaga kesadaranku dan tak mau lagi ikut terbawa pikiranku kembali ke masa lalu meski energi itu menyenangkan ego-ku, namun menguras energiku.

Malam makin dingin, terdengar gerimis kecil mengetuk atap cafe yang terbuat dari baja ringan bagai irama lagu malam.  Kukancingkan jaketku dan menuju kasir untuk membayar americano yang sekarang sedang bekerja menghangatkan perutku.


Volks Kaffee
Awal Januari 2013

Kamis, 08 Desember 2011

MEMANUSIAKAN TUHAN


Hampir setiap saat kita bisa melihat orang-orang sholat, berdoa, baik di rumah ibadah atau di tempat2 lainnya.  Mulut mereka komat-kamit mengucapkan rentetan kata-kata yang biasanya terdiri dari: pujian kepada Tuhan bahwa dia yang paling berkuasa di semesta, termasuk untuk mengabulkan permintaan.  Lalu muncul permintaan-permintaan kepada Tuhan sesuai yang manusia inginkan, dan biasanya ditutup dengan permintaan maaf atas segala kesalahan dan terakhir adalah pernyataan2 peneguhan diri.
Pola doa biasanya tidak jauh dari hal-hal tersebut di atas, dan bahkan sudah hampir menjadi pakem bahwa sebuah doa akan sempurna, elok didengar, mustajab, kalau mempunyai susunan seperti itu.  Banyak usaha mengembangkan doa kepada Tuhan menggunakan pola standard tersebut.  Ini dilakukan dalam bahasa apapun, baik Indonesia, Arab, Latin, Jawa ...

Isi doa kebanyakan minta, memohon, mengharap .. agar Tuhan mengabulkan permintaan, baik itu untuk: kesembuhan, makanan yang enak, dapat duit, enteng jodoh, bisnis lancar, dan sebagainya.  Bahkan banyak orang percaya, semakin baik susunan kata dalam sebuah doa, apalagi kalau sambil berdoa ditemani dengan ritual dan berpakaian sopan ketika "menghadap" kepada Tuhan, maka semakin besar kemungkinan Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa ini.

Manusia berdoa kepada Tuhan seolah berbicara kepada Bapaknya, kepada Rajanya, kepada majikannya atau kepada teman baiknya.  Seolah Tuhan seperti manusia, yang mempunyai perasaan, mempunyai pikiran, mempunyai hati.  Kita memperlakukan Tuhan seperti halnya manusia yang mempunyai kelebihan dibanding manusia seperti kita.

Hal ini bisa dimaklumi karena memang pada dasarnya manusia hanya bisa memahami apa yang berada "di luar" dirinya berdasarkan pemahaman manusia atas dirinya.  Ukuran dirinya diterapkan pada saat mencoba memahami dunia luarnya.  Ikatan emosional manusia dengan alam semesta hanya bisa dibangun melalui cara meng-ekstrapolasi-kan dirinya  Maka fenomena alam dipahami sesuai dengan dirinya.  Misalnya: alam sedang marah, laut mengamuk, singa menyayangi anaknya, bahkan Tuhan mengampuni dosa.

Keterbatasan pikiran manusia memang membatasi ke'maha'an Tuhan.  Meski kita menyebut Tuhan itu 'maha', tapi masih dalam konteks kemampuan manusia, dan Tuhan mempunyai kemampuan yang sama namun jauh lebih berpotensi.  Omni potent.

Manusia tidak mampu melepaskan Tuhan sebagaimana adanya.  Bahkan dia HARUS punya nama, seperti manusia.  Ada yang bilang namanyapun hanya 99.  Tuhan mempunyai pribadi tiga, tuhan seperti bapak sendiri, dan sebagainya.  Usaha manusia memahami tuhan sudah dilakukan sejak jaman purba dan sampai sekarangpun manusia tetap tidak dapat memahaminya.  Akhirnya cara yang paling mudah adalah dengan memanusiakannya.  Pemanusiaan tuhan seperti ini membuat manusia memperlakukan tuhan seperti manusia lain tapi linuwih, berkelebihan

Akhirnya, Tuhan menjadi sebatas daya cerap manusia, sebatas ada dalam pikiran dan sebatas persepsi.  Ke 'maha' an Tuhan tidak lagi ada karena dia sudah dimanusiakan oleh manusia.  Pencipta harus menurut apa yang dimaui oleh yang diciptakannya, dan akhirnya, tuhan hanya diciptakan oleh manusia sesuai dengan kehendaknya.  Maka ada tuhan yang hanya mengerti bahasa Arab, ada tuhan yang hanya suka manusia beragama kristen, ada tuhan yang hanya berdiam di mesjid, ada tuhan yang labih menyukai dandanan tertentu dan sebagainya.  Inilah memanusiakan tuhan, dan tuhan hanya sebagai anggota kelompoknya, atau, pemimpin kelompoknya.  Bahkan tidak jarang tuhan dikangkangi oleh ego manusia untuk memenuhi hasratnya.



21desember2011
soreharidivolkskaffee

Sabtu, 12 November 2011

KEMATIAN

Malam itu kususuri jalanan di bilangan Kebayoran Baru.  Setelah sekali kuputari jalan yang sama, akhirnya kutemukan bendera kuning dari kertas bening diletakkan di sebuah perempatan ... terus kususuri jalanan itu dan kutemukan bendera kuning yang sama.  Sampailah aku di sebuah rumah besar berlantai dua dengan arsitektur modern yang asri.  Rumah itu sungguh besar, dan berada di bilangan Kebayoran Baru sudah menunjukkan siapa pemiliknya.

Sudah banyak mobil di parkir di sepanjang jalan di depan rumah itu.

Kumasuki rumah itu dengan perlahan.  Sebelum masuk, kuletakkan sepatu kumalku di tempat yang mudah kuingat, diantara puluhan pasang sandal dan sepatu yang ada.  Memasuki pintu rumah yang besar ini terasa berat dengan kedukaan dan kepedihan.  Di dalam ruang tamu yang luas, kurasakan derita menggantung di setiap pojok ruangan utama yang mewah itu.

Perhatianku tertuju pada sebentuk tubuh terbujur kaku di tengah ruangan berselimutkan kain hijau.  Hampir separuh perempuan yang berada di ruang itu berkerudung, namun dapat kupastikan bahwa hampir semua orang di ruang itu menampakkan kesedihan di raut muka mereka.

Tubuh itu memang sudah kaku, seorang teman yang meninggal pagi tadi.  Begitu mendadak kepergiannya bahkan sehari sebelumnya aku sempat bertemu dan bersalaman dengannya.  Saat itu yang agak menonjol adalah wajahnya yang nampak putih bersih kalau tidak bisa dibilang pucat.  Kesan itu aku simpan dalam pikiran saja.

Kusalami istri almarhum, yang langsung memelukku dalam duka.  Sebuah gerak yamg seolah melambangkan perlunya perlindungan karena hilangnya belahan jiwanya yang membuatnya limbung.  Pikiranku melayang kepada anak2nya yang masih kecil2, karena usia almarhum memang masih muda, dan seolah ikut merasakan beratnya peran sebagai single parent.  Pikiran itu menambah rasa duka yang berada dalam hatiku.

Rumah itu memang mewah, namun malam itu segalanya menjadi abu-abu, menggantung dalam perihnya hati setiap orang yang berada di dalamnya.  Kemewahan menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian, sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat, yang membuat hampir semua manusia takut mengalaminya.  Keangkuhan struktur beton rumah itu seolah menjadi lembek disapu gelombang kedukaan manusia-manusia yang berada di dalamnya.  Pernak-pernik indah dari berbagai hiasan menjadi kusam tidak ada yang memperhatikan.  Ikan2 dalam akuarium besar itupun seolah ikut malas bergerak lincah.  Kehangatan ruangan seolah berubah menjadi dingin, sedingin tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan.

Banyak sudah kusaksikan kematian orang2 yang pernah dicintai oleh orang2 kenalanku, juga kematian orang2 yang pernah kucintai.  Kematian selalu memberikan momen dimana kita kembali kepada kemanusiaan kita, kepada kesadaran bahwa ada siklus semesta yang harus dilewati, dialami.  Kematian membawa sebuah kesadaran tentang arti kehidupan, sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dihargai, adalah sebuah kesempatan sangat berharga sehingga perlu diberi arti dan nilai yang lebih luas dan dalam.  Kematian menyadarkan arti tubuh kita yang selama hidup dipelihara dan dipuja, yang kemudian akan menjadi hancur tidak berguna.

Kembali malam itu aku belajar banyak dari kematian.  Kutinggalkan rumah mewah itu dengan duka yang masih menggantung erat dihatiku, rasa empati yang masih menggelayut dalam pikiranku.


Duka seorang sahabat
13 November 2011

Minggu, 25 September 2011

Ketika Agama Menjadi Isu Sosial

Salah satu tokoh keagamaan Islam pernah membahas bahwa agama itu multidimensi. Artinya, dalam agama ada dimensi2 yang secara intrinsik menyatu, seperti: dimensi simbol, dimensi kelompok, dimensi personal, dimensi mistik, dimensi ritual, dan masih banyak lagi. Ada dimensi simbol, misalnya: salib itu simbol agama kristen, kaabah simbol islam, baju koko, hijab, sampai tanda hitam di jidat. Dimensi kelompok, misalnya: majlis taklim, FPI, kelompok pengajian, dsb. Dimensi personal: pengalaman bertemu tuhan selalu sangat personal, tidak sama satu sama lain karena tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing. Demikian seterusnya.

Pemahaman agama yang multidimensional menjadi penting, karena sikap terhadapnya akan semakin kritis. Misalnya ada cerita: pada saat itu sedang ramai dibicarakan penghinaan agama islam karena ada alquran yang diinjak-injak dan dibakar, bahkan tahun lalu ada anjuran seorang pendeta kristen di Amerika Serikat untuk setiap orang membakar satu alquran sebagai peringatan kejadian 11 September dan protes pendirian masjid di ground zero. Ajakan ini sempat menghebohkan, namun akhirnya berhasil dicegah. Kemudian ada orang bertanya kepada seorang bikshu Buddha: Banthe, apa reaksi anda kalau kitab Tripitaka dibakar? Dengan enteng banthe menjawab:" ya .. kalau ada uang beli lagi .. itu kan cuma buku. " Bagi saya, reaksi demikian menandakan kejernihan pikiran seseorang dalam menyikapi sebuah peristiwa yang multi-dimensional.

Demikian juga sisi dimensi sosial dalam keagamaan. Orang sering mencampuradukkan peristiwa sosial dengan akidah agama. Misalnya, kekerasan sosial yang memakai latar belakang agama, atau misalnya seseorang tidak boleh membuka warung pada bulan ramadhan. Atau seseorang tidak boleh menyalami tetangganya yang sedang merayakan hari besar agamanya. Lebih parah misalnya, anaknya yang beragama islam tidak boleh kawin sama calon pasangannya yang beragama kristen. Kerancuan dimensi2 ini bisa makin kacau karena kacaunya pemahaman multidimensi sebuah agama. Kekacauan ini akan menimbulkan konflik pada pikirannya sendiri. Demi apa? Demi kemurnian ajaran, katanya. Ada juga karena ketakutan kalau dikutuk tuhan allah.

Negara yang kemudian turut campur dalam kehidupan beragama warganya akan makin memperkeruh suasana, karena negara adalah lembaga politik. Dengan demikian, dengan mudah agama diadopsi menjadi komoditas politik dan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena negara skalanya sangat besar dan luas, pemanfaatan agama dalam konteks politik bisa menjadi sangat berbahaya, terutama bagi warga yang tidak seagama.


Jakarta
akhir september 2011
sedang prihatin melihat perilaku penyelenggara negara

Senin, 04 April 2011

DONGENG NABI ADAM

Dalam agama-agama samawi, selalu ada cerita tentang nabi Adam. Hampir semua orang tahu siapa pasangan Adam dan Hawa dan bagaimana cerita hidup mereka. Mereka dianggap sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dank arena dosa mereka karena melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan buah terlarang, maka mereka dibuang dari surga yang penuh dengan kebahagiaan, ke dunia dan harus menjalani kehidupan yang penuh derita.

Dongeng ini sudah menjadi sebuah standar awal dari ajaran agama. Dalam Kristen, dosa-dosa mereka (Adam dan Hawa) dianggap sebagai dosa asal yang menurun pada setiap manusia yang hidup masa kini, sehingga harus ditebus melalui kematian Yesus Kristus. Namun dongeng ini menjadi dongeng semata, bahkan seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari karena rentang waktu yang sedemikian panjang.

Peserta pada malam Jumat Kliwonan bulan lalu sempat membahas dongeng ini ketika sedang dibicarakan dogma-dogma agama termasuk masa penciptaan dalam kitab Kejadian. Salah seorang peserta menginterpretasikan dongeng nabi Adam sebagai proses kelahiran manusia.

Pada saat bayi dikandung di dalam gua garba ibundanya, maka semua kebutuhan hidupnya dipenuhi. Seorang bayi hanya mempunyai hubungan antara dirinya dan bundanya, surganya, bahkan Tuhannya. Tidak ada penderitaan yang dirasakannya. Yang ada adalah kelimpahan makanan rohani dan jasmani. Semesta yang penuh kasih. Perlindungan sempurna dari sebuah semesta yang tidak terpengaruh oleh eksisternsi luar lainnya, Sebuah kondisi yang serupa surga yang selalu menjadi idaman setiap manusia. Hubungan antara bayi dan dunia “luar”nya adalah dia dan semesta, dan disitu dia manunggal dengan semestanya, dengan surganya, dengan energi kasih.

Surga yang tidak tidak seperti konsep manusia dewasa, surga yang dikotori oleh pikiran2 mesum lelaki dewasa yang berorientasi kepada kenikmatan seksual yang kemudian diolah menjadi fantasi berupa kegiatan transenden. Misalnya, seorang lelaki yang masuk surga akan dilayani oleh 70 bidadari yang selalu kembali menjadi perawan setelah berhubungan seksual. Si lelaki juga mempunyai kekuatan 70 orang lelaki muda perkasa yang akan sanggup memuaskan ke 70 bidadari satu demi satu. Gambaran surga yang mesum, diskriminatif secara seksual dan membodohkan.

Begitu bayi dilahirkan, maka dia masuk dalam dunia yang penuh derita. Dunia yang penuh dengan pikiran-pikiran ego dari manusia lain yang saling mempengaruhi, dan semesta yang sama sekali lain dari semestanya yang dalam rahim ibunya. Dia keluar dari surganya, keluar dari semesta yang bebas derita, masuk ke semesta yang penuh derita.

Itulah aktualitas cerita nabi Adam sampai saat ini.


Salam,
Agus Widianto

Rabu, 17 November 2010

Konsep Kematian

Aku datang ke rumahnya lepas tengah hari. Kulihat dia masih sibuk menyalami para tamu yang datang, dan ketika melihatku mendekat, dia memelukku erat-erat. Kubisikkan kata-kata seadanya yang muncul begitu saja di kepalaku: "tetap tabah ya" .. tidak ada lagi kosa kata lain yang mengalir dari mulutku. Dia juga menjawab pendek dengan sedikit terisak: "yang terbaik baginya".

Berita lewat SMS siang tadi menyebar bahwa istrinya meninggal pagi hari. Sakitnya sudah cukup lama dan terakhir aku menjenguknya di ruang high care unit, dia sudah setengah sadar. Aku ingat waktu itu sempat kutemani teman baikku ini sambil ngobrol sampai tengah malam di rumah sakit.

Dia terbaring damai, dengan riasan menarik karena memang kuakui dia masih cantik dalam usianya yang menjelang setengah abad. Kuamati rambutnya yang sudah mulai ada yang berwarna keperakan. Pakaian yang dikenakan berwarna merah menyala dengan rangkaian bunga di tangannya. Aku berdiri diam di samping peti jenazah tempatnya terbaring. Pelan kurasakan sebentuk kesedihan yang cukup dalam. Aku tidak tahu benar mengapa aku bersedih. Barangkali itu merupakan refleksi energi yang menggumpal berat di ruangan itu. Mungkin aku sedang berbagi rasa dengan temanku yang kehilangan kekasihnya. Atau barangkali aku sedang berpikir tentang kematian yang selalu disambut dengan kesedihan, dan pikiran itu lalu maujud begitu saja menjadi rasa.

Apapun itu, rasa itu begitu nyata dan hadir dalam batinku. Kubiarkan dia muncul dan mewarnai diriku pada saat itu. Energi itu mengalir dan seolah berhenti di ulu hati, membuat ruang gerak paru-paruku seolah menyempit dan aliran nafasku sedikit sesak karenanya.

Pelan-pelan tapi pasti, aku sadari bahwa aku berada di ruangan itu, dan kuamati segala sesuatunya yang ada, juga orang-orang yang silih berganti berdoa di samping peti. Kunikmati pertunjukan slide di tembok tentang jalan hidup almarhumah sejak kecilnya, sesekali tersenyum melihat wajah temanku semasa remaja, yang masih kuingat benar ketika kami satu sekolah di SMP dan SMA. Pengalihan kesadaran membuatku menjadi merasa lebih ringan, tidak terbebani oleh beratnya kesedihan yang semula mengeras di ulu hati.

Setelah mengikuti misa kudus pemberkatan jenazah, aku pamit pulang ke rumah.

Pengalaman siang tadi ikut memperkaya diriku, karena sempat mengalami berbagai rasa dalam batin. Seringkali aku baca dari berbagai artikel bahwa kematian hanyalah merupakan konsep manusia. Sering aku berdiskusi bahwa kematian terjadi setiap saat, bahkan dalam tubuh kita sendiri. Dalam semenit, berapa milyar sel yang mati dan digantikan oleh sel baru dalam tubuh ini. Sekarang ini aku sedang mengalami kematian dan kehidupan, siklus yang tanpa henti, terus berubah, terus berlangsung, terus ber-reinkarnasi. Hidup dan mati menjadi sebuah siklus alamiah yang sudah kita alami terus menerus. Kematian seluruh tubuh karena tidak berfungsinya organ-organ vital akan terjadi pada setiap makhluk yang hidupnya ditopang oleh organ-organ tadi.

Jenis kehidupan ini adalah yang sedang aku jalankan sekarang. Namun di dalam jenis kehidupan inipun ada jenis kehidupan lain, baik kehidupan dari sel2 tubuh, bakteri2 dalam tubuh, maupun makhluk-makhluk mikroskopis lain seperti kutu yang menjadi pendukung seluruh sistem tubuhku ini. Misalnya kutu2 pemakan kulit ari yang hidup di sekujur tubuh yang membantu menjaga selalu bersihnya kulit kita.

Ketika tubuhku mati, jenis hidupan lainnya masih hidup, dan tubuh yang beku inipun akan bertransformasi menjadi jenis-jenis hidupan baru. Dekomposisi tubuh akan menjadi wahana awal untuk bentuk hidupan baru yang akan melarut dengan bumi dan melahirkan kehidupan lain. Siklus itu terus terjadi. Energi kehidupan akan terus ada dalam wujud yang berubah dan berganti-ganti. Energi kehidupan yang merupakan elemen dasar dari 'keberadaan' akan terus ada.

Lalu, sejatinya, adakah kematian itu?




ieduladha
sorehari
17november2010