Minggu, 2009 Juli 05

Cinta dan Perkawinan

"
‘qt ktmu jm 3, aq di kamar 205’

Sms itu aku kirimkan kepadanya. Aku kebetulan datang di kota itu, dan aku ingin sekali ketemu dengannya. Sudah hampir dua minggu aku kontak dengannya melalui telpon dan sms, namun belum pernah bertemu secara fisik. Awalnya terjadi ketika aku harus menelpon teman kerjaku yang baru, Widarti, untuk minta berkas-berkas pengiriman para TKI agar dapat diserahkan ke kantor pusat paling lambat pertengahan bulan Juni ini. Karena aku tidak punya nomor telponnya, aku minta kepada sekretaris kantor Pusat. Ketika nomor telpon pemberian sekretaris itu aku putar, tak terduga yang menjawab seorang lelaki. Lelaki itu mengaku bernama Wibowo. Ke-salah-an ataupun ke-betul-an dalam hidup, tergantung dari mana memandangnya, terkadang terjadi dengan aneh.

Empat tahun lalu suamiku yang mengawiniku secara siri, menceraikanku, atau lebih tepat, meninggalkanku begitu saja. Tidak ada proses perceraian secara hukum negara, karena perkawinan siri bukan urusan negara, tapi urusan pada tingkat paling bawah yang keabsahannya bisa menjadi sangat situasional. Dua tahun bersamanya seperti sebuah mimpi yang merupakan rangkaian cerita roman picisan. Dia sudah beristri, dan menjadi istri ‘siri’nya harus pandai-pandai menguasai diri, pandai-pandai mengatur waktu untuk menyalurkan hasratku dan terlebih hasratnya. Barangkali benar bahwa perkawinan ‘siri’ dibuat untuk sekedar menyalurkan hasrat dasar manusia, hasrat menikmati hubungan perkelaminan. Sebuah hasrat yang mustahil disalurkan dengan terbuka karena dianggap sebagai sebuah dosa, sehingga perlu dibungkus dengan kemasan berbau agama untuk mempunyai kekuatan keilahian yang dianggap mengubahnya menjadi halal. Absurditas, kemunafikan, dan kedangkalan pemahaman bergabung menjadi satu, dan lunas diganti dengan beberapa lembaran rupiah bagi tokoh pengabsah. Meski aku mempunyai pandangan seperti itu, namun aku jalani juga perkawinan itu, karena kebutuhanku untuk dukungan moral dan material dalam membesarkan anak-anakku.

Cerita roman picisanku dengannya memang akhirnya hanya seputar birahi, seputar ranjang, permainan petak-umpet menghindari pelacakan istri sahnya, dan manipulasi rasa yang ada diantara dua kutub: kebencian dan kerinduan. Benci karena dia bukan sepenuhnya milikku yang seharusnya memberikan segala waktu dan perhatiannya padaku, namun menjadi sebuah kemewahan yang mustahil kudapatkan. Banyak waktu dimana aku membutuhkan kehadirannya, namun dia tidak dapat memenuhinya. Rindu karena setiap kehadirannya mampu mengisi kesepianku dalam menjanda lebih dari dua tahun, setelah suamiku yang pertama kuceraikan akibat memelihara perempuan sialan yang akhirnya hubungan mereka kupergoki di sebuah hotel di kota besar dekat desaku itu.

Dua tahun sudah aku kembali menjanda setelah berakhirnya romanku dengan suami siriku. Kerinduanku akan belaian, pelukan dan pemenuhan hasratku kembali menggantung dalam kehidupanku. Sebuah kerinduan akan kehidupan yang dulu pernah aku nikmati sehingga membuahkan dua anak2ku yang sekarang kupelihara dengan sepenuh hati meskipun semakin hari menjadi semakin tidak mudah. Namun begitu, keduanya adalah bagian sejarah hidupku, keduanya adalah kepingan kebahagiaan yang dulu pernah aku nikmati bersama suamiku yang pertama. Sekarang sering aku gugat hidupku yang lalu, benarkah keduanya adalah keping kebahagiaan, atau keduanya adalah akibat dari pemenuhan hasrat alamiah kami berdua. Seandainya mereka adalah buah dari kebahagiaan, mengapa sekarang terasa menjadi beban yang harus aku pikul sendiri? Benarkah kebahagiaan dapat berubah menjadi beban dan bahkan derita sejalan dengan waktu? Adakah kebahagiaan hidup yang abadi? Dimanakah keadilan dalam berbagi kebahagiaan dan beban hidup pada sepasang suami istri?

Janjian ketemu dengannya sekitar setengah jam lagi. Sempat kurenungkan awal kenalanku dengannya. Kesalahan nomor telpon akibat kecerobohan sekretaris kantor pusat. Namun dalam beberapa kali pembicaraan telpon dengan Wibowo, aku dapat merasa sebagai seorang perempuan yang terisi kembali kebutuhan hidupku. Entah kenapa kekosongan batinku dapat sejenak terpenuhi dengan sesuatu yang aku sendiri tidak pahami, namun terasa nyaman. Aku belum pernah bertemu dengan Wibowo, dan aku tidak banyak tahu tentang kehidupannya. Namun setiap kata yang diucapkan dalam telpon terasa memberi energi yang membuatku hanyut dalam sebuah aliran yang terasa sejuk, penuh, dan nyaman.

Aku sedikit kaget ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pintu kamar hotelku, dan kudapati seorang pria setengah baya, dengan rambut tersisir ke belakang dengan rapi, beberapa helai uban terlihat kontras dengan rambut hitamnya. Jalur-jalur uban itu seolah memberi aksen yang kontras, putih di atas hitam, sebagai alur yang seolah menunjukkan kebijaksanaan. Badannya sedikit lebih tinggi dari padaku, perawakannya tegap untuk pria seumurnya. Wajahnya tidak terlalu tampan namun cukup menarik. Sore itu dia mengenakan kemeja kerja dan menjinjing sebuah tas sederhana yang nampak berat yang kuduga berisi komputer jinjing.

Aku persilahkan dia masuk, dan sambil duduk di tempat tidur ukuran king-size, obrolan sedikit demi sedikit mulai mengalir. Udara pengap di kamar mulai mencair dan membebaskan rasa. Kesesakan hatiku karena berbagai gambaran dan keinginan untuk bertemu dengan pria ini pelan-pelan menguap dan kamar terasa menjadi jauh lebih luas menembus dinding-dinding bercat coklat muda itu. Ada kehangatan yang menyeruak ke dalam tubuhku, mengurangi dinginnya ruangan akibat pengatur suhu. Kehangatan yang rasanya sangat intim, sangat tidak asing, yang bahkan menjadi bagian dari diriku yang pernah hilang beberapa tahun terakhir ini.

Obrolan santai mulai merambah pada kehidupan pribadiku dan kehidupan pribadinya. Suasana menjadi sangat cair, menjadi sangat akrab, dan aku sangat tergoda untuk memeluknya agar rasa nyaman ini tidak hilang, agar kehangatan ini menjadi sebuah kenyataan, agar energi ini menyatu dengan diriku. Hasratku untuk memilikinya menjadi semakin kuat. Kamipun lalu bercinta. Segenap kegairahanku yang tadi kurasakan berdesakan di seluruh pintu pori-pori kulitku, kini seolah seluruh pintu itu terbuka sehingga sel-sel gairahku terbebaskan dan menari dengan semakin liar. Tarian itu saling bersambut dan diakhiri dengan sebuah rasa kepuasan yang memenuhi seluruh saraf paling primitif dalam tubuhku.

Rasa lapar menyergapku setelah aku membersihkan diriku. Aku ajak Bowo, begitu dia minta dipanggil, ke bawah untuk mencari makanan. Sambil menikmati bakmi sederhana di warung dekat hotelku, kami berbincang banyak. Rasanya tidak ada lagi tembok penghalang dalam komunikasi kami, segala batasan runtuh bersama gelegak nafas kami di kamar tadi. Pembicaraan berbagai topik banyak membuka batinku, karena seperti anggapanku pada saat perkenalan dengannya melalui telpon, Bowo mempunyai sesuatu yang tidak semua orang miliki. Aku rasa itu karena dia mempunyai sebuah keluasan cakrawala pandang tentang berbagai sendi kehidupan ini, yang bebas menembus segala dogma dan kaidah umum, bahkan akidah agama yang kuimani. Sebuah dimensi yang menarik dan baru buat pemahamanku yang sederhana ini.

Salah satu yang sampai kini membekas di kepalaku adalah pandangannya tentang cinta dan perkawinan. Kami sempat berdebat, ketika kukatakan bahwa aku jauh lebih tahu tentang perkawinan dan cinta daripada dia karena sudah pernah dua kali kawin, dengan dua cara yang berbeda. Aku seharusnya lebih berpengetahuan dan berpengalaman daripadanya. Namun pendapatnya tentang cinta dan perkawinan mampu meruntuhkan seluruh bangunan pemahamanku. Menurutnya, mencintai orang lain sebenarnya mencintai diri sendiri. Menurutnya sangat jarang perkawinan yang dilandasi oleh rasa cinta yang selalu kita idolakan dan kita fantasikan. Fantasi keindahan cinta hanya ada di buku-buku novel, katanya. Menurutnya lagi, perkawinan sebenarnya hanya sebatas sebuah janji, yang karena takut tidak ditepati, lalu diberi embel-embel suci, sehingga menjadi janji suci. Aku terperangah, dan mengingat bahwa kedua perkawinanku yang berantakan, pernyataannya menjadi sangat masuk akal. Dimanakah kesucian sebuah perkawinan? Gugatanku kepada perkawinanku kembali tergambar jelas dalam benakku.

Mencintai orang pada dasarnya adalah mencintai diri sendiri. Kata-katanya membuatku menegangkan seluruh saraf pendengaranku untuk menangkap pesannya lebih lanjut. Jika aku mencintai dia, katanya, maka aku hanya mencintai rasa yang kudapatkan darinya ketika dia berada di dekatku. Aku hanya mencintai energi yang diberikannya kepadaku, yang membuatku merasa nyaman, merasa penuh, utuh, dan lebih hidup. Rasa itu yang aku cintai, dan kupertahankan dengan segenap cara, yang sering juga disebut pengorbanan, agar rasa itu tidak hilang. Dia adalah sumber energiku. Ketika sumber itu meredup karena berbagai hal, misalnya mengalihkan tujuannya kepada orang lain seperti yang dilakukan oleh suami pertamaku, maka aku merasakan kehilangan, merasakan ketimpangan, ketidakseimbangan yang sangat tidak nyaman. Kurasa dia ada benarnya.

Esoknya, aku harus kembali ke kota kecilku. Dalam perjalanan pulang, pengalaman singkat bebrsama Bowo kemarin ternyata sangat membekas dalam hatiku. Tidak hanya kesenangan yang telah kudapatkan, namun juga pemahaman baru yang dia berikan. Rasanya aku kembali berenergi dan mampu melangkah dengan ringan. Aku merasa nyaman. Barangkali, rasa seperti ini yang dia maksudkan, ketika rasanya aku mulai mencintai Bowo.

Peristiwa kebetulan dalam sebuah kehidupan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, seperti terjadi padaku seminggu lalu itu. Tapi, adakah kebetulan dalam hidup ini? Betulkah Bowo datang begitu saja dalam hidupku? Ataukah dia membantuku memahami kegagalan perkawinanku yang selama ini menjadi beban yang semakin berat dalam menghadapi hidupku? Benarkah dia membantuku memahami kehampaan hidupku, dan memberikan petunjuk bagaimana mengatasinya? Rasanya, masih, aku inginkan sumber energi itu selalu berada di dekatku …

Sumedang - Jakarta, medio Juni 2009

Kamis, 2009 Mei 14

Agama, Teras Dari Sebuah Rumah

Saya sebenarnya pernah dibaptis secara katolik, dengan nama Thomas. Saya sendiri tidak tahu kenapa dulu memilih nama itu, barangkali karena kedengaran keren, dan dulu juga Thomas Cup sedang menjadi banyak perhatian banyak orang. Thomas, seseorang yang tidak percaya kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Barangkali belakangan ini nama itu banyak kebenarannya. Kepercayaan saya, termasuk kepada dogma dan iman dalam agama, banyak saya kritisi. Termasuk tentang Tuhan yang selalu kita sembah sambil memohon-mohon.

Dalam banyak diskusi tentang agama, saya senang menggunakan analogi sebuah rumah berbentuk kubah yang besar, mempunyai banyak pintu dengan teras (beranda) di masing-masing pintu. Mungkin sudah banyak teman yang mendengar cerita ini, tapi ijinkan saya mengulanginya. Dalam analogi itu, orang-orang senang berada di teras-teras pintu tersebut, duduk-duduk sambil mengagumi teras mereka sendiri-sendiri. Hampir dengan cara narsistik. Mereka lalu pamer keindahan teras ini kepada yang berada di teras lain sambil berkata:”Lihatlah terasku yang paling indah dibanding segala teras lain di muka bumi ini. Mari, bergabung dengan kami, karena hanya teras ini yang paling indah dan paling diberkati.”

Orang-orang yang duduk di teras sebelah juga pamer tentang hal yang sama, dengan cara yang sama. Demikian juga kelompok orang yang duduk di teras-teras lain. Mereka sangat menikmati keindahan teras masing-masing. Sayangnya, mereka tidak mau masuk ke dalam rumah besar itu, meski rumah itu adalah milik mereka bersama. Selama mereka ada di teras, mereka tidak dapat merasakan kebersamaan di dalam rumah.

Menurut saya, agama adalah teras-teras itu. Mereka memang berbeda satu sama lain. Agama juga berbeda, tergantung banyak faktor yang menciptakannya, seperti sejarah, tokoh utama, latar belakang budaya, waktu, tempat, dan juga dimensi mistisnya. Jadi, ungkapan semua agama sama saja, menurut saya keliru. Agama tidak sama, karena teras-teras itu juga tidak sama satu sama lain.

Yang sama adalah rumahnya. Rumah yang menjadi milik bersama. Rumah yang sebenarnya menjadi inti dari keseluruhan tempat tinggal. Teras hanya pintu gerbang untuk masuk rumah. Bila kita hanya duduk di teras tanpa masuk ke dalam rumah, maka kita akan tetap merasa berbeda. Kita terjebak dalam konsep kelompok, dalam konsep kebenaran semu karena tergantung dari dimensi empiris.

Cobalah masuk ke dalam rumah besar itu. Maka kita akan merasakan kebersamaan, karena kitalah pemilik rumah itu. Semua sama, karena semua adalah penghuni rumah besar itu. Komunikasi sebagai sesama pemilik rumah akan tercipta dengan baik, perbedaan akan hilang dengan sendirinya, dogma agama sudah lewat dan berada di belakang, karena begitu kita masuk rumah, teras sudah ada di belakang kita. Nafsu untuk lebih unggul dari lainnya menjadi tidak relevan lagi. Inilah tahap hakekat dari sebuah agama. Inilah sisi spiritual dari agama. Inilah kebenaran bagi semua makhluk, kebenaran yang melampaui kebenaran yang dogmatis. Di sini berlaku hukum ‘inter-beings’, hukum tentang inter-connectedness, tentang saling berhubungan satu sama lain. Sebuah hukum tentang ke-fitri-an makhluk dan semesta, bahwa di hadapan Allah semua sama. Hukum yang tidak membedakan saya dan selain saya. Tidak ada dualism, semua adalah satu dan satu adalah semua. Ini ada karena itu.

Saya memahami kehidupan seperti rumah besar itu, dan saya memahami agama seperti sebuah teras dari rumah besar itu. Selama anda berada di teras dan tidak mau masuk ke dalam rumah, maka anda akan hidup berkelompok dan merasa nyaman di dalam kelompok itu, namun sukar menyeberang ke teras lain karena segala kondisinya akan berbeda. Anda juga terjebak dalam aturan-aturan yang berlaku di teras anda sendiri, yang tentu tidak sama dengan aturan-aturan yang berlaku di teras lain.

Jadi, sudah saatnya ada keberanian untuk masuk ke dalam rumah. Apakah sinar matahari beragama Islam dan hanya menyinari orang Islam? Apakah hujan beragama Kristen dan hanya menyirami sawahnya orang Kristen? Apakah oksigen beragama Buddha dan hanya menghidupi orang Buddha? Molekul oksigen yang saya hirup dan menghidupi saya lalu saya kelurkan, dan dihirup orang Buddha dan menghidupi mereka, lalu di hirup babi dan menghidupi babi, lalu dihirup orang Islam dan menghidupi orang Islam. Begitu seterusnya. Tidak bisalah kita memisahkan oksigen yang haram dan halal, yang kafir dan yang bukan.

Jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah, maka akan diperoleh kebebasan dalam dirinya, kedamaian dalam batinnya, dan pengetahuan tentang kehidupan yang jauh lebih luas, yang akhirnya membahagiakan hidupnya.

Rabu, 2008 Desember 31

Selamat Natal 2008

Gegap gempita Natal masih terasa. Berbagai acara, berbagai persiapan, berbagai ritual sudah dijalankan. Barangkali setiap gereja sudah melakukan hal-hal yang semakin meriah untuk menarik banyak umat agar tahun depan akan lebih banyak lagi yang hadir. Saya dan istri hadir di misa gereja Kotabaru, Jogjakarta jam 23:00, yang khusus untuk anak muda karena mengantar ketiga anakku yang masih muda. Di sekitar kita dapat kita saksikan bahwa semua sektor menyambut Natal dengan cara dan kepentingan sendiri-sendiri, misalnya sektor industri mainan maupun perdagangan. Satu benang merah dari berbagai kegiatan tahunan ini ialah bahwa kita baru saja merayakan penyambutan kelahiran Yesus Sang Penebus, Sang Jalan, Sang Anak Allah.

Dalam keadaan serba gegap gempita itu aku mencoba untuk merenungkan peristiwa natal dan Yesus yang sedang dirayakan ini dengan lebih hening ....

Yesus pernah mengatakan bahwa Dia-lah jalan menuju Allah Bapa. Interpretasi pernyataan itu bisa bermacam-macam. Seperti misalnya diartikan bahwa untuk hidup bahagia di sisi Allah Bapa setelah kita meninggal, kita harus melalui jalan Yesus, harus mencontoh perilakunya, atau paling tidak melakukan apa-apa yang diajarkannya. Namun untuk masuk ke dalam barisan pengikut Yesus, dalam tradisi gereja Kristen, harus diawali dengan sebuah proses permandian, baptis, sidi, seperti juga Yesus ketika dipermandikan oleh Yohanes Pembaptis. Setelah itu baru dapat menjadi sebuah keluarga besar pengikut Yesus -- yang sudah ditebus dosa-dosanya melalui kematian Yesus di kayu salib, dan mempunyai privilege bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah.

Interpretasi lain, Yesus adalah jalan menuju Allah. Sebuah jalan adalah sarana untuk lewat, sebuah sarana untuk menuju ke suatu tempat yang dituju. Namun, jalan bukanlah tujuan itu sendiri. Kebingungan orang Kristen dalam menentukan apakah jalan juga tujuan, menjadi perdebatan menarik dalam sejarah perkembangan gereja, yang kemudian melahirkan konsep Trinitas yang mencoba menempatkan Yesus pada posisi khusus dalam konteks hubungan antara manusia dan Allah Bapa.

Seperti yang dikatakan Buddha, jangan keliru memahami antara jari yang menunjuk ke arah bulan dengan bulan itu sendiri. Jika bulan adalah kebenaran hidup, maka jari yang menunjukkan ke arah bulan, bukanlah kebenaran itu sendiri. Dalam pemahaman kata-kata Yesus bahwa Dia adalah jalan menuju ke Allah Bapa di surga, maka Yesus bukanlah tujuan. Dia hanyalah jalan, yang menunjukkan arah ke Allah Bapa. Segala yang diajarkannya adalah rambu-rambu yang terdapat di sepanjang jalan, yang harus kita taati.

Namun Yesus pernah juga berkata, bahwa Dia adalah kebenaran itu, yang berarti bahwa segala yang diajarkannya adalah kebenaran. Misalnya, Dia menyebut Allah sebagai Bapa, sehingga dapat dipahami bahwa Dia adalah Anak Allah, dia adalah atman dari Brahman. Dalam pemahaman Hinduisme, setiap manusia adalah percikan dari Brahman sehingga setiap unsur yang ada pada atman adalah unsur yang juga ada pada Brahman. Setiap manusia adalah bagian dari Brahman, dari semesta, dari Allah Pencipta. Sufisme mempunyai pemahaman serupa bahwa Allah ada dalam diriku, sebuah konsep tentang wihdatul wujud, penyatuan, dan Allah maujud pada diriku. Ilmu pengetahuanpun membuktikan bahwa semua makhluk mempunyai elemen sama dengan semesta.

Jadi jika Yesus hanyalah jalan menuju Allah, haruskah pemahaman kita tentang Yesus Kristus dirubah, misalnya bahwa Dia bukanlah Anak Allah; Dia bukan kebenaran karena hanya jari telunjuk dan bukan bulan, hanya jalan bukan tujuan? Masalahnya tidaklah sesederhana itu, tidak hitam dan putih, tidak senaif pengertian bahwa a bukanlah b, either or.

Kearifan Yesus sangatlah dalam, karena sejalan dengan apa yang diajarkan Buddha, ajaran- ajarannya mengandung kebenaran yang tidak terbantahkan tentang kesejatian kehidupan ini. Misalnya interpretasi pemahaman bahwa setiap manusia adalah ‘anak Allah’. Jika kita ingin memahami Allah Bapa, maka pahamilah diri kita sendiri, pahamilah ‘anak Allah’ ini. Dalam diri kita yang serupa dengan semesta, kita diciptakan serupa dengan Allah. Kita dalah citra Allah. Dan seperti kata para sufi, kitalah Allah itu sendiri.

Vibrasi kesadaran Yesus demikian tinggi. Kesadaran yang jauh menembus kotak dunia materi, memberontak dari kungkungan dunia persepsi, dan membongkar struktur hasil cerapan inderawi, serta membebaskan diri dari dimensi ruang dan waktu. Sebuah pemberontakan yang kemudian dianggap membahayakan keteraturan kehidupan beragama saat itu, mengancam kedudukan para pemuka agama yang sudah mapan serta diakui oleh masyarakat banyak. Memang, tidak semua mampu dan berani melakukan apa yang dilakukan Yesus. Tidak semua mampu memahami apa yang dirasakan Yesus. Tidak semua mempunyai nyali untuk berontak kepada kemapanan dan keteraturan dalam kehidupan beragama seperti yang Yesus pernah lakukan.

Seperti sebelumnya, kita merayakan Natal dengan cara yang nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun. Kita merayakan kelahiran Yesus melalui sebuah tradisi agama, melalui ritual yang hampir rigid. Kita beramai-ramai ke tempat ibadah melakukan doa demi doa, mendengar cerita demi cerita yang hampir menjadi acara sosial tahunan. Barangkali sudah saatnya kita lebih mendalami kehidupan dan ajaran Yesus melalui sepasang kacamata baru, dan keberanian yang pernah diajarkan Yesus sendiri untuk mempunyai kesadaran yang kritis.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2009, semoga kebahagiaan sejati senantiasa beserta anda semua.

Jumat, 2008 Desember 05

Hidup tanpa keinginan?



Telpon di rumahku malam itu berdering, lalu kuangkat. Di ujung sana temanku menyapa slamat malam, dan kamipun terlibat dalam pembicaraan pembuka. Aku tahu bahwa bila selarut itu dia telpon, pasti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Akupun menunggu dengan sabar.

Tak berapa lama, dia mulai menyatakan keperluannya sehingga malam itu dia menelpon. Suaranya terdengar lebih serius dibanding dengan dialog pembuka tadi. “Mas, apakah mungkin seseorang hidup tanpa mempunyai keinginan?” Selalu ada pertanyaan sulit seperti ini yang dia lemparkan kepadaku. Namun aku tahu, bahwa sewaktu pertanyaan seperti itu muncul, dia pasti berada dalam kebimbangan, dan memerlukan seorang teman untuk mendengarkan pengalamannya, ataupun seseorang yang dapat ikut memastikan bahwa apa yang dijalaninya merupakan jalan yang terbaik.

Aku mengenalnya sudah cukup lama, dan dari dialog-dialog denganku selama ini, dia sudah memahami bahwa keinginan senantiasa mempunyai sisi lain yang berupa kekecewaan. Seperti penjelasannya kepadaku malam itu, kekecewaan yang dia baru alami sangatlah menyakitkan hatinya. Diapun tahu bahwa dalam kehidupan ini ada tiga hal yang seringkali menjadi racun yang menyakitkan: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Keinginan merupakan bentuk lebih lunak dari keserakahan, namun begitu, keinginan mempunyai potensi yang cukup besar untuk mendatangkan kekecewaan yang sungguh pedih.

Terdengar kata-katanya dengan pelan, “Itu yang baru terjadi denganku, mas. Aku merasakan sakit hati yang cukup dalam karena keinginanku tidak terpenuhi …” lalu lanjutnya, “apakah hidupku ini harus steril dari keinginan, biar aku tidak mengalami lagi kepedihan-kepedihan yang cukup banyak menyita energy dalam hidup ini?”
Dia terus melanjutkan bicaranya tetap dengan suara pelan dan teratur, “Tapi mas, aku juga heran bahwa aku bisa recover dengan cepat, hanya beberapa jam kemudian, kepedihan itu sudah banyak melemah intensitasnya. Dan sekarang sambil aku bicara dengan mas, aku rasakan kepedihan itu sudah berlalu. Kenapa bisa begitu ya mas?”

Aku masih terus mendengarkan dengan seksama semua ceritanya yang menarik itu. Aku tidak tahu apa yang menjadi akar permasalahnya, bentuk keinginannya. Dia tidak bermaksud mengungkap hal itu dalam pembicaraan kami, sehingga akupun tidak ingin mengetahuinya lebih jauh. Aku menghormati sikapnya. Namun aku juga memahami bahwa apapun bentuknya, penyebab penderitaannya masih masuk dalam kategori: keinginan, sebuah bentuk yang lebih lunak yang merupakan bagian dari keserakahan. Dan hal ini merupakan sisi dari sebuah mata uang yang sama dengan kekecewaan.

Kemudian kukatakan kepadanya:” Aku rasa keinginan merupakan sebuah pikiran yang manusiawi. Semua manusia mempunyai pikiran itu, disadari ataupun tidak disadari.” Dia masih terdiam, lalu kulanjutkan, “Pikiran demikian bisa berbeda tingkat intensitasnya, tergantung apakah kita memberi sedikit energy, atau memberi banyak energy sehingga seringkali menjadi tidak proposional.” Pikiran seseorang yang terkadang berupa keinginan senantiasa ada, dan itu tidak ada kaitannya apakah hal itu baik atau apakah hal itu buruk. Dia hanya ada dalam kesadaran kita. Tergantung kepada kemampuan kitalah untuk memahami keberadaannya itu.

Dia mengiyakan semua yang aku katakan tadi. Aku lalu melanjutkan penjelasanku, “ … Seringkali sebuah pikiran muncul dengan begitu saja, dan bagaimana sebuah pikiran muncul, masih banyak merupakan misteri. Keinginan adalah salah satu bentuk pikiran, seringkali muncul ke permukaan dengan begitu saja, dan seringkali pula kita tidak bisa membendung munculnya pikiran-pikiran tersebut. Artinya, sepemahamanku, hampir mustahil dalam sebuah kehidupan, seseorang steril dari keinginan.”

Dari gumamnya, aku kira dia memahami apa yang kumaksudkan.

“Yang penting barangkali adalah sejauh mana kita menyadari keberadaan sebuah keinginan dalam pikiran kita, dan juga memahami bahwa keinginan tersebut berpotensi untuk menimbulkan kekecewaan. Juga kesadaran tentang sifat pikiran-pikiran kita. Mereka timbul dan tenggelam, muncul dan kemudian pergi, ada dan kemudian tidak ada. Bagai gelembung busa sabun yang sewaktu muncul berkilau menarik, lalu meletus hilang dengan sendirinya.” Kesadaran seperti inilah yang perlu kita miliki.

“Jadi apa artinya, mas? Apakah kita biarkan keinginan itu ada dalam pikiran karena pada waktunya dia akan hilang dengan sendirinya?”. Aku lalu coba menjelaskan apa yang kuketahui, bahwa ada dua kutub ekstrim: ada keinginan di kutub satunya, dan ada penolakan di kutub yang lain. Namun seseorang tidak perlu hidup terpaku pada kutub-kutub ekstrim tersebut. Dia bisa hidup dengan lebih dewasa, karena dengan penuh kesadaran, dia bisa menari diantara dua kutub tersebut. Itulah tarian kehidupan kita. Dengan penuh kesadaran berarti mampu dengan jernih memahami bahwa: keinginan merupakan bagian dari kehidupan ini; keinginan mempunyai sisi lain yang disebut kekecewaan; dan sebagai bagian dari pikiran, keinginan mempunyai sifat seperti sebuah pikiran, keberadaannya tidaklah kekal.

Hanya dengan pengalaman-pengalaman hiduplah maka seseorang dapat mempertajam kesadaran tentang pikiran sendiri. Hanya dengan mengalami kekecewaan-lah maka seseorang mampu melihat sisi lain dari sebuah keinginan. Hanya dengan mengalami penderitaan maka seseorang dapat melihat sumber yang mengakibatkan deritanya. Tarian hidup dapat kita bawakan dengan lebih piawai.

“Aku rasa kau dapat dengan segera recover dari penderitaan, karena kau terlatih untuk melepaskan pikiranmu, terlatih untuk tidak terikat dan menggenggam keinginanmu, juga terlatih untuk tidak terkungkung pada kekecewaan dan derita akibat dari keinginanmu. Semakin cepat engkau kembali pulih dari deritamu, semakin mudah bagimu untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiranmu dan kembali kepada kesadaran yang lebih dalam. Kesadaran yang tidak lagi mudah terombang-ambing dalam dualisme fenomena dalam hidup ini: senang-susah, sehat-sakit, terkenal-terkucil, bahkan hidup-mati ...”

Hari sudah cukup larut ketika kami saling menyampaikan salam perpisahan.


Agus Widianto
Desember 2008
sedang merenungkan sebuah keinginan yang muncul dengan kuat

Minggu, 2008 November 30

Cinta

Mencintai seseorang merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa dalam keping sejarah hidup manusia. Dinamika energi yang terjadi pada saat tersebut merupakan peristiwa yang menggores ingatan dengan kejam, sehingga luka itu tidak mudah tersembuhkan. Apalagi ketika dalam mencintai, tidak terjadi seperti yang diharapkan, sebuah akhir yang membahagiakan.

Adakah sebuah akhir yang membahagiakan? Adakah harapan yang selalu terpenuhi dalam hidup ini? Adakah sebuah ikatan cinta yang selalu memberikan kebahagiaan?

Malam itu ingatanku melayang kembali kepada percakapan singkatku, meski dalam catatan telponku aku bercakap sekitar duapuluh menit, dengan seseorang yang dulu amat kucintai. Kisahku tidak seindah roman dalam novel cinta. Perpisahan dengannya terjadi dan masing-masing telah menjalani sisa hidup dalam jalan yang berbeda. Namun terkadang ingatan itu mengintip dan berbayang dalam bentuk samar, seolah menunggu adanya sebuah kesempatan yang membukakan pintu untuk maujud dalam pikiran.

Percakapan itu adalah pintu yang terbuka. Kisah yang dulu kembali maujud dalam bentuk ingatan. Luka akibat goresan itu seolah berdarah kembali.

Adakah akhir yang membahagiakan? Bisakah luka itu tertutup selamanya?

Aku renungkan dalam-dalam peristiwa percakapanku dengannya ...

Semakin lama aku renungkan kembali, maka semakin banyak membantuku menyembuhkan goresan luka yang selama ini ternyata tidak sembuh benar. "Cinta tidak harus memiliki", merupakan kata-kata klise yang sering digunakan untuk mengampuni sebuah kegagalan hubungan yang terikat dalam energi saling membutuhkan. Bagiku, kata-kata itu bisa dipahami lebih dalam ...

Mencintai dan memiliki bukan kata yang sama. Sebetulnya aku lebih senang menggunakan kata "bersama" daripada "memiliki". Sesungguh-sungguhnya tidak ada yang dapat kita miliki di dunia ini. Apapun itu. Kata "bersama" lebih lunak dan itu yang dapat dilakukan, kebersamaan secara fisik, dalam dunia materi. Aku bisa mencintai tanpa harus bersama, dan akupun bisa bersama tanpa harus mencintai. Dalam cintaku kepadanya, kesadaranku muncul bahwa "tidak bersama" bukan lagi dalam nafas apologetik. Bagiku, mencintai tanpa harus mengungkung yang dicintai, merupakan bentuk kasih yang sesungguhnya, karena tidak ada harapan yang timbul dari mencintai dia, tidak ada lagi kehendak apapun dari mencintainya. Yang ada adalah mengasihinya. Kasih yang membiarkan orang yang dikasihi hidup dalam kehidupannya, berkembang sesuai dengan jalan hidupnya, termasuk berkeluarga dan mencintai orang lain pula.

Barangkali sekarang seperti ini yang aku rasakan. Kasihku kepadanya akan tetap ada, sebuah rasa yang seringkali memberikan warna tersendiri dalam hidupku. Namun keinginanku untuk bersamanya telah kulepaskan samasekali ... kubiarkan batinku bebas dari sebentuk derita yang diam-diam tetap berada dalam pikiranku.

Kekasihku, hidup dan bertumbuhlah seperti yang engkau inginkan. Nafasmu adalah nafasku, ... kebahagiaanmu adalah juga kebahagiaanku.


Jakarta, 1 Desember 2008
Untuk kekasihku

Aku tidak imun

Ada seorang teman yang sudah beberapa tahun ikut kelas meditasiku. Dalam perjalanan hidupnya aku menganggap dia berhasil mengalami transformasi yang luar biasa, karena pemahaman tentang kehidupan yang makin matang dan dalam telah didapatnya. Ketenangan dan kedamaian hidup dicapainya, dan sering dikatakannya bahwa jiwanya telah menjadi lebih bebas ....

Kemarin ayahnya meninggal. Selama ayahnya sakit cukup lama, dia merasa heran karena dirinya satu-satunya dalam keluarga yang jarang menangis, merasa tegar, meski tetap merasa dekat dengan ayahnya. Setiap ada kesempatan, dia dampingi ayahnya dan diusahakan mengajak ngobrol meski semakin lama ayahnya semakin diam, dan seringkali banyak tidak sadarkan diri.

Ketika aku melayat ke rumahnya, dia cerita banyak tentang bagaimana dia mendampingi ayahnya dan menyaksikan proses kematiannya. Ketika sukma ayahnya akan lepas, dia meledak, hatinya berkeping-keping ... Dia lalu berkata kepadaku:" ... ternyata saya tidak imun, mas ..."

Aku cepat menjawab:" ... tidak ada yang imun ..."

Kedalaman spiritual seseorang tidak menjadikannya imun akan peristiwa-peristiwa yang dihadapinya. Pencerahan yang terjadi sebenarnya membuat seseorang lebih dapat menjaga kedamaian batinnya yang terdalam, sebuah inner peace. Peristiwa sehari-hari yang berada dalam tataran fenomena bagai riak-riak samudra yang turun naik, besar kecil, ada siklus timbul tenggelam ... dan itu akan dialami oleh siapapun. Namun bila pencerahan telah didapatkan oleh seseorang, maka dia berada dalam kedalaman samudra. Berada dalam sebuah ketenangan yang luar biasa. Gejolak ombak masih ada, namun tidak terlalu lama mengguncangnya.

Samudra itu akan kembali tenang, hening dan tetap menyimpan kekuatan.

Sahabatku, aku ikut dalam dukamu, semoga kematian menjadi guru terbaik untuk kita semua agar dapat menghargai dan mensyukuri kehidupan. Banyak yang dapat kita lakukan dalam hidup ini.



Jakarta, 30 November 2008, tengah malam
Catatan buat sahabatku yang sedang berduka

Kamis, 2008 November 27

Hari yang istimewa

Pagi ini ada sebuah lokakarya di sebuah hotel berbintang lima yang aku ikuti. Tiba-tiba ada sms masuk "maaf baru membalas. boleh tau ini siapa?" hatiku tersenyum.

Dua hari sebelumnya tanpa direncanakan aku berhasil mendapatkan nomor HP seorang teman lamaku, seseorang yang dulu pernah kucintai, dan sampai sekarangpun masih ada sebagian hatiku yang ditempatinya. Barulah hari ini ada kesempatan untuk mendapatkan balasan sms yang kukirimkan kemarin.

Adakah sesuatu yang tidak berubah dalam hidup ini? Pertanyaan itu lalu muncul ketika aku bercakap dengannya. Sebuah percakapan yang bagiku seolah membalik semua putaran waktu kembali ke tigapuluh tahun lalu, ketika aku mencintainya. Sebuah percakapan yang membongkar laci-laci ingatan dan mengaduk-aduk kembali semua isinya. Aku sejenak berada pada sebuah kondisi yang tidak kusadari sepenuhnya, namun sangat menyenangkan.

Dia sudah berkeluarga, demikian pula halnya dengan diriku. Peristiwa bersamanya-pun sudah jauh terjadi tigapuluh tahun lalu. Namun aku menyadari bahwa sebuah rasa yang teramat dalam berada di relung batin, tidak dapat dengan mudah berubah, oleh waktu, oleh situasi, oleh stimuli. Rasa yang ketika muncul kepermukaan sebagai sebuah kesadaran, memberikan kenyamanan meski sejenak. Rasa yang seringkali dirindukan oleh hampir semua manusia. Inikah yang mereka sebut sebagai cinta? Energi yang terkungkung dalam sudut hati, yang sering kita genggam agar tidak lepas, karena memberikan rasa nyaman.

Kubiarkan energi itu mengalir dalam diriku, namun aku sadari bahwa aku harus tetap menjaga kesadaran batinku, agar kekuatan energi itu tidak menghanyutkanku ...

Sebuah usaha yang tidak mudah.


Jakarta, 27 November 2008